APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dendam Cinta Sang Miliarder

Dendam Cinta Sang Miliarder

Sagara Tyson Murphy dirundung duka mendalam setelah kematian tragis tunangannya, Janessa. Ia meluapkan kemarahannya pada Aluna Jaylee Morris, sosok yang dituding bertanggung jawab atas kecelakaan maut tersebut. Tak rela melihat Luna hidup bebas, Saga memaksanya menikah demi membalas dendam secara langsung. Demi melindungi orang-orang tercinta, Luna rela menanggung segala siksaan Saga. Namun, akankah kebencian Saga goyah saat tabir kebenaran perlahan mulai tersingkap?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Akhirnya, aku bisa beristirahat juga." Aluna Jaylee Morris bergumam sembari mendudukan diri di salah satu sofa panjang yang tertata di ruang utama dari unit apartemennya.

Luna - begitu biasanya gadis dengan paras cantik berusia dua puluh enam tahun itu disapa, baru saja selesai membersihkan diri selepas seharian ini menjalani hari yang cukup sibuk, karena pekerjaan.

Tersenyum sembari menundukan pandangan, Luna yang kala itu hendak meraih remot televisi malah sukses dibuat terhentikan pegerakannya, sebab mendadak ponsel yang ia simpan di permukaan meja kopi di hadapan, berdering.

Luna menoleh, menatap nanar permukaan layar ponselnya yang menyala, menunjukan kontak milik Aruna Eleana Morris - sang adik, terpampang, menghubunginga melalui sambungan panggilan suara.

Mengernyitkan kening, Luna lantas meraih ponselnya tersebut untuk langsung menerima panggilan dari Runa, mengabaikan rasa heran yang seketika menelusup dalam relung, sebab tidak biasanya adik cantiknya itu menghubungi dirinya.

Luna berdehem pelan, sebelum kemudian menahan ponsel yang digenggamnya di dekat daun telinga, selepas menggeser tombol hijau. "Hello, Ru-" "Kak, tolong bantu aku."

Belum sempat Luna merampungkan perkataan untuk menyapa sang adik, saat itu, Runa malah menyelanya dengan penuturan yang terdengar begitu lirih.

Suara Runa mengudara, mengecai ke dalam rungu Luna dengan agar gemetar, ayalnya seseorang yang tengah didera rasa ketakutan.

Tentu hal itu tak gagal membuat Luna panik seketika.

"Runa? Kau baik-baik saja, bukan? Kenapa tiba-tiba menghubungi Kakak dan minta bantuan seperti ini?"

Isak tangis kemudian menyusul, terdengar dari seberang sambungan sana. Sontak Luna membangkitkan diri dari duduknya. "Runa, saat ini kau sedang di mana? Biar Kakak datang ke sana dan menjemputmu."

"Ka-Kak ... ada seseorang yang akan menjemputmu sekarang ke apartmenmu. Tolong ikut saja dengannya. Dia akan membawamu kemari untuk menemuiku," tutur Runa dengan suaranya yang gemetar.

Luna saat itu merasa heran, tetapi tidak ada waktu baginya untuk berpikir secara logis, karena fokusnya saat hanya tertuju pada sang adik.

Bagaimanapun caranya, ia harus menemui adiknya saat itu juga dan memastikan bahwa Runa baik-baik saja.

"Baiklah. Tunggu Kakak, okay? Kau akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."

Pada saat yang sama, saat itu tiba-tiba bell dari pintu utama apartemen Luna berbunyi. Luna buru-buru menoleh ke arah di mana pintu tersebut berada.

"Orang yang kau maksud sepertinya sudah di sini, Kakak akan pergi sekarang."

Tanpa berpikir panjang dan tidak ingin membuang banyak waktu, Luna memutuskan untuk menghampiri pintu utama dari apartemennya tersebut dan langsung membukanya saat itu juga.

Ia sempat tertegun, karena saat itu ia mendapati ada tiga orang bertubuh tinggi semampai pun memiliki perawakan tegap berdiri di sana. Pakaian mereka formal, bersetelan teksudo hitam, lengkap dengan sepatu dan dasi berwarna senada.

