APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cermin

Cermin

Pasca-kecelakaan, Inestia Rossi bisa melihat hantu dan mendeteksi kematian. Baginya, cermin adalah satu-satunya media yang jujur mengungkap wujud asli mereka. Di tengah trauma cinta, ia bertemu Rangga, pria skeptis yang memberinya keberanian. Meski kerap terancam kasus mengerikan di apartemennya, Ines pantang menyerah. Walau konflik keluarga sempat memisahkan mereka, takdir mempertemukan keduanya kembali untuk berjuang dalam status hubungan yang baru.
Bab
Bagikan

Bab 3

Peti mati sudah siap di tengah rumah duka. Jenazah Lili sudah didandani dengan apik, hingga ia tidak terlihat seperti orang yang sudah meninggal. Lili juga mengenakan gaun putih yang hampir mirip seperti pakaian terakhir yang ia kenakan, saat mayatnya ditemukan. Mataku sembab, sekaligus menahan kantuk yang teramat sangat. Semalam bukan malam terbaik bagiku, setidaknya bukan malam terburuk juga, karena aku sering mengalaminya. Hanya saja sudah agak lama sejak kejadian terakhir kali aku diganggu oleh 'mereka'.

Hanya duduk di barisan kursi panjang bagian belakang, memperhatikan lalu lalang keluarga dan kenalan Lili datang melayat. Aku mulai muak melihat tingkah Ramon. Dia menangis dengan hebat, seperti orang yang sangat berduka. Bagi semua orang pastilah wajar melihat sikap Ramon sekarang. Dua minggu lagi mereka akan menikah, namun mempelai wanita justru berada di peti mati sekarang. Tapi itu tidak berlaku bagiku.

"Yang tabah, ya. Tuhan lebih sayang Lili." Begitulah kalimat yang kudengar saat orang terakhir dari keluarga Lili menyalami Ramon. Menyampaikan perasaan berduka akibat kepergian wanita mungil tersebut. Sementara itu, di sisi peti mati, ruh Lili berdiri di sana. Masih memakai gaun pernikahan robek, basah, serta wajah yang tidak secerah mayat di depannya. Lili terus menatap tajam Ramon, penuh kebencian dan dendam.

"Yah, aku tau perasaanmu, Li. Entah apa aku harus bahagia atau sedih dengan keadaanmu sekarang. Yang jelas, Tuhan memang lebih sayang kamu," gumamku sambil menunduk, memperhatikan flat shoes hitam senada dengan warna pakaian yang kukenakan.

Gerakan kaki yang kubuat sama, memutar searah jarum jam, mendadak kuhentikan. Ketika sepasang kaki berdiri di depanku. Sepasang kaki yang sama bentuknya, seperti yang kulihat di toko buku kemarin. Sudah jelas siapa pemiliknya. Hanya saja kali ini, tubuhku tidak membeku. Dengan perlahan aku mendongak, agar dapat melihat wajah Lili dari dekat. Lili menatapku nanar, bibirnya bergetar menahan tangis.

Kamu harus beritahu orang tuaku, Ros, seperti apa kelakuan Ramon sebenarnya.

Aku tengak tengok saat kalimat itu terdengar nyaring. Padahal bibir Lili, yang kupikir adalah pemilik suara ini, terus menutup. Aku menatap Lili sambil sesekali memperhatikan sekitar. Berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau suara yang kudengar memang berasal dari sosok di depanku sekarang.

Ros, bantu aku. Kamu nggak boleh diam saja!

Aku menarik nafas panjang. Bergumam untuk menanggapi perkataannya. "Li, ini bukan urusanku. Lagi pula, kalian nggak akan menikah, jadi Ramon nggak akan mendapatkan apa yang dia mau!" bisikan suaraku, sengaja ku tekankan tiap kata. Agar sosok Lili mendengar dengan jelas.

Semalaman dia terus muncul. Baik saat aku memejamkan mata, maupun membuka mata. Semua gambaran kejadian sebelum Lili terbunuh ditunjukan padaku. Ramon memang brengsek. Dia tidak mencintai Lili dengan setulus hati. Semua hanya karena kekuasaan, harta, dan tentu jabatan. Tentu ini bukan urusanku. Aku tidak ingin ikut campur masalah orang lain, lagi.

Jadi kamu mau aku terus datang? Kamu sahabatku, kan, Ros? Kamu tau bagaimana perasaanku. Aku nggak akan tenang, Ros, kalau Ramon tidak dihentikan.

"Dihentikan? Memangnya apa yang bakal dia lakuin sih? Dia udah nggak bisa sakitin kamu dan keluarga kamu lagi, kan?"

"Rosi!" bahuku ditepuk hingga aku menjerit.

"Astaga! Mey! Ngagetin aja!" pekikku. Wanita itu segera mendaratkan bokong nya di samping ku, sementara Lili langsung pergi. Aku tengak tengok mencari keberadaannya, karena sangat yakin kalau Lili tidak akan pergi jauh dari tempat ini.

"Heh! Cari siapa sih? Malah bengong!" Mey kembali membuat perhatianku buyar.

"Ssst! Diam dulu!"

"Apaan?!"

"Lili!"

"Hah? Lili di sini?" tanyanya ikut heboh dan bertingkah sama sepertiku. Tengak tengok mencari hal yang tidak bisa ia lihat.

"Gaya lu! Kayak bisa lihat aja!" ujarku memukul kepalanya pelan.

