APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CLBK(Cinta Lama Biar Kembali)

CLBK(Cinta Lama Biar Kembali)

Restu orang tua yang tak didapat menghancurkan hubungan Ayu dan Irfan. Irfan terpaksa menikahi Desi, sahabat Ayu sendiri. Demi mengobati luka hatinya, Ayu memilih pergi ke kota lain. Namun, saat Ayu mencoba membuka hati untuk pria baru, Irfan kembali datang mengejarnya. Meski Irfan bersumpah hanya mencintai Ayu selamanya, Ayu menolak dengan tegas. Ia enggan menjadi perusak rumah tangga sang mantan, walau sisa cinta itu sebenarnya masih ada.
Bab
Bagikan

Bab 2

~~~***~~~

"Eh, kalian tahu gak sih? Irfan ninggalin Ayu buat nikah sama Desi. Kok bisa gitu ya? Padahal apa kurangnya Ayu daripada Desi?"

"Mereka kan tidak direstui orang tua masing-masing, jadi wajar saja berpisah."

"Tapi katanya, selama pacaran, Ayu itu manja, gak menghargai Irfan sebagai laki laki. Sering nyuruh sesuka dia. Ngelunjak ."

"Iya, betul. Katanya pacaran sama Ayu mah main-main. Irfan cintanya sama Desi dari dulu."

"Selama pacaran, Ayu sering morotin, makanya orangtua Irfan gak setuju. Dan bla … bla …"

Langkah kaki gadis cantik itu terpaku di depan gardu. Di dalam sana, teman-temannya sedang ramai menggosipkannya. Sepertinya mereka tak menyadari kehadirannya karena mereka masih asyik bergosip.

Gadis itu meringis dalam hati, bagaimana bisa mereka membicarakannya di belakangnya padahal mereka teman nongkrong bareng. 

Suara bisikan yang menggosipkannya itu tiba-tiba berhenti, sepertinya kini mereka menyadari kehadiran dirinya. Wajah mereka berubah pucat meski senyum palsu terbit di bibir mereka.

"Eh Ayu, dari mana? Nongkrong sini yuk, biar rame," celetuk Tia, tetangga belakang rumahnya.

Ayu tersenyum, getir, " nanti aja. Mau makan baso dulu takut dingin. Duluan ya..!" 

Ayu pamit pergi tapi tak ada yang menyahutinya. Ayu tertawa pilu. Apa yang dia harapkan? Mereka berbalik simpati padanya, padahal mereka baru saja membicarakannya? Bodoh. Seharusnya ia tak perlu menyapa mereka.

Langkah lebar gadis itu melambat saat melihat banyaknya para pedagang makanan yang sedang berkumpul di halaman rumah Desi yang sudah dihias seadanya. Jarak rumahnya dan rumah Desi yang terpisah lima rumah, meski rumah Desi berada di balik tikungan, namun ia tetap bisa melihat jelas apa pun yang terjadi di sana.

Kerumunan orang nyaris membanjiri jalanan, seakan sedang terjadi pembagian sembako saja disana. bahkan jumlah kendaraan yang parkir sampai ke rumah tetangganya, saking banyaknya kendaraan yang mengiringi acara lamaran. Karena tradisi masyrakat di sini, apabila ada yang melamar, maka dari pihak calon mempelai laki-laki akan diantar banyak orang. Apalagi bila sang calon mempelai pria berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Yang mengiringi nyaris sekampung itu sendiri. Seperti Irfan ini, salah satu orang terkaya dan terkenal sebagai juragan kambing di kampungnya.

Ayu menggigit bibirnya, pahit. Seharusnya ia mengingat hari ini, hari di mana Irfan akan melamar Desi untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Bodoh sekali ia pake acara keluar rumah tadi. Gara-gara ingin membeli baso super pedas. Lihatlah akibat perbuatannya sekarang. Ia harus menelan pil pahit menjadi obyek gossip semua orang dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Irfan akan melamar teman dekatnya sore ini.

Dadanya semakin sesak dan wajahnya berubah semakin pucat. Ia yakin sebentar lagi akan pingsan.

Tak tahan lagi dengan dengan tekanan perasaanya, dirinya berlari memasuki rumahnya. Bergegas menutup pintu, jendela dan gorden rapat- rapat. Ia harap tak akan mendengar suara apa pun di luar sana.

Kemudian ia memasuki dapur dan meletakkan basonya begitu saja. Membuka kotak besar di sampingnya untuk meminum air dingin guna menyegarkan isi otaknya yang ngebul. Pandangan matanya kosong menatap cicak-cicak di dinding.

