APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka

Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka

Brama Wijaya memenjarakanku lima tahun akibat fitnah membunuh Kania. Pasca bebas, siksaan kejam di kandang anjing dan paksaan obat mandul harus kutanggung. Saat Kania terbukti hidup, Brama membiarkan adikku tewas di tangannya. Aku memilih mati demi balas dendam. Kini, aku terbangun di hari kebebasanku dahulu. Lewat kesempatan kedua ini, aku bersumpah menyeret Brama dan Kania ke neraka atas semua penderitaan yang mereka perbuat.
Bab
Bagikan

Bab 3

Cairan itu membakar tenggorokanku, meninggalkan jejak berapi-api dan mengendap seperti bara panas di perutku. Panasnya hari musim panas di luar terasa seperti lelucon kejam dibandingkan dengan neraka yang berkobar di dalam diriku. Inilah solusi akhir Brama. Dia tidak hanya akan menghukum masa kiniku; dia akan menghapus masa depanku. Pria baik hati dan saleh yang dilihat dunia adalah monster, dan cintaku padanya telah menjadi arsitek kehancuranku sendiri.

Tapi aku harus hidup. Untuk Arga. Ingatan akan pesan terakhir nenekku menjadi mantra di tengah kekacauan rasa sakitku. Aku harus melindunginya.

Lututku lemas. Gelombang kram perut yang menyiksa mencengkeramku, begitu hebat hingga merenggut napasku. Aku menggigit bibirku untuk menahan jeritan, merasakan rasa anyir darah. Rasa sakit itu adalah makhluk hidup, memutar dan merobekku dari dalam.

Aku ambruk ke lantai, meringkuk seperti bola. Batuk hebat mengguncang tubuhku, dan aku memuntahkan seteguk darah ke marmer putih.

Di seberang ruangan, Brama tersentak. Untuk sesaat, kilatan sesuatu—kegelisahan, mungkin—melintas di wajahnya yang sempurna. Itu adalah retakan pertama yang kulihat di topeng esnya dalam lima tahun.

"Panggil dokter," bentaknya pada seorang pelayan di dekatnya, suaranya tegang.

"Tidak," aku terengah-engah, memaksakan kata itu keluar di tengah rasa sakit. "Tidak perlu dokter. Arga. Kau sudah berjanji."

Dia menatapku, wajahnya kembali menjadi topeng kemarahan dingin. Dia berbalik dan berjalan keluar ruangan, meninggalkanku menggeliat di lantai dalam genangan darahku sendiri.

Jam-jam berikutnya adalah kabut rasa sakit yang luar biasa. Seorang dokter datang, perutku dipompa, dan dunia memudar dan muncul kembali dalam gelombang penderitaan dan ketidaksadaran. Aku terbangun bukan di rumah sakit, tetapi di sebuah kamar kecil yang lembap di paviliun pelayan. Itu adalah sebuah sel.

Tubuhku adalah simfoni rasa sakit. Aku merasa kosong, cangkang rapuh yang bisa pecah kapan saja.

Pintu terbuka dengan keras, membuatku terlonjak. Seorang pelayan yang tidak kukenali berdiri di sana, wajahnya menyeringai jijik. Dia melemparkan sebuah bungkusan kain ke arahku. Bungkusan itu mendarat di atas selimut tipis yang menutupi kakiku.

Itu adalah sebuah gaun. Sepotong renda hitam yang sangat pendek dan tipis yang terlihat seperti pakaian penari telanjang. Kainnya murah dan kasar di jariku.

"Perintah Tuan," kata pelayan itu, suaranya penuh ejekan. "Kau harus memakai ini malam ini."

"Tidak," bisikku, suaraku serak. Aku mendorong gaun itu menjauh seolah-olah itu adalah ular berbisa.

Seringai pelayan itu melebar. Dia melangkah maju dan menamparku dengan keras. "Kau tidak punya pilihan." Dia merobek selimut dariku dan, dengan bantuan pelayan lain, memaksa tubuhku yang memberontak masuk ke dalam pakaian memalukan itu. "Tuan Brama sedang menjamu tamu. Dia ingin kau melayani mereka."

Mereka menyeretku keluar dari kamar, tubuhku gemetar tak terkendali. Di permukaan cermin lorong yang mengilap, aku melihat sekilas diriku sendiri. Aku adalah orang-orangan sawah yang mengenakan pakaian pelacur, wajahku pucat dan memar, mataku terbelalak ketakutan. Sulit untuk bernapas.

Mereka mendorongku ke ruang makan pribadi. Meja itu ditata untuk tiga orang, dengan gelas kristal dan peralatan perak yang berkilauan. Brama duduk di kepala meja, tampak tenang dan tak tersentuh seperti dewa. Dia bahkan tidak melirikku.

Dia akan memamerkanku di depan seseorang seperti ini. Dia akan menjual sisa harga diriku demi kepuasan gilanya sendiri.

Seorang pria besar dan berminyak berusia lima puluhan duduk di seberang Brama. Matanya menjelajahi tubuhku, senyum mesum menyebar di wajahnya.

