APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CINTA TERLARANG DI BALIK LAYAR

CINTA TERLARANG DI BALIK LAYAR

Hubungan asmara rahasia terjalin antara aktris papan atas dan sutradara muda jenius yang sebenarnya telah beristri. Di balik kemilau dunia perfilman, kisah cinta terlarang ini dipenuhi intrik dan ancaman bahaya. Keduanya berjuang keras menjaga karier serta nama baik mereka dari kehancuran. Namun, daya tarik yang begitu kuat membuat mereka sulit melepaskan satu sama lain, memicu konflik penuh risiko di balik megahnya industri hiburan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Elena memeriksa penampilannya di cermin besar yang berdiri megah di ruang ganti. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Hari ini adalah audisi untuk film terbaru yang diharapkan bisa mengangkat namanya lebih tinggi lagi di dunia hiburan. Di usia hampir empat puluh tahun, dia tetap menjadi salah satu aktris paling dicari di industri, namun dia merasa tekanan untuk tetap relevan semakin besar.

Dia mengenakan gaun hitam elegan dan riasan yang sempurna, namun rasa gugup tetap mengusiknya. Ketika dia keluar dari ruang ganti, dia melihat beberapa kandidat lain juga menunggu giliran. Elena berusaha tetap tenang dan tersenyum pada mereka, meskipun di dalam dirinya, rasa tidak nyaman terus mengganggu.

Saat giliran Elena tiba, dia memasuki ruang audisi dengan penuh percaya diri. Di depan pintu, dia berhenti sejenak dan menatap papan nama yang tertempel di dinding: "Adrian Santoso - Sutradara".

Nama Adrian Santoso baru saja mulai dikenal di industri film, namun reputasinya sebagai sutradara muda yang berbakat sudah menyebar luas. Elena mendengar banyak hal tentang dia-visi kreatifnya, pendekatannya yang tidak konvensional, dan betapa kharismatiknya dia di set. Ini adalah pertemuan pertama mereka dan Elena tidak bisa mengabaikan rasa penasaran dan ketertarikan yang tiba-tiba muncul.

Pintu ruangan audisi terbuka, dan Elena melangkah masuk. Di hadapannya, seorang pria muda berdiri di belakang meja, matanya tajam dan penuh konsentrasi. Adrian Santoso. Dia mengenakan pakaian kasual yang sangat berbeda dari pakaian formal yang biasanya dipakai oleh sutradara. Rambutnya sedikit acak-acakan, memberikan kesan bahwa dia lebih fokus pada pekerjaannya daripada penampilannya.

"Selamat pagi, Elena," ujar Adrian dengan suara yang tenang dan mengesankan. Dia tersenyum ringan, tetapi tampaknya sibuk dengan catatan-catatan di tangannya.

"Selamat pagi," jawab Elena, mencoba menjaga nada suaranya tetap stabil. Dia menyadari bahwa Adrian sedang memeriksanya dengan seksama.

"Silakan duduk," kata Adrian, menunjuk ke kursi di depan meja. Elena duduk, mencoba untuk merasa nyaman meskipun dalam hatinya, ada campuran rasa gugup dan ketertarikan.

Adrian mengambil napas dan menatap Elena dengan tatapan yang tidak bisa dia artikan. "Jadi, Elena, apa yang membuatmu tertarik untuk berperan dalam film ini?"

Elena merenung sejenak. Dia sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan ini, namun sekarang, tatapan Adrian membuatnya merasa seolah-olah dia harus menggali lebih dalam. "Saya merasa karakter ini sangat berbeda dari peran-peran yang biasanya saya ambil. Dia memiliki kompleksitas dan kedalaman yang jarang saya temui."

Adrian mengangguk. "Menarik. Kami mencari seseorang yang bisa membawa kehidupan dan dimensi pada karakter ini. Bagaimana menurutmu tentang proses kreatif?"

Elena mengangkat alis, terkejut oleh pertanyaan yang tidak biasa. "Saya rasa proses kreatif adalah tentang memahami karakter dan cerita secara mendalam, lalu menerjemahkannya ke dalam performa yang dapat menyentuh penonton. Tapi saya juga terbuka untuk eksplorasi dan kolaborasi."

Adrian tampaknya puas dengan jawaban tersebut dan meminta Elena untuk melakukan adegan uji coba. Ketika Elena mulai berakting, dia merasakan tatapan Adrian yang intens di belakangnya, dan itu membuatnya sedikit gugup. Namun, di sisi lain, tatapan itu juga membuatnya merasa seperti dia berada di bawah mikroskop kreatif yang membuatnya tampil lebih baik dari biasanya.

