APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dalam Dekapan Dosen Tama

Dalam Dekapan Dosen Tama

Suasana tegang menyelimuti Tama saat ia mendekap erat Runa, memohon agar istrinya itu tidak lagi menjauh. Sambil menghirup aroma tubuh Runa dengan penuh damba, emosi Tama membuncah. Di tengah konflik batin yang melanda, ia berbisik lirih untuk menegaskan bahwa kebersamaan mereka adalah hal yang sah secara hukum dan agama. Sebagai pasutri, Tama merasa tidak ada alasan lagi bagi Runa untuk terus menghindari kewajibannya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Langkah kaki Aruna terdengar pelan menuruni koridor lantai dua fakultas ekonomi. Suara sepatunya menyentuh ubin seirama dengan degup jantungnya yang belum sepenuhnya tenang. Di tangannya, HP yang belum sempat dia periksa dari tadi terasa dingin, seperti telapak tangannya sendiri.

Dia berjalan perlahan, seperti sedang men

coba menyusun ulang percakapan yang baru saja terjadi di ruangan itu. Namun kepalanya justru semakin penuh dengan tanda tanya.

Di tengah perjalanan menuju tangga, dia sempat berhenti. Menoleh ke belakang.

Pintu ruangan Tama sudah tertutup rapat. Tak ada suara. Tak ada gerakan. Hanya pantulan samar dirinya di kaca jendela kecil pintu kayu itu. Sekilas, dia melihat bayangannya sendiri, tapi merasa seperti sedang menatap orang asing.

"Kenapa nanya tempat tinggal?"

"Kenapa nanya asal daerah?"

"Dan... 'kabar aneh dari luar atau keluarga' itu maksudnya apa, sih?"

Aruna menarik napas panjang. Matanya masih tertuju pada pintu yang sama.

Satu hal yang paling mengganggunya bukan pertanyaan-pertanyaan itu, tapi ekspresi wajah Tama. Dingin, tegas, tapi ada satu garis samar di wajahnya yang tak bisa Aruna abaikan. Kesal. Bukan kesal karena tugas, atau nilai, atau pelanggaran. Tapi seperti... karena kehadirannya.

Dan itu membuatnya merasa aneh.

Dia mengerjap cepat. Lalu kembali melangkah. Tapi belum sampai lima meter, dia berhenti lagi. Matanya kembali melirik ke arah pintu ruangan yang kini terasa jauh.

"Apa gue punya salah? Padahal gue nggak pernah cari masalah sama dia."

Kantin sore itu sudah setengah penuh. Beberapa mahasiswa duduk santai sambil membuka laptop, sebagian lain sibuk menunggu pesanan. Di pojok dekat jendela, Dewi sudah duduk sambil menggulung lengan jaket jeans-nya, wajahnya tak sabar menanti.

Begitu melihat Aruna muncul dari arah tangga, dia langsung heboh.

"NA!" panggilnya setengah berteriak. "Astaga, lo ngilang kayak ditelan lantai dua. Gue kira lo disuruh nulis makalah sepuluh halaman!"

Aruna hanya tersenyum samar dan duduk perlahan. Dia menaruh tas di pangkuan dan membuka tutup botol minum dari dalamnya.

"Dia cuma nanya soal tugas kemarin," katanya pelan.

"Hah? Itu doang? Serius?" Dewi menaikkan alisnya, tak puas. "Yakin banget tuh? Soalnya kamu keluar ruangan kayak abis diajakin nikah."

Aruna tertawa kecil, tapi tawanya terdengar hambar. "Lebay. Mana napsu dia sama gue, begini?"

"Bisa jadi. Tapi lo kelihatan aneh banget. Muka lo tuh... kayak habis nemu rahasia negara." Dewi menyipitkan matanya, berusaha membaca raut wajah Aruna. Tapi sahabatnya itu justru mengalihkan pandangan.

"Yah... mungkin gue cuma kaget aja dipanggil tiba-tiba. Kan gue bukan tipe mahasiswa yang gampang dikenal dosen. Males banget d panggil-panggil, Kayak penting aja."

"Justru itu! Lo tuh nggak pernah nyolok di kelas. Tapi tadi... Lo dua kali disebut namanya. Terus dipanggil pula. Dan itu sama Dosen Tama. Tama, Na! The one and only!"

Aruna menghela napas. Dia menggenggam botol minumnya lebih erat dari yang perlu. Dewi bersandar ke kursi, bibirnya membentuk senyum menyelidik.

"Oke, gimana kalau ini cuma tebakan gue. Jangan marah. Tapi... bisa jadi sih dosen kita itu... tertarik sama Lo?"

Aruna menoleh cepat.

"Hah? Gila. Jangan aneh-aneh, Ngawur aja." Aruna menoleh cepat.

"Lho! Bisa aja, kan? Lo beda dari mahasiswa lain. Nggak heboh, nggak ngefans buta. Bisa jadi itu bikin Lo justru menarik di mata dia. Teori psikologi bilang-"

"Ngawur. Anjir." umpat Runa "Gue nggak minat urusan sama orang-orang kayak dia."

Dewi mengerutkan kening. "Maksudnya?"

