APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta yang Luruh Bersama Cahaya Terakhir

Cinta yang Luruh Bersama Cahaya Terakhir

Saat menjalani pengambilan sel telur ketiga untuk bayi tabung, sang istri harus berjuang sendiri karena suaminya, Johannes, beralasan lembur. Tengah malam, ia terbangun dengan tubuh membengkak parah dan kesulitan bernapas. Dalam kondisi kritis, ia menghubungi Johannes. Namun, teleponnya justru diangkat wanita asing bersuara mesra. Keadaan kian mencekam saat terdengar suara cambukan dan erangan sebelum panggilan terputus, mengungkap misteri kelam di balik pernikahan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Silvia, kenapa kamu nggak bilang kamu dirawat di rumah sakit!"

Begitu masuk, dia bergegas menghampiri dan memelukku. Tubuhnya agak gemetar dan dia sepertinya sangat khawatir. Bahkan matanya juga terlihat merah.

"Kenapa kamu nggak bilang keadaanmu seserius ini? Kamu seharusnya balas pesanku! Dengan begitu, aku nggak akan lembur! Kenapa kamu begitu nggak peduli sama kesehatanmu sendiri? Meski kamu nggak peduli, aku tetap peduli!"

Aku tidak menjawab. Suaranya semalam terngiang di benakku.

Aku diam-diam memperhatikannya yang sibuk mengurus berbagai macam hal. Dia dengan hati-hati membereskan barang-barangku di ruang kamar inap, lalu pergi ke pos perawat untuk menemui dokter dan meminta penjelasan lebih lanjut.

Ketika mendengar aku hampir tewas di meja operasi, wajahnya memucat dan dia menampar dirinya sendiri. "Silvia, kalau terjadi apa-apa padamu, aku nggak ingin hidup lagi."

Aku menatap ponselku dalam diam dan memikirkan sesuatu.

Johannes mengira aku masih linglung dan ketakutan. Dia pun duduk di samping tempat tidurku, lalu meraih tanganku dan menautkan jari-jari kami.

Dia menelepon dengan tangannya yang lain dan berkata, "Aku nggak akan pergi ke perusahaan selama dua hari ke depan. Aku harus temani istriku! Kalau ada apa-apa, suruh wakil presdir yang tangani semuanya. Jangan cari aku!"

Aku memandangi jari-jari ramping nan halusnya yang mengenakan cincin kawin lama. Cincin itu sudah tergores-gores dan masih sama persis dengan yang kusematkan ke jarinya sepuluh tahun lalu, seolah-olah tidak ada yang berubah.

Dia sama sekali tidak bisa diam meski hanya untuk sesaat. Hanya dalam sepuluh menit, dia sudah mengurus semuanya. Dia bahkan menyetir sendiri sejauh sepuluh kilometer untuk membelikanku bubur kesukaanku.

Aku bersandar di kepala tempat tidur, sedangkan dia duduk di sampingku dan dengan sabar menyuapiku sesuap demi sesuap. Dia meniup setiap suap dengan pelan dan menguji suhunya dengan bibir sebelum menyuapiku dengan hati-hati.

"Silvia, kita bisa tunggu beberapa tahun lagi untuk punya anak. Setelah melihatmu begitu menderita, aku benar-benar takut. Gimana aku bisa hidup tanpamu?"

Matanya memerah dan dia juga mengatakan bahwa aku sudah menderita gara-gara dia.

"Johannes, sebenarnya, aku meneleponmu semalam," kataku akhirnya.

Secercah kepanikan melintasi matanya dan gerakannya menyuapiku bubur terhenti.

"Semalam, aku lembur dan bergadang semalaman saking sibuknya. Mungkin yang angkat teleponmu itu asisten magang baruku. Kami lagi bahas tentang proyek film pendek baru. Akhir-akhir ini, semua orang suka nonton drama roman presdir yang mendominasi."

Alasannya disusun dengan sangat rapi. Akan tetapi, dia tidak tahu bahwa makin sempurna dan tanpa celah alasannya itu, justru makin munafik pula alasan itu terdengar.

