APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Kita Sudah Sampai Ujung

Cinta Kita Sudah Sampai Ujung

Vanesa akhirnya menyadari pernikahan kontrak lima tahunnya dengan Steven adalah kebohongan besar setelah mengetahui anak yang diasuhnya merupakan anak kandung suaminya dengan wanita lain. Saat sang madu membawa surat cerai di tengah kabar kehamilannya, Vanesa memilih pergi dan mengembalikan anak itu. Mengabaikan masa lalu, ia bangkit menjadi wanita mandiri yang kaya raya. Penyesalan pun datang dari keluarga pencela hingga Steven yang mabuk dan menolak meresmikan perceraian mereka.
Bab
Bagikan

Bab 9

Pada awal tahun, Vanesa sudah membeli sebuah unit di Kompleks Acacia yang ada di sebelah studionya.

Rumah itu berukuran 140 meter persegi dengan tiga kamar tidur. Dia dan ibunya masing-masing akan mendapatkan satu kamar, sementara satu kamar kecil lagi akan Vanesa ubah menjadi sebagai ruang kerja.

Rumah itu sudah jadi, tetapi Vanesa meminta perusahaan dekorasi untuk mendesain ulang interiornya. Tiga bulan yang lalu, mereka sudah menyelesaikan semuanya. Jadi, Vanesa bisa langsung pindah.

Vanesa meletakkan koper di rumah barunya, lalu pergi ke studio.

Dia bekerja merestorasi barang sampai dini hari. Baru ketika Vanesa menyentuh batas kemampuannya, dia menyeret tubuh lelahnya kembali ke ruang istirahat.

Setelah mandi, Vanesa berbaring di tempat tidur, lalu menutup mata untuk tidur nyenyak.

Hanya saja, malam itu dia tidak tidur terlalu nyenyak. Vanesa bermimpi tentang banyak hal. Namun, dia tidak mengingat apa-apa setelah terbangun.

Sambil mengusap kepalanya yang berdenyut, Vanesa masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Saat melangkah keluar, ponselnya yang berada di atas meja samping tempat tidur bergetar.

Ternyata Steven yang menelepon.

Vanesa tidak mengangkatnya.

Vanesa bisa menebak bahwa telepon ini pasti karena Regan.

Karena tekad Vanesa untuk bercerai sudah bulat, dia akan memutuskan segala hubungan.

Bagaimanapun juga, Regan adalah anak kandung Hanna. Vanesa merasa Regan akan perlahan mengalihkan ketergantungannya pada Hanna setelah menghabiskan waktu bersama ibu kandungnya itu.

Setelah mengganti baju, Vanesa memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu pergi menuju rumah sakit.

…

Di departemen kandungan rumah sakit, di ruang periksa pribadi Stella.

"Menurut tanggal haid terakhir dan hasil USG, kamu hamil lima minggu lebih empat hari."

Stella menyerahkan laporan hasil pemeriksaan pada Vanesa.

Vanesa menerimanya, melihat gambaran hitam putih pada laporan hasil pemeriksaan. Hatinya tidak bisa tidak menegang.

"Selain itu, anakmu ini …." Stella menunjuk kantung kehamilan kecil di atas, lalu melanjutkan, "Sepertinya kembar."

Begitu mendengar ini, Vanesa langsung terkejut.

Dia mengangkat kepala untuk menatap Stella, lalu bertanya, "Apa kamu yakin?"

"Sekarang usia kandunganmu baru lima minggu lebih, hanya terlihat ada dua kantung kehamilan."

Stella menjelaskan, "Kalau sudah sampai usia kandungan tujuh minggu, kamu bisa memeriksa detang jantung di kedua kantung kehamilan ini. Baru pada saat itu kita bisa memastikan apakah kamu hamil anak kembar atau bukan. Kantung kehamilan ganda seperti milikmu ini umumnya adalah kembar fraternal. Mungkin mereka bisa menjadi sepasang kembar berbeda jenis kelamin!"

Vanesa mencengkeram hasil pemeriksaan, mengerucutkan bibir pucatnya beberapa kali, tetapi tetap tidak bisa mengatakan apa-apa.

