APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta sang tuan muda

Cinta sang tuan muda

Suatu pagi, Joan dikejutkan oleh keberadaan bayi perempuan yang ditinggalkan di depan pintu rumahnya. Bayi malang tersebut diletakkan di dalam kardus dengan selimut tipis, lengkap bersama sepucuk surat permohonan maaf yang penuh misteri. Penemuan tak terduga ini seketika mengubah garis hidup Joan. Kini, ia terjebak dalam dilema besar: merawat anak itu sendiri atau menyerahkannya ke panti asuhan demi masa depan yang lebih baik.
Bab
Bagikan

Bab 3

20 menit berlalu, Joan baru saja keluar dari kamar mandi masih memakai jubah mandi dan handuk kecil yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya yang basah.

Lelaki itu lalu menatap Kiana yang sedang melakukan hal konyol untuk membuat bayi itu berhenti menangis.

"Apa yang ia lakukan? Melakukan hal konyol adalah ide yang ada dalam pikirannya?" Batin Joan, ia terkekeh pelan melihat tingkah Kiana.

Sebenarnya ia sudah lama menyimpan perasaan suka pada gadis itu, hanya saja ia takut mengungkapkannya karena tak mau persahabatan yang sudah lama mereka bina hancur begitu saja. jika Kiana sampai tau Joan menyayanginya lebih dari seorang sahabat, mungkin gadis itu akan menjauh perlahan-lahan.

"Wah, kau sudah sangat cocok menjadi seorang ibu,"goda Joan membuat Kiana menatap lelaki tampan itu dengan tatapan sinis.

"Semua perempuan memang akan menjadi seorang ibu, Joan,"jelas Kiana dengan nada ketus.

"Kau akan merawatnya? Apa kau sanggup merawat bayi ini sendirian? Lihat saja rumah ini, banyak botol alkohol. Berantakan," kata-kata Kiana terdengar sangat nyelekit di telinga Joan, lelaki itu hanya bisa menatap Kiana dengan ekspresi kesal sekaligus malu.

"Kau menghinaku? Lagi pula aku tidak punya waktu untuk membersihkan semuanya, Kiana …," Joan berusaha membela dirinya di lautan fakta. Tidak punya banyak waktu untuk membersihkan? Lalu bagaimana ia merawat bayi kecil itu, menyuruhnya Menganti popok sendiri?

"Kau akan membiarkan bayi ini hidup dalam hunian mu yang jorok?" Kiana masih dengan kata-kata nyelekitnya, gadis itu sepertinya punya dendam kesumat pada Joan.

"Sejujurnya aku bingung, bagaimana kalau bunda dan ayah tau aku merawat seorang bayi yang tak ku ketahui orang tuanya. Bisa habis diriku di omeli bunda, dan siap-siap saja ayah menendangku dari rumah," ujar Joan menghela nafas panjang lalu menjatuhkan dirinya ke sofa.

Lama mereka diam untuk berpikir, sebelum Kiana akhirnya melontarkan ide yang terdengar cukup cemerlang.

"Katakan saja pada mereka, kau mengasuh bayi ini dari panti asuhan. Kurasa itu sudah cukup untuk meyakinkan mereka," enteng sekali Kiana mengucapkan kalimat seperti itu pada Joan, padahal ia sendiri tau sifat keras yang di miliki ayah sahabatnya itu.

"Kiana … apa kau tidak tahu bagaimana sifay ayahku? Dia akan menanyakan dokumen hak asuh dan minta untuk diperlihatkan panti asuhan tempat bayi itu ku asuh, tidak semudah yang ada dalam bayanganmu," perbedaan pendapat membuat mereka kebingungan mencari jalan keluar dari masalah itu. Apa solusi dari Kiana akan berjalan lancar?

"Bagaimana kalau kita Katakan saja sudah menikah secara siri?" Ide gila mulai muncul dalam pikiran Joan, saat ini hanya itu salah satu solusi yang menurutnya aman.

"Tidak, aku tidak mau!" Dengan lantang Kiana menolak ide gila sahabatnya itu, ini tidak hanya menyangkut tentang ayah Joan. tetapi kedua orang tua Kiana juga, Belum lagi orang-orang yang mungkin mengecap mereka berhubungan di luar nikah, pikiran buruk mulai terlintas di benak Kiana. Gadis itu memijat-mijat pelipisnya sembari terus menatap bayi kecil yang ada di hadapannya.

"Lalu harus bagaimana? Apa kau ingin menitipkan bayi ini ke panti asuhan?" Joan semakin membuat Kiana bingung, lelaki tampan itu terus saja mengoceh di depannya.

"Nama!" celetuk Kiana membuat Joan kebingungan, apa maksudnya menyebut kata itu? Nama apa?

"Ayo kita rawat dia, Joan! Yeah … sekarang aku memilih merawatnya!" Pekik Kiana menatap Joan dengan mata berbinar membuat lelaki tampan itu tambah keheranan.

"Kau akan menerima segala resiko yang ada?" Joan balik menatap Kiana dengan serius, Bahkan wajah mereka hanya berjarak beberapa Senti saja.