"Nona Aluna?" Salah satu pria tadi bertanya.

Luna yang kala itu menatap mereka dengan tatapan nanar pun, mengangguk gamang. "Iya be-betul."

"Tuan Muda kami, meminta kami untuk memjemput anda Nona," terang si pria yang sama.

Kening Luna mengernyit, keheranan. "Tuan Muda? Siapa Tuan Muda kalian? Bukankah kalian datang ke sini untuk membawaku menemui adikku?"

Tiga pria tadi saling bertukar pandang beberapa saat. "Itu benar, Nona. Tuan Muda kami lah yang meminta kami untuk membawa Nona menemui adik Nona. Sebaiknya Nona tidak perlu banyak bertanya dan ikut saja," tandas salah satunya.

Luna mengerjapkan pelupuk matanya secara berulang. Jelas wajah cantik gadis itu menunjukan sebuah keraguan, tetapi saat benaknya kembali mengingat sang adik, Luna menepis kecurigaan tersebut.

Tanpa membuang lebih banyak waktu dengan bertanya atau mencurigai tiga pria tadi, Luna memutuskan untuk ikut saja bersama mereka.

Asalkan bisa menemui Runa dan melihat adiknya itu baik-baik saja, Luna tidak perduli dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.

Luna dibawa oleh ketiga pria tadi berkendara cukup jauh menggunakan sebuah mobil mewah berwarna hitam.

Hanya ada keheningan yang menguasai perjalan panjangnya, karena baik Luna atau pun pria yang membawanya, tidak ada satu pun yang bicara.

Pikiran Luna kalut. Ia cemas bukan main, takut sesuatu yang buruk saat itu terjadi pada sang adik.

"Kita sudah sampai, Nona." Salah satu pria yang membawa Luna kembali angkat suara, membuat sekelumit lamunan yang ada di benak Luna buyar saat itu juga.

Dua di antara tiga pria tadi membukakan pintu mobil untuk Luna. Luna pun tanpa berpikir panjang langsung beranjak.

Namun, begitu kedua tungkainya mendarat di dataran aspal dan gadis itu langsung memendarkan pandangan, Luna dibuat terpana dan berdecak kagum.

Tepat di hadapannya, ada sebuah bangunan megah yang disekitarnya dikelilingi taman hijau dengan halaman yang begitu luas. Sebuah mansion bercatkan putih, jika Luna tidak salah terka.

Membayangkan dirinya hidup di sana, memiliki suami tampan dan mapan, hidup berkecukupan, tidak perlu lagi bersusah payah untuk bekerja, memikirkan uang sewa apartemen dan biaya hidup sehari-hari, pasti sangat menyenangkan.

"Ikuti kami, Nona." Suara pria tadi kembali mengudara, membuat Luna kembali tersadar dari angan-angannya.

Luna tentu sedikit terhenyak. Ia menoleh dan tersenyum kikuk sembaei menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Apa adikku ada di dalam?"

"Ya. Ikut saja."

Luna mengangguk gamang. "Baiklah."

Menyingkirkan segala prasangka tidak baik dan perasaannya yang tiba-tiba tidak tenang, karena menyadari ada sesuatu yang sangat janggal, Luna pun mengikuti satu dari pria yang membawanya ke sana, menuntun dirinya memasuki mansion megah di hadapannya.

Manik mata Luna berbinar. Mulut kecil dengan bibir ranum itu menganga, selagi dirinya membiarkan pandangannya terpendar, menatap setiap kemegahan yang tersuguhkan di sana, membuat dirinya kagum bukan main.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Luna menginjakkan kaki di sebuah bangunan semegah ini.

Sebuah mansion yang di dalamnya dipenuhi dengan fornitur berkesan mewah dan mahal, unik dan juga aestetik.

Luna bahkan tidak pernah mengira jika tempat seperti ini, nyata adanya ... bukan hanya tergambar di film-film, atau pun diceritakan dalam buku yang suka sekali ia baca saat waktu luang.

"Nona, silahkan duduk di sini. Tuan Muda akan segera kemari untuk menemui anda nanti," tutur si pria yang menuntun Lunanmemasuki area ruang tamu megah yang dindingnya didominasi oleh warna abu gelap.

