APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta yang Luruh Bersama Cahaya Terakhir

Cinta yang Luruh Bersama Cahaya Terakhir

Saat menjalani pengambilan sel telur ketiga untuk bayi tabung, sang istri harus berjuang sendiri karena suaminya, Johannes, beralasan lembur. Tengah malam, ia terbangun dengan tubuh membengkak parah dan kesulitan bernapas. Dalam kondisi kritis, ia menghubungi Johannes. Namun, teleponnya justru diangkat wanita asing bersuara mesra. Keadaan kian mencekam saat terdengar suara cambukan dan erangan sebelum panggilan terputus, mengungkap misteri kelam di balik pernikahan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

Saat aku melakukan pengambilan sel telur yang ketiga kalinya untuk program bayi tabung, Johannes sedang lembur dan tidak bisa menemaniku. Aku terbangun tengah malam karena kesakitan. Aku mendapati tangan dan kakiku bengkak, sedangkan perutku penuh cairan hingga membengkak bagaikan wanita hamil delapan bulan.

Aku hampir tidak bisa bernapas dan dengan panik meraih ponsel untuk menghubunginya. Telepon berdering selama semenit sebelum diangkat. Namun, yang mengangkat telepon bukanlah Johannes, melainkan seorang wanita asing.

"Halo?" Suaranya terdengar lembut dan penuh gairah.

"Siapa kamu? Johannes, aku nggak bisa bernapas."

"Kamu nakal. Kenapa kamu masih pakai baju?"

Plak! Terdengar suara cambukan yang nyaring dengan diiringi erangan wanita. Kemudian, panggilannya pun terputus.

Saat aku melakukan pengambilan sel telur yang ketiga kalinya untuk program bayi tabung, Johannes sedang lembur dan tidak bisa menemaniku. Aku terbangun tengah malam karena kesakitan. Aku mendapati tangan dan kakiku bengkak, sedangkan perutku penuh cairan hingga membengkak bagaikan wanita hamil delapan bulan.

Aku hampir tidak bisa bernapas dan dengan panik meraih ponsel untuk menghubunginya. Telepon berdering selama semenit sebelum diangkat. Namun, yang mengangkat telepon bukanlah Johannes, melainkan seorang wanita asing.

"Halo?" Suaranya terdengar lembut dan penuh gairah.

"Siapa kamu? Johannes, aku nggak bisa bernapas."

"Kamu nakal. Kenapa kamu masih pakai baju?"

Plak! Terdengar suara cambukan yang nyaring dengan diiringi erangan wanita. Kemudian, panggilannya pun terputus.

...

Setelah panggilan itu, pandanganku menjadi gelap dan rasa sakit yang menusuk di perutku membuatku tidak dapat berdiri. Kengerian yang hanya pernah kudengar sebelumnya akhirnya terjadi padaku.

Aku dengan panik merangkak menuju pintu, lalu berusaha membukanya sambil berteriak meminta tolong. Kemudian, aku pun terjerumus ke dalam kegelapan.

Ketika aku terbangun, sosok seseorang yang tinggi duduk di samping tempat tidur. Itu adalah Harmoko, seorang dokter muda yang tinggal sendiri di sebelah rumahku. Dia jelas tidak tidur semalaman sehingga ada lingkaran hitam yang menghiasi wajahnya.

"Silvia, kenapa kamu sendirian? Mana suamimu? Kamu tahu nggak, kalau aku nggak ajak anjingku jalan-jalan semalam, kamu pasti sudah ...."

Dia tidak menyelesaikan ucapannya. Melihat keadaanku yang menyedihkan, dia pun terdiam.

Bagaimana mungkin aku lupa? Melihat perutku yang membuncit seperti ibu hamil yang hamil 7-8 bulan, aku masih merasa ketakutan.

Saat mengingat suara-suara kacau dari panggilan teleponku dengan Johannes semalam, aku masih menyimpan secercah harapan dan mengira itu hanyalah halusinasiku. Setelah membuka ponselku dan melihat riwayat panggilan 15 detik itu, aku akhirnya tak kuasa menahan air mataku.

"Dokter Harmoko, terima kasih sudah membawaku kemari. Aku akan transfer uangnya padamu."

Aku menyuruhnya kembali dengan berkata bahwa aku sudah merasa jauh lebih baik dan Johannes akan segera datang.

