APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DENDAM dan JERAT PESONA GADIS yang KUCULIK

DENDAM dan JERAT PESONA GADIS yang KUCULIK

Anggara menculik Almaira demi membalas dendam atas kematian ibunya. Ia ingin membuat ayah gadis itu menderita karena kehilangan putrinya selamanya. Namun, saat menyekap Almaira, benih cinta justru tumbuh di hati Anggara. Kini ia terjebak di antara kebencian masa lalu dan perasaan barunya. Akankah cinta mampu memadamkan amarahnya, sementara Almaira sendiri sangat membenci sang penculik?
Bab
Bagikan

Bab 2

Gerakan Almaira semakin melemah. Gadis itu hanya mampu meneteskan air mata sambil sesekali menghentak-hentakkan kaki dan tangannya yang sedang terikat. Ia menatap nanar punggung laki-laki licik di hadapannya yang semakin menjauhinya.

Anggara menutup pintu itu dengan kasar lalu terdengar suara gagang pintu yang sedang dikunci. Hal itu membuat kebencian Almaira pada pemuda itu tumbuh bagai virus yang menyebar begitu cepat memenuhi seluruh tubuhnya. Menjalar dan mengalir mengikuti aliran darah dan keluar menjadi nafasnya.

Apa salahnya? Bertemu pun tidak pernah.

'Apa Papaku pernah menggusur paksa tanah milik keluarganya?' pikir Almaira. Mengingat ayahnya adalah seorang pengusaha properti yang sangat sukses.

'Tapi laki-laki itu mengatakan tentang kehilangan seseorang yang dicintai. Apa maksudnya? Mungkinkah Papa memiliki wanita simpanan lalu laki-laki ini adalah anggota keluarganya? Atau bisa jadi dia adalah anak mereka dan itu berarti, laki-laki itu adalah saudaraku?' batin Almaira.

"Aaaarrrgggh..."

Almaira memberontak, mengehentakkan tubuhnya.

'Pikiran apa ini?!! Membayangkan laki-laki itu menjadi anggota keluargaku, perutku serasa ingin mengeluarkan semua isinya!' pekik Almaira di dalam hati.

'Tidak. Aku hanya akan membuang waktu dengan memikirkan alasannya menculikku. Aku akan mencari tahu setelah aku keluar dari neraka ini' batinnya sambil memperbaiki posisi duduk.

Gadis itu berusaha menggosok-gosokkan kakinya yang terikat oleh tali tambang. Agak sedikit longgar. Mungkin karena sedari tadi dia terus menggerakkan kaki dan tangannya.

'Tali macam apa ini. Sudah longgar masih saja susah untuk lepas. Sepertinya laki-laki licik itu mengikatnya dengan cara yang tidak biasa. Susah sekali,' racaunya hampir tak terdengar jelas akibat sumpalan di mulutnya yang masih erat.

“Aaaaaagggh…" erang Almaira menahan sakit pada pergelangan tangannya. Terasa ada goresan yang cukup perih dan meyebabkan luka karena ia terlalu memaksakan diri. Makin pedih jika semakin digerakkan.

Gadis itu menangis. Berusaha berteriak antara kesakitan dan amarah menjadi satu. Namun yang paling tidak bisa ia bendung adalah rasa takut. Takut itu benar-benar telah menyelimuti dirinya tanpa celah. Rasa takut itu membuatnya mampu mengumpulkan tenaga untuk berusaha mencari cara keluar dari tempat itu. Takut mungkin sebentar lagi laki-laki itu akan merenggut kehormatannya sebagai seorang gadis lalu setelah itu bisa jadi, tubuhnya akan dimutilasi. Bergidik ia membayangkannya. Berbagai macam pkirannya muncul dan itu membuatnya semakin tak terkendali.

'Aku akan membuat perhitungan denganmu, bangsat!' jerit batinnya menghempaskan kepalanya sendiri pada dinding tempatnya bersandar.

