APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dendam Wanita Simpanan

Dendam Wanita Simpanan

Nayla terhimpit ancaman berat akibat mencoba menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan siapa pun. Kini, sumpah dari Kak Yuni tampak benar-benar menjadi kenyataan yang mengerikan. Lelah karena terus-menerus dituduh dan difitnah sebagai perebut suami orang, Nayla memutuskan mengambil tindakan nekat. Ia bertekad mengubah semua tuduhan miring itu menjadi kenyataan demi membalas dendam atas penderitaan yang selama ini menyiksanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku bodoh! Aku bodoh! Aku bodoh!

Tak henti aku mengutuk diri sendiri, cubitan-cubitan, cakaran bahkan helaian rambut yang jatuh karena kutarik tak jua mengalihkan perih.

Aku mengunci diri di kamar mandi. Guyuran air bergayung-gayung tak jua mendinginkan emosi. Aku sudah tak suci lagi. Jejak-jejak kejadian menjijikkan tadi seolah abadi.

Aku meraih spons kawat pencuci piring, menggosokkan ke setiap bagian yang tadi disentuhnya. Nyeri, tapi kenapa rasa kotor ini tak menghilang?

"Nay?" Ketukan di pintu kamar mandi mengantarkan juga suara Kak Aulia.

Apa Kak Aulia sudah pulang dari kursusnya? Sekarang jam berapa? Aku harus bagaimana? Harus berkata apa? Aku hanya ingin sendiri saja ....

"Nayla?" Panggilan Kak Aulia kembali terdengar.

"I-iya, Kak. Bisa tolong ambilkan jaket sama celana panjangku di kamar?" Aku terpaksa menjawab, tapi mustahil ke luar dengan goresan-goresan luka bekas spons kawat seperti ini.

"Tunggu, Nay," sahutnya diiringi suara langkah yang terdengar menjauh.

Aku mencuci muka untuk menghapus sisa-sisa air mata.

"Nay, kenapa ada bercak darah di sprei?" pekik Kak Aulia di luar.

"A-anu. Aku lupa kalau jadwal kedatangan tamu bulanan, Kak. Tolong jaketku, aku ngerasa gak enak badan." Aku terpaksa berbohong.

Padahal rasanya aku ingin berlari ke luar, memeluk dan menangis untuk mengadukan semua. Aku ingin mengatakan kalau aku benar-benar hancur sekarang, tapi mustahil akan ada yang percaya.

Aku takut, dituduh seperti Kak Yuni karena hanya berstatus adik sepupunya. Aku takut, mereka marah dan kecewa. Aku takut, aku benar-benar kalut.

"Nih jaket sama celana panjang kamu. Selesai mandi nanti minum air hangat, ya?"

Aku membuka pintu untuk menyambut yang diulurkan Kak Aulia. Tergesa memakai agar dia tak curiga.

"Kamu pilek, ya? Kok mata kamu sembab?" Baru keluar, Kak Aulia lagi-lagi memberondongku dengan pertanyaan.

"Pilek ringan aja, Kak. Malam tadi gak bisa tidur nyenyak, trus tadi pagi nyeri haid juga," jawabku berusaha menarik senyum.

Air mata masih menggenang. Sekeras apa aku berusaha tersenyum semoga mereka tak berjatuhan.

"Kenapa gak bilang sama Kak Lily sebelum dia berangkat kerja? Atau, 'kan, Ijul gak kerja, kamu bisa minta tolong beliin obat?" Kak Aulia segera merangkul dan mengajakku meninggalkan kamar mandi.

Benci berlomba-lomba meraja, amarah meletup-letup di dada kala mendengar namanya. Ingin aku meraih pisau dan menancapkan di jantung pria itu untuk membayar perlakuannya, tapi nyali yang kumiliki terlalu kecil bahkan sama sekali tak ada.

"Ntar sore juga udah baikan, Kak. Kakak udah selesai kursusnya? Kok nyariin aku sih? Gak sibuk di rumah, ya?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Terlebih setelah ke luar, Kak Ijul yang tengah mengisap rokok di depan menatapku tajam.

"Kalo aku udah pulang, ya, udah selesai, Nayla! Nanti sprei biar aku yang nyuci, kamu istirahat aja. Udah makan?"