Setelah audisi selesai, Adrian memberinya senyum tipis. "Terima kasih, Elena. Kami akan memberitahumu hasilnya secepat mungkin."

Elena berdiri dan melangkah keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Ketika dia melewati Adrian sekali lagi, dia melihat seberkas senyuman di wajahnya. Ada sesuatu tentang cara dia menatapnya yang membuat Elena merasa bahwa pertemuan ini lebih dari sekadar audisi biasa.

Saat Elena melangkah ke luar studio, dia tidak bisa menyingkirkan rasa penasaran yang mendalam tentang Adrian Santoso. Rasa ketertarikan dan kecanggungan antara mereka telah memulai sesuatu yang tak terduga, dan Elena merasakan bahwa perjalanan ini baru saja dimulai.

Elena keluar dari studio dengan perasaan campur aduk. Langkahnya terasa ringan dan berat pada saat yang bersamaan. Saat dia menyusuri koridor, dia berhenti sejenak di dekat jendela besar yang menghadap ke kota. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Adrian dan audisi yang baru saja dilaluinya.

Tiba-tiba, dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Dia menoleh dan melihat Adrian Santoso berjalan ke arahnya. Adrian tampaknya tidak memperhatikan Elena hingga dia berada cukup dekat, lalu dia berhenti dan memberi senyum tipis.

"Elena, tunggu sebentar," ujar Adrian, masih dengan nada tenang. "Aku ingin bicara sebentar jika kau tidak keberatan."

Elena tersenyum dan mengangguk. "Tentu, tidak masalah."

Adrian mengarahkan Elena ke area luar studio yang lebih tenang. Mereka berdiri di bawah atap kaca yang memungkinkan cahaya matahari masuk dengan lembut.

"Jadi, bagaimana perasaanmu setelah audisi?" tanya Adrian dengan nada penasaran.

Elena mengambil napas dalam-dalam. "Aku merasa cukup baik, tapi jujur saja, ada sesuatu yang berbeda tentang audisi ini. Aku merasa seperti kau melihat lebih dari sekadar kemampuan aktingku."

Adrian tersenyum kecil. "Terkadang, aku memang mencari lebih dari sekadar bakat. Ada sesuatu tentang kehadiranmu yang menarik. Sepertinya kau benar-benar menyelami karakter yang kau perankan."

Elena merasa hatinya berdebar sedikit. "Terima kasih. Itu berarti banyak bagiku. Aku selalu berusaha untuk membuat karakter terasa nyata."

"Dan aku bisa melihat itu," kata Adrian, menatap Elena dengan tatapan serius. "Ada sesuatu yang aku rasa perlu dibahas. Aku ingin memastikan bahwa kita bisa bekerja sama dengan baik jika kau terpilih."

Elena mengangkat alis. "Apa maksudmu?"

"Kadang-kadang, proses kreatif bisa sangat menantang dan intens," jelas Adrian. "Aku ingin kau tahu bahwa aku menghargai komunikasi terbuka dan kolaborasi. Jika kau merasa ada sesuatu yang perlu dikatakan, jangan ragu untuk memberitahuku."

Elena merasa sedikit lega mendengar hal itu. "Itu hal yang baik untuk diketahui. Aku juga sangat menghargai keterbukaan dan komunikasi dalam bekerja."

"Bagus," kata Adrian, mengangguk. "Mungkin kita akan memiliki kesempatan untuk berbicara lebih banyak tentang visi dan ide kita jika kau terpilih. Aku sangat berharap bisa melihat apa yang bisa kita ciptakan bersama."

"Semoga begitu," jawab Elena, tersenyum.

Adrian kemudian memberikan senyum yang lebih lebar dan sedikit melamun. "Oh, dan aku harus bilang, penampilanmu tadi benar-benar memukau. Aku rasa kita memiliki kesempatan yang bagus."

"Terima kasih," kata Elena, merasa sedikit lebih tenang. "Aku akan menunggu kabar dari kalian."

Mereka berdua kemudian berpisah dengan senyum dan lambaian tangan. Saat Elena melangkah keluar dari studio, dia merasakan kehangatan sinar matahari di kulitnya. Namun, ada juga rasa ketegangan dan antisipasi yang tersisa di hatinya. Pertemuan ini mungkin hanya permulaan dari sesuatu yang lebih besar dan kompleks.

Elena menaiki mobilnya dan melihat ke luar jendela, memikirkan percakapan dengan Adrian. Ada sesuatu dalam cara dia berbicara dan tatapannya yang membuat Elena merasa seolah-olah mereka baru saja memulai sebuah perjalanan yang penuh dengan kemungkinan tak terduga.

