APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Virtual

Cinta Virtual

Hubungan virtual tanpa status justru menjadi hal yang sangat kunikmati. Lewat ponsel, kami rutin berkirim foto hingga sleep call tiap malam tanpa ikatan resmi. Meski sekadar teman dekat, perhatian manisnya terasa begitu nyata. Namun, mampukah kedekatan digital ini melangkah jauh hingga ke pelaminan? Ikuti kisah cinta tanpa status yang membuat iri ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Akhirnya sampai juga di asrama," aku membuka sepatu, kemudian menaruhnya di rak yang sudah tersedia. Pulang kuliah siang terik begini, ditambah panas serta gerah, beuh paket komplit pokoknya.

"Turu wae lah, yok?" hampir aku serangan jantung ulah kemunculan Widi yang tiba-tiba. Temanku itu emang asli orang Jawa. Kalau aku ya ... asline suka kamu, bercanda.

"Wis madang urung, Wid?" tanyaku seraya menyimpan tas gendong dekat kasur, "gerah banget koh," sambungku beranjak menuju kipas, dan menyalakannya. Nomor tiga, cok, panase pol soale.

"Ntaran bae lah. Aku abis begadang, pengin turu," ya begitulah interaksi kami berdua. Semalem ya begadang main game, bukan ngaji kitab.

Fyi, aku kuliah sembari mondok di pesantren--deket sih jaraknya, perkiraan dari pesantren ke kampus sekitar lima belas menitan.

"Ponsel aku sih mana ya?" kebiasaanku ialah suka lupa menaruh barang berharga seperti ponsel, dompet dan kunci motor.

"Di gue, Han,"

"A*u, aku cari-cari juga," astaghfirullah, batinku langsung menyebut istighfar tiga kali. Maaf ya, anak pondok pun juga manusia. Suka mengumpat tapi 'kan aku tobat--nyebut asma Allah. Jangan ditiru nggih?

Sebenarnya aku lupa bawa ponsel ke kampus. Mengingat tadi pagi bangun kesiangan, dan sialnya aku malah memakai sandal alih-alih pakai sepatu. Lagi ulangan, ketahuan dosen pakai sandal--alhasil balik kampus maning. Arghh, itu loh, waktu pengerjaan ulangan empat puluh lima menit. Kehabisan waktu buat di jalan doang. Untungnya Abi pinter lho, kids. Do'ain Abi ya kids, biar cepat lulus kuliah, wisuda dan ketemu Umi kamu. Halu buat nyenengin diri sendiri tak apa lah.

"Anjir, Han?! Lu ngapain senyum-senyum kayak ngana tah. Mikirin iya-iya 'kan lu?? Hayoh, ngaku bae,"

"Sembarangan kamu, Bas. Mulutmu itu lho, pengin aku sumpel pake kaus kakinya Haikal??" sorry, Kal. Aku gak sengaja menuduh kamu.

"Kena mulu dah. Perasaan aku gak ngapa-ngapain," waduh, si empunya langsung nongol aja tuh.

"Hampura, Kal. Aku keceplosan,"

"Diem woy, mau tidur ini. Berisik banget elah," aku kicep, Bastara keselek keripik singkong, Haikal terantuk kaki meja saking kagetnya, dan Darren menjatuhkan ponselnya sendiri. Widi ini orangnya pendiem. Tapi, sekalinya marah aku takut cok. Kalian pasti tau lah, marahnya orang pendiem kek gimana? Ngeri-ngeri sedap.

***

Pulang dari masjid, masih menggunakan koko juga sarung, aku melipir sebentar ke dapur pondok. Siapa tau ada makanan. Makan, makan, makan terus kamu deh. Aw, jadi geli sendiri dengernya.

"Han?" asik, ada temenku rupanya.

"Nyari apaan lo?" tanya Mas Aiden--pengurus santri putra--kebetulan satu kamar denganku.

"Makan Mas, laper," ringisku sambil jongkok, samping-sampingan dengannya. Aku sama Mas Aiden seperti saudara sendiri. Makanya aku tidak merasa canggung sama sekali. Namun balik lagi, dia lebih tua tiga tahun dariku sekaligus pengurus. Sudah sepatutnya aku hormati dia.

"Gak ngaji emangnya??" tanyanya seraya mengaduk-ngaduk sayur capcay di dalam wajan.

"Libur dulu, Mas. Ada tugas juga dari kampus," tugasnya belajar. Masih ada lima harian lagi ulangan akhir semesternya.

"Walah, pengin ngising aku," cetusku dibalas geplakan sama Mas Aiden.

"Sana lah ke air. Ntar kecipirit di dapur, satu pondok yang geger," aku terkikik dalam batin. Nanti ada berita yang berjudul 'salah satu santri putra kecipirit di dapur pondok saking tidak tahannya'. Buset, itu cerpen atau judul skripsi? Panjang bener.

Selesai urusanku di air, aku lebih baik ke asrama. Siapa tau temenku ada yang bawa makanan. Setauku, si Arion jam kuliahnya malam dan ... yah, aku berharapnya cowok itu bawa sesuatu dari luar.

Nasi padang. Apa aku bilang tadi?? Harapanku sesuai dengan kenyataan.

Kamarku berisi lima orang yakni aku, Widi, Mas Aiden, Arif, dan Haikal. Untuk kamar sebelah ada Arion, Bastara, Wildan, Darren, Rio juga Radit. Anak pondok yo apa-apa dilakukan bareng-bareng. Punya makanan berbagi sama temen. Tidak untuk satu kamar saja--melainkan teman lainnya juga. Intinya berbagi itu indah. Kalau mau ya gabung, jangan malu-malu. Pasti seru dan tambah rame. Yah, itulah keseruan di ruang lingkup pesantren.