Stella tahu bahwa hati Vanesa mulai luluh.

Bagaimanapun juga, ini adalah darah dagingnya sendiri. Terlebih lagi, mereka mungkin kembar. Siapa pun pasti akan merasa enggan melepaskannya.

Ditambah lagi, ini adalah anak Vanesa dan Steven.

Stella sangat memahami perasaan Vanesa terhadap Steven.

Stella bahkan merasa di dunia ini mungkin tidak akan ada lagi orang yang seperti Vanesa. Selama lima tahun penuh, dengan alasan membalas budi, Vanesa sudah mencintai seorang pria tanpa mengeluh, meski pria itu bisa mengajukan perceraian kapan saja.

Dalam pernikahan ini, Vanesa mencinta dengan begitu rendah hati.

Sedangkan Steven …. Mungkin dari awal sampai akhir, dia tidak pernah menjalankan kewajibannya sebagai suami.

"Aku akan memikirkannya lagi."

Setelah beberapa saat, Vanesa mengangkat pandangannya untuk menatap Stella, lalu berujar, "Aku akan memberitahumu kalau aku sudah memutuskan."

Mata cantik Vanesa tampak sedikit merah serta mengandung air mata. Di dalam matanya, tampak kebingungan yang jelas.

Stella yang melihat ini merasa hatinya sakit. Dia berkata, "Kamu harus membuat keputusan dalam waktu 12 minggu."

"Baiklah." Vanesa memasukkan laporan hasil pemeriksaan ke dalam tas, lalu menambahkan, "Jangan beri tahu siapa pun tentang kehamilanku."

"Aku tahu."

Stella masih harus pergi bekerja, jadi Vanesa tidak ingin mengganggunya.

Setelah meninggalkan departemen kandungan, Vanesa turun dengan menggunakan lift.

Sesampainya di lantai satu, Vanesa berjalan keluar dari lift. Begitu mengangkat pandangan, dia langsung melihat Steven yang sedang menggendong Regan, tampak baru masuk dari pintu besar rumah sakit.

Ada koyo penurun panas yang tertempel di dahi Regan.

Vanesa terkejut.

Ketika Regan melihat Vanesa, wajah kecilnya yang pucat langsung penuh senyuman. "Itu Ibu!"

Langkah Steven berhenti, lalu dia melihat ke arah Vanesa.

"Ibu!"

Regan berteriak pada Vanesa.

Steven berjalan mendekati Vanesa sambil menggendong Regan.

Vanesa benar-benar menyayangi Regan. Dia menyentuh wajah Regan, merasakan suhu tubuhnya yang cukup tinggi.

Vanesa bertanya, "Kenapa dia bisa tiba-tiba demam?"

Steven menjawab dengan acuh tak acuh, "Semalam dia makan es krim."

Ketika mendengar ini, Regan memainkan jari-jarinya dengan perasaan bersalah.

Sebenarnya, itu karena Hanna membelikannya es krim untuk pertama kalinya. Regan merasa enggan untuk menyia-nyiakan, jadi dia menghabiskan satu kotak penuh.

Namun, Regan tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Jika sampai Vanesa tahu Regan sudah memakan satu kotak penuh es krim, pasti Vanesa akan menyalahkan Hanna!

Regan merasa bahwa Hanna begitu lembut, serta begitu menyayanginya. Bagaimana mungkin dia akan membiarkan Vanesa menyalahkan Hanna?

Regan merasa takut Vanesa akan terus bertanya, jadi dia langsung mengulurkan tangan, "Ibu, bisakah kamu menggendongku?"

Vanesa tanpa sadar ingin mengangkat tangannya. Namun, mengingat dirinya sekarang sedang hamil, gerakannya terhenti.

Dia mengusap kepala Regan sambil berkata, "Ibu sedang nggak enak badan. Biarkan Ayah yang menggendongmu."

Begitu mendengar ini, Regan langsung cemberut, merasa tidak senang.

Ini adalah pertama kalinya Vanesa menolak untuk menggendongnya.

Meskipun Vanesa sedang sakit, Regan ingat bahwa dulu Vanesa tetap bersedia menggendongnya saat sedang sakit.