Setelah dia pergi, aku baru membuka WhatsApp. Aku tidak berani melakukannya di depan Harmoko karena takut kehilangan kendali dan mempermalukan diri sendiri.

Johannes tidak pulang semalaman. Satu jam setelah panggilan telepon itu, dia mulai mengirimiku pesan WhatsApp. Ada lebih dari 100 pesan tak terbaca.

[ Silvia, kenapa kamu meneleponku? Aku nggak tahu kamu telepon. Aku lagi lembur dan seorang rekan kerjaku yang menjawab. Kamu baik-baik saja? ]

[ Kamu takut sendirian? Aku akan segera kembali setelah lembur. ]

[ Silvia, aku juga merindukanmu. ]

...

Setelah mengirim begitu banyak permintaan maaf dan pengakuan cinta, dia juga mentransfer uang kepadaku sebanyak dua kali untuk menunjukkan cintanya. Itu dilakukan pada pukul enam pagi.

Tiba-tiba, aku mulai meneteskan air mata dan akhirnya menangis hebat.

Johannes tahu. Dia tahu apa yang kudengar semalam. Seseorang tidak mungkin tiba-tiba merasa bersalah, juga tidak mungkin tiba-tiba mengungkapkan cintanya.

Dia biasanya adalah pria yang pendiam. Dalam setahun, aku juga belum tentu mendengar sepatah kata pun pernyataan cinta darinya.

[ Kamu mimpi buruk? Nggak apa-apa. Aku sudah belikan sebuket bunga dan meninggalkannya di depan pintu. Jangan lupa mengambilnya. ]

[ Aku akan menjengukmu saat aku kembali. ]

Aku membaca kedua pesan yang dikirim setelah jeda sekian lama tanpa membalas. Rasa mual segera melandaku. Menyatakan cinta tanpa alasan hanyalah cara untuk menenangkan hati nurani setelah melakukan kesalahan.

Aku memegangi perutku sambil termenung. Tak lama kemudian, dokter membuka pintu.

"Bu Silvia, kamu menderita sindrom hiperstimulasi ovarium dan kondisinya sangat serius. Ada penumpukan cairan di rongga dada dan perutmu, sedangkan kadar albuminmu juga menurun dan otot jantungmu juga terdampak. Semalam, kami langsung lakukan operasi darurat untukmu. Apa kamu masih ingat?"

Di kamar rawat inap yang sunyi ini, suara dokter terdengar jelas dan menusuk telinga.

Aku sudah mendengar tentang situasi kritisku semalam. Johannes tidak bisa dihubungi dan tidak ada yang menandatangani surat persetujuan operasi untukku. Bahkan darahku juga nyaris tidak bisa diambil dan aku hampir tewas di meja operasi ....

Aku ingat diriku yang pingsan diguncang hingga tersadar untuk menandatangani surat persetujuan itu.

Pada tahun ini, aku aku dan Johannes sudah mencoba program bayi tabung untuk yang ketiga kalinya. Dua kali sebelumnya, aku selalu keguguran. Namun, demi dia yang ingin memiliki anak, aku terus menjalani proses ini.

Aku menerima suntikan perangsang ovulasi berulang kali dan bekas jarum di perutku sudah terlalu banyak untuk dihitung. Aku juga minum begitu banyak obat, lalu berbaring dengan tidak berdaya di atas ranjang pasien yang dingin tanpa seorang pun menemaniku.

Uang yang dihabiskan untuk hal ini sangatlah banyak dan nada bicara ibu mertuaku juga makin sarkastis. Setiap gagal, aku juga harus menghadapi kekecewaan di mata Johannes.

Selama beberapa tahun terakhir, aku tidak mendapatkan apa-apa, tetapi mengira setidaknya aku masih memiliki cinta. Dinilai dari keadaan sekarang, sepertinya aku terlalu percaya diri.

Bahkan setelah operasi, perutku masih bengkak.

Dokter menatapku dan menghela napas. "Kondisimu sudah begini dan ini sudah lewat jam sembilan pagi. Di mana suamimu? Kenapa dia belum datang menemanimu? Dia sangat nggak bertanggung jawab. Apa kamu mau aku meneleponnya?"

Aku takut merepotkan dokter dan menolak.

