
Cinta yang Dipaksakan Berakhir Tragis
Bab 7
Setelah ditelepon tiga kali berturut-turut oleh Raisa dan semuanya ditolak, Raisa kehilangan kesabaran.
Dia mengirimkan pesan singkat kepada Wira. Belum sampai dua menit, Wira menelepon balik.
Hanya saja, suaranya terdengar sangat lelah. "Jennifer sakit. Aku harus menemaninya. Untuk permintaan terakhir itu, kita undur dua hari ya."
Setelah mengatakan itu, Wira hendak menutup telepon. Namun, Raisa langsung berseru, "Nggak bisa!"
Saat berikutnya, Wira langsung tertawa sinis. "Cuma dua hari kok. Aku bukan ingkar janji. Raisa, cukup ya."
Hidung Raisa terasa sesak. Dia hampir tak sanggup menahan kegetirannya. Dengan tubuh yang sakitnya luar biasa, dia memaksakan diri untuk berpura-pura santai dan tertawa.
"Wira, tinggal satu permintaan. Selesai itu, kamu bebas. Atau jangan-jangan kamu mulai nyesal? Kamu mau tetap jadi suamiku? Kalau iya, aku nggak masalah kok!"
Wira memang selalu terpancing kalau Raisa memprovokasinya seperti ini. Raisa tahu cara ini selalu berhasil. Setelah menutup telepon, dia tertawa keras sambil memeluk ponselnya.
Sampai akhirnya air mata mengalir turun ke mulutnya, rasa pahitnya seperti pisau yang mengoyak jantungnya.
Dia takut Wira menyadari ada yang aneh, juga takut sebelum mati masih akan ditertawakan oleh pria itu. Jadi, Raisa menyuruh Yola merias wajahnya sebelum Wira datang.
Hanya untuk turun dari lantai atas, butuh waktu hampir 20 menit baginya untuk mencapai tempat Wira berdiri.
"Kamu lama banget. Ini permintaan terakhir, buruan!"
Melihat wajah Wira yang penuh ketidaksabaran, Raisa tidak tergesa-gesa sedikit pun. Dia masuk ke mobil dan duduk di kursi penumpang, memasang sabuk pengaman dengan baik.
Setelah semuanya beres, dia baru menatap Wira. "Sederhana kok. Masakin aku makan siang."
Wira menatapnya dengan tidak percaya. "Cuma makan siang?"
Raisa mengangguk. "Ya, cuma itu."
Wira terus mengamatinya dengan curiga. Empat permintaan sebelumnya selalu membuatnya kewalahan, dia mengira permintaan kelima akan jauh lebih sulit, sesulit mengambil bulan dari langit. Tak disangka, Raisa hanya ingin makan siang buatannya.
Wira melirik jam, lalu mengirim beberapa pesan lewat ponsel. Setelah itu, dia mengemudikan mobil ke supermarket.
Ini adalah kali pertama Raisa pergi belanja bersama Wira. Mereka juga untuk pertama kalinya terlihat seperti pasangan suami istri biasa.
Wira mendorong keranjang belanja, sementara Raisa berdiri di samping, memberi tahu apa saja yang harus dibeli.
Saat membayar di kasir, Raisa berdiri di sebelahnya. Tiba-tiba, ada seorang anak kecil berlari dan hampir menabraknya.
Wira secara refleks melindungi Raisa di belakang tubuhnya. Tangannya menggenggam erat tangan Raisa.
Raisa menunduk, memandangi tangan mereka yang saling menggenggam. Matanya kembali berkaca-kaca. Ini adalah kali kedua Wira menggenggam tangannya lebih dulu.
Namun, sebelum dia bisa merasakan hangatnya genggaman itu, tangan itu sudah dilepaskan secara kasar.
Mereka kembali ke rumah mereka. Rumah itu tak menyimpan banyak kenangan bersama karena sejak awal, Wira menikahinya dengan terpaksa, juga menggunakan segala cara untuk menolak dan menjauhinya.
Selingkuh sebanyak 99 kali itu hanya sebagian kecil dari semua penghinaan yang diterimanya.
Begitu masuk rumah dan berganti sepatu, Wira langsung pergi ke dapur. Setelah menahan diri sejak tadi, Raisa akhirnya terduduk dengan lemas di lantai saat Wira membalikkan badan dan menghilang dari pandangan.
Saat Wira kembali keluar, Raisa sudah memakai "topeng" seperti biasa. Dengan wajah tenang, dia menatap hidangan yang disiapkan pria itu.
Raisa baru tahu Wira bisa masak. Pria yang selama ini begitu angkuh ternyata pernah belajar masak demi seorang wanita. Bisa dilihat betapa besarnya cinta Wira untuk Jennifer.
"Masaknya banyak banget. Kita berdua nggak mungkin bisa habisin sebanyak ini."
Wira terus membawa piring keluar dan Raisa mengernyit. Dengan kondisinya sekarang, dia tidak sanggup makan banyak. Bahkan kalau dipaksakan, dia takut akan ketahuan.
Wira meletakkan piring terakhir dengan ekspresi tenang. "Siapa bilang cuma kita berdua?"
Anda Mungkin Juga Suka





