APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA

DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA

Demi menepati janji pada sahabatnya, Reza menjodohkan putranya, Krisna, dengan Vivi. Namun, Krisna berkhianat dan melamar perempuan lain tepat di hari ulang tahun Vivi. Enggan membiarkan Vivi terluka, Reza mengambil keputusan nekat yang mengguncang keluarganya. Ia melamar mantan calon menantunya itu agar Vivi bisa membalas rasa sakit hati, sekaligus merebut kembali martabat serta hak yang selama ini dirampas darinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Vivi dilempar secara kasar oleh dua pelayan ke dalam kamar lalu dikunci dari luar. Ia menangis karena terlalu shock.

Saat pertama masuk ke dalam keluarga ini, semua menyambutnya dengan hangat tapi sekarang malah hinaan yang dilontarkan.

Vivi menyeret badan ke dalam kamar mandi. Ia bisa mencium bau bekas muntah dicampur dengan darah dan keringat. Ia menyalakan air di bathtub dan duduk di samping bath tub sambil menangis. kedua tangan bertumpu di samping bathtub.

"Vivi kangen..." isak Vivi

Ia merindukan saat kedua orang tua mencintai, memeluk bahkan memarahi dengan lembut. Tidak ada hinaan maupun cacian.

"Vivi gak sanggup, Vivi ingin bersama kalian..," isaknya.

Sementara suasana pesta di bawah berlangsung dengan sukses meskipun sempat ada kekacauan yang dibuat Vivi.

"Sayang, terima kasih sudah melamarku." Almira mencium pipi kanan Krisna.

Krisna tersenyum manis.

"Krisna, kamu sudah menghubungi ayah kamu?"

Krisna tersenyum kecut. "Ayah tidak mungkin datang, diakan sibuk terus."

Ibu Krisna mendecak kesal. "Padahal ini hari istimewa kalian berdua."

"Oh ya, anak itu bilang soal ulang tahun- memangnya kapan dia ulang tahun-?" tanya Almira ke Krisna.

Krisna mengangkat kedua bahunya.

"Hari ini."

Krisna, ibu Krisna dan Almira menoleh ke Erika.

"Hari ini Vivi ulang tahun."

Krisna dan ibunya berdehem malu sementara Almira mengerutkan kening.

"Kak Almira gak kenapa-kenapakan? Perempuan jahat itu gak melakukan sesuatu ke kakakkan?" khawatir Erika.

Almira tersenyum sambil menggeleng.

Krisna menyentuh perut Almira. "Jaga anak kita baik-baik."

Erika dan ibu Krisna terkejut.

Almira tersenyum malu.

"Selamat, sayang." Tawa ibu Krisna sambil memeluk Almira.

"Selamat, Kak." Erika memeluk Almira.

Para manajer yang hendak pamit pulang, menggeleng miris. Mereka tidak mau menggangu suasana haru itu.

Di pagi hari, Vivi bangun dengan punggung perih dan tangan memerah. Ia memaksakan diri untuk bangun.

Setelah memaksakan diri untuk berendam dalam bathtub dengan pertimbangan tidak mampu mencapai keran shower, ia mulai tertidur di tempat tidur dan menangis dalam diam.

Pintu terbuka dengan kasar, Ibu Krisna masuk ke dalam kamar dengan tatapan jijik. "Mau sampai kapan kamu tidur terus?"

Jiwa dan raga Vivi lelah. Setelah pulang dalam keadaan basah, sembuh dari keracunan lalu dipukuli, tidak ada yang menanyakan kondisi dirinya.

"Vivi, akukan sudah bilang untuk tidak mencoreng nama baik keluarga kami. Tapi nyatanya kamu sudah melakukan hal di luar batas."

"Hal apa-"

"Kamu masih membantah?"

Vivi menundukan kepalanya.

Ibu Krisna melempar bantal kursi ke Vivi, Vivi tidak menghindar.

Krisna masuk ke dalam ruangan dan menatap jijik Vivi.

Vivi terkejut melihat Krisna menatapnya seperti itu.

