APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta yang Sirna Sebelum Fajar

Cinta yang Sirna Sebelum Fajar

Shasa Handoko diam-diam menghitung mundur sepuluh hari terakhir yang tersisa sebelum ia mendonorkan ginjalnya demi menyelamatkan Arya Lexim. Setelah prosedur medis itu selesai, Arya akan mendapatkan kembali kesehatannya, sementara Shasa, sosok pengganti yang selama ini dibenci, memilih untuk melangkah pergi dan menghilang selamanya. Shasa hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, apakah Arya akan mengingat dirinya saat pria itu hidup bahagia bersama wanita yang dicintainya, meski ia tahu jawabannya mungkin adalah tidak sama sekali.
Bab
Bagikan

Bab 4

'Waktu makin dekat, tidak ada lagi waktu untuk merasa sedih atau terluka.'

Shasa berulang kali mengulang kalimat itu dalam hati, seolah sedang menghipnotis dirinya sendiri.

"Shasa."

Shasa tersadar dari lamunannya. Profesor di depannya menyerahkan setumpuk berkas tebal. "Ini semua berkas terkait donor organ. Bacalah dengan saksama terlebih dahulu, lalu isi bagian yang perlu diisi."

Shasa menerima berkas itu dan mulai memeriksanya dengan cermat.

Profesor memperhatikan tubuh Shasa yang tampak lebih kurus dari sebelumnya, hatinya dipenuhi keraguan. "Masih ada sembilan hari lagi. Kamu masih bisa mempertimbangkannya."

Bahkan jika sekarang dia berubah pikiran dan memutuskan untuk tidak mendonorkan ginjalnya, juga tidak apa-apa.

Dari sudut pandang medis, masalah ginjal Arya sudah berlangsung cukup lama. Meskipun Shasa mendonorkan ginjalnya, jalan menuju kesembuhan tetap akan penuh rintangan dan kesulitan.

Profesor sudah pernah membicarakan semua ini dengan Shasa.

Selain itu, ginjal yang cocok untuk Arya bukan hanya milik Shasa.

Dengan kekayaan dan koneksi yang dimiliki Arya, seharusnya tidak sulit baginya untuk mendapatkan ginjal yang cocok dalam waktu dekat.

Shasa tentu mengerti makna tersirat di balik kata-kata profesor. Dia hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan.

Melihat hal itu, sang profesor tidak melanjutkan lagi. Tatapannya memancarkan rasa iba dan sedikit kesedihan.

Shasa membaca dengan saksama semua ketentuan dan peraturan tentang donor organ, termasuk berkas-berkas yang harus diisi dan ditandatangani.

Setelah menuntaskan semuanya, dia menghela napas panjang. Tangannya yang memegang pena sempat ragu sejenak, lalu mulai menandatangani berkas tersebut.

Setelah semua berkas donor organ selesai diurus, langkah berikutnya...

Dia harus mempersiapkan hal lain untuk dirinya sendiri. Usai transplantasi ginjal nanti, dia tidak berencana tinggal di dalam negeri. Dia akan pergi ke luar negeri.

Seorang temannya di luar negeri sudah membantunya mengurus proses imigrasi, waktunya dijadwalkan setelah operasi transplantasi.

Shasa tiba-tiba tersenyum. Mungkin Arya memang ingin agar Shasa benar-benar menghilang dari hadapannya.

Setelah seharian mengurus berbagai urusan, malamnya Shasa kembali ke rumah. Begitu melangkah ke ruang tamu, Shasa melihat Arya duduk di sofa dengan laptop terbuka di atas pahanya, dia tampak sedang mengerjakan urusan kantor.

Sementara Shasha bersandar di sampingnya, sibuk menonton video pendek di ponselnya.

Suara dari ponsel itu cukup keras, tetapi wajah Arya tetap tenang, seolah tidak terganggu sedikit pun.

Shasa tiba-tiba teringat masa awal pernikahan mereka.

Di ruang tamu yang sama, kala itu Arya bahkan tidak sedang bekerja.

Shasa hanya menerima panggilan video dari rekan kerjanya, tetapi Arya langsung menegurnya karena suaranya terlalu keras dan mengganggunya.

Sejak saat itu, Shasa tidak pernah lagi menerima panggilan video di ruang tamu, apalagi menonton video seperti yang dilakukan Shasha sekarang.

Ponselnya hampir selalu dalam mode senyap.

Shasa menunduk dan berjalan perlahan menuju tangga ke lantai dua.

"Ah, Kak Shasa sudah pulang!" seru Shasha dengan nada riang.

Langkah Shasa terhenti. Dia pun menoleh dan langsung berhadapan dengan tatapan tidak menyenangkan dari Arya.

Shasha bangkit dari sofa dan dengan lincah melangkah mendekati Shasa.

"Kak Shasa, malam ini biar aku yang masak. Kamu mau makan apa?"

"Nggak usah, aku nggak lapar," jawab Shasa dengan lembut.

Namun Shasha langsung meraih tangannya. "Ah, jangan sungkan begitu! Bilang saja mau makan apa, biar aku yang buat!"

Tarikannya begitu kuat hingga Shasa tidak sempat bereaksi. Setumpuk dokumen pemeriksaan di tangannya terlepas dan jatuh berserakan ke lantai, bersama selembar brosur pemakaman yang pernah diberikan seseorang ketika dia keluar dari ruang perawatan intensif.

Brosur itu sebenarnya ingin dia buang, tapi sepertinya lupa.

Shasa melirik Shasha dan menangkap tatapan licik yang tersembunyi di balik matanya.

Dia mengerutkan kening sedikit, lalu membungkuk untuk memunguti dokumen yang berserakan.

