APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CINTA DAN PENGORBANAN

CINTA DAN PENGORBANAN

Nezha harus berjuang sebatang kara setelah kepergian sang nenek di tengah pencarian ibunya. Namun, mendung dalam hidupnya perlahan sirna sejak sebuah kecelakaan mempertemukannya dengan Aretha. Takdir kemudian menguji Nezha lewat pilihan pelik: mempertahankan cinta atau merelakannya demi membalas budi. Di tengah badai rahasia masa lalu yang mulai terbongkar, mampukah ia bertahan dan meraih kebahagiaan sejati?
Bab
Bagikan

Bab 3

Nezha terbaring lemah di rumah sakit. Tubuhnya penuh dengan luka ringan akibat kecelakaan. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar, terbayang wajah neneknya, Siti, yang terakhir kali ia lihat. Dunia seolah runtuh baginya, sepi tanpa kehadiran neneknya yang selalu menjadi tempat berlindung.

"Nenek... nenek di mana? Kenapa Nenek tinggalin aku?" rintih Nezha penuh kepedihan, air matanya mengalir tanpa henti. Suaranya serak, namun ia terus memanggil nama neneknya.

Beberapa saat kemudian, seorang dokter muda masuk ke kamar, ditemani oleh dua perawat. Ia tersenyum lembut, mencoba memberikan kenyamanan.

"Pagi, cantik. Apa kabar hari ini? Semoga hari ini lebih baik ya," sapa dokter itu ramah, ia mendekat ke sisi r4nj4ng. "Oiya, boleh Kakak tahu namamu siapa?"

Nezha hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku... aku Nezha," jawabnya lirih.

"Nezha ya? Nama yang cantik. Saya Dokter Andi. Gimana perasaanmu sekarang? Ada yang sakit?" tanyanya dengan nada ramah, sambil memeriksa kondisi fisiknya.

Namun, tiba-tiba Nezha menangis lagi, tak menggubris pertanyaan sang dokter. "Nenek aku... Nenek nggak boleh pergi! Aku mau sama Nenek!" ucapnya dengan isak tangis yang membuat suasana kamar terasa semakin pilu.

Dokter itu menatap Nezha dengan penuh simpati, lalu berjongkok agar matanya sejajar dengan Nezha. "Adik Nezha, Saya tahu ini berat, tapi dokter dan kakak-kakak di sini akan membantu. Kalau kamu sedih, nggak apa-apa. Nangis itu wajar. Tapi kamu juga harus kuat ya, supaya nenek kamu bangga lihat kamu."

Salah satu perawat yang berdiri di dekat ranjang Nezha mencoba menenangkan. "Adik Nezha, nggak usah takut. Kami semua di sini sayang sama kamu. Kalau kamu lapar atau haus, bilang ya. Kami akan jagain kamu."

Tangis Nezha perlahan mereda, meski matanya tetap basah. Ia hanya mengangguk kecil, lalu memalingkan wajah, seolah enggan menerima kenyataan yang begitu pahit.

----

Beberapa jam berlalu, kondisi Nezha sudah mulai tenang. Saat seorang wanita muda dari dinas sosial memasuki kamar. Rambutnya diikat rapi, dan ia mengenakan pakaian formal yang membuatnya terlihat profesional namun tetap hangat. Ia mendekati Nezha dengan senyuman lembut.

"Pagi, cantik. Apa kabar? Aku Kak Rina. Boleh Kakak ngobrol sebentar sama kamu?" tanya wanita itu dengan nada lembut.

Nezha menoleh perlahan, matanya masih merah dan sembab. "Nama aku Nezha, Kak. Aku mau ketemu Nenek. Aku nggak mau di sini," ucapnya lirih, suara kecilnya penuh kesedihan.

Rina duduk di tepi ranjang, mencoba membuat Nezha merasa nyaman. "Adik Nezha, Kakak tahu kamu kangen sama Nenek. Tapi sekarang, kamu harus istirahat dulu ya, supaya lebih sehat. Kamu hebat sekali, lho, bisa bertahan sampai sekarang," ucapnya, menenangkan.

Nezha hanya diam, menundukkan kepala. Rina mencoba mengalihkan pembicaraan. "Nezha tinggal sama Nenek ya? Ada keluarga lain yang bisa Kakak hubungi? Bapak, Ibu, Om, Tante, atau saudara yang lain?"

Nezha terdiam beberapa saat, lalu menjawab dengan suara pelan. "Nggak ada, Kak. Nenek satu-satunya keluarga aku.