Krisna duduk disamping tempat tidur Vivi. "Kekacauan yang kamu buat semalam sudah diselesaikan Almira."

Vivi menatap tidak percaya Krisna.

Krisna menyentuh pipi Vivi. "Jangan mengacaukan masa depan kami, Vivi. Aku tetap menikahimu tapi dia yang akan menjadi istri pertamaku."

Vivi terkejut. "Wanita itu-"

"Namanya Almira, hormati dia. Dia sedang mengandung anakku." Senyum Krisna sambil menghapus sudut air mata Vivi. "Aku seorang pria, tidak mungkin menunggu kamu selesai menikah dulu untuk mendapatkan anak."

"Tapi, kamu janji-"

"Ya, tentu saja aku berjanji menikahimu, melindungimu, memiliki keluarga denganmu. Dengan kamu dan Almira bersama, itu akan menjadi sempurna."

"Aku tidak mengerti-"

"Aku dan Almira memiliki masa depan di dunia politik, keluarga Almira kebanyakan pejabat di ibukota sementara kamu tahukan kalau ibuku hanya pejabat di kota ini? dengan adanya Almira, keluarga kita akan berjaya dan tentu saja kamu bisa kecipratan."

Vivi tidak percaya, pria di hadapannya ini adalah orang yang dikenalnya dulu.

"Aku dan Almira membutuhkan dukungan politik dan keuangan. Untuk uang, kamu bisa mengurusnya, kamu bisa menstabilkan pendapatan hotel kita. Kita tidak akan miskin dan keluarga Aditama akan semakin dikenal orang. Kamu tidak menginginkan itu?"

Vivi menatap sedih Krisna.

Krisna menarik napas dengan keras, berusaha menahan emosi. "Aku minta maaf atas kejadian semalam, ibuku sangat menyayangimu. Beliau memperdulikan masa depanmu makanya memukulmu di pesta. Ini juga menjadi peringatan kalau keluarga Aditama tidak akan memandang bulu jika ada yang melakukan kejahatan."

"Kejahatan?"

"Kamu tidak pulang semalam-"

"Kamu tahu, aku keracunan semalam dan pingsan di rumah orang. Aku menghubungi rumah tidak ada yang mengangkatnya bahkan sopirpun hilang."

Krisna menaikan salah satu alisnya. "Aku meminta tolong sopir untuk mengambil gaun Almira, aku minta maaf."

Vivi menatap tidak percaya Krisna. "Jadi, dia akan menjadi istri pertama kamu?"

"Tentu saja, dia mengandung anakku. Dalam hukum agama, tidak masalah menikahi lebih dari satu istri."

Ibu Krisna keluar dari kamar Vivi. Ia terlalu emosi melihat putra cerdasnya disandingkan dengan anak bodoh seperti itu, tapi ia juga tidak bisa membuang jauh Vivi begitu saja.

"Dengar, dia akan menjadi istri pertamaku dan melahirkan anak kita lalu setelah kamu lulus kuliah, kita menikah. Almira sudah mengijinkannya."

Yang harusnya memberi ijin itu aku. Jerit Vivi di dalam hati.

Krisna memeluk Vivi. "Jangan menangis, aku tetap mencintaimu dan menepati janji. Maaf, aku sudah bersikap kasar. Aku harus bersikap seperti kakak yang tegas di depan umum."

Vivi tertawa masam tanpa bersuara. Ia sudah terlalu lelah.

"Aku ingin menikah-"

"Tentu saja kita akan menikah, kita berdua akan memiliki anak."

Itu anakmu, bukan anakku!

"Oke, sekarang kita turun dan sarapan bersama."

"Bolehkah aku istirahat?"

Krisna mengerutkan kening. "Peristiwa semalam cukup menimbulkan gosip, di bawah masih ada keluarga yang menginap. Kamu muncul saja sudah bisa menepis semua gosip buruk."

"Punggung-"

"Vivi, jangan membantah."

Vivi menatap tangan Krisna yang terulur, berpikir sebentar lalu menggapai tangan itu.

"Itulah perempuanku." Krisna mencium kening Vivi.

Vivi menggigit bibir bawahnya.

