APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CINTA DAN PENGORBANAN

CINTA DAN PENGORBANAN

Nezha harus berjuang sebatang kara setelah kepergian sang nenek di tengah pencarian ibunya. Namun, mendung dalam hidupnya perlahan sirna sejak sebuah kecelakaan mempertemukannya dengan Aretha. Takdir kemudian menguji Nezha lewat pilihan pelik: mempertahankan cinta atau merelakannya demi membalas budi. Di tengah badai rahasia masa lalu yang mulai terbongkar, mampukah ia bertahan dan meraih kebahagiaan sejati?
Bab
Bagikan

Bab 2

Keesokan paginya, sinar matahari perlahan menyelinap melalui celah jendela rumah Siti yang sederhana. Suara ayam berkokok memecah keheningan desa. Namun, Siti sudah terjaga sejak subuh. Tangannya sibuk memasukkan pakaian ke dalam tas kecil, sementara pikirannya terus berputar memikirkan rencana yang ia susun semalaman.

Tiba-tiba, suara lembut Nezha memecah kesunyian. "Nenek, mau kemana pagi-pagi sudah rapi? Terus, kenapa baju-baju itu dimasukkan ke dalam tas?" tanyanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

Siti menoleh, tersenyum tipis. "Sayang, Nenek mau ke kota. Kamu di sini aja, ya? Kalau ada apa-apa, minta tolong ke Mbok Darmi."

Nezha yang sedang menyisir rambutnya menatap neneknya dengan bingung. "Ke kota, Nek? Buat apa? Jauh sekali."

Siti terdiam sejenak. Ia tidak ingin Nezha tahu tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya atau rencananya untuk mencari Winda, ibunya Nezha. Dengan suara tenang, ia berkata, "Nenek cuma mau cari sesuatu. Mungkin pulangnya agak lama. Kamu di rumah saja, jaga diri baik-baik, ya."

Mendengar itu, Nezha segera meletakkan sisirnya dan menghampiri Siti. Ia menggenggam tangan neneknya erat-erat. "Nenek, aku ikut! Aku nggak mau sendiri di rumah."

Siti menghela napas panjang, berusaha meyakinkan cucunya. "Nezha, perjalanan ini berat. Kamu masih kecil, lebih baik tinggal di rumah. Nenek nggak mau kamu capek di jalan."

Namun, tekad Nezha begitu kuat. Ia menatap neneknya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi, Nek, kalau Nenek sakit di jalan, siapa yang bantu? Aku bisa kok jaga Nenek. Aku nggak mau Nenek sendirian."

Melihat ketulusan dan keberanian Nezha, hati Siti luluh. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah, kamu boleh ikut. Tapi ingat, kamu harus dengar apa kata Nenek."

Wajah Nezha bersinar cerah. "Iya, Nek! Aku janji aku bakal dengar kata Nenek."

Siti tersenyum, meski dalam hatinya ada keraguan. "Kalau begitu, kamu bersiap-siap sekarang. Bawa baju seperlunya saja. Kita berangkat jam tiga nanti."

"Yay! Akhirnya aku ikut!" seru Nezha dengan wajah penuh semangat, membayangkan kehidupan kota yang menurutnya penuh keindahan dan kemewahan. Namun, ia belum tahu kehidupan seperti apa yang sebenarnya menanti mereka di sana.

-------

Di dalam bus, Nezha duduk di samping Siti, menggenggam erat tangan neneknya. Matanya berbinar penuh semangat, meskipun ia belum benar-benar memahami tujuan perjalanan mereka.

"Nenek, kita ke kota mau cari apa sih?" tanyanya polos, sambil melirik wajah Siti yang tampak lelah.

Siti tersenyum kecil, menyembunyikan kegundahan hatinya. "Ada yang ingin Nenek temui," jawabnya singkat, mencoba mengalihkan perhatian cucunya.

"Siapa, Nek? Wah, aku jadi penasaran!" seru Nezha dengan antusias. Ia melanjutkan sambil membayangkan hal-hal indah yang akan ia temui di Jakarta.

"Katanya, di Jakarta itu ada mal besar banget, gedung-gedung tinggi sampai kayak nyentuh langit! Terus, aku juga mau lihat Monas, Nek. Pasti bagus banget! Kalau ada waktu, kita ke kebun binatang juga, ya. Aku mau lihat harimau sama gajah!"

Siti hanya tersenyum tipis mendengar celotehan Nezha. Di hatinya, ia merasa sedih karena tidak bisa menjanjikan apa-apa kepada cucunya. Ia sesekali terbatuk kecil, mencoba menahan rasa sakit yang menyerang dadanya.

