APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dear Ex and Mistakes

Dear Ex and Mistakes

Demi mengobati luka batin akibat perselingkuhan suami tercinta, aku memutuskan pergi enam tahun lalu. Di tengah upaya bertahan hidup dalam kehampaan rasa, takdir justru mempertemukan kami kembali. Mantan suamiku tiba-tiba muncul dan tinggal tepat di sebelah rumahku. Ia kini mencoba mendekat lagi, menyodorkan kembali harapan masa depan yang dahulu ia hancurkan demi perempuan lain. Sanggupkah aku membuka pintu maaf baginya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku kesal dan frustrasi. Mengapa harga rumah kontrakan di sekitar butik tempatku kerja tidak ada yang manusiawi untuk kumiliki? Aku bahkan sudah terjaga hingga dini hari demi menemukan rumah baru yang bisa kusewa dengan harga yang setidaknya sama dengan harga sewa rumahku saat ini. Pagiku terasa tak semenyenangkan biasanya. Mendapati kenyataan harus bersisian dengan pria itu, membuat semangatku jadi ambruk.

“Pagi, Ratih.” Pria itu entah sejak kapan sudah berada di depan pagar rumahku. Memakai kaus kerah dengan celana jins yang membuatnya tampak kasual—dan sialnya semakin tampan.

Aku mencoba abai pada sapaannya dan tetap membuka grendel dan pagarku agar motorku bisa keluar rumah. Aku harus bekerja keras demi masa depan. Masa depan cerah dan menyenangkan yang tak ada pria itu juga masa lalu kelam kami di dalamnya.

“Mau apa kamu masuk ke dalam?” Aku berteriak tak suka saat ternyata pria itu ikut masuk ke dalam pagar rumahku. “Aku mau pergi! Pergi kamu!” Aku mengunci pintu rumahku, mengunci kaitan helmku dan menutup wajahku dengan kaca helm gelap agar pria itu gak perlu melihat wajahku pagi ini.

Ia tampak menghela napas panjang dan lirih. “Ratih kamu ke mana saja?” Suaranya lembut dan tertangkap telingaku penuh penyesalan. “Aku cari kamu dan kupikir kamu—“ matanya memindai hunian sederhana yang kukontrak lima tahun ini. “—sudah berkeluarga.”

Entahlah. Memindai wajahnya yang tengah menatapku, membuat satu sudut hatiku terasa nyeri. Ini tidak benar. Ia adalah sosok yang harus segera kuenyahkan dari pikiranku, hatiku, juga hidupku.

“Aku tinggal di rumah sebelah. Keberuntunganku yang akhirnya bisa bertemu lagi sama kamu.”

Aku bergeming. Tak menjawab apapun yang katakan saat ini. Seharusnya, alih-alih menggangguku, kenapa ia tidak membantu istrinya saja di rumah. Samar aku menghela napas lirih dari balik helmku. Istri. Segitu mudahnya ia melanjutkan hidup, sedang aku sebegini berjuangnya hanya untuk terus melangkah maju menembus waktu. Aku menaiki motorku, membawanya keluar pagar dan kembali turun untuk menutup pagar rumah.

“Keluar,” ucapku ketus dan dingin pada pria itu yang masih berdiri di balik pagar rumahku. Ia melangkah gontai keluar pagar dan menungguku mengunci pagar rumah. Aku membuka kaca helm, lalu menatapnya sesaat sebelum bicara, “Kalaupun aku sudah menikah lagi, itu bukan urusanmu. Yang perlu kamu lakukan hanya menjauh dariku dan pergi dari hidupku.” Aku menurunkan kaca helmku lagi lalu melangkah menuju motorku dan meninggalkannya.

Tanpa ia tahu, bahwa mataku basah dan kaca helmku berembun. Terpaksa aku membuka kaca itu dan membiarkan angin bebas menyaksikan betapa rasa itu masih mendera hati dan hidupku.

*

“Mona apaan, sih!” Aku bergerak gusar dengan wajah jengah pada gadis ini. Sejak tadi, bukannya mengerjakan tugas dari Bu Rahma, ia malah terus memperhatikanku dengan wajahnya yang membuatku tak nyaman.

“Rumor soal rumah sebelah Mbak yang berhantu itu benar, ya, Mbak? Aku tadi gak sengaja dengar Mbak tanya-tanya ke orang produksi tentang rumah kontrakan dan—mata Mbak sembab kaya habis nangis atau gak tidur sampai subuh. Menurutku, kita adakan pengajian saja, Mbak. Barangkali penghuni nakalnya bisa terusir.”

Aku mendengkus lirih dan cepat. “Andai pengajian bisa mengusir penghuni sebelah, aku rela adakan pengajian tujuh hari tujuh malam.” Mataku menerawang pada logo butik yang bertuliskan Rahmantika Label, tempatku melanjutkan hidup setelah pergi dari rumah itu. “Aku nyaman berada di sini, tetapi aku bimbang apa harus pergi lagi.”