Krisna menyeret Vivi untuk turun ke bawah, Ibu Krisna terlihat mengobrol dengan para wanita paruh baya lainnya.

"Dimana Almira?" tanya Krisna yang sudah menuruni tangga lalu melepas tangan Vivi.

Vivi menatap bingung tangannya.

"Dia di kamar. Minta istirahat, katanya mual-mual." Jawab Erika sambil mengambil nampan berisikan makanan di tangan pelayan. "Antar ini ke kamarnya, kasihan."

Krisna mengangguk dan menerima nampan itu lalu pergi tanpa menatap Vivi.

Erika menatap jijik Vivi. "Ini sudah terlalu siang untuk mendapatkan sarapan, sebaiknya kamu masak sendiri di dapur."

"Tapi Almira dapat makanan-"

"Apa? kamu iri dengannya? dia lagi hamil beda sama kamu yang sehat gini!" Erika menaikan nada suaranya.

Vivi tersenyum. "Aku hanya bertanya, apa Almira mendapatkan makanan sisa? untuk ibu hamilkan itu berbahaya, soalnya tadi kamu bilang sudah gak ada sisa sarapan. Siapa tahu aku bisa masakin bagian dia juga."

Erika terkesiap malu.

Ibu Krisna yang mendengar ini menjadi marah. "Tidak perlu mengajarkan kami, kamu urus bagianmu saja."

Vivi tersenyum dan mengangguk lalu pergi ke arah dapur.

"Makin lama anak itu makin bengal. Hati-hati dia akan mencelakakan anak pertama keluarga Aditama," ujar adik ibu Krisna.

"Sebentar lagi dia keluar dari rumah ini jadi tidak akan mencelakakan cucuku."

Vivi mendengar itu semua.

"Non Vivi."

Vivi tersenyum begitu melihat bi Tatik menyapanya, senyumnya lenyap begitu melihat apa yang dilihat bi Tatik.

"Ini-"

"Makanan sisa semalam sama pagi tadi, kata ibu sama mbak Erika dikasihkan ke orang-orang yang tidak mampu saja."

"Oh."

"Katanya non Vivi sudah makan, makanya saya tidak menyimpan extra terus ini katanya makanan sisa jadi gak bisa dikasih ke orang rumah."

Vivi mengangguk paham. Ia mengambil mie instan di dalam kardus dan membuatnya.

"Mie lagi non?"

"Adanya ini."

"Haduh non, apa bibi kasih sisa ini-"

"Gak usah bi, makan mie aja gak papa buat sarapan. Nanti aku bisa makan diluar."

"Beli makanan lagi? non, makanan di luar juga jauh lebih gak sehat."

Vivi tersenyum. Dia tidak cerita kalau dirinya kadang belajar memasak dari chef hotel dan dibuatkan bekal makanan diam-diam. Yah bisa dibilang itu juga sisa dari sarapan buffet.

Vivi menghela napas. Karena kejadian semalam, apa jadi diperketat ya?

Tidak jauh dari kediaman Aditama.

Reza mengetuk jari tangan di atas meja begitu membaca laporan dari mata-matanya.

"Tuan, masalah ini-"

"Biarkan saja."

"Tapi-"

"Aku tidak suka ikut campur masalah orang lain, abaikan saja masalah anak ini. Kita cukup amati hotel yang mereka tangani."

"Tuan, saat ini yang mampu membawa beberapa city hotel milik keluarga Aditama adalah nona Vivi."

Reza menghentikan ketukan jarinya. "Berapa usia anak itu?"

"Tahun ini 18 tahun."

Reza menaikan salah satu alisnya. "Kecil juga."

"Kecil?"

"Yah, dalam berbagai arti."

Pernyataan Reza membuat ambigu pendengaran orang-orang yang hadir. Mereka pernah bertemu dengan nona Vivi yang serba mungil seperti anak kekurangan gizi tepatnya.

"Kalau dia secerdas itu berarti Krisna dan ibunya benar-benar bodoh."

Tuan, apa tepat menghina putra dan istri anda sendiri di hadapan pegawai anda?