"Aku tadi beli bakso pas jalan pulang, makan bareng? Jul, siapin mangkok sana. Aku ngambil baksonya di rumah!" Kak Aulia melangkah menuju rumahnya di depan.

"Kak, ikut," cegahku.

"Kamu di sini aja, bentaran doang." Kak Aulia sama sekali tak menghiraukanku.

Kak Ijul berdiri mendekatiku. "Ayo, masuk, Nay!" ajaknya.

Aku bergeming, tubuh gemetar kala jarak yang terputus di antara kami berdua. Kutundukkan wajah untuk menghindari bersitatap dengannya.

"Apa aku harus menggandengmu, Sayang?" bisik Kak Ijul, deru napasnya yang tersampaikan pada leher seketika membuat bulu kuduk meremang.

Aku segera mundur mengambil jarak, terlebih tampak Kak Aulia sudah berjalan mendekat. Aku tak ingin ada orang yang curiga. Kak Ijul melangkah ke dapur meninggalkan.

"Ayo, Nay. Kenapa bengong?" tanya Kak Aulia, tangannya menjinjing kantong plastik.

"A-anu, nungguin Kakak," jawabku gugup.

"Ya udah, ayo!" ajaknya.

Aku segera berpaling mengikuti Kak Aulia. Baru duduk, wanita yang usianya baru memasuki kepala tiga itu menatap.

"Kak Lily itu cemburuan, kamu jangan terlalu dekat Ijul, ya?" pesannya setengah berbisik.

Mendengar hal itu aku malah tertawa. Saking kerasnya perutku terasa kencang, pipi juga mendadak kebas.

"Kakak lucu. Lupa, ya, sama seleraku soal cowok gimana?" sahutku sambil menyeka air mata.

Iya, sebenarnya tak ada yang lucu. Aku tertawa, tapi malah air mata yang hampir berjatuhan. Bukan aku yang mendekat, tapi dia yang tak tahu diri saja! Argh, harus bagaimana aku menyampaikan semua!

Kak Ijul tampak mendekat membawa tiga mangkok kaca lengkap sendok dan garpunya. Satu tangannya lagi membawa botol air es besar dari dalam kulkas.

"Sini, sini." Kak Aulia bangkit dan mengambil alih mangkok. Cekatan membuka setiap bungkusan plastik.

Aku tak ingin makan apa pun, bahkan bakso terenak di kota rasanya hambar sekarang. Berkali-kali aku mengambil sambal tetap saja tak ada rasa apa-apa saat menyesap kuahnya.

"Kak, ada cabe?" tanyaku pada Kak Ijul terpaksa.

"Kakak ambilkan dulu." Kak Ijul yang tadi hendak menyuap gegas bangkit bersemangat.

"Nay, kamu udah banyak nyampurin sambel tadi. Nanti sakit perut?" Kak Aulia menatapku heran.

"Gak pedes sambelnya, gak berasa. Lagi mau yang super pedes," sahutku.

Wanita itu menggeleng-geleng dan kembali meneruskan makannya. Kak Ijul sudah datang membawa cabai. Segera kuambil, setiap menyuap satu sendok, kutambahkan satu cabai. Tetap saja aku seperti mati rasa sekarang. Tak hanya pada jiwa, tapi pada seluruh panca indra.

Sementara Kak Aulia sibuk membahas tentang Kak Yuni dengan Kak Ijul, pikiranku malah tak tentu arah berkelana pada banyak hal.

Mengapa harus aku yang sial dari balik semua masalah ini? Sampai kapan aku harus terus berada di rumah ini? Apa aku boleh berharap Kak Yuni cepat menjemputku kembali?

