APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Damn! Dia Bosku

Damn! Dia Bosku

Alexandre Geraldo pulang dari Amerika demi mendapatkan kembali cinta Dara. Namun, sikap sang kekasih masa lalu kini berubah drastis menjadi sangat dingin. Di tengah penolakan tersebut, Alex juga harus menghadapi desakan orang tuanya untuk menikahi perempuan pilihan mereka. Terhimpit keadaan sulit ini, Alex pun mengambil langkah nekat. Mampukah ia membongkar rahasia besar yang disimpan Dara sekaligus merebut kembali hatinya di tengah segala konflik yang melanda?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Kenapa muka mirip Zombi gitu? Harusnya deket sama bos ganteng itu, muka tambah fress." Kila menyambut kedatangan Dara di kantin siang ini.

"Fress muka lo! Bos baru kita rese banget tau nggak! Kalau boleh demo, gue pengen nuntut Pak Adrian balik lagi ke kantor." Dara bersungut-sungut, sedangkan Kila terkekeh.

Beberapa saat kemudian makanan yang mereka pesan datang. Namun, Baru beberapa suap Dara makan, Alex menghubungi ponsel Dara. Gadis itu mencebik setelah membaca pesan dari bosnya itu.

"Kenapa?" Kila menghentikan suapannya karena melihat muka masam temannya.

"Baru mau makan udah disuruh-suruh. Apa dia nggak punya kaki? Tinggal ke resto aja apa susahnya!" Dara mengomel dan itu membuat Kila semakin bingung karena dia tidak tahu siapa yang dimaksud Dara.

"Lo ngomongin siapa?"

"Ya, siapa lagi kalau bukan bos baru. Tau resto western sekitar kantor?" Dara berbicara dengan Kila sambil melihat-lihat restoran di aplikasi online.

"Jauh. Nggak ada yang dekat. Paling dekat dua puluh menitan. Pesenin online ajalah!" Dara mengangguk. Setelah memesan pesanan sang direktur, Dara melanjutkan makannya.

Selesai menyantap siang, Dara beranjak menuju lobi. Dia menunggu pesanan yang tadi dia pesan melalui aplikasi online. Berkali-kali gadis itu melihat jam yang melingkar di tangannya. Istirahat siang tinggal sepuluh menit lagi berakhir. Namun, pesanannya belum juga datang.

Dara menunggu dengan cemas. Sudah pasti sang direktur akan marah dengan keterlambatan ini. Dia tahu kebiasaan Alex yang tepat waktu.

Setelah mendapat makanan yang dipesan, Dara segera ke atas. Dia mengambil keperluan makan di pantry. Kemudian berlari menuju ruangan Alex. Saat membuka pintu, Dara disambut oleh tatapan tajam sang bos. Kata-kata maaf yang telah disusun beberapa menit tadi menguap begitu saja.

"Kamu tahu istirahat makan siang telah berakhir?" Alex marah.

Dara menunduk sambil menyiapkan makanan sang bos di atas meja.

"Bawa semua makanan ini di sofa depan sana!" perintah Alex.

Dara mengangguk dan membawa makanan sang bos di sofa.

Alex telah bersiap duduk di sofa. Saat akan menyantap makanannya, lelaki beriris kelabu itu melihat sang sekretaris. "Saya tidak ada toleransi untuk keterlambatan. Lain kali usahakan semua tepat waktu!"

"Maaf, Pak. Resto American jauh dari kantor." Dara berbicara sambil menunduk.

Alex menatap tajam ke arah gadis itu. "Kamu bisa pesankan makanan apa saja yang dekat dengan kantor. Jangan beralasan!"

"Tapi, sekitar sini hanya ada makanan lokal. Bapak, kan, nggak suka makanan lokal."

"Siapa bilang? Saya bisa makan apa saja!" Suara Alex tegas dan Dara tercengang.

"Sejak kapan Bapak suka makanan lokal?" Rasa penasaran memenuhi kepala Dara.

"Itu bukan urusan kamu!"

Mulut Dara tertutup. Setelah memastikan sang direktur menyantap makanannya dengan tenang, Dara beranjak dari tempat itu. Baru beberapa langkah, Alex menghentikan Dara.

"Kerjaan saya banyak, Pak. Proposal yang Bapak minta baru setengah saya kerjakan. Jadi, saya mohon undur diri." Dara memohon.

"No! Temani saya makan! Bukannya kamu juga yang akan bereskan semua? Ya, kamu tunggu saya makan."

Dara semakin kesal. Jika saja yang di depannya bukan bos yang menggajinya, sudah pasti sepatu hak tingginya akan melayang di kepala lelaki itu.

Dengan sabar, Dara menunggu sang bos besar menyantap makannya. Gadis itu duduk di samping Alex dengan muka masam. Permainan di ponselnya tidak membuat perempuan itu senang. Setiap dia berpaling dan melihat wajah Alex, kekesalannya semakin bertambah.

"Bereskan semua!" Alex berlalu begitu saja ke mejanya. Meninggalkan Dara yang masih bengong karena perintah Alex.