"Politik itu tempat orang yang cerdas jika, mampu naik ke atas. Bodoh jika tetap di tempat."

Ah, anda bisa didemo para pejabat Indonesia.

"Perempuan itu mantan model dan mewakili ikon kota ini jadi pantas saja dia membenci Vivi yang tidak sesuai standartnya."

Apakah ini komentar calon ayah mertua? atau istri anda sendiri?

"Aku jadi tertarik dengannya."

Hah? siapa? istri anda atau nona Vivi?

"Awasi dia!"

"Siapa?"

"Tentu saja. Vivi."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Sang Mantan Kekasih yang Dikhianati
8.4
Akibat jebakan obat perangsang, CEO dingin Aryan Adhitama terpaksa menikahi Alana Shafira demi menjaga kehormatan keluarga dan menebus kesalahannya. Alana, yang awalnya hanya perawat sang kakek, kini harus menjalani kehidupan pernikahan penuh siksaan batin. Di mata Aryan, wanita itu hanyalah beban yang tak diinginkan. Di tengah jurang status sosial dan kesalahpahaman yang pekat, mampukah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Cinta masa kecil
9.0
Terpisah jarak dan ambisi sejak kecil, Dina dan Arga kembali dipertemukan takdir di kota besar setelah sekian lama. Dina kini berjuang keras sebagai desainer, sedangkan Arga telah menjelma menjadi pebisnis sukses yang kaya raya. Pertemuan tak terduga ini perlahan membangkitkan kembali perasaan lama yang sempat terkubur. Di tengah bayang-bayang keraguan masa lalu, keduanya kini harus mencari tahu apakah rasa yang tersisa ini merupakan takdir cinta sejati mereka.
Sampul Novel Cinta Om Duda
7.9
Sebagai CEO sukses dan duda satu anak, Rehan Hadinata merindukan kehadiran sosok wanita di hidupnya. Di tengah banyaknya wanita yang mencoba mendekat, belum ada satu pun yang mampu memikat hatinya. Suatu ketika, Rehan mencoba peruntungan melalui aplikasi kencan daring dan terpikat oleh profil Nesya Cintia Ayu. Ia pun memutuskan berkirim pesan untuk memulai perkenalan. Akankah obrolan ini membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius?
Sampul Novel Cinta Palsumu Menghancurkan Hidupku
9.4
Bagi Pratama, Dewi cuma persinggahan sementara sebelum ia kembali pada kekasih lamanya. Usai dicampakkan begitu saja, Dewi dibiarkan hancur menghadapi hinaan keluarga Pratama. Di tengah kepedihan mendalam akibat janji-janji palsu tersebut, takdir mempertemukan Dewi dengan Reza. Kehadiran pria ini membawa ketulusan nyata yang jauh berbeda dari pengkhianatan masa lalu. Kini, Dewi harus memilih: tetap menutup diri atau berani membuka hati kembali di bawah bayang-bayang trauma.
Sampul Novel Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan
8.1
Clara dikhianati oleh suaminya, Marco, yang mendorongnya ke jurang saat piknik demi bersama selingkuhannya, Chika. Meski terluka parah, Clara selamat dan mendengar rencana licik Marco yang ingin memalsukan kematiannya. Di tengah keputusasaan, tekadnya untuk membalas dendam membara. Kehadiran Julian Suryo, miliarder sekaligus musuh bebuyutan suaminya yang datang menolong, menjadi titik balik bagi Clara. Bersama Julian, ia kini bersiap menghancurkan Marco.
Sampul Novel Dimanjakan oleh Suami Misterius
9.7
Demi merebut warisan sang ibu, Erina terpaksa menikahi programmer sederhana berparas tampan. Namun, misteri masa lalu perlahan terungkap usai tiga tahun berlalu sejak ia kehilangan dua bayi kembarnya. Meski tak pernah berhubungan dengan pria lain, Erina mendadak hamil lagi dan mendapati anak-anaknya ternyata masih hidup. Siapa sebenarnya sosok sang suami? Mengapa pria yang dianggap miskin itu sangat serupa dengan miliarder terkenal di televisi?