Melihat itu, Nezha langsung khawatir. "Nenek, Nenek nggak apa-apa kan?" tanyanya dengan nada cemas.

Siti menepuk tangan cucunya dengan lembut. "Nenek nggak apa-apa, sayang. Kamu istirahat saja. Nanti kalau sudah sampai, Nenek bangunin, ya."

"Tapi, Nek, aku nggak ngantuk. Aku udah nggak sabar banget mau sampai di Jakarta. Katanya di sana lampu-lampunya terang banget, ya? Kayak siang meskipun malam!" ucap Nezha dengan mata berbinar. Ia terus berbicara tentang mimpinya akan kota besar, sampai akhirnya kelelahan dan tertidur dengan kepala bersandar di bahu Siti.

Siti menghela napas panjang, menatap wajah polos cucunya yang terlelap. "Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada hamba. Hamba hanya ingin Nezha punya masa depan yang lebih baik," gumamnya dalam hati.

Bus melaju dengan kecepatan sedang, melewati jalan yang mulai sepi dan gelap. Para penumpang banyak yang tertidur, termasuk Nezha, yang bersandar nyaman di bahu Siti. Siti tetap terjaga, pandangannya menatap kosong ke luar jendela. Batuk-batuk kecilnya sesekali terdengar di tengah deru mesin bus.

Namun, ketenangan itu tiba-tiba berubah menjadi kepanikan. Suara rem yang berdecit panjang memecah malam. Bus oleng ke kanan, membuat penumpang yang tertidur terbangun dengan panik. "Astaghfirullah! Ada apa ini!" teriak seseorang dari belakang.

Siti memeluk erat Nezha, berusaha melindungi cucunya. "Ya Allah, lindungi kami," bisiknya dengan napas terengah.

Namun, bus semakin tak terkendali. Roda-rodanya meluncur di aspal, hingga akhirnya menabrak pembatas jalan.

BRAK!!!

Bus terguncang hebat, tubuh para penumpang terpental ke sana-sini.

Sebuah suara keras terdengar saat bus menghantam pohon besar di tepi jalan. Seluruh kaca pecah berhamburan, dan tubuh Siti terlempar ke depan. Di saat yang sama, Nezha yang duduk di sebelah jendela terpental jauh keluar dari bus, jatuh ke semak-semak gelap di sisi jalan.

Beberapa saat setelah tabrakan hebat, suasana menjadi sunyi. Asap tipis mulai keluar dari mesin bus yang hancur, bercampur dengan suara rintihan dan tangis dari penumpang yang terluka.

Nezha membuka matanya perlahan, tubuh kecilnya terasa lemah dan nyeri di beberapa bagian, kepalanya terasa berat, pandangannya kabur, "Nenek... Nenek..." panggilnya lirih, tetapi tidak ada jawaban.

Dengan tubuh gemetar, Nezha memaksakan diri untuk bangkit. Langkahnya goyang, tetapi ia tetap berusaha mencari jalan kembali ke bus yang terguling. Ditengah kegelapan malam, ia hampir tak bisa melihat apa-apa. "Nenek!" serunya lebih keras, meski suaranya terputus-putus.

Dari kejauhan, terdengar suara orang-orang berteriak, memanggil bantuan. Cahaya lampu senter sesekali memerangi lokasi kecelakaan. Nezha mengikuti arah suara itu, meski kakinya terasa berat dan langkahnya tertatih-tatih.

Setibanya di dekat bus, ia melihat kerumunan petugas dan korban. Beberapa korban terbaring ditanah, sementara yang lain dibantu oleh tim penyelamat. Nezha berlari terhuyung, matanya mencari-cari sosok neneknya diantara tubuh-tubuh tergolek.

"Nenek! Nenek dimana!" teriaknya, airmata mulai mengalir.

Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok tubuh tua terbaring ditas tanah dengan genangan cairan merah di sekitarnya. Wajah itu, wajah Siti, nenek yang selalu merawat dan melindungi terlihat pucat dan tak lagi bergerak.

Nenek!!" Nezha berteriak histeris, ia berlari mendekat, tetapi seorang petugas menahan nya.

"Dek, sabar ya? Jangan kesana dulu, biar kami yang urus," ujar seorang petugas lembut sambil menahan bahunya.

"Lepaskan aku! Aku mau ke Nenek! Nenek, bangun! Aku butuh Nenek!" Tangis Nezha pecah. Ia meronta, mencoba melepaskan diri dari pegangan petugas.