Mungkinkah Vanesa marah?

Regan mengamati Vanesa dengan hati-hati.

Saat melihat wajah Vanesa yang memang tidak terlalu sehat, Regan langsung merasa gugup.

"Ibu, apakah Ibu marah padaku?" Regan menatap Vanesa dengan tatapan menyedihkan, lalu berujar, "Aku salah. Aku nggak seharusnya makan es krim diam-diam tanpa sepengetahuan Ibu. Aku berjanji nggak akan makan es krim lagi."

Vanesa memang tidak pernah memberikan es krim pada Regan, karena Regan menderita penyakit asma bawaan. Selain itu, fungsi pencernaan Regan tidak begitu baik sejak dia kecil. Dokter pengobatan tradisional mengatakan bahwa Regan harus menghindari makanan manis dan dingin.

Vanesa hendak menjelaskan pada Regan, tetapi Steven sudah lebih dulu berkata, "Ibu nggak akan marah padamu."

Nada bicara Steven terdengar sangat yakin, sama sekali tidak merasa Vanesa akan membantah.

Bulu mata Vanesa bergetar, sementara dia diam-diam mengatupkan bibirnya.

Regan menatap Vanesa, lalu bertanya, "Ibu, apa kamu benar-benar nggak marah?"

Vanesa tersenyum simpul pada Regan. "Tentu saja Ibu nggak marah."

"Kalau begitu, bisakah Ibu menemaniku hari ini?" Regan berbicara dengan nada yang makin sedih serta mata yang memerah, "Aku merasa nggak enak badan, aku ingin makan bubur buatan Ibu."

Vanesa ragu sebentar, lalu mengangguk. "Baiklah."

…

Setelah Regan diperiksa oleh dokter, ternyata tenggorokannya meradang. Dokter memberikan resep obat, menyarankan agar Regan makan makanan yang ringan, banyak minum air, serta istirahat yang cukup di rumah.

Setelah kembali ke Mansion Resta, Steven menggendong Regan naik untuk beristirahat.

Sementara itu, Vanesa pergi ke dapur untuk memasak bubur.

Setengah jam kemudian, Vanesa membawa bubur yang sudah matang naik.

Pintu kamar anak setengah terbuka, membuat suara Regan bisa terdengar.

"Ibu, kamu jangan khawatir. Dokter mengatakan kalau aku akan langsung sembuh setelah minum obat .... Ini bukan salah Ibu. Kalau bukan Ibu yang membelikan es krim, aku nggak akan tahu kalau es krim ternyata enak sekali .... Ada juga biskuit, keripik, serta permen lolipop yang begitu lezat! Aku belum pernah memakan camilan sebanyak ini sebelumnya!"

Gerakan Vanesa yang hendak mendorong pintu berhenti sejenak.

Regan masih melanjutkan kata-katanya.

"Ibu Vanesa nggak akan marah. Dia hanya akan merasa kasihan padaku saat mengetahui aku sedang sakit. Sekarang dia sedang memasakkan bubur untukku di bawah! Ibu, Ibu sedang nggak sehat, jadi beberapa hari ini aku nggak akan pergi ke tempat Ibu. Aku takut Ibu akan tertular .... Ibu nggak perlu mengkhawatirkanku. Ibu Vanesa akan merawatku dengan baik!"

Vanesa berdiri di luar pintu, sementara tangannya yang memegang nampan tampak sedikit mengencang.

Hanna ternyata memberikan Regan begitu banyak makanan tidak sehat!

Yang lebih tidak Vanesa duga, hubungan Regan dan Hanna sudah sedekat ini dalam beberapa hari saja ....

Vanesa tahu dia tidak berhak merasa keberatan. Namun, saat melihat anak yang dibesarkannya dengan sepenuh hati berulang kali memanggil Hanna 'Ibu', hati Vanesa tidak bisa tidak merasa perih.

Darah memang lebih kental dari air. Tak peduli seberapa tulusnya Vanesa memperlakukan Regan, itu tetap tidak bisa mengalahkan ikatan darah.

Dari awal hingga akhir, Vanesa hanya orang luar.