Luna pun mengangguk gamang dan mendudukan dirinya di sofa yang tertata rapi di sana, berusaha membuat dirinya merasa setenang mungkin.

Pandangannya tidak berhenti berpendar, menelisik setiap sudut ruang yang bisa tertangkap sejauh matanya memandang.

Kening Luna mengernyit keheranan. "Apa yang Runa lakukan di sini? Di tempat seperti ini?"

Tempat yang besar dan mewah layaknya sebuah istana, tidak pantas disebut hanya sebagai hunian belaka.

Di dalamnya bahkan banyak sekali penjaga, membuat Luna bertanya-tanya ... siapa gerangan sang pemilik dari tempat tersebut.

Jika saja dirinya tidak dengan sengaja dijemput dan diminta datang ke sana, Luna yakin ... tidak akan mudah baginya untuk masuk.

Penjagaan di sana sangatlah ketat. Setiap dirinya melewati ambang pintu yang menjadi penghubung antara ruang satu dan ruang yang lainnya, Luna bisa melihat selalu ada saja beberapa pria bertubuh kekar berjaga di sana.

"Silakan diminum, Nona."

Luna sedikit terhenyak, kala tiba-tiba saat itu ada seorang wanita paruh baya menyimpan segelas minuman di meja yang ada di hadapannya.

Luna menoleh, lalu tersenyum. "Terima kasih."

Wanita paruh baya yang Luna yakini merupakan salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di sana, membungkukan sedikit tubuhnya sekilas sambil membalas senyum Luna. "Kehormatan bagi saya, Nona."

"Umm, permisi Nyonya ... kapan saya bisa menemui adik saya?" Luna bertanya dengan penuh sopan santun.

Namun, kemudian Luna merasa bingung, karena wanita paruh baya tersebut, sepertinya sama sekali tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia tanyakan.

"Adik?"

Luna mengangguk dengan lugunya. "Iya. Saya datang kemari karena adik saya yang memintanya."

"Maksud Nona, Tuan Saga, adalah adik Nona?"

Kening Luna mengernyit samar. Ia kebingungan. "Tuan Saga? Siapa dia?"

Wanita paruh baya itu telihat menengadahkan pandangan beberapa saat, membuat Luna yang menatap nanar dirinya pun seketika mengikuti.

Pandangan wanita paruh baya tadi tertuju ke arah trali besi pembatas lantai dua, seperti tengah melihat seseorang.

Namun, pada saat Luna menoleh ke sana, gadis itu sama sekali tidak melihat siapapun ada di lantai dua tersebut.

"Saya permisi dulu, Nona." Tiba-tiba beliau berpamitan dan berlalu dari sana, kembali meninggalkan Luna bersama dengan kebingungan yang mengungkungi relung.

Luna menatap nanar sosok wanita paruh baya tersebut yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya, tertelan jarak dan terhalang dinding pembatas. "Aneh," hardiknya.

Pandangan Luna kemudian tertunduk. Ia menelan ludahnya dengan susah payah selagi membiarkan manik matanya menatap secangkir minuman yang ada di hadapannya. Asap mengepul dari sana. Aroma teh menyeruak, memenuhi indra penciuman Luna.

Luna berusaha mati-matian untuk menahan rasa ingin untuk menenggak minuman tersebut saat itu juga.

Teh hangat, memang selalu menjadi penggoda terkuat bagi Luna kala dirinya merasa butuh waktu untuk merileks'kan tubuh selepas seharian bergelut dengan pekerjaan.

Rutinitas Luna setiap sore atau malam, begitu ia selesai membersihkan diri, ia selalu duduk di balkon apartemennya, membaca buku sambil menikmati secangkir teh hangat.

Hal itu dirasanya selalu mempu membuat rasa lelah dan stress hilang dan tergantikan dengan rasa tenang.

"Kau bisa meminumnya. Tidak perlu ragu," bisik seorang pria tampan yang Luna tak ketahui keberadaannya, sedari tadi memperhatikan setiap gerak-geriknya dari lantai dua.

