
Cinta yang Dipaksakan Berakhir Tragis
Bab 5
Wira mengepalkan tangannya, menatap Raisa dengan penuh amarah. Raisa tahu apa yang ingin dia katakan.
Dengan napas terengah-engah, Raisa seolah-olah kehilangan seluruh tenaganya dan duduk di lantai. Dia memijat telinganya yang masih berdenging karena tamparan dari Wira, lalu kembali merapikan pakaian-pakaian yang berserakan di lantai.
"Bukannya dari awal yang kamu tunggu-tunggu cuma satu? Cerai sama aku, terus nikah sama Jennifer?"
"Ini permintaan ketiga. Tinggal dua lagi setelah ini. Kamu mau semua usahamu sia-sia? Dua permintaan sebelumnya pun kamu kerjakan setengah hati. Jangan-jangan kamu sebenarnya nggak ingin cerai?"
Selesai berbicara, Raisa menatap langsung ke matanya. Mata Wira yang seperti tinta hitam kini dipenuhi sindiran dan ejekan.
"Raisa, orang yang bijak itu tahu diri. Sayangnya kamu nggak punya itu. Permintaan ketiga ini aku terima. Ingat, Keluarga Sutrisno nggak bisa lindungi kamu lagi. Kalau kamu berani macam-macam sama Jennifer lagi, aku pastikan kamu bakal hancur!"
Raisa menunduk dan tertawa getir. Ancaman? Siapa yang tidak bisa? Dulu saat mereka bertengkar hebat, Wira bahkan sering menjadi pihak yang kalah.
Lagi pula, sebentar lagi keinginan Wira akan terkabulkan. Dia akan lenyap dan Wira tak perlu repot-repot turun tangan.
Wira menelepon Jennifer dan membujuk wanita itu. Dia bahkan mengatur agar Jennifer pulang dulu.
Melihat bagaimana Wira melindungi wanita itu, hati Raisa terasa pahit. Ternyata Wira bukan tidak bisa mencintai seseorang. Pria ini hanya tidak pernah mencintainya.
Ketika Wira kembali ke kamar, Raisa belum selesai mengemasi barang-barangnya. Dia tak tahan lagi melihatnya. Dengan kasar, dia menarik Raisa berdiri dan membungkuk sendiri untuk membereskan barang.
"Lemah banget sih. Cuma barang segini saja kamu beresinnya setengah mati. Orang yang lihat bisa mikir kamu udah sekarat. Masa tenaga sekecil ini saja nggak punya?"
Raisa tiba-tiba ingin menggodanya. "Memang aku sekarat. Kenapa? Kalau aku mati, kamu bakal nyesal sudah memperlakukanku begini?"
Wira terdiam sesaat. Saat menatapnya lagi, wajahnya penuh dengan hinaan. "Nyesal? Jangan mimpi. Kalau kamu mati, aku bakal nyalain petasan tiga hari tiga malam dan traktir semua orang di Kota Jarda makan!"
Raisa tertawa sampai menangis, sambil memegangi perut bagian bawahnya. "Wira, kamu benar-benar kejam. Padahal, kita pernah tidur di ranjang yang sama."
Raisa tidak tinggal lebih lama di Tiber. Dia tahu tubuhnya sudah mencapai batas. Setelah kembali ke Kota Jarda, dia terbaring di tempat tidur selama seminggu.
Setiap kali selesai radioterapi, rambutnya rontok banyak. Ketika Wira meneleponnya untuk menagih dua permintaan terakhir, Raisa bersembunyi di kamar mandi dan baru menangis seharian. Selesai menangis, dia langsung pergi ke mal dan membeli wig.
"Kamu potong rambut?"
Raisa tidak menjawab, hanya langsung masuk ke mobilnya. "Ayo jalan."
Wira mengerutkan kening, secara refleks ingin menyentuh rambut Raisa yang kini adalah wig, tetapi Raisa segera menepisnya.
"Cepat sedikit. Kamu mau jalan atau nggak?"
Wira naik ke mobil sambil mendengus. "Mau ingatin saja, masa tenang tinggal kurang dari tujuh hari. Masih ada dua hal, kamu harus segera tentukan."
Raisa tidak menjawab. Matanya terus menatap ke luar jendela. Dulu dia terlalu sibuk. Sibuk marah-marah ke Wira, sibuk mengejar perhatian Wira, sampai lupa menikmati indahnya Kota Jarda.
Dia berpikir, kalau bisa berdiri sejajar dengan Wira, mereka bisa bersama menikmati pemandangan. Namun kenyataannya, untuk orang yang tidak dicintai, meskipun sudah berdiri di sampingnya, dia tetap akan diabaikan.
Sebaliknya, untuk orang yang dicintai, Wira bersedia membungkukkan punggungnya yang selama ini begitu tegak.
Permintaan keempat Raisa yaitu Wira harus menemaninya ke taman hiburan.
"Kekanak-kanakan sekali!" Wira meliriknya dengan tatapan penuh ejekan.
Anda Mungkin Juga Suka