"Maaf, Kak Shasa! Aku benar-benar nggak sengaja. Sini, biar aku bantu!"

Shasha ikut berjongkok dan memunguti kertas.

"Taman Ketenangan?"

Dia pura-pura terkejut melihat Shasa. "Bukankah ini nama sebuah pemakaman?"

"Kak Shasa, untuk apa kamu membawa brosur pemakaman seperti ini?"

Shasa buru-buru merebut selebaran itu dari tangan Shasha, lalu cepat-cepat membereskan dokumen lain yang berserakan di lantai dan hendak pergi.

"Tunggu, Shasa!"

Suara Arya terdengar tegas di belakangnya.

Namun, Shasa tidak berhenti, dia bahkan mempercepat langkahnya.

Tidak disangka, Arya segera menyusul dan menarik lengannya dengan kasar.

Dia merampas brosur itu dari tangan Shasa, membukanya, lalu menatapnya dengan sorot mata penuh amarah.

"Apa ini?"

Shasa menggeleng. "Aku nggak tahu. Mungkin seseorang menyelipkannya tanpa aku sadari."

Arya tertawa getir mendengar nada Shasa yang tenang. "Aku belum mati, tapi kamu sudah buru-buru mencarikan pemakaman untukku?"

"Kak Arya." Shasha ikut menyusul mereka. "Mungkin kita salah paham sama Kak Shasa."

"Salah paham? Salah paham apanya?!" bentak Arya. "Aku rasa dia justru berharap aku cepat mati!"

"Nggak, nggak mungkin! Kak Shasa bukan orang seperti itu."

Shasa melirik Shasha. Di samping, wanita itu tampak cemas, tetapi kata-katanya jelas ditujukan untuk memperkeruh situasi. Dia benar-benar pandai berakting.

"Kak Shasa, jangan buat Kak Arya marah. Minta maaflah," ujar Shasha.

Namun, Shasa tidak meminta maaf. Dia tidak merasa dirinya salah.

"Lepaskan aku, Arya."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendamnya Adalah Kecerdasannya
9.4
Evelin kerap dikucilkan keluarganya bagai itik buruk rupa. Namun, takdir berbalik saat CEO Carlos justru memilih menikahinya, bukan sang saudari tiri yang sempurna, Paramita. Di balik cemoohan khalayak, Evelin membuktikan dirinya bukan gadis biasa dengan mengungkap rahasia besar bahwa ia adalah pakar keuangan, genius AI, sekaligus penyembuh ajaib. Saat para pembenci berlutut meminta maaf, Carlos pun menunjukkan pesona sejati Evelin yang memikat dunia.
Sampul Novel Demi Anak, Kuterima Hinaan Mertua
8.7
Keira hancur saat bisnisnya hampir pailit dan sang tunangan memilih berselingkuh dengan perempuan berharta. Di puncak keputusasaan, ia menenggelamkan diri dalam alkohol di sebuah kelab malam. Tak disangka, malam itu membawanya terbangun di ranjang yang sama dengan Aksel Sanjaya, atasan sekaligus CEO dingin di tempatnya bekerja. Keira dan Aksel kini terperangkap dalam konsekuensi rumit akibat peristiwa tak terduga tersebut. Mampukah keduanya menjalani perubahan hidup yang drastis ini?
Sampul Novel Gairah Tersembunyi Bos Killer
8.6
Sebagai lulusan terbaik yang ambisius, Nina mendapati jalan kariernya terhambat oleh Nathan, atasannya yang terkenal kejam di kantor. Namun, sebuah momen lembur malam mengubah segalanya dan mengungkap kehangatan tersembunyi sang bos. Benih cinta pun tumbuh di antara mereka, memaksa keduanya menjalin hubungan asmara secara rahasia. Kini, Nina harus menghadapi dilema besar di tengah persaingan kantor, intrik pekerjaan, dan rahasia hubungan mereka.
Sampul Novel Istri Kecil Penebus Hutang
8.1
Lavira Amrin, gadis polos yang malang, harus menjadi penebus hutang ayahnya. Ia dipaksa menikah dengan Avram, konglomerat misterius yang terkenal kejam dan tertutup. Setelah sekian lama menderita akibat ketidakadilan ayah kandung serta kekejaman ibu dan adik tirinya, kini Lavira justru terperangkap dalam pernikahan dengan pria yang haus darah tersebut. Sanggupkah Lavira bertahan menghadapi takdir barunya bersama sang penguasa kegelapan?
Sampul Novel Kontrak Cinta - Love Contract
7.8
Demi melunasi utang keluarga dan biaya medis ayahnya, Mahesa rela menunda kelulusan kuliah dan bekerja di kelab malam. Di tempat kerja, ia bertemu seorang wanita mabuk yang tengah patah hati. Secara mengejutkan, wanita itu menawari Mahesa pernikahan kontrak dengan imbalan finansial yang besar. Terdesak kebutuhan, Mahesa akhirnya menerima kesepakatan tersebut. Kini, lembaran baru kehidupan pernikahan penuh kepura-puraan di antara mereka resmi dimulai.
Sampul Novel Mantan Istriku Hamil?!
9.4
Miliarder ibu kota bernama Lenny terjebak pernikahan hampa tanpa cinta. Demi menikahi wanita misterius dari cinta satu malamnya, ia memutuskan menceraikan sang istri. Namun beberapa bulan pasca-perceraian, Lenny sangat terkejut saat melihat mantan istrinya hamil tujuh bulan. Kecurigaan pun mulai menyelimuti benaknya, membuatnya bimbang apakah mantan istrinya itu telah berselingkuh dan mengkhianati komitmen pernikahan mereka selama ini.