Jam sudah menunjukkan angka sembilan. Dan aku sedang mainan ponsel. Biasa, tengah bertukar kabar dengan orang paling berharga yaitu Ibu tercinta. Di sampingku ada Widi. Dia pun lagi mainan ponsel. Sudah menekan tombol kirim, aku penasaran apa yang tengah Widi mainkan. Dari sudut mata, aku melihat dia menekan tombol love ke setiap foto-foto cewek.

"Aplikasi apaan tuh, Wid?" penasaran dong, aku tengok aja isi layar di ponselnya.

"Le*ma*ch, Han. Tau kagak?" aku menggeleng pelan, tanda tidak tahu.

"Kudet amat kamu," ejek Widi. Ya elah, malah ngejek koh, "seriusan aku tanya, anjir. Kamu malah ngejek,"

"Aplikasi warna biru, Han. Siniin ponsel kamu,"

Patuh. Aku memberikan ponselku kepada Widi. Entah apa yang dia otak-atik.

"Pasang gih foto profilnya. Yang paling ganteng, kalau bisa,"

Mendengus kesal tapi tak urung melakukan titahan Widi.

"Terus gimana lagi, Wid?"

"Tulis umur sama alamatnya,"

"Nggih, terus?" serius dah, aku kayak lagi wawancarain Widi.

"Udah tak post. Tinggal nunggu love dari sananya,"

Hingga beberapa menit kemudian, aku terus pantengin layar ponselku.

"Mana anjir? Gak ada yang suka sama aku ternyata,"

"Nasib-nasib," lanjutku sambil geleng-geleng kepala.

Baru saja mau keluar dari aplikasi tersebut, keajaiban datang kepadaku.

"Anjir, Wid. Ada yang love foto aku," seruku tak sadar menyenggol lengan temanku, "Han?! Untung ponselku gak jatuh," maaf teman. Terlanjur bahagia nih.

"Chat ah, siapa tau berjodoh," batinku mengklik nama cewek--yang sudah memberi love pada fotoku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sejatimu Kembali
8.7
Pernikahan empat tahun dan kehadiran buah hati tak mampu membuat Lina memiliki hati Rian sepenuhnya. Sang suami masih dibayangi kenangan masa lalu yang belum usai. Luka hati Lina kian mendalam ketika cinta pertama Rian tiba-tiba hadir kembali. Sadar bahwa ketulusannya selama ini tidak pernah berbalas cinta, Lina kini harus mengambil keputusan tersulit. Ia dihadapkan pada pilihan pahit untuk merelakan Rian pergi demi mengejar kebahagiaannya sendiri.
Sampul Novel Dikhianati Saudara Tiri
9.5
Hidup Kiana Putri hancur akibat pengkhianatan keji dari saudara tirinya, Salsabila, dan sahabatnya, Dara. Diusir dari rumahnya, ia berjuang selama lima tahun hingga sukses menjadi desainer perhiasan. Sebagai ibu tunggal, ia fokus membesarkan putranya, Haidar, sambil menutup rapat hatinya yang terluka. Namun, ketenangannya terusik saat Alif tiba-tiba datang menawarkan pernikahan serta perlindungan bagi Haidar. Kiana pun bimbang menghadapi pria misterius ini.
Sampul Novel My BadBoy
8.6
Adzando Dalwes, murid berandalan rupawan yang mahir bertarung, selalu menutup diri dari cinta akibat trauma masa lalu. Baginya, semua perempuan tidak ada bedanya. Namun, keyakinan itu mulai goyah sejak kedatangan Vania Deltasya, murid baru berdarah campuran Amerika-Indonesia. Kehadiran Vania membawa warna baru yang mengubah dunia Adzando. Akankah si pembuat onar ini benar-benar terpikat, dan sanggupkah Vania menyambut rasa dari cowok yang terkenal tak tersentuh ini?
Sampul Novel Siap, Mas Bos! (Season 2)
9.3
Kembalinya ingatan Aika tidak membuat pernikahannya dengan Kairo berjalan mulus. Akibat trauma masa lalu dan luka pada rahimnya, Aika didera rasa bersalah. Ia bahkan meminta Kairo berpoligami demi kebahagiaan sang suami, terlebih setelah Andara Prameswari muncul. Keputusan tersebut memicu konflik besar dan kekecewaan mendalam pada diri Kairo. Di tengah bayang-bayang kelam masa lalu, akankah kekuatan cinta dan kesabaran menuntun mereka mewujudkan impian bersama?
Sampul Novel Suamiku Guy, Lelaki Sombong!
8.6
Kehilangan motor kesayangan dan ditinggal kekasih membuat hidup Sela, si gadis pemberontak pencinta adrenalin, hancur. Masalahnya kian rumit saat ia menabrak mobil mewah milik seorang pria asing yang sangat angkuh dan dingin. Insiden itu menyulut perselisihan sengit di antara mereka. Sialnya, pertemuan tersebut justru menjebak Sela dalam konspirasi rahasia yang mengancam nyawa. Kini, ia harus menghadapi tantangan berbahaya yang jauh lebih menegangkan dari balap liar.
Sampul Novel Terjerat Pernikahan Tanpa Cinta
8.0
Pernikahan impian Intan berubah menjadi penderitaan saat menyadari bahwa Wili menikahinya tanpa cinta, melainkan hanya sebagai pelarian. Menghadapi sikap dingin sang suami, batin Intan tersiksa hingga ia harus memilih antara bertahan atau merelakan segalanya. Kisah ini melanjutkan perjuangan Intan dari novel Mutiara Istri Yang Dijual dalam menghadapi getirnya rumah tangga.