APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Kusut yang Ditakdirkan

Cinta Kusut yang Ditakdirkan

Tekanan keluarga memaksa William menikahi Fransiska tiga tahun silam, walau ia mencintai perempuan lain. Pernikahan dingin itu membuat Fransiska memilih kuliah di luar negeri. Begitu kembali, William langsung meminta cerai demi pacarnya yang sedang sekarat. Meski terluka, Fransiska mengiyakan. Namun, William tiba-tiba bimbang dan sengaja mengulur proses perceraian mereka. Di tengah perubahan sikap suaminya yang membingungkan, dapatkah Fransiska membebaskan diri?
Bab
Bagikan

Bab 3

Sudut Pandang William:

Setelah mengantar Fera pulang, aku kembali ke kantor untuk mengurus beberapa masalah bisnis.

Di malam hari, aku menerima pesan dari Gunawan.

Pesan tersebut berbunyi, "William, apakah kamu ingin ikut dengan kami? Semua orang ada di sini."

Aku membalasnya, "Baik. Aku akan segera pergi ke sana."

Aku mengetik pesan sambil berjalan keluar dari kantor.

Gunawan adalah pemilik Bar Mint. Itu adalah salah satu bar yang paling terkenal di kota ini, dan malam ini bar tersebut tampak sungguh ramai oleh pengunjung. Begitu aku masuk, aku melihat ada Gunawan dan Antoni. Kami semua sudah berteman sejak kami masih kecil.

"Apakah kamu sudah bertemu dengan Fransiska?" tanya Gunawan begitu aku tiba di hadapannya.

"Iya," jawabku dan kemudian aku meminta bartender untuk menyajikan segelas wiski.

"Apakah kamu benar-benar telah menceraikannya?" Gunawan mendesak dan mendekatiku.

"Iya," jawabku dengan tidak sabar dan menyalakan sebatang rokok.

"Bisa-bisanya kamu, bro? Fransiska itu sudah seperti saudari kita. Kita bahkan tumbuh besar bersama. Kamu dan Fera jahat sekali padanya."

Aku menghembuskan asap rokok ke udara saat bartender tersebut meletakkan minumanku di depanku. Aku memutuskan untuk tidak menjawab Gunawan dan meminum wiskiku. Akan tetapi apa yang telah dikatakannya itu memang benar.

Sejujurnya, tadi malam aku gugup ketika berbicara dengan Fransiska mengenai perceraian. Sementara itu, dia hanya duduk di sana sepanjang waktu, terlihat begitu tenang dan juga kalem. Aku tidak tahu apakah tindakan itu membuatku kesal atau terkesan. Kami sudah tidak bertemu selama tiga tahun. Dia bukan lagi gadis kecil manis dengan emosi yang tampak jelas. Dia benar-benar telah tumbuh dewasa.

Aku agak kesal karena kembali bertemu dengannya yang berwatak seperti itu.

"Apakah dia setuju?" tanya Antoni dengan penasaran.

"Iya, dia setuju."

Sekarang aku sangat menyesali keputusanku untuk keluar dan bertemu teman-temanku ini. Aku hanya ingin minum dengan mereka, dan di sini mereka malah tidak henti- hentinya menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

"Jadi apakah kamu benar-benar akan menikahi Fera?"

"Iya."

"Apakah kamu serius? Apakah kamu benar-benar akan mengorbankan kebahagiaanmu hanya karena dia telah menyelamatkanmu?" Antoni langsung berubah menjadi sangat emosional ketika mendengar jawabanku tadi. Dia tidak sengaja menumpahkan anggurnya ke pakaianku.

"Sial!" Aku mengumpat dengan marah.

"Astaga. Maafkan aku, bro," Antoni langsung meminta maaf padaku.

Aku tidak mau terlihat berantakan begini saat duduk di sana, jadi aku pun pamit pulang untuk berganti pakaian. Aku segera meninggalkan bar itu dan memanggil layanan taksi. Aku sudah berencana untuk pulang, tapi begitu aku masuk ke dalam mobil, aku pun berhenti sejenak untuk berpikir.

Lalu sebagai gantinya, aku meminta sopir untuk mengantarku ke Jalan Garden.

Saat aku tiba di sana, rumah itu tampak terang benderang, dan aku bisa mendengar ledakan tawa yang datang dari jendela yang terbuka. Ada sebuah Mercedes yang tampak akrab terparkir di garasi.

Sepertinya Ibu dan Nenekku datang berkunjung.

Aku berjalan cepat menuju pintu, tapi sebelum aku bisa memasukkan kata sandi, seseorang telah membuka pintu itu dari dalam.

"Dari mana saja kamu? Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?" Ibuku melangkah mendekatiku dan kemudian memarahiku.

"Aku tadi sedang rapat, Bu."

"Dan kenapa kamu malah bau alkohol? Apakah tadi kamu pergi minum-minum? Ya Tuhan, kamu tampak berantakan sekali. Sana pergi ganti baju." Ibu hanya mengernyitkan hidungnya dan menyuruhku masuk.