Mendengar itu Kiana pun mengangguk dengan wajah sumringah, entah apa yang membuatnya bersemangat seperti itu. Apa karena ocehan Joan yang membuka pikirannya?

"Sekarang ayo beri dia nama," pinta Kiana pada Joan, ia lalu beralih menatap bayi itu dengan senyum bahagia.

"Hm … aku bingung, nama apa yang cocok untuknya? Bagaimana kalau Dena?" Joan memutar otaknya, memikirkan nama apa yang cocok untuk seorang bayi perempuan.

"Sudah banyak yang memakai nama itu, di kampus saja ada lebih 50 orang yang menyelipkan kata Dena pada namanya," tepis Kiana dengan nada ketus masih berusaha memikirkan sebuah nama yang bagus.

"Agustin?" Joan kembali menyarankan nama lain, namun lagi-lagi di tolak oleh Kiana. Membuat Joan kebingungan nama seperti apa yang gadis itu akan berikan pada bayi yang ada di depannya.

"Jangan, nanti pas sekolah namanya malah jadi bahan ejekan, pasti bakalan sering di panggil Agus atau enggak Tin, kayak bunyi klakson mobil yang ada di novel-novel," Kiana dengan nada ketus nya. membuat Joan pasrah menyerahkan keputusan sepenuhnya pada sahabatnya itu.

"Lalu nama apa yang menurutmu bagus? Terserahlah, aku lelah," Joan kembali menyandarkan kepalanya ke sofa lalu memegang tangan mungil bayi itu.

"Bagaimana kalau … Jona!?" Celetuk Kiana membuat Joan tersentak.

"Jona?" Joan masih bingung, berusaha mencerna apa nama Jona bagus untuk bayi imut itu.

"Iya! Itu singkatan dari nama kita, Jo-an dan Kia-na," Kiana lalu mendekati Joan menatap lelaki itu dengan mata berbinar, kedua tangannya mengunci tubuh kekar Joan.

"Kiana? Kau sehat?" Joan terkejut dengan sikap Kiana kepadanya, gaya mereka saat itu membuat pikiran Joan kemana-mana.

"Maaf, aku hanya sangat bahagia," Kiana menjauhkan tubuhnya dari Joan dengan rasa malu, walau mereka sudah bersahabat cukup lama. Jarang sekali Kiana berinteraksi lebih dulu pada Joan sedekat itu.

"Tumben sekali otakmu encer," Joan berusaha menghilangkan pikiran kotornya karena sikap Kiana tadi, hampir saja ia bersikap terlalu jauh.

"Halo Jona, nama kamu Jona … dia senyum Joan!" Pekik Kiana saat melihat ekspresi bayi Jona berubah, senyum tipis terukir di bibirnya.

"Jona, anaknya ayah Joan dan bunda Kiana," Joan pun ikut mengajak bayi Jona berbicara.

"Apa sih, jangan ngelunjak!Masih untung aku mau bantu jaga bayi Jona," celetuk Kiana dengan nada ketus dan tatapan sinis.

"Iya, iya. Thanks honey," suara berat Joan membuat Kiana salah tingkah.

"Sudah, sana pakai bajumu. aku ini masih normal," pekik Kiana hanya sesekali menatap Joan, ia takut lelaki itu tiba-tiba berbuat gila.

"Benarkah? Kau tak ingin melihatnya?" Joan tambah membuat Kiana gelisah, tatapan dan senyum miring pria itu terlihat menyeramkan Dimata Kiana.

"Apa!?" Kiana berteriak dengan lantang karena terkejut sekali lagi mendengar ucapan mesum Joan.

"Tatto baruku, sayang …," Joan dengan wajah gembira berjalan menuju kamarnya namun suara tawa kecil Joan bahkan terdengar oleh Kiana saking sunyinya rumah besar itu.

"Joan! Jangan pikir aku tak mendengarnya!" Teriak Kiana.

"Ampun sayang … ampun," Joan memohon dengan nada bercanda.

"Sekali lagi kau menyebut kalimat seperti itu, ku tinggalkan kau sendiri bersama Jona," ancaman Kiana membuat Joan bungkam, lelaki itu segera keluar dari kamarnya lalu berjongkok memohon pada Kiana.

"Jangan! Jangan ya, Kiana Agung Triwahyuni," Joan berusaha membujuk Kiana dengan wajah memelasnya.

"Eh, maaf ya Jona. Soalnya kak Joan berisik," Kiana terkejut karena tiba-tiba bayi Jona terbangun dari tidurnya dan menangis.

"Ayah Joan, bunda …," Joan masih sempat-sempatnya bercanda di situsi genting itu.

"Iya ayah Joan! Sudah puas?," Pekik Kiana, menatap Joan dengan wajah kesal.

"Sangat puas,"Joan lalu tersenyum miring menatap Kiana intens. Kekaguman lelaki tampan itu tak teralihkan oleh apapun. Sikap cekatan Kiana membuat Joan terpesona.