"Orang terpandang. Populer. Terlalu banyak sorotan. Dia tuh... dunia yang beda dari kita-kita.."

Dewi terdiam. Sorot mata Aruna sangat serius, seperti sedang bicara dari lubuk paling dalam dari dirinya.

"Jangan mikir aneh-aneh. Gue nggak tahu apa yang dia pikirin, dan gue juga nggak peduli. Yang jelas, gue cuma mahasiswa. Dan dia dosen. Udah cukup sampai situ aja."

Dewi mengangguk pelan, mengerti. Dia tak jadi heboh. Tapi masih menyimpan rasa penasaran yang belum terjawab.

"Oke... Paham." Dia mengaduk minumannya, lalu tersenyum kecil. "Tapi kalo suatu hari nanti lo tiba-tiba jadi headline gosip fakultas, jangan lupa bilang duluan ke gue, ya."

"Lanjutin itu. Gue putus pala lo!!"

"Nggak jadi!" Dewi langsung beringsut, mengangkat tangan.

Aruna cuma menggeleng dan menatap keluar jendela. Dari jauh, langit sudah mulai berubah warna. Dan hatinya pun, mulai diselimuti kabut samar yang belum juga hilang sejak dia keluar dari ruangan dosen itu.

Di balik tatapan diamnya, pikirannya terus berkecamuk. Dia tidak bisa berkata jujur bahkan pada Dewi, karena Aruna sendiri belum sepenuhnya paham apa yang sedang terjadi.

.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARJUNA MENCARI CINTA
9.3
Arjuna Levin, CEO sombong di Jakarta, terbiasa memanfaatkan kekuasaan untuk mempermainkan hati wanita tanpa komitmen. Namun, dominasinya runtuh saat ia bertemu Jane Calista Cintania, gadis lembut dan lugu yang berhasil memikatnya. Sang miliarder kini justru berbalik mengejar dan memohon ketulusan dari Jane. Akankah Arjuna sukses menaklukkan hati gadis tersebut, atau ia harus merasakan kepedihan akibat penolakan?
Sampul Novel Budak di atas Ranjang
8.3
Izabelle terpaksa menyerahkan kesuciannya kepada Jordan Heron demi melunasi utang judi sang ayah yang hampir membuat mereka kehilangan tempat tinggal. Bos mafia yang kejam itu telah menanti untuk merenggut kehormatan Belle lewat transaksi terlarang yang menyakitkan. Walau ada kenikmatan di tengah penderitaan, Belle justru menerima hinaan keji dari Jordan setelah malam intim mereka usai. Kini, dalam sekapan sang pria bajingan, sanggupkah Izabelle bertahan melewati masa depannya yang suram?
Sampul Novel My Lovely CEO
8.4
Sebelum pernikahan resmi mereka, Ellen berteriak histeris begitu menyadari tindakan Reyhan Saputra. Sambil menutupi badannya, ia memaki pria itu. Bukannya marah, Reyhan malah tertawa gemas. Setelah mematikan kompor, ia mendekat hingga membuat Ellen terdesak ke dinding. Ellen merasa geli sekaligus tegang saat Reyhan memegang tengkuknya. Dengan seringai nakal, Reyhan pun menawarkan diri untuk mempraktikkan langsung contoh perbuatan tersebut.
Sampul Novel Pembalasan Carly Hamilton
8.5
Carly Hamilton menjalani hidup miskin sebagai mantan penjaga bar sebelum terjebak pernikahan paksa dengan wanita dari keluarga kaya raya. Setiap hari, ia terus menerima hinaan serta caci maki yang menyakitkan dari orang-orang sekelilingnya. Berbagai cobaan berat tiada henti menghantam hidup Carly. Namun, titik balik besar akhirnya datang saat keberuntungan berpihak padanya. Carly pun bangkit untuk membalas dendam dan memaksa mereka yang dulu meremehkannya berlutut memohon ampun.
Sampul Novel RAHIM GADIS SEWAAN
7.8
Zevanya menghadapi kesulitan finansial yang sangat berat. Demi membayar utang yang menumpuk dan membiayai operasi jantung sang ayah, ia terpaksa mengambil jalan pintas dengan menyewakan rahimnya. Harapan untuk merasakan pernikahan yang bahagia pun lenyap seketika karena ia harus mengandung anak dari pasangan suami istri lain. Kini, Zevanya harus berjuang menjalani hidup sebagai ibu pengganti. Mampukah ia bertahan melahirkan bayi yang tak bisa ia miliki demi menyelamatkan keluarganya?
Sampul Novel WINGLESS ANGEL
8.2
Helsa memilih pergi menjauhi Akmal demi melindungi janin di kandungannya. Dalam pelarian itu, takdir membawanya ke dalam pernikahan tak terduga dengan Adryan Van Brawijaya, seorang dokter residen spesialis. Namun, kedamaian runtuh saat rahasia besar terungkap bahwa Helsa mengandung anak dari mantan kekasihnya. Penyesalan mendalam Helsa dan kebencian sang ibu mertua yang merasa dikhianati kini mengubah kebahagiaan mereka menjadi kepedihan yang penuh air mata.