APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cintamu Seperti Uang Kecil

Cintamu Seperti Uang Kecil

Tekanan hidup akibat lonjakan harga pangan membuat Rani frustrasi. Di tengah situasi sulit ini, Dimas, sang suami, hanya memberinya uang belanja harian sebesar 25 ribu rupiah untuk lauk-pauk, meski kebutuhan pokok lain sudah ia siapkan. Rani menganggap jatah tersebut sangat tidak masuk akal dan menilai suaminya teramat pelit. Saat menerima uang itu dengan ketus, ia merenung gusar bahwa nominal sekecil itu bahkan tidak cukup untuk membeli bedak, apalagi memenuhi gizi mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu, udara Cipinang masih dingin saat Rani duduk di beranda, menggenggam cangkir teh yang tak lagi hangat. Matanya sembab. Ia tidak tidur semalaman. Bukan karena Reza, bukan karena pesan singkat yang dibalas itu... tapi karena Dimas tak pulang.

Tanpa kabar.

Tanpa pesan.

Tanpa peduli.

Sudah tiga tahun menikah, tapi setiap malam seperti ini, Rani masih bertanya-tanya: apakah aku ini istri atau cuma pengurus rumah tangga?

"Bu... ayah ke mana?" tanya Aira polos dari balik pintu. Rambutnya acak-acakan, matanya masih setengah mengantuk.

"Lagi lembur, Sayang," jawab Rani cepat, menahan suara bergetar.

Padahal bahkan ponselnya tak bisa dihubungi. Sejak semalam.

Setelah mengantar Aira ke sekolah, Rani berjalan pelan menyusuri gang kecil menuju minimarket. Tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat toko baru yang sedang direnovasi. Plang besar tergantung di atasnya bertuliskan:

"ROTI KLASIK - Cabang Cipinang"

Dan di depannya... berdiri sosok yang tak asing.

Reza.

Masih sama seperti dulu. Senyumnya tenang, rambutnya sedikit lebih panjang, dan posturnya masih tinggi seperti yang ia ingat. Tapi kali ini, ia memakai baju kerja rapi, berbicara dengan karyawan sambil menunjuk-nunjuk desain interior. Laki-laki itu terlihat... berhasil.

"Rani?"

Suaranya membuat tubuh Rani menegang.

Ia menoleh. Pelan.

"Reza..."

Mereka saling menatap beberapa detik. Waktu seolah berhenti.

"Kamu makin kurus, ya," ucap Reza pelan.

Rani tersenyum kaku. "Kamu berubah banyak. Toko ini punyamu?"

Reza mengangguk. "Aku partner. Bukan punya sendiri, tapi aku yang urus cabang sini."

Rani menunduk. "Wah... selamat ya. Kamu berhasil."

Reza menatap Rani dengan mata yang hangat-mata yang dulu pernah jadi tempatnya bercerita, menangis, tertawa. "Aku nggak lupa kamu yang dulu percaya aku bisa."

Jantung Rani berdegup pelan. Ada sesuatu dalam kata-kata itu yang menusuk hatinya. Ia rindu seseorang yang percaya padanya... dan seseorang yang bisa ia percaya.

"Kamu gimana? Bahagia?" tanya Reza akhirnya.

Pertanyaan itu sederhana, tapi Rani tak tahu harus menjawab apa. Bahagia? Apa itu masih bisa didefinisikan?

Ia hanya berkata, "Aira sehat. Dimas kerja. Semua berjalan."

Reza mengangguk, tapi ekspresinya mengatakan ia tahu: Rani tidak benar-benar baik-baik saja.

"Kalau sempat... mampirlah. Ada tempat duduk di dalam. Aku pengin ngobrol, kayak dulu."

Rani tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan lalu berpaling, melanjutkan langkahnya yang terasa lebih berat dari sebelumnya.

Malamnya, Dimas akhirnya pulang. Pukul sebelas lewat dua puluh. Bau parfum wanita melekat samar di kerah bajunya. Rani melihatnya dari balik dapur, jantungnya dingin.

"Kamu ke mana?" tanyanya pelan saat Dimas mengganti baju.

"Lembur," jawab Dimas singkat.

"Kenapa nggak kabarin?"

"Lagi sibuk. Jangan ribet, Ran. Udah gede harus ngerti keadaan."

Rani menggenggam tangan di balik punggungnya. "Aku bukan minta banyak, Dim. Cuma satu kabar. Satu pesan. Aku cuma istrimu, bukan pembantumu yang harus nebak-nebak."

Dimas menoleh tajam. "Kamu mulai banyak nuntut ya. Jangan bawa-bawa status istri segala. Aku yang cari uang, kamu tinggal jaga rumah. Simple kan?"

Rani tertawa getir. "Simple buat kamu. Karena kamu nggak tahu rasanya sendirian nunggu seseorang yang bahkan nggak peduli kamu tidur atau tidak."

Dimas menatap Rani lama, sebelum akhirnya membuang muka. "Aku capek. Nggak mau ribut malam-malam."

Lalu masuk kamar. Menutup pintu. Meninggalkan Rani berdiri di dapur, dengan air mata yang jatuh diam-diam ke lantai.