Di luar ruangan, Dara terus mengomel. "Astaga! Sebenarnya gue ini sekretaris apa babu, sih? Kenapa gue harus berhadapan sama monster itu?" Gumaman Dara terdengar oleh Banu sang Office Boy kantor.

"Mbak Dara ngomong sama siapa?" Dara terkejut dengan suara Banu, kemudian berbalik ke belakang. Terlihat Banu baru keluar dari ruangan direksi lain.

"Gue ngomong sama elo! Bawa ni nampan ke belakang!" Muka jutek Dara membuat Banu menebak-nebak apa yang terjadi. Kemudian dia membawa nampan yang disodorkan Dara dan berlalu begitu saja.

Di ruangannya, Dara masih terus mengomel. Setelah mereda, dia menghidupkan komputer yang tadi dimatikan dan mengerjakan semua tugasnya. Sesaat dia melupakan wajah menyebalkan sang bos besar. Namun, ketenangan Dara tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Alex masuk ke ruangan kecil itu. Siapkan semua berkas, kita ketemu Mr. Swan sekarang!"

"Hah! Mr. Swan! Astaga, Bapak! Itu, kan, besok sore. Saya belum nge-print berkasnya!" Dara panik. Dia mengobrak-abrik apa saja yang ada di atas meja.

"Itu urusan kamu! Saya tunggu sekarang!"

Dengan sigap, Dara meng-copy paste semua berkas ke flashdisk dan membawa serta laptopnya. Dia teringat, di mobil kantor ada printer yang dia tinggal jika sewaktu-waktu ada keperluan.

Dara berlari mengejar Alex yang telah sampai di depan lift. Setelah berada di dalam lift, perdebatan terjadi.

"Seharusnya kamu persiapkan semua keperluan sebelum hari H, kenapa kamu sekarang jadi malas sekali?" Alex tidak terima.

Dara geram dengan ucapan sang bos. "Maaf, Pak. Selama saya bekerja dengan Pak Adrian, beliau selalu tepat waktu, tidak pernah mengubah jadwal yang sudah ditentukan. Jadi, saya bisa mengerjakan pekerjaan sesuai waktunya." Dara berbicara tanpa melihat Alex.

"Kamu berani membantah saya! Ingat! Saya dengan Papa sangat berbeda!" Alex berbicara tegas, tetapi itu membuat Dara semakin kesal.

"Mungkin saya butuh beradaptasi dengan Bapak!" Dara mengepalkan tangannya menahan amarah.

Alex melihat wajah Dara yang kesal. Lelaki itu terus memperhatikan mimik wajah itu. Namun, Dara tidak melihat Alex sedikit pun saat berbicara karena dia sibuk dengan ponselnya dan itu membuat Alex dapat menebak semua isi hati Dara. Diam-diam lelaki itu selalu tersenyum.

"Saya tau, ketika bicara sama saya, kamu membawa-bawa masa lalu. Jadi, setiap apa yang saya lakukan selalu salah!" Suara Alex terdengar seperti ejekan untuk Dara.

Gadis itu berpaling dari ponselnya dan melihat Alex, dilihatnya sang bos menyunggingkan senyum kemenangan. "Saya sudah lupa dengan masa lalu! Ingat itu, Pak!" tegas Dara.

Alex terkekeh dan itu membuat Dara semakin kesal. "Kita lihat saja ke depan. Siapa yang belum melupakan masa lalu!" Pintu lift terbuka dan Alex keluar begitu saja meninggalkan Dara.

Dara berlari untuk menyejajarkan dirinya dengan Alex. Namun, langkah lelaki itu sangat cepat dan membuat Dara kewalahan. Apalagi gadis itu membawa tas laptop yang dia jinjing, ditambah stelletto yang dia kenakan. Hal itu semakin membuatnya kesulitan berjalan.

Sesampainya di tempat parkir, Dara masuk ke kursi penumpang. Saat Alex mengikutinya untuk duduk di belakang, Dara melarangnya. "Maaf, Pak. Kursi samping sudah ditempati printer kesayangan saya."

Alex mendengkus kesal. Kemudian lelaki itu membuka pintu depan dan duduk di samping sopir.

Dara tersenyum penuh kemenangan. Dia tidak ingin terlalu dekat dengan bosnya. Gadis itu sudah berjanji akan menjaga jarak dengan sang direktur jika tidak ingin masa lalu terulang kembali.

Sesampainya di restoran, Tuan Swan sudah menunggu kedatangan Alex. Mereka saling menyambut dan sepertinya Alex telah kenal sebelumnya. Keduanya terlihat sangat akrab.

Dara menundukkan kepala dan tersenyum ketika Alex memperkenalkannya dengan Tuan Swan. Setelah itu mereka terlihat berbincang dan menikmati santapan yang telah dipesan sebelumnya.

Dara selalu mengamati wajah sang bos ketika berbincang dengan tamunya. Wajah berahang tegas itu, selalu menyunggingkan senyum. Telah lama Dara merindukan wajah tampan itu. Diam-diam Dara tersenyum melihat lelaki yang ada di sampingnya.