Aku masuk ke rumah dan melihat Nenek serta Fransiska sedang duduk di ruang tamu, berbicara dan tertawa. Di meja kopi terdapat buah-buahan dan bahkan pai apel.

"Hai, Nenek." Aku pergi untuk menyapa dan mengambil sepotong pai apel, tetapi Nenekku malah menampar tanganku.

"Jangan sentuh itu. Itu bukan untukmu. Itu untuk Fransiska."

"William, kamu kenapa? Ayo, pergi ganti baju bersih." Fransiska berdiri dan berjalan ke arahku.

"Kalian sudah lama menikah. Kenapa kamu masih memanggil William dengan nama depannya?" Nenek bertanya pada Fransiska dan kemudian menatapku dengan curiga.

"Apakah ada yang salah dengan caraku memanggilnya?" Fransiska langsung berhenti dan bertanya.

"Bukannya pasangan muda yang menikah seperti kalian biasanya menyebut pasangan mereka sayang atau cinta atau semacamnya?"

Sejenak Fransiska membeku dan tampak memutar otaknya. Dia lalu berdeham kecil. "Ayo, Sayang. Aku akan membantumu ganti baju."

Dia membantuku melepas jasku dan tersenyum dengan tulus.

"Ini baru benar," Nenek berseri-seri, nada suaranya dipenuhi dengan kepuasan.

Dia sangat mencintai Fransiska. Dalam beberapa tahun terakhir saat Fransiska masih di luar negeri, Nenek sering bertanya padaku tentangnya. Setiap kali aku hanya menjawabnya dengan cuek.

Tidak lama, Nenek memulai topik pembicaraan baru.

"William, aku sudah membuat janji dengan dokter untukmu minggu ini. Jangan minum sampai saat itu. Aku ingin kamu pergi untuk memeriksakan dirimu."

Aku kaget ketika mendengarnya.

"Tapi aku baru saja melakukan pemeriksaan fisik, Nek. Aku sehat sekali."

"Aku tidak mau kamu pergi melakukan pemeriksaan fisik lagi. Ini adalah pemeriksaan yang lebih khusus. Sudah beberapa tahun. Di mana cicit-cicitku? Dan menurutku ini bukan salahnya Fransiska. Ini adalah salahmu."

Fransiska mengerutkan bibirnya dan menatapku. Sebuah otot berkedut di rahangnya. Dia tampak seperti sedang berusaha agar tidak tertawa terbahak-bahak.

Sebelum aku bisa membela diri, ponselku pun berdering, dan aku menghela napas lega. Fransiska, yang memegang jaketku, mengeluarkan ponselku dari saku dan melihat nama penelepon di layar. Dari raut wajahnya yang langsung berubah, aku tahu bahwa panggilan itu pasti dari Fera.

"Apakah itu adalah panggilan dari wanita tersebut? Ah, benar-benar ya!" seru Ibuku.

Aku mengambil ponselku dari Fransiska dan menolak panggilan tersebut.

"Apakah itu Fera? William, kamu sekarang sudah menikah. Kenapa kamu masih berhubungan dengan wanita itu? Kamu harusnya setia dengan Fransiska. Dan apa-apaan itu foto Fera mengenakan gaun pengantin yang aku lihat di berita? Ada apa ini?" Nenek mengomel.

"Ini tidak seperti yang Nenek pikirkan."

"Terus kenapa kamu menolak teleponnya? Apakah ada sesuatu yang kalian ingin bicarakan dan tidak ingin kami dengar?"

Aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Aku bisa berbohong pada orang lain tapi tidak pada Nenekku. Beliau selalu bisa menembus kebohonganku.

Nenek tampak sangat marah hingga tubuhnya gemetar. Langsung saja Fransiska menuangkan segelas air untuknya.

"William akan menjawab pertanyaan dari Nenek dengan senang hati, tapi biarkan aku mengantarnya untuk berganti pakaian terlebih dahulu," kata Fransiska sambil mendorongku ke atas menuju kamar tidur.

"Ada beberapa kemeja putih di lemari ketiga."

Begitu Fransiska pergi untuk mengambilkanku kemeja bersih, aku melepas kemeja yang diwarnai oleh Antoni dengan anggurnya. Kemeja ini sudah rusak. Sialan. Lain kali aku tidak akan mengampuni Antoni.

Kemudian, aku merasakan keheningan yang gamblang di belakangku. Aku berbalik.

Fransiska berdiri di sana dan menatapku sambil membawa salah satu kemejaku di tangannya. Dia menunduk, berusaha untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Sudah berapa lama kamu berdiri di sana?"

Dia tidak menjawab. Dia langsung menutup matanya dengan cepat. Aku berjalan ke arahnya.

Kali ini, aku bisa melihat lebih banyak sisi baru dirinya. Dia bukan lagi gadis kecil seperti dulu. Tiga tahun terakhirnya di Prancis telah mengubahnya dari kuncup biasa menjadi sekuntum mawar yang indah.

Bulu matanya yang panjang bergetar. Bibirnya terkatup membentuk garis tipis seolah-olah dia sedang menekan sesuatu di benaknya. Setiap menit wajahnya berubah semakin merah.