"Pantas saja, lihatlah. popoknya penuh," ujar Kiana saat memeriksa popok bayi Jona yang sudah penuh, bahkan rembes mengenai sofa.

"Lalu bagaimana?" Tanya Joan dengan nada santai. Lelaki tampan itu sama sekali tak tahu jika seorang bayi memiliki keperluan yang sangat banyak.

"Beli popok untuk bayi Jona," tegas Kiana membuat Joan malah tambah heran, mana bisa ia membeli sebuah popok.

Memegangnya saja ia tak pernah.

"Kau ingin aku keluar untuk membeli popok? aku tidak tahu benda apa itu Kiana … kenapa bukan kau saja yang keluar membelinya?" Joan dengan nada ketus, menatap Kiana yang berusaha menenangkan Jona.

"Jika aku meninggalkanmu berdua dengan Jona, kau hanya akan membuatnya menangis," kalimat ketus kembali terlontar dari mulut Kiana, gadis itu menggeleng kepalanya membayangkan jika Joan yang akan menjaga Jona walau hanya sebentar.

"Baiklah, cepat tulis apa yang perlu ku beli untuknya,"pinta Joan, mendengar itu Kiana pun langsung menyerahkan jona pada Joan untuk sementara. Setelah itu mengambil secarik kertas dan pulpen di meja.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dicerai kakak Dinikahi adik
8.0
Setelah rumah tangganya dengan Win kandas, Iyas mencoba menata ulang hidupnya yang hancur. Ia mendirikan sebuah toko bunga sebagai pelarian demi menghapus memori kelam masa lalu. Tak disangka, takdir mempertemukannya dengan Bhaga, adik kandung sang mantan suami. Walau Bhaga terikat erat dengan sumber luka lamanya, pria itu justru membawa kedamaian. Di balik rasa benci dan trauma yang mendalam, Iyas perlahan kembali merasa dihargai serta pantas dicintai oleh sosoknya.
Sampul Novel Dikira Miskin Oleh Keluarga
9.6
Gaya hidup Gunawan yang tampak biasa saja membuat orang tuanya keliru dan mengira dirinya jatuh miskin. Padahal, di balik kesederhanaan tersebut, ia menyembunyikan identitas aslinya yang sangat mengejutkan. Anggota keluarga yang kerap meremehkannya sama sekali tidak menyadari bahwa pria ini sebenarnya adalah seorang miliarder luar biasa dengan kekayaan yang sangat melimpah ruah.
Sampul Novel Dulu Kau Permainkan Aku, Kini Aku Istri Sultan
8.3
Kiana terkejut saat mengetahui pernikahan tiga tahunnya dengan Yovan palsu, dan sahabatnya adalah istri sah yang sebenarnya. Pengkhianatan ini terjadi setelah Kiana mandul akibat menyelamatkan Yovan. Menolak diperdaya, Kiana membalas dendam dengan menikahi tuan muda miliarder yang menjadikannya pihak berkuasa atas proyek mereka. Pernikahan mewahnya menggemparkan kota, dan ia berhasil melahirkan anak kembar. Saat Kiana berniat mundur demi cinta sejati suaminya, sang tuan muda justru memohon agar ia tetap tinggal.
Sampul Novel Godaan yang Terlalu Memikat
7.8
Demi merebut kembali sang putra, seorang janda beranak dua rela melakukan apa saja, termasuk memanfaatkan ketulusan pria baik hati demi tujuannya. Meski sadar tindakan manipulatif ini sangat egois, baginya naluri seorang ibu jauh lebih utama dibanding moralitas diri. Ia pun mendesak pria itu untuk membenci dan melupakan dirinya. Baginya, mengakhiri hubungan rumit ini adalah satu-satunya jalan terbaik agar mereka berdua bisa bertahan hidup.
Sampul Novel Ketika Cinta Berubah Menjadi Abu
8.9
Savi hancur setelah dikhianati Jaka, bintang rock idolanya sejak muda. Di sebuah bar di Senopati, ia mendengar rencana kejam Jaka yang ingin menyingkirkannya lewat sandiwara pertunangan palsu. Tak hanya dihina sebagai pengganggu, Savi bahkan dibiarkan terluka demi perempuan lain. Muak dengan segala kekejaman dan rasa malu di depan umum, Savi memilih bangkit. Ia memutus semua kontak dan pergi ke Florence untuk memulai lembaran hidup baru tanpa bayang-bayang masa lalunya.
Sampul Novel Menikahi Gadis Bar-Bar
8.4
Malaika Arabella, siswi kelas XI penerima beasiswa, terkenal tangguh dan kerap membolos walau tetap berprestasi di tengah rundungan. Konflik bermula ketika orang tuanya harus bertugas ke luar negeri untuk waktu lama. Enggan ikut dan tanpa kerabat dekat, Mala terpaksa menyetujui pernikahan dini rahasia dengan anak dari sahabat ayahnya. Sanggupkah Mala mengarungi bahtera rumah tangga barunya ini, sementara ia juga harus menghadapi dinamika dunia sekolah yang penuh gejolak?