…

Ketika Regan selesai berbicara dengan Hanna, dia baru mengingat Vanesa.

Dia berteriak dari dalam kamar, tetapi Vanesa tidak menjawab.

Akhirnya, Regan turun sendiri ke dapur untuk mencarinya.

Namun, tidak ada siapa pun di dapur.

Ketika Regan melangkah keluar dari dapur, dia melihat ada sepiring bubur di atas meja makan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Can't Be Us
8.9
Bara Danendra sangat beruntung memiliki kekasih sesempurna Tiffany Amora. Namun, ia menyembunyikan rahasia kelam demi mematuhi kontrak ketat bersama teman-temannya yang melarang hubungan asmara diketahui media. Rasa frustrasi terhadap aturan itu malah membuat Bara melampiaskannya bersama wanita lain, sementara ia tetap menjaga kesucian Tiffany sebagai malaikatnya. Setelah tujuh tahun menderita akibat rindu dan pengkhianatan yang menyakitkan, Tiffany yang trauma akhirnya memilih pergi.
Sampul Novel Mendadak Jadi Ibu Susu Anak Atasanku
8.1
Kehidupan Mariana runtuh akibat pengkhianatan sang suami dan kepergian bayinya. Saat terpuruk, bosnya yang baru menduda memohon agar Mariana bersedia menjadi ibu susu bagi sang anak. Walau sempat bimbang, tanggung jawab baru ini justru menyeretnya ke dalam konflik batin yang rumit. Kedekatan tak terduga pun mulai terjalin, menumbuhkan rasa cinta yang hadir di saat tidak tepat. Mampukah hubungan ini bertahan di tengah bayang-bayang trauma masa lalu dan keadaan yang serba salah?
Sampul Novel Salsa Untuk Darren.
9.6
Trauma masa lalu membuat Darren, pria 32 tahun, menutup rapat hatinya dari wanita. Namun hidupnya berubah setelah bertemu Salsa, pembuat kue berusia 20 tahun yang hidupnya kacau akibat perbuatan Darren. Saat benih cinta mulai tumbuh di antara mereka, mantan kekasih Darren tiba-tiba kembali dan memicu konflik baru. Kini, Darren dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan demi Salsa dan putra mereka, atau justru kembali ke pelukan masa lalu yang pernah menghancurkannya.
Sampul Novel Dia Memilih Anak Rahasianya Daripada Calon Anak Anjing Kami
9.0
Lima tahun Elana berkorban demi karier CEO Emilio, tetapi pengkhianatan pahit terungkap lewat undangan pembaptisan anak rahasia suaminya. Saat pesta gala, dorongan Emilio yang ingin melindungi anak gelapnya malah membuat Elana keguguran. Elana ditinggalkan sekarat dan nyaris tewas diserang orang suruhan selingkuhan suaminya. Setelah selamat, ia memalsukan kematian dan memulai hidup baru sebagai arsitek di Zurich.
Sampul Novel Tangisan Pilu Sang Istri
9.6
Demi mewujudkan pernikahan impian, Manda memilih pensiun dari pekerjaan yang cemerlang. Namun, kenyataan pahit harus ia telan setelah menikah. Meski Dimas adalah sosok yang mengajaknya membina rumah tangga, pihak keluarga suaminya justru terus memberikan tekanan psikologis yang berat bagi Manda. Di tengah penderitaan ini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bertahan dalam ikatan yang menyiksa atau melangkah pergi demi menyembuhkan luka batinnya.
Sampul Novel TERPAKSA MENIKAHI MANTAN
8.9
Tak pernah terbayang aku harus menjadi pengantin pengganti untuk Uswa, mantan pacarku semasa SMA. Takdir berubah saat Ilham, calon suaminya, mendadak kritis menjelang akad. Dalam kondisi darurat, Bang Adam dan keluarga besar Uswa mendesakku menggantikan posisi mempelai pria. Walau diliputi keraguan dan rasa syok, pernikahan ini akhirnya tetap digelar. Bagaimanakah kelanjutan kehidupan kami setelah takdir menyatukan kami kembali dalam ikatan ini?