Sementara itu, Adrian kembali ke ruang kerjanya, merasa sedikit terjebak dalam pikirannya sendiri. Dia melihat catatan-catatan yang ada di mejanya, tetapi pikirannya terus berputar pada Elena dan pertemuan mereka. Adrian tahu bahwa audisi ini bukan hanya tentang memilih aktris yang tepat, tetapi juga tentang memahami dan beradaptasi dengan dinamika kreatif yang akan datang.

Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi, berpikir tentang bagaimana menciptakan sinergi yang sempurna jika Elena menjadi bagian dari proyeknya. Ketertarikan dan tantangan yang ada di depan, membuatnya semakin bersemangat untuk melanjutkan perjalanan ini.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel (Bukan) Pernikahan Impian
9.8
Dara menghadapi tekanan besar dari keluarga yang menuntutnya segera menikah demi menghindari perjodohan paksa. Di tengah situasi pelik itu, ia bertemu Alfan, seorang duda yang kesulitan mengasuh putri kecilnya sendirian sejak kepergian istrinya. Demi menghadirkan sosok ibu bagi sang anak, Alfan menawarkan sebuah solusi praktis kepada Dara. Keduanya pun sepakat memulai pernikahan yang didasari oleh kebutuhan mendesak satu sama lain.
Sampul Novel Dituduh Mandul
9.5
Hidup Amel hancur setelah memergoki Yuda berselingkuh dengan Rania. Malang baginya, ia malah difitnah tidak setia, dituduh mandul, lalu diceraikan dan diusir begitu saja. Demi bertahan hidup, Amel terpaksa bekerja sebagai pelayan pribadi Zack Lee, pengusaha muda sukses yang sangat eksentrik. Kini, ia harus tunduk pada kebiasaan aneh majikan barunya tersebut yang gemar menyusu dan menuntut kehadiran Amel untuk menemaninya tidur setiap malam.
Sampul Novel Hasrat Liar Sang PILOT
9.6
Kehidupan Adrian, kapten pilot tampan berumur 35 tahun sekaligus seorang ayah, penuh dengan godaan di dunia penerbangan. Dikelilingi para pramugari menawan, ia tak mampu membendung hasrat liarnya dan mulai mendekati rekan-rekan kerjanya demi memuaskan nafsu terpendam. Di sisi lain, sang istri yang bernama Dewi tentu tidak tinggal diam menghadapi perselingkuhan ini. Akankah rumah tangga mereka bertahan di tengah badai pengkhianatan? Simak konflik panas pernikahan mereka.
Sampul Novel Istri yang Tak Kau Percaya Ternyata Kaya Raya
7.8
Dituduh tidak suci dan dihina karena latar belakangnya, pernikahan Analea dengan Hamid dipenuhi kebekuan. Puncak keretakan terjadi saat Analea memergoki suaminya berselingkuh. Bertekad menuntut cerai, ia menyusun strategi hukum hingga berhasil bekerja di Eternal Group dengan gaji fantastis. Namun, kehidupan barunya dipenuhi kejanggalan. Mengapa Kaisar, sang presdir, selalu melindunginya? Apa hubungan Ibu Maira dengan masa lalunya? Di tengah misteri itu, Fabian, pengusaha matang rekan Kaisar, menawarkan bantuan dengan syarat yang tak biasa.
Sampul Novel Keluar dari Kepompong
8.7
Tiga tahun berlalu, Emma Fowler pulang dan justru terlibat malam tak terduga bersama Nathan Tate. Nathan terpikat tanpa tahu siapa Emma sebenarnya. Harapan Emma hancur saat menagih janji pernikahan masa lalu; Nathan menolaknya dengan dingin dan menganggapnya sebatas saudara. Kecewa mendalam, Emma memilih mengakhiri hubungan sepuluh tahun mereka. Namun, ketika Emma bersiap pergi selamanya, Nathan berlutut memohon agar ia bertahan dan bersedia menepati janji lama mereka.
Sampul Novel Kembalinya Sang Mantan Istri yang Agung
9.5
Demi Hesti, Bram tega mengkhianati ketulusan istrinya. Di tengah duka wafatnya orang tua dan vonis kanker, sang istri didepak lewat fitnah keji hingga dipaksa bercerai. Demi bebas dari siksaan itu, ia memalsukan kematiannya lalu membuang identitas lamanya yang rapuh. Tiga tahun berselang, ia terlahir kembali sebagai Aurora Morgan, sosok wanita yang sangat berkuasa. Kini, ia datang kembali untuk membalas semua penderitaan dan penghinaan yang dahulu Bram lakukan padanya.