APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Bukan Sepenggal Dusta

Cinta Bukan Sepenggal Dusta

Kecantikan paras Mary Aram dari muara Mua justru menjadi kutukan yang membelenggu kebebasannya. Di tengah kepungan orang-orang serakah dan licik, ia dipaksa menjadi boneka tanpa daya. Namun, penderitaan tersebut tidak membuatnya menyerah. Mary menemukan kekuatan baru saat menyadari bahwa cinta sejati bukanlah sebuah kepalsuan. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk bangkit melawan, demi merebut kembali martabat dan hak atas hidupnya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Menjelang sore, atas perintah Amar Mea Malawi, dokter Adam Mizeaz memindahkan Mary Aram ke kediaman Amar Mea Malawi.

Dalam pengaruh obat tidur, Mary Aram tidak menyadari jika dirinya telah berpindah tempat. Ketika terbangun, ia sudah berada di sebuah ruangan kamar yang sangat luas dan harum. Ada seorang pelayan yang sedang sibuk memindahkan pakaian dan menatanya ke dalam lemari.

"Di mana aku?" Suara halus Mary Aram memecah kesunyian. Gadis itu bingung dengan suasana barunya, kepalanya masih pusing dan sekujur tubuhnya pun terasa kaku dan sakit.

"Anda sudah bangun Nona?" Sang pelayan tersenyum ramah meninggalkan pekerjaannya.

"Di mana aku?" Mary Aram berusaha untuk bangun.

"Anda berada di kediaman Mea Malawi. Mulai hari ini, Nona tinggal di rumah ini," pelayan itu mengambil segelas air, dengan penuh perhatian pelayan itu membantu Mary Aram minum.

"Tinggal di sini?" Mary Aram bingung mendengarnya, ia berusaha fokus di tengah rasa pusing yang melanda.

"Ya, kepala rumah tangga telah mengambil seluruh barang Anda dari asrama," pelayan itu menyuapkan sesendok madu ke mulut Mary Aram.

"Ini tidak baik! Aku seorang gadis, mana boleh tinggal di kediaman seorang pria yang tidak dikenal?" Mary Aram berusaha bangkit. Namun kondisi tubuhnya tidak mau diajak kompromi, dunia kembali berputar membuatnya tergeletak kembali ke tempat tidur.

"Anda sangat beruntung Nona! Dari sekian banyak gadis dan wanita yang ingin dekat dengan tuan muda, hanya Nona yang mendapat perhatian dari Tuan Muda Amar Mea Malawi," pelayan itu tersenyum membelai rambut Mary Aram.

"Beruntung apanya? Aku tidak mengenal tuan muda Amar Mea Malawi, dan aku tidak pernah ingin dekat dengannya," Mary Aram mendengus kesal.

"Akulah yang beruntung telah mendapatkanmu," tiba-tiba  Amar Mea Malawi telah berada di ambang pintu, tampak berwibawa meski mengenakan piyama dan mantel tidur. Pria itu melangkah masuk dan meletakkan surat kabar sore di atas meja.

"Terima kasih Patrice, kau boleh meninggalkan kami. Kami akan makan malam di kamar saja," Amar Mea Malawi membungkuk mengecup kening Mary Aram.

"Baik Tuan Muda Mea Malawi, Patrice akan kembali pukul tujuh," pelayan itu segera membereskan pekerjaannya, lalu keluar meninggalkan kamar.

Hati Mary Aram menjadi cemas mendapati dirinya hanya berdua di dalam kamar bersama seorang pria asing.

Jantung Mary Aram berdebar sangat kencang, meski pria di hadapannya sangat ramah, namun dirinya sangat takut. Dirinya tidak mengenal pria itu, dan tidaklah pantas berada di rumah seorang pria apalagi hanya berdua saja di dalam kamar.

"Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah terasa nyaman?" Amar Mea Malawi naik ke atas tempat tidur. Sambil berbaring miring, dengan santai pria itu membelai anak rambut di kening Mary Aram.

Aroma maskulin pria itu justru membuat Mary Aram semakin takut. Gadis itu menghindari belaian tangan Amar Mea Malawi.

"Kembalikan aku ke asrama. Ini sangatlah tidak benar, pria dan wanita tanpa ikatan apapun berada di ruangan tertutup," Mary Aram memejamkan mata menyembunyikan rasa takut.

"Ini adalah hal yang benar, karena aku telah mendaftarkan pernikahan kita di balai pernikahan," Amar Mea Malawi berbisik sangat lembut.

"Mana bisa? Tanpa persetujuan dari aku, kau tidak bisa mendaftarkan pernikahan," Mary Aram membuka mata dan melotot menatap tajam mata Amar Mea Malawi.

Amar Mea Malawi tersenyum, jemari tangannya terus menjelajahi wajah cantik Mary Aram, "Tentu saja bisa, aku menemukan salinan surat-surat penting dalam kopermu dan aku menggunakannya untuk mendaftarkan pernikahan."

"Lancang! Berani sekali kau melangkahi otoritas ayahku!" Wajah Mary Aram semburat merah padam, ia sangat marah. "Aku telah memiliki tunangan, kau mencoreng wajah ayahku di hadapan calon besannya, serta masyarakat Muara Mua."