Nezha terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab lirih, suaranya bergetar menahan emosi. "Nggak ada, Kak.Nenek satu-satunya keluarga aku." Ia menarik napas, mencoba menguatkan diri, tetapi suara isakannya tetap terdengar. "Kata Pak Polisi, Nenek. Nenek aku sudah nggak ada."

Rina mengangguk, merasakan dadanya sesak. Hatinya ikut teriris melihat gadis sekecil ini harus menanggung kehilangan yang begitu besar.

Dengan lembut, ia mengusap bahu Nezha, berusaha menenangkan. "Kakak ngerti, sayang. Kamu pasti sedih dan bingung sekarang." Rina menatapnya penuh kehangatan. "Untuk sementara waktu, Kakak akan bawa Nezha ke tempat yang aman, ya. Di sana ada banyak anak-anak lain sepertimu. Kakak dan teman-teman di sana akan jagain kamu."

"Tempat apa, Kak?" tanya Nezha dengan suara pelan, tatapannya dipenuhi kebingungan.

Rina tersenyum lembut, berusaha menenangkan. "Namanya panti asuhan. Di sana, Nezha bisa bermain, belajar, dan beristirahat dengan nyaman. Tapi ini cuma sementara, ya. Kakak akan cari tahu apakah masih ada keluarga lain yang bisa dihubungi. Jadi, jangan khawatir."

Nezha menunduk, mengangguk kecil. Ia tidak tahu harus berkata apa. Segala yang terjadi terasa begitu cepat, membuat pikirannya kacau.

Rina mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut, memberikan sedikit kehangatan di tengah kesedihannya. "Adik yang kuat ya. Kakak percaya Nezha anak yang hebat. Semua akan baik-baik saja."

Setelah berkata demikian, Rina berdiri dan meninggalkan kamar untuk mengurus administrasi lebih lanjut.

Nezha tetap diam di tempatnya. Kebingungan masih menyelimuti hatinya. Dunia yang dulu terasa hangat bersama neneknya kini berubah menjadi asing dan hampa.

Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, Nezha akhirnya dibawa oleh petugas sosial ke sebuah panti asuhan di pinggiran kota Jakarta. Meski masih dirundung kesedihan karena kehilangan neneknya, ia mulai menerima kenyataan bahwa hidupnya kini telah berbeda.

"Nezha, ini kamar kamu. Mulai sekarang, kamu akan tinggal di sini bersama teman-teman baru. Kalau ada apa-apa, bilang ke Bu Asih ya," ujar petugas sosial itu dengan senyum lembut, sambil meletakkan tas kecil berisi barang-barang Nezha di sudut kamar.

Nezha mengangguk lemah. Ia melihat sekeliling kamar sederhana itu yang dipenuhi tempat tidur bertingkat. Beberapa anak sedang bermain, sementara yang lain sibuk dengan buku pelajaran. Semua terlihat ceria, dan untuk sesaat, Nezha merasa lega.

Di hari-hari pertama, kehidupan di panti asuhan terasa baik-baik saja. Nezha mulai berkenalan dengan teman-teman sebayanya, seperti Lili yang ramah dan sering mengajaknya bermain, atau Budi yang selalu membuat lelucon lucu. Ia juga merasa nyaman dengan Bu Asih, pengasuh panti yang sabar dan perhatian.

Namun, suasana itu perlahan berubah ketika hari-hari berlalu. Nezha mulai melihat sisi lain dari kehidupan di panti asuhan.

"Ayo, cepat selesai makanmu, Nezha! Anak lain juga butuh giliran!" hardik seorang kakak pengasuh sambil mengetuk meja makan.

"Tapi Kak, aku belum kenyang," ucap Nezha pelan.

"Semua di sini makan sama rata. Kalau nggak cukup, tahan aja. Jangan manja!" bentak pengasuh itu.

Nezha menunduk, menahan lapar. Ia mulai menyadari bahwa makanan di panti sering kali tidak cukup, dan anak-anak harus berebutan jika ingin makan lebih banyak.

Selain itu, ia juga harus menghadapi perlakuan keras dari beberapa anak yang lebih besar.

"Hei, Nezha! Itu boneka milik aku! Jangan sentuh!" teriak salah satu anak perempuan sambil merebut boneka dari tangan Nezha.

"Tapi tadi aku cuma mau main sebentar..." Nezha mencoba menjelaskan, tapi anak itu mendorongnya hingga ia terjatuh.

"Di sini, kalau mau barang, harus berani rebut sendiri. Kalau nggak, ya nggak usah mainan!" ucapnya dengan nada sinis sebelum pergi.

Nezha hanya bisa duduk terdiam, menahan air mata. Ia mulai merasakan betapa kerasnya hidup di panti, terutama bagi anak-anak yang tidak punya siapa-siapa.