Almaira merasakan penyesalan terbesarnya selama ia hidup adalah ketika kemarin sore ia memutuskan keluar dari rumahnya sendirian untuk menyaksikan senja yang selalu mampu membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Senja adalah pemandangan indah yang bisa ia lihat di sebuah lapangan tidak jauh dari rumahnya. Biasanya ia selalu ditemani oleh pekerja kebunnya yang dipanggil Mamang Udin atau Bi Minah yang bertugas sebagai asisten rumah tangga harian di rumahnya. Kedua pekerja itu memang tidak tiap hari datang, namun secara berkala dan terjadwal.

'Andai aku lebih bersabar menunggu esok agar Bi Minah menemaniku, takdirku mungkin tidak seburuk ini,' isaknya dalam diam.

'Dengan liciknya, dia membiusku dan membawaku ke tempat terburuk ini, pencundang!' Almaira menendang tak beraturan, meluapkan kemarahannya.

Bayangan ayah dan ibunya muncul di pelupuk matanya. Almaira yakin, pasti saat ini mereka sedang bersusah payah mencarinya.

“Ma…Pa…aku di sini. Aku takut. Temukan aku secepatnya.” Tangis Almaira semakin deras.

Almaira berusaha bangkit. Ia mencoba berdiri dengan susah payah. Ia melompat-lompat kecil menuju setiap sudut ruangan. Mencari sesuatu yang mungkin bisa ia manfaatkan untuk melepaskan tali pengikat itu. Nihil…sebab ia pun tidak tahu alat apa di ruangan itu yang bisa membantunya. Yang bisa terlihat olehnya adalah kaleng bekas, botol berisikan air yang sudah keruh, sisa bungkusan makanan, beberapa wadah yang sangat kotor. Lebih tepatnya ia bisa menyimpulkan bahwa ruangan itu benar-benar sudah lama ditinggal dan tidak ada yang mengurusnya.

'Ini bukan ruangan untuk manusia, ini kandang hewan,' dengus gadis itu mengatupkan matanya.

Almaira menyerah. Rasanya seluruh tenaganya sudah habis terkuras. Perlahan ia kembali duduk menahan keseimbangan dirinya agar tubuhnya tidak terhempas di lantai. Sudah remuk rasa di tubuhnya, seperti tulang-tulangnya terasa akan terlepas dari daging. Perih semua. Usahanya untuk melepaskan diri dari laki-laki berwajah sangar itu membuat sekujur tubuhnya semakin sakit.

'Laki-laki pengecut!' umpatnya dalam hati.

Sangat ingin rasanya ia berteriak dan mengucapkan kalimat itu berulang kali. Mungkin seribu kali tidak cukup baginya. Api kebencian benar-benar membakarnya dengan sangat cepat.

Matanya bagai tidak memiliki ruang selain aliran untuk mengeluarkan air mata.

Hanya sinar lilin yang mulai redup seperti akan habis yang menyinari setiap sudut ruangan itu. Aroma debu yang lama mengendap membuat gadis itu sesekali mendenguskan hidung mungilnya.

Beberapa ekor tikus kecil menelusuri setiap garis dinding. Begitu acuh. Tidak peduli ada tamu di ruangan itu. Mungkin terlalu nyaman ruangan ini bagi mereka. Pekat. Dingin. Menakutkan.

Sekarang Almaira hanya mampu menatap kosong dinding yang di hadapannya. Dinding itu seolah memberikan cerita betapa sulitnya melewati masa. Terkelupas oleh dinginnya malam dan luruh oleh panasnya matahari. Almaira menekuk lututnya dan menghentikan usaha tangannya untuk melepaskan diri. Semakin ia bergerak terasa sakit sampai ke tulang.

Ada aroma darah yang bercampur dengan serpihan cat dinding yang semakin luruh akibat gesekan-gesekan yang ia ciptakan. Ia sesekali menggengam lalu membuka kembali kepalan tangannya. Tidak tahu lagi harus berbuat apa. Inikah yang disebut putus asa?

Rintihan-rintihan kecilnya terdengar hanya oleh angin malam. Walaupun Anggara menyumpal mulutnya dengan ikatan kain yang longgar, namun tetap saja dia tidak mampu mengeluarkan suara dengan jelas. Air liurnya membasahi kain itu dan membuatnya semakin berat. Gadis berkulit langsat itu benar-benar dalam masalah besar. Sungguh siapapun yang melihatnya akan sangat iba. Namun adakah yang bisa menolongnya?