Emaknya yang sedari tadi duduk manis sambil makan rengginang, menatap Ayu bingung.

"Loh, kok malah bengong? Bukannya dimakan tuh baso?"

"Buat Emak saja."

Gadis itu menyodorkan basonya yang sudah dibelinya susah payah ke hadapan Emaknya, yang langsung diterima Emak dengan senang hati. Dari tadi wanita itu menahan liurnya melihat bakso urat berwarna merah yang menggoda. Pasti pedas pisan. Buru-buru diambilnya mangkok di rak.

Ayu duduk memperhatikan emaknya menuang baso ke dalam mangkuk dengan wajah murung.

 "Jangan mikirin si Irfan lagi, dia udah mau jadi milik orang. Kayak gak ada cowok lain aja." Asih, emak Ayu, memukul lengannya membuatnya tersentak dari lamunan panjangnya.

"Siapa yang mikirin A Irfan? Ayu biasa aja."

"Jangan bohong, Emak sudah hapal gelagat tubuhmu dari dulu. Kamu masih mikirin si Irfan itu, kan? Buktinya dari tadi bengong aja. Lupain-lah, pamali mikirin calon laki orang!"

Ayu hendak membantah tapi bapaknya tiba-tiba datang dari belakangnya, menyelanya.

"Bener banget. Neng tahu gak, si Irfan dinikahin sama si Desi soalnya si Dicky sewot dombanya kalah terus. Sengaja dia milih Desi biar kamu sakit hati trus gila. Balas dendamnya ke bapak lewat kamu. Karena kalau kamu stress, bapak juga bakal stress. Ngerti gak, Neng?"

"Lagian bapak kenapa sih berantem mulu sama uwa Dicky? Jadinya Neng gak bisa nikah sama a Irfan?"

 "Kamu pikir Bapak seneng berantem sama dia, gitu? Bapak mah suka ngalah, tanya aja ke orang-orang. Itu sih Dicky-nya aja yang dendaman soalnya domba jalunya kalah terus. Udah tahu gak pernah menang ngelawan si Asep, tapi nantangin mulu."

"Tapi Bapak juga respon terus. Buktinya ditantang adu domba malah ngeiyain bukannya menghindar, giliran kalah, musuhan. Efeknya ke hubungan Ayu sama Irfan. Seolah-olah Ayu ditinggalin nikah karena pertikaian kalian."

"Biarin aja orang ngomong apa. Lagian siapa yang mau besanan sama keluarga seperti itu? Keluarganya itu panasan, gak bisa lihat Bapak sukses dikit langsung nantangin aja. Bapak mah sebenarnya suka menghindar. Dia-nya yang suka deketin karena pengen ngalahin bapak. Bapak merespon cuman bela diri, buat ngejaga harkat martabat kita. Bisa abis kita ditindas orang kalau ngalah terus, mah."

"Tapi ..." Ucapan Ayu diputus emaknya.

"Kayak gak ada cowok laen aja, belain si Irfan terus. Emang dia ngapain kamu sampe segitunya dibelain terus. Udah lupain, cari yang lebih ganteng, lebih kaya, trus sayang ke Emak Bapak. "

Ayu merengut, menahan airmatanya yang nyaris  terjatuh." Siapa juga yang masih inget Irfan? Bodo amat. Dia udah mau jadi suami orang ini,"

"Tuh nyadar, kirain saking cintanya mau ngerusak rumahtangga orang. Awas aja kalau sampai kamu jadi pelakor. Emak gak terima anak Emak murahan kayak gitu." 

"Ih, apaan, sih. Ayu mah cewek baik-baik, gak mungkin ngelakuin itu. Ayu cuman gak suka digosipin macem-macem. Ayu kan gak pernah berbuat kasar sama A Irfan. Udah ah, jangan bahas dia terus. Bikin nafsu makan Ayu ilang aja,"

Ayu berbalik menuju kamarnya, meninggalkan kedua orangtuanya yang sudah asyik sendiri memakan bakso.

Ayu menaiki kasurnya, dan memejamkan matanya dengan tenang. Sayang, bagaimana pun lisannya keras mengatakan sudah melupakannya, nyatanya hatinya meraung-raung mengatakan sebaliknya. Ia belum rela!

***

Sementara itu di rumah Desi, acara pertunangan Desi dan Irfan berlangsung lancar meski Irfan lebih banyak terlihat diam. Kedua orangtua kedua belah pihak tampak bahagia karena akhirnya mereka bisa saling besanan.

"Akhirnya kita bisa besanan. Bukan gitu?" Kata Emaknya Desi bahagia.