Di malam hari, Nezha sering menangis diam-diam di tempat tidurnya. Ia memeluk bantal, berharap bisa bertemu neneknya lagi dalam mimpi. Namun, ia tahu, hidup tidak akan lagi sama seperti dulu.

Hari-hari berikutnya di panti asuhan terasa seperti mimpi buruk yang perlahan-lahan menjadi kenyataan. Meskipun awalnya ia merasa sedikit lega karena ada tempat berlindung, Nezha mulai merasakan kenyataan yang jauh lebih keras.

Setiap pagi, ia bangun di tempat tidur yang sempit, dengan selimut tipis yang hanya cukup menutupi tubuhnya separuh. Di pagi hari, suasana panti terasa riuh, suara anak-anak lainnya berlarian, bercanda, dan terkadang berteriak. Namun, bagi Nezha, kebisingan itu lebih terasa seperti teriakan ketidakadilan.

"Kenapa semuanya jadi kayak gini?" pikir Nezha dalam hati, saat melihat panti yang lebih mirip dengan tempat penampungan sementara daripada rumah yang nyaman.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Be Your Pet
9.2
Erick, pemuda berusia dua puluh tahun, terpaksa mengambil langkah ekstrem demi melunasi biaya rumah sakit ibunya. Ia bersedia menjadi 'peliharaan' bagi Jason, seorang pria penyuka sesama jenis yang sangat dominan dengan kecenderungan BDSM. Kini, hidup Erick dipenuhi kekerasan, makian, serta penghinaan. Sanggupkah Erick bertahan melewati hubungan dewasa yang sangat ekstrem ini demi menyelamatkan sang ibu?
Sampul Novel Bukan Sugar Baby
8.8
Penolakan Padrone Ricco terhadap pelacur pilihan Tachi Gumama memicu konflik baru. Tachi, sang mucikari, merasa tersinggung oleh keputusan miliarder Manhattan tersebut. Padahal, Padrone tersohor akan kesetiaannya pada mendiang istrinya, Nyonya Deceduto Ricco. Sikap dingin ini membuat Tachi curiga bahwa sang pengusaha kaya menyembunyikan seorang wanita simpanan. Apakah kesetiaan Padrone hanyalah topeng untuk menutupi rahasia gelap, atau dugaan Tachi keliru?
Sampul Novel Different Body
8.0
Bagaimana jika saat terbangun Anda berada di tubuh bergender lain? Kejadian aneh ini menimpa Aurora Nadine Rachellina tanpa peringatan. Begitu terjaga, jiwanya telah berpindah ke raga seorang pria. Transformasi mendadak ini bukan sekadar perubahan fisik biasa, melainkan awal dari berbagai persoalan rumit dan besar yang harus segera ia selesaikan dalam kehidupan barunya yang membingungkan.
Sampul Novel Godaan si Petani Tampan
8.4
Mengikuti program pemuda terpelajar ke pedesaan pada era 1970-an membawa babak baru dalam hidupku. Di sana, perhatianku teralihkan oleh sosok Adri, seorang pria desa yang maskulin dan berotot. Didorong rasa penasaran, aku nekat menyelinap ke kamarnya di keheningan malam. Keputusan itu memulai hubungan intim yang penuh gairah di antara kami. Di sela-sela kesibukan menggarap ladang, kami mengukir romansa rahasia di berbagai sudut desa yang sepi dan pegunungan sunyi, meninggalkan jejak cinta yang mendalam.
Sampul Novel Istri yang Dianggap Sempurna
9.6
Kegagalan dua kali pernikahan menyadarkan Keyyan Munir bahwa modal ketampanan fisik saja tidak cukup tanpa kestabilan finansial. Di tengah keputusasaan itu, ia jatuh cinta dan menikahi Shabilal Haq, atau Shabby. Namun, Keyyan tidak mengetahui bahwa sang istri yang tampil sebagai wanita cantik tersebut sebenarnya lahir dengan organ ganda. Akankah pernikahan mereka tetap bertahan saat rahasia biologis Shabby yang selama ini disimpan rapat akhirnya terungkap di hadapan Keyyan?
Sampul Novel Kebohongan Sang Alfa, Pemberontakan Sang Omega
8.4
Kebahagiaan sang Omega hancur saat memergoki Alpha Baskara bersama wanita lain dan putra rahasianya. Pernikahan mereka ternyata cuma alat politik Baskara dan orang tua angkatnya. Meski dikhianati dan dianggap pajangan, ia tetap tenang saat Baskara pura-pura rindu. Di balik amarahnya, ia menyiapkan pembalasan. Sebuah kristal berisi rahasia busuk mereka siap mengungkap kebenaran di tengah pesta akbar.