APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Sendal Jepit

Cinta Sendal Jepit

Kehidupan Amara hancur sejak kepergian ibunya dan kehadiran ibu tiri yang kejam. Ia pun memilih kabur dari rumah hingga tak sengaja bertemu Agung saat melarikan diri dari kejaran polisi. Sialnya, warga desa menuduh mereka berbuat asusila hingga dipaksa menikah hari itu juga. Walau diawali dengan kecanggungan, benih asmara perlahan tumbuh di tengah badai ujian yang menerpa. Lewat perjuangan bersama, Amara dan Agung akhirnya berhasil meraih kebahagiaan sejati.
Bab
Bagikan

Bab 1

Tin ... Tin ....

Suara klakson di sana sini menambah ramai kondisi jalan. Entah mengapa jalanan yang biasanya lengang, malam ini nampak begitu ramai dan padat merayap sehingga kemacetan pun tak dapat dihindari. Seseorang berjalan balik memutar arah, lalu di susul sirine mobil polisi dengan suara khasnya yang tak kalah ramai dengan deru kendaraan.

Sial, ada razia rupanya!

Segera kubelokkan sepeda motor ke sebuah jalan sempit, seingatku jalanan sempit berliku seperti ini seringkali disebut dengan jalan tikus, entahlah bagaimana awal ceritanya kenapa sebutan itu ada, yang terpenting aku bisa lolos dulu dari polisi. Kalau saja aku tadi tidak terburu-buru, mungkin stnk tak akan ketinggalan seperti ini. Fikiranku tadi saat hendak berangkat hanyalah satu, segera tiba di tempat reuni teman sekolah. Sebenarnya masuk ke jalan ini juga bukan pilihan yang benar, terlebih aku jarang melewatinya. Syukur-syukur jika aku tidak tersasar.

“Woy, Mbak. Mau ke mana? Di sana hutan nggak ada tembusan.” Seru seseorang, yang tadi juga mengantri karena macet.

Ah … bodo amat! Mau hutan kek, ada hantu kek, yang penting aku nggak berurusan sama polisi, fyuh! Aku tak menghiraukan suara tersebut.

Kutarik gas motor lebih kencang, berharap tak mendengar lagi omongan-omongan yang hanya membuat bising telinga. Roda motor pun melaju semakin kencang hingga aku tak begitu memperhatikan badan jalan yang licin dan gelap.

Ngeng!

Semakin lama melewati jalanan ini cahaya penerangan pun semakin redup pula, hingga lama kelamaan tak ada lagi cahaya lain selain dari sorot lampu motorku. Sedangkan kiri dan kanan di kelilingi pohon-pohon yang menjulang tinggi. Sedetik kemudian aku mulai kehilangan keseimbangan dan akhirnya ….

Byur!!

Aku tercebur ke sebuah sungai kecil, naasnya motorku tidak bisa keluar. Aku pun berusaha untuk merangkak keluar dari sungai dengan kondisi yang gelap pekat. Bahkan sendal yang kupakai juga hilang entah kemana. Aku menangis sejadinya, tak berhenti merutuki diri yang kenapa sedari tadi tak mendengarkan perkataan orang. Nasib …nasib!

Tapi tak lama kemudian aku sadar jika ini adalah hutan, jadi menangis pun kurasa percuma, siapa juga yang akan mendengar, paling-paling hantu dan binatang buas yang datang. Hi … ngeri! Ya kecuali tiba-tiba ada keajaiban ada pangeran tampan yang mau membantu, membawa sebuah lilin lengkap dengan kuda putihnya! Wait … kuda putih? Ih gak jadi deh, gimana kalau tiba-tiba yang datang adalah hantu!Huaaaaa….

Bimbang antara kembali keluar lewat jalan tadi atau terus melanjutkan perjalanan ini. Hingga kuputuskan duduk pada pinggiran jalan tanah yang ditumbuhi rumput. Kulantunkan doa tak henti berharap ada keajaiban datang. Tiba-tiba dari kejauhan samar-samar terlihat sorot cahaya mengarah padaku, aku memutuskan mendekati cahaya tersebut, semakin dekat cahaya tersebut semakin menyilaukan mata ini.

“Mbak, ngapain malam-malam ada di sini?” selidik pria di depanku.

“Lagi mojok. Lah terus kamu sendiri ngapain malam-malam ke tempat beginian?”

“Mojok itu apa, Mbak? Ini saya mau ngambil air di sungai, Mbak.”

“Memangnya rumahmu nggak ada air?” tanyaku kemudian semakin penasaran.

“Ya ndak ada, Mbak. Wong ini desa terpencil!” Sahutnya seraya berlalu dan berdiri pada pinggiran sungai kemudian mulai menimba air.

Tangannya menyorot pada bagian kiri kolam, terlihat jelas di sana sepeda motorku tengah berendam dengan cantiknya pada bibir sungai.

“Loh, itu sepeda motor Mbak kah? Kok berenang di situ?” Ujarnya seraya menyorot cahaya senternya padaku.

