
Cinta yang Tak Mungkin Kembali
Bab 3
Declan melangkah masuk. Begitu membuka mulut, yang dilontarkannya adalah teguran. "Brenda, cuma taruh sedikit barang saja. Sejak kapan kamu jadi sepelit ini?"
Safira menarik lengan bajunya, berkata dengan wajah penuh rasa kasihan, "Maaf, Bu Brenda. Aku cuma berpikir karena kamu nggak ada di sini beberapa hari ini, jadi aku pakai sementara saja. Aku nggak menyangka kamu akan marah, sampai melempar barang-barangku ke lantai ...."
Sambil berkata demikian, dia bahkan hendak membungkuk padaku.
Declan segera menahannya, sorot matanya tajam dan dingin. "Brenda, jangan keterlaluan. Safira juga bukan sengaja. Sudahlah, jangan dibesar-besarkan."
Ini sudah keberapa kalinya dia marah padaku demi Safira? Aku sendiri sudah tidak ingat lagi. Karena tidak ingin terlibat dalam sandiwara ini, aku memeluk kotak dan langsung pergi.
Saat melewati Safira, tiba-tiba kakiku tersandung sesuatu. Sorot mata Declan berubah, dia berusaha menarikku, tetapi tetap terlambat. Aku terjatuh ke lantai. Isi kotak berserakan di mana-mana, pergelangan tanganku pun tergores.
Declan melangkah mendekat dan mengulurkan tangan padaku. Namun kemudian, seolah melihat sesuatu, dia memungut dua lembar kertas dari lantai.
"Surat pengunduran diri? Dan satu lagi ini ...."
....
Aku segera berdiri dengan panik, lalu merebut kertas-kertas itu dari tangannya. "Aku bisa membereskannya sendiri. Jangan kamu acak-acak."
Tidak menyangka reaksiku sebesar ini, Declan menatapku dengan terkejut. "Kamu mau mengundurkan diri?"
Aku membuka mulut, tidak tahu harus menjelaskan apa, tetapi Declan justru tiba-tiba tersenyum. "Kalau kamu mengundurkan diri, berarti ada satu posisi kosong, 'kan? Kalau Safira bisa diangkat jadi pegawai tetap dan punya pekerjaan resmi, aku juga lebih tenang."
Kata-kata penjelasan itu pun terhenti di tenggorokanku. Aku menatapnya dalam-dalam, lalu bahkan malas memungut barang-barangku dan langsung keluar dari kantor.
Setelah menyerahkan surat pengunduran diri, aku tanpa sengaja bertemu seorang pria yang berdiri menunggu di gerbang sekolah sambil memeluk sebuah kotak.
Melihat aku keluar, Declan mengatupkan bibirnya, lalu menyerahkan kotak itu padaku. "Barang-barangmu."
Ekspresiku melunak. Aku baru saja ingin mengucapkan terima kasih, ketika Declan kembali berkata, "Bisa nggak kamu bantu tuliskan surat rekomendasi untuk Safira? Dengan begitu, peluangnya untuk diangkat jadi pegawai tetap akan lebih besar."
Angin berembus pelan, rasanya seperti ada pasir yang masuk ke mataku.
Aku mengusap pelan kelopak mata yang terasa perih, lalu menjawab datar, "Oke."
Anggap saja sebagai pelunasan atas sisa ikatan suami istri kami selama ini.
Setelah mendapat jawaban yang dia inginkan, sudut bibir Declan terangkat. Lalu seolah teringat sesuatu, dia kembali bertanya, "Kalau kamu sendiri gimana? Apa pekerjaan barumu?"
Aku memalingkan wajah dan menjawab seadanya, "Guru di sekolah lain."
Declan mengangguk, tampak seperti menghela napas lega.
Dia meletakkan kotak itu, lalu memelukku ke dalam pelukannya. "Brenda, bisa menikah denganmu adalah keberuntunganku. Setelah masa sibuk ini selesai, aku pasti akan mengajakmu pulang kampung, menemani Ayah minum dengan baik."
Aku bersandar di dadanya, dadaku terasa sesak.
Sudah terlambat. Semuanya sudah terlambat.
Declan masih ingin berbicara, tetapi Safira keburu berjalan mendekat. "Declan, aku agak nggak enak badan. Kita pulang dulu, ya."
Aku melirik wajahnya yang tampak sehat dan kemerahan, lalu dengan sadar menarik diri dari pelukan Declan.
Seperti yang sudah kuduga, Declan pun segera melepaskan tangannya dariku, wajahnya penuh kepanikan. "Aku antar Safira pulang dulu. Kalau ada apa-apa, nanti kita bicarakan lagi."
Declan merangkul Safira dengan hati-hati, seolah sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga.
Aku tidak menghentikan mereka. Aku berjongkok dengan tenang sambil memeluk kotak itu, dan saat melewati tempat sampah, aku melemparkannya ke dalam.
Barang-barang yang pernah disentuh Declan, aku tidak menginginkannya lagi.
Di hari terakhir sebelum pergi, aku memasak semeja penuh hidangan untuk berpamitan dengan para teman. Sebagian besar dari mereka adalah rekan satu tim Declan.
Anda Mungkin Juga Suka





