
Cinta Romantis Bagaikan Buih
Bab 6
Notifikasi dari Nanda masih masuk terus.
[Nanda: Oh iya, kasih kamu lihat ini. ‘Foto’, ini hasil pemeriksaan USG, aku sudah hamil.]
Chinta memperbesar fotonya, baru melihat jelas kalimat di hasil pemeriksaan.
[Embrio 8 Minggu, tanda-tanda keguguran.]
[Nanda: Kemarin kami melakukan di atap gedung berkali-kali. semua gaya sudah dicoba. Kemungkinan karena terlalu kuat, bayinya ada sedikit tanda-tanda keguguran, ah semua salahnya. Dia bilang di rumah, kamu seperti ikan mati nggak ada nafsu, main samaku baru lebih seru.]
[Nanda: Dokter bilang, mau kuatkan kandungan ataupun gugurin perlu tanda tangan ayah, jadi aku cuman bisa suruh dia turun. Gimanapun, dibandingin radang saluran pencernaan dan anaknya, anak lebih penting, benar nggak?]
Chinta memesan mobil untuk meninggalkan rumah sakit.
Dia pergi ke kantor pengacara.
“Halo, aku mau minta bantuan kalian untuk buatin perjanjian cerai.”
Dia tidak mau apapun dan pengacaranya juga bisa diandalkan.
Setengah jam kemudian, dia sudah mendapat perjanjian cerai yang lengkap.
Pengacara bilang: “Tidak perlu tanda tangan pihak pria, asal kalian pisah tempat tinggal selama 2 tahun, perjanjian ini akan berlaku otomatis.”
Saat Chinta membawa perjanjian cerai keluar, pas Ravi meneleponnya.
“Chinta, kamu di mana? Aku sudah mencari semua tempat di rumah sakit tapi tidak menemukanmu.”
Chinta bilang: “Lama menunggumu, jadi aku pulang duluan.”
“Baiklah kalau sudah selamat sampai di rumah. Maaf ya Chinta, perusahaan tadi ada urusan butuh aku pergi. Beberapa hari ini kemungkinan aku perlu dinas luar, kamu jaga dirimu baik-baik. Minggu depan aku pasti menolak semua pekerjaan untuk nemanin kamu.”
Chinta hanya menghela nafasnya.
Kebohongan kalau dibilang seribu kali, maka tidak ada yang akan percaya lagi.
Chinta sekarang tidak akan tergoyang lagi.
“Iya, pergilah.”
“Chintaku paling pengertian, sayang, besok aku bawain bunga freesa.”
“Pengertian?” Chinta bertanya: “Ravi Kaden, kamu suka cewek yang manja, pura-pura bodoh dan menempelmu terus? Aku terlalu pengertian, jadi tidak seru?”
Ravi terdiam sejenak: “Mana mungkin, aku paling suka samamu. Apapun sifatmu, aku suka semuanya.”
“Ravi Kaden, kamu akan suka cewek lain nggak?”
“Tentu tidak.”
“Kalau kamu berubah hati, aku akan pergi darimu selamanya.”
Ravi senyum sinis: “Lari saja, aku akan menutup bandara dan stasiun kereta, asal kamu masih Chinta Luna, aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku.”
Tapi, pasporku namanya sudah bukan Chinta Luna.
Namaku Cahya Arjuna.
Chinta mempertegaskan lagi: “Aku ini serius, adanya cara aku pergi darimu, maka adanya cara kamu tidak bisa temukan aku.”
Ravi masih senyum, seperti bermain dengan kucing: “Baik, kamu lari dulu, aku kasih kamu 3 hari beu pergi mencarimu. Sudah ku bilang, asal kamu masih Chinta Luna, mau kemanapun kamu lari, aku akan menemukanmu, kamu tidak bisa pergi dariku.”
Tidak bisa pergi?
Chinta senyum.
Kalau gitu kita lihat saja.
Anda Mungkin Juga Suka