Dua hari berlalu. Dan hari ketiga, Rani datang ke toko Reza.

Ia berdiri di depan pintu kaca yang bersih dan rapi. Interior toko wangi dengan aroma roti baru matang. Musik jazz mengalun pelan. Reza sedang duduk, membaca sesuatu di laptop. Tapi saat melihat Rani masuk, ia langsung berdiri.

"Ran."

Rani hanya tersenyum, duduk pelan di bangku dekat jendela.

"Kamu sendirian?" tanya Reza.

Rani mengangguk. "Aira sekolah. Dimas kerja."

"Dan kamu?"

Rani menarik napas dalam-dalam. "Aku capek, Za. Capek banget."

Reza tak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di sebelahnya, memberi ruang, memberi waktu. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat air mata Rani jatuh.

Tanpa suara.

Tanpa drama.

Tapi penuh luka.

"Aku nggak pengin selingkuh, Za," katanya pelan. "Tapi aku juga manusia. Aku cuma pengin ngerasain dicintai lagi. Didengar. Dianggap penting."

Reza menatapnya lama. "Aku tahu. Dan kamu nggak salah karena merasa begitu."

Rani mengangguk pelan. Ia tahu ia sedang berdiri di ujung tebing. Dan satu langkah ke depan bisa menghancurkan segalanya. Tapi diam di tempat pun terasa makin menyakitkan.

Di luar, hujan mulai turun. Tapi di dalam hati Rani, badai sudah lebih dulu datang. Dan untuk pertama kalinya, ia tak lagi yakin ingin berteduh di rumah yang sama... jika rumah itu tak lagi membuatnya merasa pulang.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO LEBAY
8.3
Richard tewas usai kalah memperebutkan Claudia. Di akhirat, protesnya atas nasib buruk berbuah kesempatan hidup kedua dari Tuhan. Ia pun bangkit berkat doa tulus seorang gadis, lengkap dengan ingatan masa lalu yang luar biasa. Kini, Richard menguasai banyak bahasa, seni, serta lokasi harta karun. Sembari mengejar Claudia dengan kekayaan barunya, ia mulai bimbang apakah obsesi itu benar atau justru ada cinta lain yang jauh lebih tulus untuknya.
Sampul Novel Cinta & Selingkuh
8.9
Dunia Stela runtuh seketika saat ia memergoki suaminya berselingkuh di depan matanya sendiri. Meski hatinya hancur lebur melihat pria yang dicintainya bermesraan dengan wanita lain, ia menolak untuk menyerah dan pergi begitu saja. Di tengah rasa sakit yang mendalam, Stela memilih bertahan demi menjalankan rencana balas dendam yang matang. Ia bertekad membuat sang suami membayar mahal kesalahannya dan merasakan kepedihan serupa yang kini tengah ia rasakan sendirian.
Sampul Novel Gadis Perawan Untuk CEO
8.6
Devanka nyaris kehilangan kesucian akibat ulah tetangga, ancaman kutukan karma bagi keluarganya. Di tengah situasi pelik ini, ia bertemu seorang CEO arogan yang butuh istri perawan demi memenuhi wasiat kakeknya yang berumur 80 tahun. Bagi keluarga besar Hamzah yang sangat berkuasa, kehormatan mutlak terletak pada kesucian sang menantu. Kini, takdir hidup Devanka sepenuhnya terikat pada ambisi besar keluarga konglomerat tersebut.
Sampul Novel Gairah sang gadis hiper
7.9
Kehidupan harmonis Revi hancur seketika akibat sebuah tragedi kelam. Peristiwa itu mengubah dirinya menjadi pribadi yang terobsesi pada kepuasan seksual hingga terjebak dalam lingkaran hitam yang tak berujung. Di tengah keterpurukan moral dan krisis harga diri, Revi terus didera keraguan mendalam. Ia mempertanyakan apakah sosok wanita dengan masa lalu sekelam dirinya masih pantas mendapatkan cinta yang tulus dari seorang pria baik-baik.
Sampul Novel Istriku Bukan Selingkuhanku
8.1
Satu dekade membina rumah tangga, bara cinta antara aku dan Mas Bram tak pernah padam. Sebagai bos sibuk yang kerap mengurus cabang di luar kota, ia selalu punya cara cerdik untuk menemuiku secara sembunyi-sembunyi dari ibunya. Pagi ini, kehangatan itu kembali terasa lewat pelukan manja dan kecupan mesra di leher saat aku sibuk di dapur. Sikap romantisnya selalu berhasil memanjakan diriku, membuatku tak berdaya dan hanyut dalam pesona gairah suami tercinta.
Sampul Novel Kasih Sayang Mendalam: Sayang, Kembalilah Padaku
8.7
Selama dua tahun, Nina menjalani pernikahan kontrak dengan suami misterius yang tak pernah ia temui. Suatu malam, sebuah kekeliruan fatal membuatnya salah masuk kamar dan menyerahkan kesucian kepada pria asing. Akibat pelanggaran ini, ia terancam denda besar dan memutuskan untuk meminta cerai. Namun, saat menyerahkan berkas perceraian, Nina syok mendapati bahwa suaminya ternyata adalah pria yang sama yang menghabiskan malam bersamanya.