Aku menunduk dan menatap perutku. Perutku penuh dengan bekas luka memar seukuran kepalan tangan dan bekas tusukan jarum dengan berbagai ukuran. Mataku pun berkaca-kaca.

"Permisi."

Pintu tiba-tiba dibuka dan aroma bunga langsung memenuhi kamar rawat inap. Sosok seseorang yang muda dan menjinjing tas kanvas tiba-tiba berjalan masuk.

Saat mata kami bertemu, hatiku langsung bergetar. Dia adalah gadis semalam.

Dia membawa sekeranjang buah. Ada sedikit kebanggaan dan tantangan yang tak tersamarkan di matanya.

Ekspresi Johannes langsung menjadi kelam. Dia segera berdiri dan menegur dengan suara rendah, "Bukankah sudah kubilang aku nggak akan pergi ke perusahaan? Apa kamu nggak ngerti bahasa manusia?"

Gadis itu jelas tidak menyangka dirinya akan ditegur dan matanya langsung berkaca-kaca. Dia benar-benar bisa meluapkan emosinya dengan sangat sempurna.

"Johannes, siapa dia? Kenapa dia kelihatan begitu sedih?" tanyaku dengan sarkastis.

Ekspresi Johannes pun makin kelam.

Dalam menghadapi tatapan acuh tak acuhku dan ekspresi Johannes yang muram, gadis itu tiba-tiba panik. Dia menunduk dan menjawab dengan suara tercekat, "Maaf, Pak Johannes. Aku cuma datang untuk jenguk istrimu. Maaf, Nona Silvia, aku sudah bertindak di luar batas."

"Kamu seharusnya panggil aku Nyonya Silvia," ucapku dengan dingin.

Dia terdiam, lalu menggigit bibir bawahnya erat-erat. Setelah terisak, dia menjatuhkan keranjang buah dan bergegas keluar dari pintu.

Johannes tidak mengejarnya, melainkan menjelaskan dengan panik, "Silvia, jangan terlalu dipikirkan. Dia anak magang baru di perusahaan. Namanya Merry. Dia baru lulus dan masih muda, makanya dia kurang pintar bersosialisasi. Jangan tersinggung, ya. Dia berniat baik kok."

Berniat baik? Aku memandangi keranjang buah penuh dengan buah pir yang dibawanya untukku.

Sikapnya begitu menyolok, seolah-olah ingin memamerkan sesuatu tepat di hadapanku. Ini benar-benar adalah pertunjukan yang sangat buruk dan murahan.

Aku masih sangat lemah dan sudah tertidur sebelum pukul delapan.

Johannes memelukku, napasnya terdengar lambat dan tenang.

Seluruh kamar sudah gelap dan tiba-tiba terdengar suara gesekan yang pelan.

Saat menyadari aku sudah tertidur lelap, Johannes diam-diam bangun, lalu mengenakan pakaiannya dengan rapi dan mengambil ponselnya sebelum berjalan keluar.

Aku baru membuka mata setelah pintu tertutup. Tidak sampai dua menit kemudian, aku berdiri dengan perutku yang besar dan naik ke kursi roda sambil menahan rasa sakit. Kemudian, aku melaju ke lift.

Begitu lift terbuka, aku dengan panik mendorong kursi rodaku untuk bersembunyi di balik dinding.

Johannes sedang berdiri di lobi. Aku melihat punggungnya yang sedang memeluk Merry dan menangkup kepala Merry dengan penuh perasaan. Mereka berdua berdiri di tengah lobi yang ramai dan berciuman tanpa sedikit pun rasa malu. Setelah sepuluh menit, dia baru dengan enggan melepaskan Merry dan menariknya pergi menuju tempat parkir.

Rasa sakit di perutku dan rasa sesak itu kembali menyergapku. Aku merasa seperti ada ribuan pisau yang menusuk perutku. Setiap langkah yang kuambil terasa sulit dan berat.