Kemudian, dia mengingatkanku lagi, "Kondisimu sangat buruk dan kamu perlu dirawat di rumah sakit. Sebaiknya kamu cari orang yang bisa merawatmu."

Aku mengangguk untuk mengiakannya. Setelah dokter pergi, aku duduk sendirian di rumah sakit seharian. Johannes tidak menelepon sekali pun.

Pada akhirnya, aku mencari seorang perawat pendamping. Setelah kelaparan seharian, aku pun makan sedikit bubur.

Malam harinya, Johannes bergegas datang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Luka Kakiku, Tawa Mereka
8.8
Demi menyelamatkan Yudha, sang suami yang berprofesi sebagai politisi, karier balet dan kakiku harus hancur. Namun, pengorbanan tersebut dibalas pengkhianatan saat aku memergoki Yudha berselingkuh dengan Selvia, terapis pribadiku. Mereka bahkan tega mencemooh kecacatanku, sementara ibu mertuaku terus mencaci sebagai beban. Meski Yudha berpura-pura memujiku demi citra politiknya, rasa sakit ini telah berubah menjadi dendam. Tanpa air mata, kini aku bertekad menghancurkan mereka.
Sampul Novel Mau Dimadu Demi Membalas Suami Peselingkuh
8.3
Fiona Larasati rela melakukan apa saja demi membahagiakan suaminya, mulai dari merawat diri hingga mengurus dapur. Sialnya, pengorbanan itu dibalas dengan pengkhianatan keji saat ia mendapati sang suami berselingkuh dengan iparnya sendiri. Alih-alih membela, ibu mertuanya malah merestui hubungan gelap itu. Merasa hancur dan enggan terus ditindas, Fiona menolak pasrah. Ia kini mulai merancang sebuah rencana balas dendam yang rapi demi menghancurkan hidup mereka.
Sampul Novel Mencintai Monster yang Kupanggil Suami
9.0
Elara memaksakan pernikahan sepihak dengan Julian, cinta pertamanya, lewat pengaruh besar keluarganya. Tiga tahun berlalu dalam dinginnya kebencian Julian yang merasa terbelenggu. Sadar kasih sayangnya hanya membawa luka, Elara memutuskan mundur dan lenyap tanpa jejak. Kepergian mendadak ini justru menyisakan kekosongan mendalam di hati Julian. Benarkah kebebasan ini yang ia dambakan, ataukah rasa benci yang selama ini ia pelihara sebenarnya adalah cinta?
Sampul Novel Pengantin Pengganti Untuk Tuan CEO
9.3
Aluna harus menjadi pengantin pengganti setelah kembarannya kabur dari perjodohan dengan CEO kaya, Angga Wijaya Kusuma. Enggan terjebak pernikahan tanpa cinta, ia nekat melarikan diri pada hari pernikahan. Sialnya, rencana itu gagal total saat dirinya malah masuk ke mobil milik calon suaminya sendiri. Kini, Aluna terjebak bersama Angga, menghadapi ancaman kehilangan kebebasannya secara total.
Sampul Novel Pernikahan Yang Salah
9.0
Sebuah penolakan tiba-tiba mengguncang hubungan asmara modern yang rumit ini. Ucapan emosional 'Jangan sentuh aku, Mas!' menjadi titik balik ketegangan yang menguji komitmen serta kesetiaan sepasang kekasih tersebut. Di balik benturan perasaan itu, terdapat konflik mendalam yang mengancam keutuhan hubungan mereka. Kini, mereka harus menghadapi pilihan sulit: sanggupkah pernikahan ini dipertahankan, ataukah luka yang terlanjur tertanam akan membawa mereka pada perpisahan selamanya?
Sampul Novel WAJAH SUAMIKU TIDAK TAMPAN LAGI
8.5
Kebahagiaan pernikahan Naiya dan Fadhil selama lima tahun mulai goyah karena campur tangan Aini, sang ibu mertua yang ingin memisahkan mereka. Ujian semakin berat saat kecelakaan tragis merusak wajah tampan Fadhil. Di tengah perubahan fisik sang suami, kesetiaan Naiya benar-benar diuji. Kini, ia harus bertahan mendampingi Fadhil sekaligus mengungkap dalang misterius di balik kecelakaan tersebut. Mampukah cinta mereka bertahan?