Dua jam berlalu, kedua bos besar itu hanya mengobrol santai. Mereka sama sekali tidak membicarakan pekerjaan. Hal itu membuat Dara bertanya-tanya. Untuk apa dia tergesa-gesa menyiapkan semua berkas jika mereka tidak membahas pekerjaan sama sekali.

"Pak, proposalnya nggak dibahas?" Dara bertanya pada Alex setelah tamunya kembali ke hotel.

"Dia cuma mau ngobrol santai. Kamu lihat tadi." Alex menjawab dengan tenang seakan-akan tidak terjadi apa pun.

"Terus ... kerjaan saya sia-sia? Ngapain tadi saya buru-buru?" Kekaguman Dara pada sang bos sirna. Berganti kekesalan yang mencokol di hatinya.

"Kamu ngapain marah?" Alex berjalan santai ke mobil dan Dara mengikutinya di belakang.

"Bapak nggak punya perasaan! Saya panik tadi, Pak!" Alex berhenti sejenak ketika sampai di samping mobil. Dilihatnya sang sekretaris yang kesulitan membawa barang di tangannya. Namun, kesulitan Dara merupakan kesenangan untuknya, terlihat lelaki itu hanya melihatnya saja, tidak ada niat untuk membantu.

"Kamu cantik kalau lagi marah!" Alex masuk ke mobil begitu saja. Tidak memedulikan Dara yang mematung di luar.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku  Dan Ayahku Super Tajir Melintir
7.8
Secara misterius, jiwa Ana tertukar ke dalam raga ibunya. Kejadian aneh ini justru menyingkap fakta bahwa ayah kandungnya adalah seorang bangsawan keraton bergelimang harta yang dahulu sempat merusak hidup mereka. Menghadapi kenyataan rumit tentang asal-usul dirinya, Ana bertekad untuk kembali mempersatukan cinta orang tuanya yang terpisah jurang sosial. Namun, merajut kembali hubungan yang penuh perbedaan itu menghadapkannya pada rintangan yang sangat berat.
Sampul Novel Gadis Penyuka Hujan
8.5
Setiap kali rintik hujan membasahi malam yang dingin, seorang siswi SMA kembali terjerat dalam memori kelam masa lalunya. Di balik tirai air itu, ia memendam duka mendalam serta realitas pahit sebagai remaja yang sedang mengandung. Perjalanan emosional ini menyoroti perjuangannya menghadapi luka lama yang terbuka kembali, sembari memikul beban hidup yang teramat berat di usia muda. Kisah pilu tentang rahasia, kesedihan, dan kenyataan hidup yang tak terelakkan.
Sampul Novel I Love You, Mbak
8.6
Demi menjaga wanita idaman tetap di sisinya, Leon rela berjuang meredam amarahnya yang meluap. Walau sadar caranya tidak selalu benar, ia menegaskan bahwa seluruh jiwanya telah terpikat oleh sosok Mbak tercinta. Kisah cinta dewasa ini menyoroti dedikasi emosional Leon yang begitu mendalam. Ia enggan melepas ikatan ini dan bertekad membuktikan bahwa asmaranya bukanlah kepalsuan, melainkan sebuah komitmen yang sepenuhnya tulus.
Sampul Novel Kuberi Segalanya, Tetapi Dia Berpaling
9.4
Saat disiram air oleh klien, Yoga hanya menerima makian dingin dari Raisa Gunawan, yang justru sibuk melindungi asistennya. Alih-alih membela, Raisa malah mencap Yoga sebagai pekerja tidak kompeten. Muak dengan ketidakadilan dan sikap dingin tersebut, Yoga memutuskan untuk membalas perlakuan kasar itu secara langsung sebelum akhirnya memilih pergi. Kisah drama modern dan romansa miliarder ini menyoroti keputusan berani Yoga untuk berhenti peduli dan meninggalkan posisinya.
Sampul Novel Menceraikan Suamiku yang Kejam
8.7
Setelah teman masa kecil suaminya menabrak mati orang tuanya saat mabuk, Yulia berniat melapor ke polisi. Namun, sang suami justru menyekapnya di ruang bawah tanah yang gelap selama tiga tahun penuh siksaan. Setiap kali disiksa, pria itu selalu bertanya apakah Yulia masih menyimpan kebencian. Demi kebebasannya, Yulia akhirnya menyerah dan memohon ampun melalui telepon. Begitu berhasil keluar dari kegelapan tersebut, Yulia menolak suaminya dan meminta perceraian, keputusan yang justru membuat pria kejam itu kehilangan akal sehatnya.
Sampul Novel TERJEBAK CINTA TUAN ANTARES
8.4
Dunia Alenka Gealova runtuh setelah ayah tirinya tega menjual dirinya kepada Antares, seorang miliarder dingin dan angkuh. Di usia sembilan belas tahun, Alenka dipaksa menjalani pernikahan yang mengguncang batinnya, mengubah gadis ceria ini menjadi pemurung. Antares sendiri hanya menganggap pernikahan ini sebagai formalitas demi menjaga citranya di mata klien. Kini, Alenka harus berjuang bertahan di tengah tekanan pernikahan palsu yang menyesakkan ini.