"Jika wajahmu semburat merah padam, dengan urat menegang pada leher. Tampaklah sangat mengesankan menggugah hasrat jiwa," telunjuk jari Amar Mea Malawi menelusuri leher Mary Aram, mengabaikan ucap protes gadis itu.

"Akhiri pertunanganmu! Kita akan segera menikah!" Tanpa banyak bicara, pria itu mengeluarkan sapu tangan putih dan sebotol kecil berisi aroma terapi beraroma bunga mawar dari saku mantel tidurnya.

Amar Mea Malawi menuang setetes aroma terapi pada saputangan dan menyentuhkan ke hidung Mary Aram. Dengan penuh kecemasan Mary Aram berusaha menahan tangis. Andai dirinya bisa leluasa bergerak, tentunya ia sudah menendang jauh tubuh Amar Mea Malawi.

"Aku mohon jangan!" Mary Aram berusaha untuk bergerak menghindar, "Ini tidak benar!"

"Ini benar! Karena aku sudah mendaftarkan pernikahan, dan besok adalah pengesahan pernikahan secara hukum adat dan negara," perlahan Amar Mea Malawi membuka satu persatu pita pengikat blouse Mary Aram, serta kain tenun gadis itu. Dalam sekejap gadis itu menjadi polos dalam keindahan.

"Jangan sentuh aku!" Mary Aram berusaha menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Kepanikan mulai melanda, dirinya terpaku tidak dapat bergerak.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BadmiLove 2
9.4
Naila terkejut saat harus menikah dengan Irwan, pria asing yang baru ditemuinya. Walau konflik masa lalunya telah reda, ia kini terikat janji pada seorang dokter yang merupakan sahabat dari sepupunya. Irwan sendiri yakin mempersunting Naila hanya setelah dua kali bersua secara tidak sengaja. Dengan dukungan kerabat, pernikahan sederhana pun terlaksana saat liburan. Namun, benarkah ada cinta di hati Irwan? Bayang-bayang masa lalu Naila kini mulai mengancam awal pernikahan mereka.
Sampul Novel Cinta Sang Majikan
9.7
Saat Amber Aileen nyaris menyerah pada hidup akibat luka masa lalu, Gavin Austin datang menyelamatkannya. Di balik reputasinya yang kejam, pria itu justru memperlakukan Amber dengan penuh kehangatan. Hubungan mereka memicu murka dari ibu serta tunangan Gavin. Keadaan kian rumit setelah sebuah malam intim menyatukan mereka hingga Amber berbadan dua. Namun, di tengah harapan baru itu, sebuah kabar mengejutkan dari Gavin mengancam janji manis yang pernah ia ucapkan.
Sampul Novel Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan
8.1
Clara dikhianati oleh suaminya, Marco, yang mendorongnya ke jurang saat piknik demi bersama selingkuhannya, Chika. Meski terluka parah, Clara selamat dan mendengar rencana licik Marco yang ingin memalsukan kematiannya. Di tengah keputusasaan, tekadnya untuk membalas dendam membara. Kehadiran Julian Suryo, miliarder sekaligus musuh bebuyutan suaminya yang datang menolong, menjadi titik balik bagi Clara. Bersama Julian, ia kini bersiap menghancurkan Marco.
Sampul Novel KEMBALI DALAM SENJA
9.7
Pernikahan tanpa cinta membuat seorang istri terjebak dalam kepedihan mendalam. Meski selalu berusaha bertahan dan menghormati suaminya, Mas Fairuz justru bersikap dingin serta tidak peduli. Setiap pertanyaan tulus yang ia ajukan selalu dibalas dengan ucapan kasar yang menyayat hati. Hal ini menegaskan bahwa ikatan pernikahan mereka hanyalah beban tanpa kebahagiaan. Di tengah sikap abai sang suami, ia pun harus berjuang sendirian menghadapi kenyataan hidup yang menyesakkan.
Sampul Novel Menjadi Ibu Susu
8.5
Kehidupan Viona, wanita yang terjebak di dunia malam dengan nama panggung Ros, berubah total saat ia menjadi ibu susu bagi Melati, bayi piatu yang malang. Di tengah tanggung jawab baru tersebut, ia menghadapi pergulatan batin yang sangat berat. Viona harus tetap bersikap profesional dalam mengurus Melati, sembari berjuang keras menekan benih-benih cinta yang mulai tumbuh di hatinya terhadap ayah kandung bayi tersebut.
Sampul Novel Sejuta cerita di balik pintu kos
8.2
Menginjak usia tujuh belas tahun, Dens Bagus memutuskan merantau ke Solo. Menempati kamar kos nomor tujuh berpintu cokelat, ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat kontras dari rumah asalnya. Di lorong kos sederhana tersebut, keseharian Dens diwarnai interaksi bersama Bu Kos yang tegas tetapi perhatian, Mei Lin yang periang, Li Hua yang tertutup, Fajar yang menjengkelkan, serta Mas Arya yang misterius. Bersama mereka, ia mulai mengarungi dinamika kehidupan kota yang asing.