“Mbak kenapa?” Mona meletakkan pena gambarnya dan beranjak dari meja kerja gadis itu. Kini, ia sudah berada di hadapanku, duduk di kursi yang biasa Bu Rahma tempati saat berdiskusi tentang rancangan busana yang kubuat.

Mona adalah salah satu perancang junior sepertiku yang bekerja membantu Bu Rahma di butik ini. Bedanya, Mona menjalani hidupnya dengan ringan dan memiliki segudang rencana untuk mempersiapkan masa depannya. Ia hanya lulusan SMA sepertiku yang memiliki sertifikat keahlian menjahit dan menggambar pola busana. Ia datang ke tempat ini dan berkembang dengan kemampuan merancang busana atas arahan Bu Rahma. Sepertiku, ia mengawali karirnya di butik ini dari nol. Dari hanya sekadar pemayet dan penjahit, lalu belajar menggambar rancangan busana sederhana hingga setelah lima tahun karirnya di sini, ia duduk di meja sebelahku sebagai asisten Bu Rahma untuk merancang busana harian.

Aku menatap Mona yang selalu memiliki wajah ceria. Seakan hidupnya selalu baik-baik saja dan memang tampak seperti itu di mataku. Sudah dua tahun ia melanjutkan pendidikan management di fakultas ekonomi dan bermimpi memiliki garmen sendiri suatu hari nanti. Aku angkat topi dan bertepuk tangan dengan cita-cita gadis ini.

“Kamu tahu kan, Mon, kalau hidupku gak seperti orang-orang kebanyakan?”

Wajah Mona yang semula tanpak ringan, kini serius menatapku.

“Aku harus mencari tempat tinggal yang baru. Entah di kota lain atau kawasan lain, pokoknya bukan lagi di rumah itu.”

“Beneran ada hantu?” tanya Mona ragu-ragu.

Aku menggeleng pelan dengan gestur seakan tak memiliki tenaga dan harapan. “Ada masa laluku yang datang dan mengancam menghantui hidupku, Mon. Aku harus segera pergi dan menjauh lagi dari pria itu.”

Mata Mona membola. Aku tahu ia jelas terperanjat dengan apa yang kukatakan. “Si—itu?”

Aku mengangguk. “Dia penghuni sebelah rumah kontrakanku. Sejak kemarin pagi, katanya. Dia—sudah punya istri dan kehidupan yang jauh lebih baik dariku. Aku gak masalah, sih, dengan apa yang dia miliki saat ini. Aku tak akan mengungkit apa yang terjadi di masa silam. Hanya saja ....”

“Mbak masih ada rasa sama dia,” tebak Mona telak.

Aku menghela napas dan beranjak dari kursi kerjaku. “Aku mau bertemu Bu Rahma dulu. Mau laporan soal rancangan busana yang tamunya pesan semalam. Setelah itu, kalau kamu luang, bisa bantu aku cari rumah kontrakan yang harganya kurang lebih sama, gak, Mon?”

“Aku bantu, Mbak. Nanti pas jam makan siang kita cari sama-sama di beberapa laman.”

Senyumku terukir tulus untuk Mona. Ia memang lebih muda dua tahun dariku tetapi sikapnya tak pernah terlihat kekanakan. Meski pembawaannya ceria dan santai, ia tak pernah menghakimi seseorang atau merendahkan orang lain.

Waktu makan siang dan istirahat kami sudah habis, tetapi belum ada satupun hasil pencarian rumah kontrak. Jakarta memang kejam untuk urusan properti. Harga yang mereka tawarkan rata-rata di atas kemampuanku membayar. Aku tidak bisa tinggal di rumah kos karena saat libur, aku akan bising dengan suara mesin jahit yang membuat busana pesta anak. Aku harus tinggal di rumah, karena butuh setidaknya dua kamar untuk menyimpan stok kain yang akan kubuat menjadi baju.

“Rumah Mbak yang sekarang itu memang yang paling murah,” ucap Mona terdengar penuh sesal. “Aku yakin pemiliknya kasih harga murah karena lokasi yang ujung komplek banget dan kanan kirinya tanah kosong.”

“Sebentar lagi juga paling dibangun unit baru,” timpalku asal.

“Gak yakin, sih,” jawab Mona dengan wajah terlihat berpikir. “Rumah Mbak tuh, lokasinya agak aneh. Satu area, hanya berdiri dua rumah dan belakangnya sudah sungai besar. Aku gak yakin pengembang komplek itu akan bangun unit tepat di pinggir sungai. Riskan banget.”

“Terus intinya, aku harus gimana, Mon?” Jujur aku tak peduli dengan apapun yang akan pengembang perumahan tempat tinggalku rencanakan pada area aneh tempat rumah kontrakanku berdiri. Yang saat ini mengganggu pikiranku hanyalah bagaimana aku bisa mendapatkan kontrakan baru dengan harga yang cukup murah seperti yang kumiliki saat ini.