"Jadi, ini hadiah kecil yang kau janjikan padaku, Brama," kata pria itu dengan suara keras, menjilati bibirnya. "Kudengar dia cukup liar."

Brama akhirnya menatapku, matanya dingin. "Pak Hartono, Anjani ada di sini untuk memastikan Anda menikmati malam yang menyenangkan."

Dia memberikanku pada babi ini. Sebagai hukuman.

Pikiranku kosong karena ngeri. Aku terhuyung mundur, mencoba melarikan diri, tetapi para pelayan menahanku dengan kuat.

"Brama, tidak," aku memohon, air mata mengalir di wajahku. "Tolong, jangan lakukan ini padaku."

Pak Hartono tertawa, suara yang mengerikan dan basah. Dia bangkit dan berjalan terhuyung-huyung ke arahku. "Jangan khawatir, sayang. Suamimu hanya ingin aku memberimu pelajaran. Dia menyuruhku untuk melakukannya dengan tuntas."

Dia mengulurkan tangan ke arahku, jari-jarinya yang gemuk mencengkeram lenganku. Dunia berputar, dan pikiran sadarku yang terakhir adalah jeritan yang tidak pernah keluar dari bibirku.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Astaga, Gairahku Diketahuinya
8.6
Menghadapi kondisi kesehatan yang terus menurun dan suasana hati yang buruk, seorang wanita akhirnya memberanikan diri berkonsultasi dengan seorang praktisi pengobatan tradisional. Sebelumnya, ia sangat ragu karena menyembunyikan rahasia besar tentang kecanduan seks yang dialaminya, khawatir sang dokter akan mengetahuinya. Ketakutan itu menjadi kenyataan saat ia tiba di klinik. Tatapan sang dokter berubah drastis, hingga akhirnya ia membaringkan wanita itu di meja periksa dan merobek pakaian dalamnya yang basah.
Sampul Novel Budak ranjang tuan muda
8.2
Renata, seorang mahasiswi pertanian, dikhianati oleh kekasihnya sendiri, Rian, yang tega menjualnya kepada pemuda kaya raya bernama Albert demi kepentingan bisnis. Setiap hari, Renata terpaksa menuruti nafsu Albert, bahkan di saat pria itu sedang diselimuti kemarahan. Namun, seiring berjalannya waktu, kebencian di antara mereka perlahan berubah menjadi cinta. Albert pun bertekad menjadikan Renata sebagai istri, meski harus menentang restu orang tua dan membatalkan pertunangannya.
Sampul Novel Cinta Mati Bersama Kepergian Buah Hati
8.5
Pernikahan transaksi Scarlett hancur saat Devan memilih menyelamatkan wanita lain dalam kecelakaan, membuat Scarlett kehilangan bayinya. Sadar cintanya sia-sia, ia meminta cerai. Tiga bulan kemudian, Scarlett bangkit menjadi wanita sukses di atas panggung. Devan yang menyesal mencoba mengklaimnya kembali sebagai istri di depan publik. Namun, Scarlett dengan dingin menyodorkan surat cerai, membuat sang miliarder yang biasanya tenang kini kehilangan kendali karena enggan melepaskannya.
Sampul Novel Dibiarkan Mati: Dosa Gembong Mafia
8.6
Suamiku, bos mafia Jakarta, enggan punya anak denganku. Rahasia kelamnya terbongkar: ia punya putra dari musuh kami. Kebengisannya membuatku keguguran, lalu selingkuhannya melempar jasadku ke jurang. Berhasil selamat, aku bangkit sebagai arsitek ternama dunia. Saat aku tampil di televisi, sang gembong mafia yang dulu menghancurkan dan membiarkanku mati kini bersujud memohon maaf di kakiku.
Sampul Novel Getaran Hasrat Cinta
8.8
Clara terpaksa menjadi madam demi menggantikan sang ibu. Kehidupan kelam ini ia jalani sejak James merebut kesuciannya lewat transaksi mahal. Dipenuhi rasa benci, Clara bersumpah akan menghancurkan hidup lelaki itu sebagai balas dendam atas takdir buruknya. Namun, rencana tersebut diuji saat James kembali hadir sebagai pelanggannya. Di tengah gemerlap dunia malam, pertarungan sengit antara harga diri, dendam, dan hasrat yang membara pun tidak lagi terhindarkan.
Sampul Novel Kobaran Masa Lalu
7.8
Kehadiran wanita asing merusak rumah tangga sang protagonis dalam novel Kobaran Masa Lalu. Suami dan putranya justru membela wanita manipulatif itu hingga memicu perceraian. Di hari perpisahan, sang istri dikunci di kamar yang sengaja diledakkan dengan tabung gas. Tragisnya, sang suami yang bekerja sebagai pemadam kebakaran memilih menyelamatkan wanita lain karena mengira istrinya telah tewas. Ketika mereka bertemu kembali, tuduhan kejam justru kembali dilayangkan kepadanya.