Meskipun begitu, aku tidak menyerah. Aku harus melihat wajah asli pria yang kucintai selama sepuluh tahun itu.

Di tempat parkir, hanya ada satu mobil yang lampunya menyala.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Luka Kakiku, Tawa Mereka
8.8
Demi menyelamatkan Yudha, sang suami yang berprofesi sebagai politisi, karier balet dan kakiku harus hancur. Namun, pengorbanan tersebut dibalas pengkhianatan saat aku memergoki Yudha berselingkuh dengan Selvia, terapis pribadiku. Mereka bahkan tega mencemooh kecacatanku, sementara ibu mertuaku terus mencaci sebagai beban. Meski Yudha berpura-pura memujiku demi citra politiknya, rasa sakit ini telah berubah menjadi dendam. Tanpa air mata, kini aku bertekad menghancurkan mereka.
Sampul Novel Mau Dimadu Demi Membalas Suami Peselingkuh
8.3
Fiona Larasati rela melakukan apa saja demi membahagiakan suaminya, mulai dari merawat diri hingga mengurus dapur. Sialnya, pengorbanan itu dibalas dengan pengkhianatan keji saat ia mendapati sang suami berselingkuh dengan iparnya sendiri. Alih-alih membela, ibu mertuanya malah merestui hubungan gelap itu. Merasa hancur dan enggan terus ditindas, Fiona menolak pasrah. Ia kini mulai merancang sebuah rencana balas dendam yang rapi demi menghancurkan hidup mereka.
Sampul Novel Mencintai Monster yang Kupanggil Suami
9.0
Elara memaksakan pernikahan sepihak dengan Julian, cinta pertamanya, lewat pengaruh besar keluarganya. Tiga tahun berlalu dalam dinginnya kebencian Julian yang merasa terbelenggu. Sadar kasih sayangnya hanya membawa luka, Elara memutuskan mundur dan lenyap tanpa jejak. Kepergian mendadak ini justru menyisakan kekosongan mendalam di hati Julian. Benarkah kebebasan ini yang ia dambakan, ataukah rasa benci yang selama ini ia pelihara sebenarnya adalah cinta?
Sampul Novel Pengantin Pengganti Untuk Tuan CEO
9.3
Aluna harus menjadi pengantin pengganti setelah kembarannya kabur dari perjodohan dengan CEO kaya, Angga Wijaya Kusuma. Enggan terjebak pernikahan tanpa cinta, ia nekat melarikan diri pada hari pernikahan. Sialnya, rencana itu gagal total saat dirinya malah masuk ke mobil milik calon suaminya sendiri. Kini, Aluna terjebak bersama Angga, menghadapi ancaman kehilangan kebebasannya secara total.
Sampul Novel Pernikahan Yang Salah
9.0
Sebuah penolakan tiba-tiba mengguncang hubungan asmara modern yang rumit ini. Ucapan emosional 'Jangan sentuh aku, Mas!' menjadi titik balik ketegangan yang menguji komitmen serta kesetiaan sepasang kekasih tersebut. Di balik benturan perasaan itu, terdapat konflik mendalam yang mengancam keutuhan hubungan mereka. Kini, mereka harus menghadapi pilihan sulit: sanggupkah pernikahan ini dipertahankan, ataukah luka yang terlanjur tertanam akan membawa mereka pada perpisahan selamanya?
Sampul Novel WAJAH SUAMIKU TIDAK TAMPAN LAGI
8.5
Kebahagiaan pernikahan Naiya dan Fadhil selama lima tahun mulai goyah karena campur tangan Aini, sang ibu mertua yang ingin memisahkan mereka. Ujian semakin berat saat kecelakaan tragis merusak wajah tampan Fadhil. Di tengah perubahan fisik sang suami, kesetiaan Naiya benar-benar diuji. Kini, ia harus bertahan mendampingi Fadhil sekaligus mengungkap dalang misterius di balik kecelakaan tersebut. Mampukah cinta mereka bertahan?