APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta tanpa koma

Cinta tanpa koma

Bagi Rudi, Rindu adalah cinta pertama dan terakhirnya. Namun, keyakinan itu runtuh saat Jaka, sahabat karibnya sendiri, merebut Rindu. Di tengah kehancuran hatinya, Rudi berusaha ikhlas dan tegar menerima kenyataan pahit tersebut. Meski waktu berlalu dan banyak wanita baru mencoba mendekatinya, kenangan masa kecil bersama Rindu tak pernah pudar dari benaknya. Akankah keteguhan hati dan kesetiaan Rudi berujung pada kebahagiaan? Ikuti kisah perjuangan cintanya yang penuh liku.
Bab
Bagikan

Bab 2

Rindu tampak gelisah di dalam kamar. Wajahnya semakin cemberut ditekuk layaknya cucian kucel. Terkadang ia merebahkan tubuhnya lalu bangun kembali duduk di depan meja rias. Sebentar-sebentar mengaca meneliti apakah masih ada yang kurang di dalam riasan dan dandanan baju yang ia pakai.

Rindu ingin terlihat teramat cantik dan sempurna di hadapan sang suami, karena malam ini adalah malam pertama mereka. Tapi seketika wajahnya tampak cemberut kembali. Sesekali ia melihat jam dinding yang terus berdetak tertempel di atas kepala ranjang agak ke atas.

Sudah pukul 23.00 rupanya, tapi Rudi belum jua masuk ke kamar untuk menemuinya. Satu hal yang membuatnya kesal ketika menunggu akan hadirnya malam pertama. Rudi tampaknya masih asyik mengobrol di ruang tamu dengan beberapa tetangga dan juga mertua lelakinya.

"Huh, jengkel-jengkel jadinya kenapa Mas Rudi tidak cepat masuk ke kamar. Apa iya lupa kalau malam ini malam pertama kita?" gerutu Rindu tampak tengah mengucek-ngucek ujung seprei dengan mulut tengah menyun agak jengkel.

Toktok,

Suara pintu kamar Rindu diketuk dari luar, "Rindu, Ibu masuk ya Nak?" kata Ibu Wulan minta ijin masuk kamar karena sedari tadi tengah mendengar Rindu yang sedang menggerutu.

"Masuk saja Bu," teriak Rindu.

Kriek, Kriek, Bek,

Pintu kamar Rindu terbuka dan Ibu Wulan mulai masuk kamar. Melihat anak gadisnya yang siang tadi baru melangsungkan pernikahan dalam posisi tengah cemberut di ujung ranjang pengantinnya. Ibu Wulan langsung menghampiri Rindu duduk di sampingnya memandangi Rindu dengan saksama.

"Ada apa Rindu kok cemberut begitu?" tanya Ibu Wulan.

"Mas Rudi Bu, masak tidak selesai-selesai mengobrol di depan?" celetuk Rindu dan Ibu Wulan hanya tersenyum geli melihat tingkah lucu anaknya tersebut.

"Kok ibu malah ketawa?" tanya Rindu heran melihat ibunya yang malah tertawa.

"Ya kamu aneh Rin, kayak baru kenal Masmu Rudi saja dari dulu kan kalau iya ketemu Bapakmu dan mengobrol bersama Sampek subuh juga betah," kata Ibu Wulan mengingatkan Rindu.

"Ya itu kan kalau hari biasa Bu," celetuk Rindu.

"Memang hari ini hari apa, hari apa ya?" ucap Ibu Wulan sambil melihat ke langit-langit berpura-pura lupa menggoda Rindu.

"Hem, Ibu jahatnya, Malam ini malam...," kata Rindu tidak melanjutkan kata-katanya karena malu pada ibunya takut ketahuan kalau iya sudah tidak tahan lagi ingin bermesraan berdua di atas ranjang bersama Rudi.

"Hayo, Ketahuan sudah tidak sabar ya Neng?" kata Ibu Wulan lagi-lagi menggoda Rindu.

"Ibu jahat loh dari tadi kok mengejek Rindu terus," kata Rindu wajahnya tampak memerah tersipu malu.

"Assalamualaikum Dik, Eh ada Ibu," kata Rudi yang baru datang masuk ke dalam kamar.

"Nah ini Masmu Rudi sudah datang. Masak istrimu ini dari tadi uring-uringan terus Rud,'' kata Ibu Wulan mengadu pada Rudi.