Mona menghela napas panjang dan lirih seraya meletakkan gawainya di laci meja kerja gadis itu. “Jujur aku belum tahu, Mbak. Cari rumah itu seperti jodoh. Susah-susah gampang. Kalau sekarang belum ada, ya berarti harus coba lagi besok dan besoknya lagi. Sementara ini, mau tidak mau ya Mbak Ratih harus bertahan di rumah itu bersama—“

“Berat, Mona,” tolakku frustrasi. “Tinggal bertetangga dengan mantan suami yang sudah beristri itu sama dengan bunuh diri.”

“Bukan bunuh diri, sih, kalau rasa di hati Mbak memang sudah mati. Masalahnya kan—“

“Aku akan bicara dengan Bu Rahma dan meminta ijin beliau untuk tinggal di butik ini.”

“Gila,” tukas Mona dengan decakan. “Dua puluh empat jam di gedung ini? Gila.”

“Lebih baik dari pada aku harus jadi sungguhan gila karena dipaksa hidup berdampingan dengan pria gila itu.”

Aku mengambil kertas-kertas skesaku lagi dan memutus obrolan kami. Saat ini sudah pukul satu lewat dan aku harus kembali bekerja. Bagiku mengelola waktu harus bisa seefisien mungkin. Ada banyak hal yang ingin kucapai dan membuang waktu tak akan membantuku mewujudkan itu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 49 Hari Bersama Tawanan Sexy
7.9
Model terkenal Tamara Levinka, tunangan dari CEO pembuat senjata Roger Jenandra, tiba-tiba lenyap secara misterius. Walau pencarian berskala besar dikerahkan, ia tak kunjung ditemukan. Setelah 49 hari berlalu, Tamara mendadak kembali dan membawa kabar mengejutkan. Di balik misteri hilangnya Tamara, ada Jeff yang sangat terobsesi padanya. Di sisi lain, Tamara pun siap mengorbankan apa saja demi Jeff. Hubungan asmara mereka bersemi di tengah pusaran konflik yang penuh bahaya.
Sampul Novel DICERAI SUAMI DINIKAHI BOS KEJAM
9.3
Tiga tahun Hana menjadi istri penurut yang diabaikan Bima tanpa kehangatan. Begitu sang kakek berpulang, ia langsung diceraikan agar suaminya bisa bersama wanita idaman lain. Saat terpuruk, Hana malah dipertemukan dengan Matheo. Kesalahpahaman besar membuat bos yang kejam itu menuduhnya sebagai mata-mata. Pertemuan tak terduga dengan pria dingin tersebut seketika mengubah total seluruh garis kehidupan Hana selanjutnya.
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Menjebak Ivander dalam pernikahan paksa rupanya menjadi penyesalan terbesar bagi Nada. Meski begitu, cara ini adalah satu-satunya jalan agar ia bisa terus mendampingi pria yang dahulu hidupnya telah ia hancurkan. Terbelenggu rasa bersalah, Nada kini bertekad menebus dosa masa lalu lewat pengabdiannya sebagai istri. Namun, akankah ketulusan Nada mampu meluluhkan amarah di hati Ivander, ataukah perjuangannya meraih maaf hanya akan berujung sia-sia?
Sampul Novel Jebakan Ibu Susu Bayiku
8.6
Elara terdesak menjadi ibu susu anak Viktor Laxmere, miliarder misterius, demi membiayai pengobatan sang ibu. Namun, pekerjaan ini justru membawanya masuk ke dalam lingkaran manipulasi dan intrik gelap. Di bawah kendali kekuasaan Viktor yang mutlak, Elara menghadapi dilema antara rasa benci dan benih cinta yang mulai tumbuh. Ia kini harus membongkar rahasia di balik tawaran tersebut sebelum sepenuhnya hancur sebagai pion dalam permainan berbahaya sang miliarder.
Sampul Novel My Fair Lady
9.0
Gugur di luar angkasa, Alex yang merupakan calon kaisar terlahir kembali di Bumi abad ke-21. Sialnya, jiwanya merasuki tubuh Alexandra, gadis tertindas yang dibenci keluarga Klein. Ia bahkan dipaksa menikahi Master Dietritch yang dingin demi menyelamatkan bisnis keluarganya. Walau dianggap sebelah mata sebagai sosok pengganti, jiwa tangguh Alex menolak menyerah. Kisah perjuangan sang ratu pemberani di bawah kuasa presiden tiran yang posesif pun dimulai.
Sampul Novel Pelaminan Tanpa Mempelai
9.3
Sebagai sekuel Enam Tahun Tanpa Malam Pertama, kisah ini menyoroti kepedihan seorang wanita akibat dosa masa lalu orang tuanya. Kehidupannya hancur saat sang kekasih pergi meninggalkannya di hari pernikahan. Takdir rumit kemudian menyeretnya ke dalam ikatan rumah tangga bersama putra dari musuh bebuyutan keluarganya. Mampukah ia bertahan menghadapi pernikahan yang penuh konflik dan dilema batin mendalam ini?