
Cinta Terlarang Bersama Ibu Angkat
Bab 3
Aku tak bisa menahan diri dan merinding. Tak kusangka, teknik ibu angkat sangat hebat.
Napasnya yang memburu dan suara kecapannya terdengar sangat menggoda.
Aku pun tak tahan untuk melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, mulai memainkan keahlian jariku.
Hanya saja, ibu angkat tidak memakai celana yoga kali ini, di balik roknya benar-benar kosong. Belum juga dimainkan lama, area itu sudah sangat basah.
Melihat betapa keras usaha ibu angkat melayaniku, aku pun melangkah lebih jauh dan menyusupkan jariku ke dalam lubang yang lembab itu.
Di dalam kamar mandi, seketika udara terasa sangat panas dan suara ibu angkat pun mulai meninggi.
Tepat saat aku hendak melakukan penjelajahan yang lebih dalam, tiba-tiba ponsel yang diletakkan di rak berdering.
Ibu angkat tersentak kaget dan aku pun tiba-tiba menghentikan gerakanku.
Dengan raut wajah yang tampak belum puas, dia menjauh dariku. Dengan wajah memerah, dia melirikku sejenak, lalu bergegas mengambil ponselnya.
Ternyata ayah angkat melakukan panggilan video. Ibu mencoba menenangkan dirinya sejenak, lalu kemudian menggeser tombol jawab.
“Kenapa?” tanya ibu angkat yang mencoba bersikap setenang mungkin.
“Sayang, kenapa wajahmu begitu merah? Jangan-jangan lagi main sendiri di kamar mandi? Aku baru sehari nggak di rumah, kamu sudah nggak tahan?” goda ayah angkat sambil tertawa.
“Apa-apaan, sih? Jangan sembarangan bicara! Aku lagi mandiin Gio, lho! Dia sudah dewasa, malu-maluin saja!” Wajah ibu angkat tampak panik sesaat, tapi untungnya dia bisa segera mengendalikan dirinya.
Aku juga sempat merasa khawatir, bagaimana kalau ayah angkat marah?
“Halah, kecerdasannya hanya seperti anak umur tiga tahun, apa yang perlu dimalukan? Anggap saja sedang mandiin anak kita sendiri,” ujar ayah angkat tampak tidak peduli.
Aku pun berpikir dalam hati, ayah angkat masih merasa tak masalah, tapi dia tak tahu kalau ibu angkat sedang melayaniku seperti melayani suaminya sendiri!
Saat mereka sedang berbincang di telepon, aku pun merasa menyenangkan. Jariku kembali bergerak dengan nakal.
Ibu angkat meliukkan tubuhnya sedikit, dia tak berani bergerak terlalu banyak karena takut ketahuan ayah angkat. Kaki yang berjongkok pun sampai gemetar hebat.
Terdengar suara tetesan air di lantai yang membuat ibu angkat merasa sangat malu. Dia berkali-kali ingin menutup telepon, tapi ayah angkat tak mau dan terus mengajaknya bicara.
Ibu angkat pun hanya bisa menggigit bibir dan berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri.
“Sudah dulu, ya. Aku masih harus mandiin dia!” Tak lama kemudian, ibu angkat sudah tak tahan lagi dan sangat ingin mengakhiri panggilan.
“Jangan buru-buru, aku juga sudah nggak tahan lagi. Bagaimana kalau kita lewat video saja?” usul ayah angkat.
“Kamu sudah gila? Mana bisa kita melakukan hal seperti itu di depan anak angkatmu?” Wajah ibu angkat semakin merah merona.
Meskipun di mana mereka aku adalah si idiot, bagaimanapun juga aku tetaplah pria dewasa.
“Nggak apa-apa, dia juga nggak tahu apa yang sedang kita lakukan. Nanti kasih saja dia mainan biar senang dan nggak cerita ke mana-mana!” Ayah angkat tidak peduli sama sekali. Dia bahkan mendesak ibu angkat untuk segera mengambil mainan dewasa dari kamar tidur.
Ibu angkat melirikku sebentar. Melihat wajahku yang masih memasang ekspresi bodoh seperti biasa, lalu melihat tubuhku yang kuat, dia pun mulai goyah. Dia berdiri dan pergi ke kamar tidur.
Aku pun sangat bersemangat. Ayah angkat bahkan ikut terlibat secara langsung, ini benar-benar menantang.
Tak lama kemudian, ibu angkat kembali lagi sambil membawa sebuah mainan besar. Sambil memegang ponsel, dia bertanya pada ayah angkat ingin bermain seperti apa.
Ayah angkat menyuruh ibu angkat menghadap ke arahku dan meletakkan mainan besar itu di lantai.
Wajah ibu angkat benar-benar merah merona. Tatapan matanya yang penuh gairah tertuju padaku, mungkin sedang membayangkan manan itu adalah diriku.
Dia menatapku dengan raut wajah yang sangat menggoda dan pesona yang memabukkan. Sambil melakukan panggilan video dengan ayah angkat, dia mulai memasukkan benda besar itu perlahan ke dalam tubuhnya.
Aku benar-benar tak bisa menahan diri lagi. Aku diam-diam menghindari jangkauan kamera, lalu mengulurkan tangan. Di tempat yang tak bisa dilihat oleh ayah angkat, aku meraih mainan itu dan mendorongnya masuk dengan kuat.
Ibu angkat membelalakkan matanya, dia tak bisa menahan desahan yang sangat manis. Dia bahkan belum sempat menyadari apa yang terjadi, cairan hangat yang kental sudah menyembur membasahi tanganku.
Anda Mungkin Juga Suka