"Loh kenapa Dik?" tanya Rudi sembari ikut duduk di ranjang samping Rindu dan membelai kepala Rindu yang masih tertutup kain hijab warna merah jambu.

"Tahu tuh Nak Rudi katanya sudah kebelet," celetuk Ibu Wulan kembali menggoda Rindu sambil mengedipkan mata pada Rudi.

"Ibu...! Kan, kan dari dulu selalu mengadu sama Mas Rudi, Rindu kan malu Ibu," teriak Rindu sambil menutup muka.

"Ya sudah Ibu tak keluar dulu nanti malah tidak mulai-mulai lagi adegan penuh sensornya kalau Ibu masih di sini," kata Ibu Wulan menutup bibirnya tertawa geli mengejek Rindu.

"Ibu kok bicaranya begitu, malu ada Mas Rudi," kata Rindu.

"Hahaha, kalian serasa baru kemarin bermain di pelataran rumah ini begitu riang yang masih begitu kecil tidak ibu sangka kalian berjodoh. Kau Rudi yang sedari kecil sudah anggap anak ibu sendiri. Nyatanya memang saat ini menjadi anak ibu juga, ya sudah ibu keluar jangan lupa kunci pintu. Nanti adikmu Sekar itu suka lupa kalau kakaknya sudah menikah main selonong masuk lagi kan bahaya," kata Ibu Wulan lalu pergi keluar kamar seraya di ikuti Rudi untuk menutup pintu.

"Ada apa sih istriku yang cantik ini kok cemberut begitu?" kata Rudi sambil memegang dagu Rindu melihatnya kanan dan kiri.

"Habisnya Mas Rudi tidak masuk-masuk kamar Rindu kan kesel. Sekarang malam pertama kita Mas masak lupa. Malah mengobrol sama bapak lama sekali tidak selesai-selesai, sampai berlumut Adek menunggu Mas," kata Rindu masih dengan wajah yang ditekuk seperti kain basah.

"Hahaha, Dik, Dik, Mas tidak enak kalau langsung ke dalam karena Bapak belum tidur dan tadi juga ada Pak Lurah Adi teman Mas. Alhasil Mas harus menemani

sampai mereka berpamitan. Masak ya Mas harus menyuruh mereka pulang kan tidak enak nanti disangka Mas mengusir mereka lagi," kata Rudi menjelaskan.

"Sudah jangan di tekuk begitu ah, Mas tinggal tidur ini," kata Rudi menggoda Rindu.

"Ah, Ah, Jangan loh," kata Rindu tampak manja.

"Sekarang Mas ajari Adik melaksanakan kewajiban sebagai istri di malam pertama yang baik dan benar. Seperti yang pernah Mas bilang secara syariat agama yang dianjurkan Rasullah SAW," kata Rudi sambil mengelus bibir tipis Rindu.

"Iya Mas, Adik manut saja apa kata Mas," kata Rindu tersipu-sipu malu.

"Sekarang yuk kita ambil wudu dahulu terus kita laksanakan dua rakaat Shalat sunat. Habis itu Mas mau khatamkan surat Yusuf dahulu. Adik khatamkan surat Mariyam ya, agar bakal anak kita kelak bila laki-laki setampan Nabi Yusuf. Bila perempuan secantik Siti Mariam begitu pun akhlaknya baru kita lakukan untuk hubungan suami istri Dik," ujar Rudi menerangkan.

"Iya Mas, maaf ya Mas tadi Adik sempat uring-uringan," kata Rindu.

"Halah Mas loh tidak marah Dik. Buat apa marah Mas memaklumi memang hasrat dan Nafsu wanita memanglah lebih besar dari laki-laki, tapi rasa malu yang baik yang dapat menutupinya sehingga lelaki yang tidak memiliki rasa malu jadi seakan lelakilah yang berhasrat melebihi kaum wanita," kata Rudi memberi pengertian pada Rindu.

"Ye, Rindu punya suami yang cerdas, hehe..," celetuk Rindu tertawa manis.

"Mengejek-mengejek! Membalas Mas ini ceritanya," kata Rudi.

"Loh, loh enggak Mas jangan marah loh sayang, kamu kalau marah seram Adek takut," kata Rindu merayu Rudi.

"Sudah yuk cepat bergantian mengambil wudu," kata Rudi seraya Rindu berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi yang menjadi satu di dalam kamarnya.