***********************************************

"Ketika rasa sakit bertemu dengan dendam. Maka benci adalah keturunannya. "

Anonim

***********************************************

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ditakdirkan untuk Pria Terkaya di Dunia
8.1
Usai dikhianati tunangannya dalam kondisi mengandung, Livia hampir kehilangan nyawa hingga terpaksa melarikan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali dan menolong seorang anak kecil yang rupanya putra dari miliarder paling kaya. Sang konglomerat pun hadir melindunginya, menumpas semua musuh, serta membungkam saudara perempuan Livia yang jahat lewat klaim pernikahan rahasia mereka. Kini, Livia yang kebingungan harus menghadapi godaan sang suami misterius yang mendambakan anak kedua.
Sampul Novel Lenyap Usai Kata Pisah
8.2
Sofia Wijaya memilih mundur saat Olivia Kartika kembali ke sisi suaminya, Revan Mahendra. Melalui trik dokumen universitas, Sofia berhasil membuat sang pewaris mafia menandatangani perceraian tanpa disadari. Sofia pergi menjauh dalam keadaan hamil, membawa rahasia besar yang akan mengubah segalanya. Kini, Revan yang menyesal mengerahkan seluruh kekuasaan dunia bawah tanah untuk memburunya. Namun, Sofia telah bertransformasi menjadi sosok tangguh yang siap membuat mantan suaminya berlutut memohon cinta.
Sampul Novel Melepas Daster Burukku
7.8
Sartika hancur setelah Riya, sepupu suaminya, mengaku menjadi selingkuhan Roni. Rasa sakitnya kian dalam karena suaminya kerap merendahkan penampilannya yang kusam di hadapan Riya. Ogah terpuruk, Sartika mengubah dirinya menjadi sosok yang anggun dan menyiapkan rencana pembalasan yang matang. Saat Roni mulai mengemis maaf, mantan kekasih Sartika datang menawarkan kembali cintanya. Sartika pun dihadapkan pada pilihan sulit antara masa lalu atau lembaran baru.
Sampul Novel Mertua Pilih Kasih Tidak Tahu Kami Banyak Uang
8.8
Astri selalu bingung dengan kebencian mertuanya pada Ruslan, padahal wajah mereka sangat mirip. Selama ini, sang suami memilih bersabar menghadapi perlakuan tidak adil keluarganya. Namun, di balik kemiskinan yang terlihat, pasangan ini sebenarnya menyimpan kekayaan melimpah. Ketika sebuah peristiwa akhirnya melewati batas kesabaran Astri, ia memutuskan bertindak. Didukung penuh oleh Ruslan, Astri siap membongkar rahasia besar mereka demi memberi pelajaran pada mertua yang pilih kasih.
Sampul Novel Pacar Kontrak Berbalut Cinta
8.0
Sejak kecil, Tasya dan Kyler selalu bermusuhan. Namun, situasi mendesak memaksa mereka bersatu. Tasya harus segera mencari pasangan karena tekanan keluarganya, sedangkan Kyler berniat membalas dendam pada sahabat yang mengkhianatinya. Mereka akhirnya sepakat menjalin hubungan kontrak yang mengagetkan semua orang. Meski terpaut usia jauh dan awalnya saling benci, perasaan cinta perlahan tumbuh di antara mereka. Akankah sandiwara ini menjadi nyata?
Sampul Novel Tunangan yang Membiarkannya Mati
7.8
Dalam badai salju yang membekukan, tunanganku tega mengkhianatiku dan membiarkanku sekarat. Demi Karin, dia merampas telepon satelit serta selimut pintar buatanku. Karin bahkan merobek bajuku dengan kapak es sambil mengejekku, sebelum mereka membuangku ke lubang salju. Mereka mengira aku telah habis. Namun, mereka salah besar. Di balik lengan bajuku, tersimpan pemancar darurat rahasia yang siap kuaktifkan demi bertahan hidup dan membalas semuanya.