Kurang asem nih, orang. Di kira motorku mau mandi apa?

Aku merengut, coba bukan karena dia manusia satu-satunya di tempat ini sudah kujitak kepalanya dengan kekuatan super. Duh, sabar … sabar …

“Gimana, bisa bantuin aku ngeluarkan itu motor nggak?”

“Ya bisa saja Mbak. Tapi paling besok, karena ndak bisa sendirian.”

“Terus, aku pulangnya gimana?”

***

Pria bernama Agung itu pun mengajakku untuk bermalam di rumahnya. Awalnya aku menolak dan curiga jangan-jangan dia orang jahat yang sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan. Bukankah kata bang napi kejahatan itu ada bukan hanya niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah!

Setelah mengobrol cukup lama, barulah aku mengerti dan mulai berpikir baik tentangnya. Katanya, ia tinggal bersama ibunya, jadi kupikir dia tak akan macam-macam, dari tampangnya sih dia juga terlihat orang baik-baik.

Akhirnya aku pun memutuskan untuk mau dan ikut dengannya, daripada berdiam di tempat tak jelas dan seram begini, ya kan! Dalam perjalanan ke rumahnya, aku yang dari tadi berjalan bertelanjang kaki tiba-tiba menginjak sesuatu.

“Aduh sakit!” erangku hingga dia berhenti dan melihat ke arah telapak kakiku.

“Mbak, kok nyeker? Sandalnya di mana, jatuh ke sungai juga ya?”

Hadeh, ni orang nanya sendiri, jawab sendiri!

“Sini kulihat kakinya!” seraya membungkuk kan badan dan meraba telapak kakiku.

Saat ia berusaha menarik sesuatu di telapak kaki, terdengar suara peluit di tiup nyaring, aku mengedarkan pandangan ke arah sumber suara ternyata ada dua orang hansip berlari menghampiri kami.

“Kalian berdua, ngapain malam-malam di sini? Peraturan kampung ini sudah jelas, selepas maghrib dilarang perempuan dan laki-laki bukan muhrim berdua-duaan.”

Agung cuma tertunduk. Sedangkan aku berusaha menjelaskan peristiwa yang terjadi. Namun sialnya para hansip ini tidak peduli, mereka justru mau menggiring kami ke balai desa. Aku hanya berdecak kesal. Mana pria lugu di sampingku ini malah diam saja tanpa berusaha memberi penjelasan.

Sedetik kemudian, Agung akhirnya bersuara “Maaf, Pak Hansip bisa berhenti sebentar kaki dia sakit, izinkan saya meminjamkan sandal saya ini, agar kakinya tidak terkena kotoran dan infeksi.”

Aku tercengang saat dia memasukkan sandal jepit nya ke telapak kakiku, sedangkan dia malah bela-belain jalan tanpa alas kaki. Ketika aku memandangi wajahnya dia malah spontan berkata “ Jangan dilihatin terus, Mbak. Nanti naksir!”

“Busyet, pede amat lu tong!”

Sesampainya di balai desa, sudah banyak warga kampung tengah menunggu. Dengan duduk bersila kami di persilahkan duduk, salah seorang warga di suruh memanggil ibunya Agung. Tidak lama salah seorang tetua adat berbicara, menjelaskan peraturan di kampung ini dan kami sudah melanggar. Jadi harus siap menerima hukuman yaitu di nikahkan malam ini juga di balai desa secara adat dan agama.

Sontak aku berdiri dan berteriak “Apa, peraturan macam apa ini? Saya saja baru tahu nama dia tadi. Lagian gimana mau nikah, wali saya aja nggak ada!”

Para Hansip berdiri hendak menangkapku, kata mereka aku tidak punya pilihan lain. Karena kalau itu tidak dilakukan desa mereka bakal terkena kutukan.

Ya ampun ini tahun berapa sih? Kok kayak zaman penjajahan aja! Nggak pokoknya enggak, aku nggak mau nikah. Aneh-aneh saja mereka, emang mereka pikir nikah itu semudah membalikkan telapak tangan, eh bukan emang mereka pikir nikah itu semudah ngambil singkong di sawah orang, eh apaan sih. Pokoknya itudah! Aku nggak mau pokoknya nggak mau!

Aku melengos ketika mereka memaksaku duduk di tengah bersama Agung, katanya prosesi pernikahan segera dimulai. Aku masih berusaha berontak, akan tetapi Agung membisikiku bahwa ikuti saja prosesnya, biar lebih mudah untuk keluar dari kampung ini. Nanti dia yang akan membantu. Mau tidak mau aku menerima tawarannya. Dengan syarat dia jangan pernah macam-macam apalagi ambil kesempatan.

Saat prosesi hendak dimulai, seorang perempuan tua datang tergopoh-gopoh ke balai sambil berkata “Ya ampun Le, kok kamu malah jadi begini? Pasti perempuan ini yang maksa kamu berduaan ya?”