Seusai Shalat sunat dua rakaat dan surat Maryam serta surat Yunus telah dikhatamkan. Rindu duduk di tepian ranjang pengantin melepas hijab yang menutupi mahkota rambunya yang tampak panjang mulai tergerai sedangkan Rudi tengah memperhatikan Rindu duduk di sampingnya.

"Mas tolong buka reseleting belakang baju Adik," pinta Rindu karena Rindu tengah masih memakai baju gamis kesukaannya.

Serit,

Suara reseleting terbuka dan aktivitas malam pertama di mulai dengan harmoni dan indahnya secara islami dan syariat yang dianjurkan Rasullah. Malam itu pun Rindu dan Rudi tengah tenggelam dalam madu cinta mereka menyelami lautan asmara manisnya malam pertama.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Sekedar Bantuan, Tapi Menghancurkan Pernikahanku
9.5
Kebahagiaan rumah tangga Adara Paramitha dan Garen Wijaya seketika runtuh akibat kecelakaan tragis yang menimpa Garen. Demi menyelamatkan nyawa suaminya, Adara terpaksa menerima bantuan finansial dari konglomerat Rian Kusuma. Namun, pertolongan tersebut menuntut bayaran mahal yang mengancam kesetiaannya. Di sisi lain, Kirana Senja selaku kekasih Rian mulai mencium adanya ancaman. Kini, mereka semua terjebak dalam dilema pengorbanan dan rahasia yang siap menghancurkan pernikahan Adara.
Sampul Novel Cukup Sekali Mengucap Selamat Tinggal
9.6
Pernikahan tanpa cinta membuat sang istri harus membesarkan putranya tanpa kasih sayang dari suaminya yang dingin. Pria itu bahkan enggan melihat anaknya sejak lahir. Namun, kepulangan wanita masa lalu sang suami mengubah segalanya. Saat pria itu mabuk dan memeluk sang anak, bocah itu justru memanggilnya paman karena tidak mengenalinya. Sadar posisi mereka, sang ibu memutuskan membawa putranya pergi dan berhenti mengganggu kehidupan suaminya.
Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
9.3
Delapan tahun menikah, Jessica selalu memercayai alasan pekerjaan Rio Aditya setiap hari jadi pernikahan mereka. Namun, rahasia busuk terungkap saat ia mendengar rencana Rio untuk menceraikannya demi Nadia. Di tengah pengkhianatan tersebut, Jessica justru menerima diagnosis medis yang fatal: kanker ovarium stadium akhir. Menyadari suaminya tidak lagi mencintainya sejak ia keguguran, Jessica memutuskan untuk merelakan hubungan mereka dan pergi dalam damai tanpa pernah bertemu lagi.
Sampul Novel Gadis Milik Tuan Mafia
8.7
Akiko didera penderitaan ganda: berjuang melawan Leukemia Myeloid Akut sekaligus trauma kekerasan fisik dari orang tuanya sejak kecil. Kemalangannya memuncak ketika ia ditawan oleh Glen Xander Mckenzie. Sebagai bos mafia kejam, Glen berambisi menghancurkan bisnis keluarga Akiko. Namun, seiring waktu, hubungan tawanan dan penculik ini bergeser. Glen yang awalnya dingin justru mulai jatuh hati pada gadis yang seharusnya ia hancurkan tersebut.
Sampul Novel Madu Jadi Upik Abu
8.2
Wati terpaksa menerima keputusan pahit saat Dedy, suaminya, dilamar oleh bos kantornya sendiri. Demi impian akan kehidupan yang lebih baik, ia pun merelakan sang suami untuk berpoligami. Namun, petaka dimulai ketika Wati diboyong ke kediaman istri kedua. Di sana, rahasia gelap sang suami perlahan terkuak. Dedy ternyata menyimpan niat licik yang tak terduga. Wati pun harus berjuang keras setelah sadar bahwa dirinya hanya dimanfaatkan sebagai alat dalam rencana besar suaminya.
Sampul Novel Proposal Cinta Sang Miliarder
7.9
Farhan, seorang miliarder muda yang taat beragama, jatuh hati pada kesederhanaan Aisyah, aktivis dakwah yang kerap ia temui setiap hari Jumat. Sadar bahwa Aisyah lebih menghargai keimanan daripada kekayaan, Farhan memutuskan menyembunyikan status aslinya demi mendekatinya secara Islami. Namun, jalannya tidak mudah karena ia harus melewati ujian berat dari keluarga Aisyah. Mampukah hubungan mereka bertahan di tengah rahasia besar dan tantangan ini?