
Cinta yang Tak Mungkin Kembali
Bab 4
Saat aku menghidangkan hidangan terakhir, aku mendengar sorak-sorai mereka.
"Kapten Declan, gimana kalau kamu dan Bu Safira minum arak pengantin?"
"Iya, minum satu gelas saja."
Safira duduk di samping Declan, wajahnya memerah. "Jangan bercanda. Declan sudah punya istri."
Seseorang mencibir, "Orang lain mungkin nggak tahu, tapi kami semua tahu jelas. Kalau dulu Bu Safira nggak keburu menikah, Kapten Declan juga nggak akan patah hati sampai harus ikut acara perjodohan."
"Lagian, Bu Brenda juga nggak ada di sini."
Hidangan panas masih ada di tanganku, tetapi rasanya lebih dingin daripada es batu.
Mengingat dulu mereka memanggilku dengan sebutan "kakak ipar" satu per satu, aku hanya merasa mual.
Declan meletakkan gelasnya dengan agak keras, wajahnya tampak muram. Saat dia baru hendak bicara, aku kebetulan berdeham pelan dan melangkah keluar, lalu meletakkan hidangan di atas meja.
"Ayo makan."
Aku tersenyum tipis dan bersiap duduk.
Namun, Declan tiba-tiba seperti melihat sesuatu, keningnya berkerut. "Kenapa banyak sekali hidangan yang Safira nggak suka?"
Safira melambaikan tangan, suaranya lembut, "Nggak apa-apa, nggak apa-apa. Aku makan sayur saja. Kak Brenda juga bukan sengaja."
Meski berkata demikian, matanya tampak memerah.
Declan berdiri dan terlihat jelas sorot kekesalan di matanya. "Aku ajak kamu makan di restoran saja."
"Tunggu sebentar."
....
Aku tiba-tiba membuka suara, mengambil botol arak di atas meja dan menuangkan segelas untuk diriku sendiri.
Declan menatapku dengan terkejut. Selama lima tahun menikah, aku tidak pernah minum alkohol di hadapannya.
"Safira, gelas ini aku persembahkan untukmu."
Cairan itu mengalir ke tenggorokanku, membuatku tersedak dan batuk tanpa henti.
Melihat hal itu, kening Declan berkerut. Dia mengulurkan tangan, hendak menepuk punggungku. Aku refleks menghindar, menutupi sudut mataku yang memerah.
Tangannya membeku di udara, wajahnya langsung menggelap. "Brenda, kamu benar-benar nggak masuk akal."
Setelah melemparkan kalimat itu, Declan langsung membawa Safira pergi. Para rekan setim yang tersisa saling berpandangan sejenak, lalu ikut bangkit dan meninggalkan tempat itu.
Aku duduk di halaman sendirian, menghabiskan seluruh hidangan di meja itu.
Empat jam lagi kereta akan berangkat.
Aku memetik semua sayuran yang kutanam di halaman dan membagikannya kepada tetangga.
Tiga jam lagi kereta akan berangkat.
Setelah membereskan piring dan sendok, aku meletakkan surat permohonan cerai dan botol krim dingin yang sudah dipakai di atas meja.
Dua jam lagi kereta akan berangkat.
Aku mengangkat koper dan menumpang truk besar milik kesatuan.
Prajurit muda yang menyetir bertanya padaku, "Bu Brenda, mau pulang kampung lagi? Kali ini berapa lama?"
Aku membagikan beberapa permen buah kepadanya, lalu tersenyum sambil menjawab, "Nggak tahu. Mungkin seumur hidup."
Prajurit itu mengira aku bercanda, dia tertawa riang sambil menerima permen. "Kalau begitu, nanti waktu Bu Brenda kembali, suruh Kapten Declan bilang ke aku. Aku jemput lagi."
Aku mengangguk pelan, lalu berkata dalam hati, 'Nggak akan ada lain kali.'
Pukul delapan malam, Declan pulang bersama Safira dan para rekan yang tadi sore pergi bersama mereka. Rombongan itu tertawa dan mengobrol, tangan mereka menenteng makanan yang dibungkus dari luar.
"Bu Brenda, kami pulang!"
Orang yang masuk lebih dulu berseru, lalu karena ruangan gelap, dia meraba-raba untuk menyalakan lampu.
"Bu Brenda keluar?"
Seorang rekan menggaruk kepala, lalu meletakkan makanan di atas meja.
Saat melihat lembaran kertas di atas meja, dia tertegun, lalu tanpa sadar berteriak, "Kapten Declan, Bu Brenda meninggalkan surat untukmu. Ini ... ini surat ... permohonan cerai ...."
Anda Mungkin Juga Suka