Salah satu sudut bibir pria yang bukan lain merupakan Sagara Tyson Murphy, menukik, membuat seringaian ngeri terpatri dengan sempurna, tatkala manik jelaganya yang beruara dingin mengintimidasi itu, menatap sosok Luna yang akhirnya menyerah dan menyesap secangkir teh yang sudah disiapkan di hadapannya.

"Bagus. Memang seperti itu seharusnya. Teh itu memang disediakan khusus untukmu, Aluna Jaylee Morris ... my bed buddy untuk malam ini."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Dendam dan Penyesalan
8.3
Tiga tahun menikah, Selena harus menerima kenyataan bahwa Harvey tidak pernah mencintainya. Saat divonis kanker, ia mendapati suaminya menemani wanita lain. Selena memilih pergi membawa surat cerai, namun Harvey justru mengungkap bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok balas dendam. Di tengah penderitaan sakit dan ayahnya yang koma akibat kecelakaan, Selena yang putus asa memilih melompat dari gedung untuk melunasi utang keluarganya. Harvey pun didera penyesalan hebat dan memohonnya kembali.
Sampul Novel Cabe-cabean Kekasih Vice President
7.8
Pertemuan tidak terduga di sebuah kelab malam mempertemukan Alexander Richard dengan Soraya, gadis berusia 19 tahun yang polos dan apa adanya. Walau perbedaan usia mereka terpaut delapan belas tahun membuat sang Vice President awalnya mengira hubungan ini tidak serius, ia justru jatuh hati teramat dalam. Sayangnya, masa lalu Soraya menyimpan rahasia yang berhubungan dengan luka lama Alexander. Kini, ia mesti berjuang mengatasi trauma besarnya demi mempertahankan cinta sang gadis impian.
Sampul Novel Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak
8.4
Dua pewaris takhta terkaya di New York, sang pembalap F1 dan genius investasi, telah bersahabat sejak kecil dan setia mengenakan lencana tembaga buatan Mia selama sepuluh tahun. Namun, kehadiran Ella, putri konglomerat baru, mengubah segalanya. Ketika kedua pria itu membuang lencana Mia demi emblem kain pemberian Ella, persahabatan mereka retak. Kecewa dengan pengkhianatan ini, Mia yang menyembunyikan identitas aslinya memutuskan menyerah dan menghubungi ayahnya di Sisilia untuk menerima pernikahan politik demi keluarganya.
Sampul Novel Istri Sang CEO (After Married)
8.7
Niat awal Sella untuk mencari pekerjaan berubah drastis saat ia justru terjebak dalam pernikahan kontrak. Dirinya terpaksa menjadi istri pengganti bagi Rishan, seorang CEO yang menikah hanya demi menepati janji pada ibunya. Tanpa ada rasa cinta, hubungan mereka diwarnai ego dan aturan sepihak dari Rishan yang dominan. Di tengah tuntutan aneh sang suami, Sella harus kuat bertahan dan berjuang mengendalikan perasaannya yang kian goyah dalam ikatan pernikahan paksaan ini.
Sampul Novel Malapetaka Cinta Claire
9.6
Mimpi Claire memiliki pernikahan indah sirna saat terjebak dalam siksaan keluarga konglomerat. Setelah dihina dan diceraikan Randi karena dinilai mandul, ia justru menemukan rahasia kelam masa lalu keluarga mereka. Berbekal dendam mendalam, Claire nekat merombak total fisik serta identitasnya untuk membalas rasa sakit hati tersebut. Mampukah ia menuntaskan misi balas dendamnya terhadap mantan suaminya?
Sampul Novel Mawar Hitam Berdarah
9.7
Lelah didera siksaan batin oleh mertua dan suaminya yang tidak adil, Maria akhirnya memilih bercerai. Ia dicap cacat karena belum punya anak, bahkan suaminya tega menikah lagi secara sepihak. Namun, takdir mempertemukannya dengan bos menyebalkan yang perlahan meluluhkan hatinya. Saat cinta baru mulai tumbuh, sang mantan suami justru datang memohon untuk rujuk. Maria kini terjebak di antara masa lalu atau memulai lembaran baru.