Aku mengambil kemeja itu dari tangannya dan segera memakainya.

Setelah aku berganti baju bersih, kami kembali ke ruang tamu bersama.

"Aku tidak punya waktu bertahun-tahun lagi, William. Kenapa kamu tidak bisa hidup damai bersama Fransiska? Kenapa kamu selalu berusaha membuatku kesal, sih?" Nenek masih menyalahkanku.

"Lain kali kalau Nenek mau datang ke sini, Nenek bisa meneleponku dan aku akan langsung datang menjemput, oke?" Aku masih tidak tahu bagaimana harus menjawab beliau, jadi aku memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan.

"Tidak, terima kasih. Kamu selalu sibuk sekali. Aku tidak mau merepotkanmu. Aku hanya ingin melihat apa kamu memperlakukan istrimu dengan baik."

"Nenek, aku baik-baik saja," Fransiska menimpali.

"Baiklah kalau begitu. Omong-omong, jangan lupa besok itu pesta ulang tahun ke-60 Grup Lusman. William, aku berharap agar kamu membelikan Fransiska gaun malam yang indah untuk pesta ini. Aku ingin semua orang melihat betapa beruntungnya kamu mendapatkan seorang wanita seperti dirinya. Jangan sampai kamu membuatku sedih lagi, dengar tidak, anak muda?

"Tentu saja, Nenek."

Setelah beberapa lama mengobrol dengan Nenek dan Ibuku, akhirnya aku bisa meyakinkan mereka untuk pulang dan mengantar mereka keluar.

Dalam keadaan seperti itu, tidak mungkin aku bisa menyebutkan perceraian kepada mereka tanpa menimbulkan suatu kegemparan.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Affair
8.8
Dinginnya hubungan pernikahan saat ini membuat kenangan manis bersama Hany, sang mantan kekasih, kembali membayangi hari-hariku. Nostalgia masa lalu itu terus hadir hingga menjadi beban berat yang mengancam keutuhan rumah tangga yang sedang kujalani. Di tengah godaan memori indah yang tak kunjung sirna, mampukah pernikahan ini bertahan dari kehancuran?
Sampul Novel Aku Istri Rahasia Suamiku
8.0
Kehamilan akibat hubungan terlarang dengan Rudi memaksa Syifa mengisolasi diri demi menutupi aib masa mudanya. Alih-alih mendapatkan pernikahan impian yang harmonis, ia justru harus menerima kenyataan pahit. Rudi enggan mengakuinya di hadapan keluarga dan malah memilih menikahi kekasih lamanya, Anita. Setelah tujuh tahun bertahan dalam penderitaan sebagai istri rahasia yang penuh luka, kini Syifa dihadapkan pada dilema besar antara terus bertahan atau memilih pergi.
Sampul Novel AMARAH DALAM SELUBUNG
9.5
Riana pernah terjebak pernikahan penuh dusta dengan pria beristri yang memanfaatkannya lewat ilmu hitam. Setelah berhasil melawan dan menolak cinta suaminya yang telat tumbuh, ia mengusir pria itu. Riana lalu berjuang sendirian membesarkan putranya hingga sukses dan menjadi wanita kaya. Kini, saatnya pembalasan tiba. Secara perlahan dan rahasia, Riana memakai kekuatan gaibnya untuk menghancurkan seluruh kejayaan mantan suaminya hingga tak bersisa.
Sampul Novel Cerita dewasa
7.9
Kisah romansa modern ini menyajikan dinamika hubungan dewasa yang intim antara pria dan wanita. Karena dipenuhi adegan eksplisit khusus dewasa, buku ini tidak boleh dibaca oleh anak di bawah umur. Pembaca wajib berusia minimal 21 tahun untuk menikmati seluruh alur ceritanya. Penulis sangat mengharapkan dukungan Anda agar karya imajinatif ini dapat terus berkembang. Pastikan usia Anda memenuhi syarat sebelum mulai membaca kisah ini. Terima kasih.
Sampul Novel Disgraced Wife
7.9
Demi takhta Nagara Group, El Barack Gunadhya Nagara menikahi Bellina Devanka Ammari yang dibelinya dari sang bibi. Pernikahan singkat ini menyiksa batin Bellina, memaksanya berpisah dari Kevin Sanjaya dan menjadi sekadar alat pencetak pewaris. Namun, saat El mulai memperlakukannya dengan istimewa, segalanya berubah. Akankah Bellina memilih pergi, atau justru jatuh cinta pada pria yang telah menyelamatkan hidupnya itu?
Sampul Novel En-PD163
8.4
Janna, seorang ilmuwan berbakat, jatuh cinta pada Kingsley di tempat riset mereka. Namun, pernikahan yang diraih dengan perjuangan ini hancur karena Kingsley terobsesi pada wanita lain hingga tega menyakiti Janna. Kecewa atas pengkhianatan tersebut, Janna memutuskan bercerai dan pergi. Saat Kingsley akhirnya sadar telah dimanfaatkan dan ingin kembali, Janna telah membuka lembaran baru bersama kekasih baru yang tulus mencintainya.