"Tenang, Dek, Nenekmu sudah tenang sekarang. Dia tidak merasakan sakit lagi," ucap petugas itu, mencoba menengkan Nezha.

"Tidak! Nenek gak boleh pergi! Nenek harus bangun!" Nezha terus meronta, suaranya menggema di tengah malam yang sunyi.

Petugas yang lainnya mulai mengevakuasi para korban, termasuk tubuh Siti yang sudah kaku. Nezha hanya menangis melihat neneknya dibawa pergi tanpa bisa berbuat apa-apa.

Dengan susah payah, Nezha akhirnya dipapah oleh petugas. Ia menatap sekali lagi tubuh neneknya, tangisnya semakin deras. Mereka membawanya ke pos darurat, berusaha untuk mengamankan dan menenangkan Nezha yang masih terisak.

Di depan pos darurat, suasana kembali mencekam, salah satu petugas memberinya air mineral dan menenangkannya, namun gadis kecil itu hanya bisa menangis, menatap kosong keluar jalanan, memikirkan neneknya yang tak pernah kembali.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Be Your Pet
9.2
Erick, pemuda berusia dua puluh tahun, terpaksa mengambil langkah ekstrem demi melunasi biaya rumah sakit ibunya. Ia bersedia menjadi 'peliharaan' bagi Jason, seorang pria penyuka sesama jenis yang sangat dominan dengan kecenderungan BDSM. Kini, hidup Erick dipenuhi kekerasan, makian, serta penghinaan. Sanggupkah Erick bertahan melewati hubungan dewasa yang sangat ekstrem ini demi menyelamatkan sang ibu?
Sampul Novel Bukan Sugar Baby
8.8
Penolakan Padrone Ricco terhadap pelacur pilihan Tachi Gumama memicu konflik baru. Tachi, sang mucikari, merasa tersinggung oleh keputusan miliarder Manhattan tersebut. Padahal, Padrone tersohor akan kesetiaannya pada mendiang istrinya, Nyonya Deceduto Ricco. Sikap dingin ini membuat Tachi curiga bahwa sang pengusaha kaya menyembunyikan seorang wanita simpanan. Apakah kesetiaan Padrone hanyalah topeng untuk menutupi rahasia gelap, atau dugaan Tachi keliru?
Sampul Novel Different Body
8.0
Bagaimana jika saat terbangun Anda berada di tubuh bergender lain? Kejadian aneh ini menimpa Aurora Nadine Rachellina tanpa peringatan. Begitu terjaga, jiwanya telah berpindah ke raga seorang pria. Transformasi mendadak ini bukan sekadar perubahan fisik biasa, melainkan awal dari berbagai persoalan rumit dan besar yang harus segera ia selesaikan dalam kehidupan barunya yang membingungkan.
Sampul Novel Godaan si Petani Tampan
8.4
Mengikuti program pemuda terpelajar ke pedesaan pada era 1970-an membawa babak baru dalam hidupku. Di sana, perhatianku teralihkan oleh sosok Adri, seorang pria desa yang maskulin dan berotot. Didorong rasa penasaran, aku nekat menyelinap ke kamarnya di keheningan malam. Keputusan itu memulai hubungan intim yang penuh gairah di antara kami. Di sela-sela kesibukan menggarap ladang, kami mengukir romansa rahasia di berbagai sudut desa yang sepi dan pegunungan sunyi, meninggalkan jejak cinta yang mendalam.
Sampul Novel Istri yang Dianggap Sempurna
9.6
Kegagalan dua kali pernikahan menyadarkan Keyyan Munir bahwa modal ketampanan fisik saja tidak cukup tanpa kestabilan finansial. Di tengah keputusasaan itu, ia jatuh cinta dan menikahi Shabilal Haq, atau Shabby. Namun, Keyyan tidak mengetahui bahwa sang istri yang tampil sebagai wanita cantik tersebut sebenarnya lahir dengan organ ganda. Akankah pernikahan mereka tetap bertahan saat rahasia biologis Shabby yang selama ini disimpan rapat akhirnya terungkap di hadapan Keyyan?
Sampul Novel Kebohongan Sang Alfa, Pemberontakan Sang Omega
8.4
Kebahagiaan sang Omega hancur saat memergoki Alpha Baskara bersama wanita lain dan putra rahasianya. Pernikahan mereka ternyata cuma alat politik Baskara dan orang tua angkatnya. Meski dikhianati dan dianggap pajangan, ia tetap tenang saat Baskara pura-pura rindu. Di balik amarahnya, ia menyiapkan pembalasan. Sebuah kristal berisi rahasia busuk mereka siap mengungkap kebenaran di tengah pesta akbar.