"Lah iya, ya? Kan gue nggak bisa lihat. Ngapa ikut heboh gue! Eh tapi, Lili ada pesan terakhir gitu, Ros? Atau dia ada bilang apa ke elu? Pasti dia gentayangin elu, ya?"

Aku menghentikan pencarianku, dan menatap Mey serius. "Bingung gue, Mey. Gue harus gimana?" Akhirnya aku menceritakan semua yang kulihat dan alami kemarin. Mey hanya geleng-geleng kepala sambil mengepalkan tangan, menatap benci ke Ramon.

"Dasar laki bajingan! Licik! Gila sih, nggak nyangka gue kalau Ramon brengsek juga!"

"Sama. Gue bingung harus gimana, kalau gue cerita hal ini ke keluarga Lili, apa mereka percaya? Yang ada gue disangka gila!"

"Iya juga sih, Ros. Terus gimana rencana lu?"

Aku mengangkat kedua bahu lalu menarik nafas kasar. Sejurus dengan hal itu, sosok wanita yang kulihat dalam penglihatan semalam justru muncul. Berjalan dengan santai di antara pelayat yang hadir. Bahkan dia dan Ramon saling bersalaman seolah tidak mengenal satu sama lain. Mama Lili memeluk wanita muda itu sambil berderai air mata.

"Mey, itu cewek siapa? Kok gue baru lihat, dan kayaknya akrab sama tante Dahlia."

"Itu? Hm, gue juga baru lihat, siapa ya? Memangnya kenapa?"

Belum sempat kami membahas hal ini, ada sepasang orang tua sebaya dengan tante Dahlia dan Om Roy berjalan di belakang wanita tadi. Melihat gelagatnya, aku yakin mereka adalah orang tua wanita itu, dan sepertinya sangat dekat dengan keluarga Lili.

"Mey, lu tau nggak, kalau itu cewek yang gue lihat semalam."

"Cewek yang mana?"

"Astaga, Mey! Cewek yang di tunjukin Lili di mimpi gue!" jelas ku sedikit kesal.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AMARAH DALAM SELUBUNG
9.5
Riana pernah terjebak pernikahan penuh dusta dengan pria beristri yang memanfaatkannya lewat ilmu hitam. Setelah berhasil melawan dan menolak cinta suaminya yang telat tumbuh, ia mengusir pria itu. Riana lalu berjuang sendirian membesarkan putranya hingga sukses dan menjadi wanita kaya. Kini, saatnya pembalasan tiba. Secara perlahan dan rahasia, Riana memakai kekuatan gaibnya untuk menghancurkan seluruh kejayaan mantan suaminya hingga tak bersisa.
Sampul Novel Mantra pemanggil kuntilanak
7.8
Ara, seorang wanita mandiri berparas menawan yang tinggal jauh dari keluarga, kerap memikat hati banyak pria. Di balik daya tariknya, keseharian Ara selalu dilingkupi teror mistis yang mencekam. Ia bahkan menjalin hubungan unik hingga berteman dengan makhluk gaib. Namun, semua gangguan supranatural yang membayangi hidupnya mendadak sirna setelah ia resmi menikah. Kini, kehidupan Ara yang semula penuh misteri berubah drastis menjadi ketenangan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Sampul Novel Misteri nyai Ratu Blorong
8.8
Legenda pesugihan laut selatan Jawa sering dianggap dongeng belaka. Namun, sosok Nyi Ratu Blorong sang siluman ular sebenarnya nyata dan melampaui mitos mistis itu sendiri. Entitas tak kasat mata simbol kekayaan ini tetap setia mendampingi para sekutunya hingga kini. Di tengah kehidupan masyarakat milenial yang modern, eksistensi gaibnya masih bertahan kuat tanpa disadari oleh manusia yang hidup berdampingan dengannya.
Sampul Novel PESUGIHAN BONDHO TURAH
8.6
Hancurnya jalan ke Desa Kayu Dawung memicu rentetan peristiwa kelam akibat keserakahan, kedengkian, dan sihir. Di balik akses yang rusak itu, takdir mempertemukan jiwa-jiwa serta entitas roh yang sebelumnya asing satu sama lain. Kisah panjang ini mengupas tuntas sisi gelap ketamakan manusia yang berpadu dengan rumitnya misteri cinta. Perpaduan tersebut pada akhirnya menciptakan jalinan nasib yang tidak terduga bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya.
Sampul Novel The Evil Soul's Twin
9.2
Ray River Robertson harus berbagi raga dengan entitas gelap yang bicara lewat boneka. Sifat kontras jiwa jahat ini terus menekan mental Ray hingga ke ambang depresi. Di tengah ancaman kehilangan kendali atas dirinya sendiri, Ray berjuang keras mempertahankan kesadarannya. Sembari melawan pengaruh buruk tersebut, ia bertekad menguak dalang misterius yang merenggut nyawa sang kakak. Perjuangan hidup mati Ray demi kebenaran pun dimulai.
Sampul Novel WETON (Santet Tiga Generasi)
8.1
Demi melunasi utang keluarganya, Yayuk meminta bantuan Bi Zaenab untuk dicarikan pekerjaan. Ia akhirnya dikirim ke rumah bangsawan Waluyo, yang khusus mencari pelayan berweton Rabu Pahing atau Sabtu Kliwon. Setelah diterima karena memenuhi syarat tersebut, Yayuk justru menghadapi kenyataan mengerikan. Bukannya bekerja sebagai asisten rumah tangga, ia malah diperalat menjadi eksekutor santet untuk proyek besar keluarga Waluyo. Kini, ia harus bertahan hidup di tengah ancaman mistis.