
Cinta Pertama Sumber Penderitaanku
Bab 3
Tak kusangka, alarm kamera pengawas di laboratorium berbunyi nyaring.
Tak lama kemudian, Tabitha mengunggah story baru.
[ Tesis S2 hampir selesai! Penelitian obat baru bersinar terang! ]
Dalam foto itu, dia mengenakan jas lab, riasannya sempurna. Dia bahkan tak memakai masker, berpose di samping mikroskop. Di tangannya adalah buku data eksperimen milikku ....
Alarm laboratorium masih terus berbunyi. Dalam rekaman CCTV, mereka berdua sedang menempel erat di atas meja.
Tabitha duduk di pangkuan Fred, matanya sayu, bibir sedikit terbuka, tubuhnya naik turun perlahan. Jas lab putih milikku yang selama ini kujaga dengan baik pun tergeletak di lantai, bahkan kancingnya lepas karena dirobek.
Meskipun aku sudah lama tahu Fred tidak mencintaiku, melihat kerja keras bertahun-tahun diinjak-injak seperti ini, tetap membuatku tak sekuat yang kubayangkan.
Aku menghapus air mata di pipi dengan punggung tangan, lalu menerobos masuk ke laboratorium.
Fred dan Tabitha sedang tenggelam dalam ciuman di atas meja eksperimen. Udara dipenuhi aroma memuakkan yang tak bisa dijelaskan.
"Kalian masuk tanpa izin dan mencuri data eksperimen! Percaya nggak, bisa kuadukan sampai kalian bangkrut!"
Karena terganggu, Fred menyeka bekas lipstik di bibirnya. Wajahnya penuh kejengkelan.
"Yuri, kamu ini berlebihan sekali. Setengah dana lab ini saja dariku! Lagian, data itu cuma angka-angka nggak berguna!"
"Hasil penelitianmu itu nantinya juga bakal dipublikasikan, 'kan? Biar saja kalau Tabitha mau pakai buat tesisnya!"
"Satu lagi, eksperimenmu juga belum selesai. Siapa yang publikasi duluan, ya dia yang punya hak. Begitu saja nggak ngerti?"
Aku menatapnya tak percaya, menunjuk ke arah CCTV. "Semua perbuatan kalian terekam. Bukti lengkap."
Fred tertawa meremehkan. "Yuri, demi dapat perhatianku, kamu nekat banget ya? Ada saja yang kamu lakuin."
Aku bisa merasakan udara di sekitarku seakan-akan terbakar oleh kemarahanku sendiri. Mungkin karena dia belum pernah melihatku semarah ini, jadi ekspresinya agak ragu.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Itu pesan dari ayahku.
[ Dia sudah sampai. Nanti malam ada acara keluarga, dia akan hadir. ]
Saat ini di bandara, seorang pria tinggi yang memakai kacamata hitam, menarik koper dan berjalan cepat. Tubuhnya dibalut jas Armani hitam pekat. Itu adalah Zico, kakak Fred, pria yang akan menjadi tunanganku.
Pada saat yang sama, Fred juga menerima pesan. Wajahnya yang semula agak cemas menjadi percaya diri.
"Yuri, kalau kamu memang mau bawa ini ke pengadilan, silakan. Tapi, biar kuperingatkan dulu. Kakakku itu salah satu pengacara paling top di industri ini."
Fred mengeluarkan rokok, bersiap menyalakan.
"Dilarang merokok di laboratorium!" Akhirnya, aku meraih gelas dan menyiramkan isinya ke kepala Fred. Kemudian, tanpa peduli pada makian Fred dan jeritan Tabitha di belakang, aku membalikkan badan dan pergi.
Malam itu adalah pertemuan keluarga antara Keluarga Adwel dan Keluarga Sentosa sebelum acara pertunangan resmi.
Fred datang membawa Tabitha. Aku sengaja duduk jauh dari mereka.
Melihat wajahku masam, Fred malah sok akrab dan duduk di sampingku. Dia meletakkan tangannya di belakang sandaran kursiku, mengembuskan asap rokok sambil menyeringai,
"Ngambek ya? Strategi tarik-ulur sudah jalan, sekarang kamu mulai pakai trik bikin aku kesal?"
Melihatku tak menggubris, Fred mendekatkan wajahnya. "Kamu siram aku pakai air, aku bisa anggap itu permainan nakalmu. Tapi, kamu bikin Tabitha ketakutan. Nanti habis makan, kamu harus minta maaf padanya."
Melihat jariku kosong, dia mengernyit lagi. "Mana cincin yang aku kasih?"
Akhirnya, aku menoleh dan mengernyit. "Kamu duduk di tempat yang salah. Ini kursi utama."
Tatapanku membuat Fred otomatis mematikan rokok. Kemudian, karena merasa malu, dia bertanya, "Kenapa? Acara hari ini juga buat mengumumkan pertunangan. Aku tamu utama, 'kan?"
Saat berikutnya, pintu ruangan terbuka. Seseorang dengan tubuh tinggi dan tegap berjalan masuk. Sepatu kulit buatan tangan menginjak lantai marmer dan mengeluarkan suara nyaring.
Fred langsung berdiri, menatapku dengan penuh kemenangan, lalu berkata dengan sombong, "Masih mau lapor polisi? Lihat tuh, kakakku datang."
Dia segera berbalik, wajahnya penuh senyuman menjilat. "Kak Zico!"
Anda Mungkin Juga Suka