"Iya. Coba dari dulu dia begini. Gak bakal jadi bujang lapuk dia."

Terdengar suara tawa orang-orang mendengar lelucon ayah Irfan. Semua juga tahu Irfan masih muda, 25 tahun mah belum lapuk alias lagi panas-panasnya.

Sementara Irfan yang menjadi obyek pembicaraan memilih diam saja. Ia mengeluarkan ponselnya kala mendengar bunyi pesan masuk. Dalam sekejap, ia hanyut dengan ponselnya, melupakan fakta bahwa ia sedang berada dalam acara penting dalam hidupnya.

Desi yang duduk di sampingnya, menahan dongkol dalam hati karena Irfan lebih memilih bercumbu dengan benda mati itu daripada mengobrol dengannya. Sungguh, sikap yang tidak sopan!

Padahal ini kan acara lamarannya, hari special mereka di mana mereka selangkah lagi akan menjadi suami istri. Seharusnya Irfan memfokuskan perhatiannya hanya padanya, bukan pada kotak tipis tak bernyawa warna hitam itu.

Di luar awan cerah. Senja beranjak malam tapi suasana di halaman rumah Desi yang besar dan luas itu masih tampak ramai. Si empunya hajat dibantu sanak saudara mengeluarkan makan malam di luar ruangan supaya bisa makan bersama-sama dengan para tamu pengantar. Begitulah, bila acara lamaran, maka pihak keluarga perempuan akan menyuguhkan makanan berat dan ringan. 

Desi mengambilkan Irfan makanan dan mengulurkanya depan Irfan yang masih saja memainkan ponselnya. Desi sungguh marah, tapi ia tak berkutik. Tak mungkin, kan, memarahi Irfan dihari penting ini? Bisa-bisa acara lamaran ini batal. Dia tak mau itu terjadi.

"Makan sama soto aja, gak papa, kan?" Tanya Desi sambil tersenyum manis. Ia harap senyumnya bisa mengalihkan focus Irfan.

Hari ini Desi mengenakan baju tunic berwarna merah dan celana hitam, ditunjang make up yang sesuai membuat penampilannya *manglingi. Ia memang sudah ke salon dari jauh-jauh hari supaya hari ini ia bisa tampil memukau banyak orang. Hasilnya tidak mengecewakan. Semua orang memujinya cantik. Sayang, disaat yang lain ramai memujinya, Irfan diam saja membuatnya dongkol.

 *beda, mempesona

"Terserah,"

Irfan masih acuh padanya. Desi merapalkan kata sabar dalam hatinya berpuluh-puluh kali. Mungkin ia masih patah hati karena meninggalkan Ayu. Seiring waktu ia yakin bisa meraih hati Irfan. Toh dulu, setiap Ayu berhalangan menemani Irfan, ia yang menggantikan. Dan Irfan selalu senang saat bersamanya. Ini hanya masalah waktu.

"Simpan dulu ponselnya. Makan dulu, ya! Mau aku suapin?" Desi berkata lagi. Ia pegal dari tadi memegangi piring nasi untuk Irfan tapi Irfan tak jua mengambilnya.

"Diem aja, bisa, kan? Aku udah gak nafsu makan lagi denger suara kamu!" Irfan menjawab ketus tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel membuat kesabaran Desi hilang sudah. Ia meletakkan piring di tangannya di lantai di samping makanan lainnya.

"Ya udah kalau gak mau makan, gpp ko." Desi menyahutinya dengan senyum manis. Berbanding terbalik dengan hatinya yang berteriak marah tak terima Irfan memperlakukannya seperti itu.

Sikap kedua calon pengantin itu tak luput dari pengamatan orang-orang. Desi mulai gelisah saat beberapa orang tamu melihatnya dan Irfan dengan tatapan menyelidik. 

Siapa yang tidak merasa penasaran. Di acara lamaran yang penting ini, dimana seharusnya kedua calon saling tersenyum bahagia. Ini malah sebaliknya. Yang lelaki sibuk memainkan ponselnya, yang perempuan duduk disampingnya, gelisah sendiri. Harusnya di acara sepenting ini, sang lelaki menunda dulu memainkan ponselnya dan focus dengan pasangannya. Memang sesibuk apa urusannya sampai di acara lamaran pun tidak bisa ditunda.

Sadar pandangan penasaran orang-orang pada mereka semakin bertambah, Desi pun menggenggam jemari Irfan yang satu lagi. Seolah-olah ingin mengatakan kalau ia dan Irfan baik-baik saja. Untungnya Irfan pun tak marah dengan kelakuannya.