Eh gimana-gimana buk?Nggak salah dengar ya? Kok jadi nyalahin aku sih? Wah gak beres nih orang-orang, main hakim sendiri saja. Lagian kenapa aku bisa berada di sini sih? Rasanya kayak mimpi, mending kalau ketiban durian runtuh! Wew, enggak ding ketiban durian kan sakit!Fyuh!

Salah seorang warga menarik tangan ibu si Agung agar duduk. Seseorang mengabarkan semua sudah siap, tinggal mas kawin saja yang belum ada. Aku menoleh pada Agung, niat hati mau menuntut banyak. Akan tetapi ini kan cuma pernikahan pura-pura jadi aku harus bisa berakting agar semua berjalan lancar dan besok bisa segera keluar dari sini.

Seseorang bertanya padaku “Sampean mau mas kawin apa? Biar disiapkan. Tapi jangan yang tidak ada di kampung ini.

Aku melirik kakiku yang sakit terkena duri, entah kenapa muncul di otakku, sepasang sandal yang dipinjamkan Agung tadi walaupun sudah buluk tetapi tetap nyaman digunakan, masa besok aku pulang tanpa alas kaki lagi.

Aku segera berdiri dan berkata,“ Aku minta sepasang sandal jepit sebagai mahar!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
9.6
Delapan tahun lalu, ibu tiriku menikah dengan ayahku. Dari keluarga kaya raya, mustahil ia jatuh cinta pada pria playboy yang jarang pulang itu. Kini aku dan dia tinggal berdua di rumah besar ini. Ia memperlakukanku seperti anak sendiri, tapi caranya berpakaian seksi perlahan menguji batas kesabaranku. Di saat yang sama, aku masih menyimpan rasa untuk Rania, sahabat SMA-ku. Namun, semakin kudekati Rania, semakin jelas pesona terlarang ibu tiriku menggoda. Rahasia, nafsu, dan cinta segitiga yang panas menantimu di setiap bab.
Sampul Novel Ayah Mertuaku, Musuhku
8.3
Kehilangan suami membuat dunia Laras runtuh, tetapi perhatian hangat mertuanya menjadi kekuatan baru. Namun, Rizqan, sang kakak ipar, ternyata memendam perasaan mendalam padanya. Ketika malam berhujan mempertemukan mereka di ruang tamu, obrolan intim pun tak terhindarkan. Rizqan akhirnya menyatakan cinta rahasianya, memicu kebimbangan besar di hati Laras. Di tengah keheningan malam, keduanya pun hanyut dalam pesona terlarang yang melenyapkan kesedihan mereka.
Sampul Novel Balas Dendamnya Adalah Kecerdasannya
9.4
Evelin kerap dikucilkan keluarganya bagai itik buruk rupa. Namun, takdir berbalik saat CEO Carlos justru memilih menikahinya, bukan sang saudari tiri yang sempurna, Paramita. Di balik cemoohan khalayak, Evelin membuktikan dirinya bukan gadis biasa dengan mengungkap rahasia besar bahwa ia adalah pakar keuangan, genius AI, sekaligus penyembuh ajaib. Saat para pembenci berlutut meminta maaf, Carlos pun menunjukkan pesona sejati Evelin yang memikat dunia.
Sampul Novel Kukira Dia Cinta, Ternyata Pemberi Luka
9.7
Saat Riko Fosa dan keluarganya bersiap menghalangi Nisa di rumah sakit demi kelahiran anak Erni, Nisa justru memilih tidak hadir. Riko yang mengira istrinya hanya egois karena tidak mau menerima anak tersebut, berniat memaafkannya jika Nisa bersedia meminta maaf. Namun, Riko tidak menyadari bahwa Nisa telah mengambil keputusan besar. Dia mendaftarkan diri ke PBB untuk menjadi dokter lintas batas dan bersiap mencabut kewarganegaraannya, meninggalkan Riko selamanya tanpa ada kesempatan untuk bertemu lagi.
Sampul Novel Mual! Wajahku Merona Dimanjakan Bos yang Agresif
9.3
Akibat salah memasuki tenda saat acara kebersamaan kantor, Liana melewati malam tidak terduga bersama atasannya sendiri. Panik setelah menyadari kesalahannya di pagi hari, ia langsung melarikan diri dan berusaha bersikap biasa saja di tempat kerja. Namun, rahasia yang ia simpan rapat-rapat runtuh ketika dirinya dinyatakan hamil dua bulan kemudian. Saat Liana memutuskan untuk pergi jauh, sang CEO dari Perusahaan Barka bertindak cepat dengan menutup akses bandara dan menyudutkannya di dalam lift demi meminta pertanggungjawaban atas calon anak mereka.
Sampul Novel The Bastard CEO
8.0
Demi seorang pewaris, CEO berdarah dingin Adam Ford memaksa Angelina Wilson menyetujui kontrak dua tahun. Namun, karena dianggap mandul akibat tak kunjung mengandung, Angelina diusir oleh keluarga Ford. Tujuh tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Kali ini, Angelina datang bersama seorang anak laki-laki yang memiliki paras sangat mirip dengan Adam. Akankah rahasia besar tentang asal-usul sang putra akhirnya terungkap di hadapan Adam?