Bagaimana jika Kak Ijul akan mengulang perbuatannya?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bekas Pacar ( Indonesia )
7.9
Zetaya Diajeng Jayanti memilih mengunci rapat perasaannya akibat trauma masa lalu dari pengkhianatan cinta dan perceraian. Namun, takdir mempertemukannya lagi dengan Andaru Ansel Bratadikara, mantan pacarnya saat SMA yang kini juga seorang duda. Walau Zeta menolak keras kehadirannya, Daru tiada henti mendekat lewat kenangan indah dan rayuan yang gencar. Di antara rasa benci dan luka lama, sanggupkah Zeta bertahan atau justru kembali luluh oleh pesona sang mantan?
Sampul Novel Godaan Berdosa: Tuan Playboy Miliuner Memohon Kembali Padaku
9.3
Sejak kecil, Iris diadopsi oleh keluarga Stewart dan tumbuh menjadi kekasih rahasia dari pamannya, Vincent. Di balik reputasi playboy-nya, CEO itu bersikap sangat dingin pada Iris. Harapan Iris hancur saat lamaran tulusnya ditolak Vincent demi pernikahan bisnis. Ingin lepas dari penderitaan, Iris nekat menerima lamaran seorang pengacara. Namun di hari pernikahan, Vincent justru datang bersimpuh dan memohon agar Iris tidak pergi.
Sampul Novel Escaping The Madhouse
9.7
Alana, seorang gadis yang dijual oleh ibu tiri dan pacarnya ke sebuah pasar gelap yang menjual wanita-wanita muda untuk dijadikan budak seks. Beruntungnya, sebelum naik ke tempat pelelangan, Lana kabur dengan mengelabui para penjaga meskipun pada akhirnya dia tetap ketahuan. Mereka mulai mengejar Lana yang berlari dengan pakaian yang sangat terbuka dan juga bertelanjang kaki. Dia berlari dan menemukan sebuah rumah yang sangat mewah, kemudian menaiki pagarnya untuk menghindari kejaran orang-orang itu. Sayangnya, Lana tidak tahu rumah seperti apa yang dia masuki. Sekali dia masuk kedalam, dia tidak akan pernah bisa keluar lagi dari rumah itu. "Apakah ini adalah malam keberuntunganku? aku mendapatkan wanita tanpa membuang uangku. Diaz, Charlotte, bawa dia ke kamarku dan persiapkan semuanya." "Bantu aku untuk membalas dendam, sebagai bayarannya kau bisa menggunakan tubuhku sesukamu." "Lana, aku akan membantumu pergi dari tempat ini dan lepas dari cengkraman Jeffrey. Kamu tidak pantas diperlakukan sebagai alat pemuas oleh Jeffrey, malam iuni kau harus pergi setelah aku memberi tanda padamu. Jangan khawatirkan aku."
Sampul Novel Hasrat Kakak Tiri
9.6
Dua belas tahun di New York tak mampu menghapus obsesi Bryan Alexander pada adik tirinya, Deanisa Melody. Kini, sang CEO playboy harus menghadapi takdir saat Nisa mendadak menjadi asisten pribadinya. Meski bertekad menjaga jarak dan memperingatkan Nisa agar tetap profesional di kantor, Bryan terus tersiksa oleh perasaan lamanya. Batasan kerja pun diuji saat ia berjuang keras menahan hasrat mendalam terhadap gadis yang selalu menjadi candu baginya.
Sampul Novel Kalau Jodoh Takkan Kemana
8.1
Asmitha Nindiva hancur setelah Saga Anggara, sang tunangan, memilih bersama Marcella Anggita. Saat terpuruk, hadirlah Fahri Mahendra yang menemani dan membantunya memulihkan diri. Namun, ketika Asmitha mulai bangkit, hubungan Saga dan Cella justru berakhir. Saga pun datang lagi untuk merebut kembali hati Asmitha. Kini, Asmitha dihadapkan pada kebimbangan besar: kembali ke pelukan masa lalunya bersama Saga, atau membuka lembaran baru dengan Fahri yang tulus mencintainya.
Sampul Novel Kontrak Eksklusif untuk Kanaya
8.7
Hidup Kanaya hancur seketika akibat ketamakan ibu tirinya yang tega menjadikannya jaminan utang tanpa izin. Kini, ia terperangkap dalam cengkeraman rentenir paling kejam di kota. Di tengah situasi pelik yang mengancam masa depannya ini, kebebasan Kanaya benar-benar berada di ujung tanduk. Mampukah gadis malang ini bangkit melawan takdir buruknya, atau ia justru harus pasrah dan menyerah pada keadaan yang merenggut seluruh hidupnya?