"Lagi hubungin siapa sih, Ai? Sibuk pisan?" Desi senyum-senyum manja. Ia sengaja memepetkan badannya ke lengan Irfan, sehingga buah dadanya menempel di lengan Irfan. Untunglah Irfan tidak menepisnya, kalau tidak, Desi memilih pergi ke kamarnya saja. Ia malu!

Desi berusaha mengintip isi chat Irfan namun Irfan mematikan ponselnya, sehingga Desi tidak bisa melihat isi pesan itu.

"Bukan siapa-siapa. Cuman calon pembeli kambing !" Irfan menyahut ketus membuat Desi lagi-lagi menggeram dalam hati.

"Semoga pembelinya selalu banyak ya, Aa!" Desi menyahut tulus, berpura-pura percaya. Namun jauh dilubuk hatinya, pikirannya terpusat pada satu orang yang bisa saja mengganggu kebahagiaannya.

'Kalau sampai kamu masih menghubungi Irfan, awas kamu, Yu!'

~~~***~~~

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA TAK MEMILIKI POLA
8.0
Demi menghidupi kedua buah hatinya, Dirgana rela membanting tulang sebagai pengemudi ojek online. Suatu hari, takdir mempertemukannya dengan Dimas, seorang anak pemilik toko emas yang sedang dirundung keputusasaan. Tanpa disangka, ibu Dimas ternyata telah merencanakan pernikahan rahasia untuk mereka berdua. Rencana ini dibuat sebagai wujud balas budi atas kebaikan Dirgana dahulu. Kini, keduanya harus mengarungi bahtera rumah tangga tersembunyi yang penuh dengan ketidakpastian.
Sampul Novel DERITA PERNIKAHAN PAKSA
9.3
Kehidupan Vivian berubah menjadi mimpi buruk sejak dipaksa menikah dengan Maximilian Windsor. Hari-harinya dipenuhi kekerasan fisik dan mental yang menyisakan trauma berat. Di tengah keputusasaan, hadirlah River, sosok penyayang yang selalu melindungi dan menguatkannya. Namun, obsesi gila Max memicu tragedi hingga Vivian hamil anak sang suami yang sangat ia benci. Kini, ia didera dilema besar antara ketulusan River atau Max yang merupakan ayah kandung dari janinnya.
Sampul Novel Donat Penyelamat
8.9
Kehidupan pernikahan Cita dan Danang, yang terpaut usia sepuluh tahun, kini didera cobaan berat. Akibat kecelakaan tragis yang dialaminya, Danang mengalami kelumpuhan total pada kakinya. Kondisi ini memaksa Cita berjuang sendirian sebagai tulang punggung demi menopang ekonomi keluarga mereka. Di tengah kesulitan tersebut, ia juga harus menghadapi penolakan keras dari sang mertua. Mampukah kekuatan cinta mereka bertahan melewati badai ujian ini demi meraih kebahagiaan?
Sampul Novel Let's Watch the Stars Forever
7.9
Ataya, seorang gadis yang selalu didera rasa benci pada diri sendiri, menemukan titik balik hidupnya setelah bertemu dengan seorang pemuda yang memiliki kecintaan mendalam pada astronomi. Lewat pesona langit malam yang mereka amati bersama, ia perlahan mulai berdamai dan menghargai jati dirinya. Di tengah proses memulihkan luka batin tersebut, Ataya menyadari bahwa benih cinta yang tulus telah tumbuh untuk sosok lelaki yang setia mendampingi setiap langkahnya.
Sampul Novel Mama Polos Dan Bayi Jenius
9.2
Kehidupan seorang wanita berubah total setelah insiden salah kamar enam tahun lalu. Tanpa mengetahui identitas pria malam itu, ia memilih kabur demi membesarkan anaknya seorang diri. Kini, takdir mempertemukan mereka kembali di dunia kerja, di mana ia menjadi sekretaris dari pria tersebut. Meski sang bos tidak mengenali dirinya, ketertarikan kuat mulai tumbuh di antara mereka. Di tengah situasi ini, rahasia masa lalu membayangi ketenangan hidupnya.
Sampul Novel Tanpa Rasa
8.8
Meisya terpaksa menyerahkan kesuciannya kepada Mario demi membiayai operasi sang ayah. Namun, keputusan itu justru menjerumuskannya ke dalam penderitaan tanpa akhir. Alih-alih menjadikannya kekasih, Mario malah memperlakukan Meisya sebagai pemuas hasrat pribadi. Kini, ia terjebak dalam hubungan rahasia yang merendahkan harga dirinya, melayani Mario kapan pun demi uang, sambil terus didera rasa bersalah karena telah mengkhianati Pelangi, sahabatnya sendiri.