
Cermin Retak Masa Lalu
Bab 2
Langit mulai gelap.
Terdengar acara ajang penghargaan dari TV di ruang tamu. Meski Susan tidak hadir, dialah yang memenangkan penghargaan itu.
Pembawa acara mengumumkan bahwa penghargaan akan diterima oleh perwakilan dan suara sorak-sorai langsung terdengar di ruangan. Semua orang tahu apa arti perwakilan itu.
Semua orang tahu bahwa Susan adalah cinta sejati Yufri, bahkan sejak zaman kuliah hingga saat ini.
Yufri bahkan mendirikan perusahaan hiburan dan menjadikan Susan sebagai artis pertama yang dia kontrak. Dia selalu mengutamakan dan mendukung Susan dalam segala hal.
Sedangkan aku, lebih terlihat seperti pemeran antagonis yang menggunakan segala cara demi mendapatkan cinta.
Dan akhirnya memisahkan pasangan sempurna ini.
Namun, di luar dari semua ini, sebenarnya aku lebih peduli pada sikap Jufri. Dia pernah menjanjikan bahwa hubungannya dengan Susan hanyalah sekedar atasan bawahan dan tidak akan ikut campur dalam urusannya.
Susan sebenarnya bisa saja menyuruh asistennya untuk menerima penghargaan itu.
Detik berikutnya, aku melihat pria tampan dan tegap itu berdiri di tengah kerumunan, merapikan jasnya dan melangkah menuju panggung untuk menerima piala tersebut.
Dengan suara berat, dia berkata, “Aku mewakili Susan mengucapkan terima kasih kepada semuanya, terima kasih atas dukungan para penggemar selama ini. Bagiku, Susan adalah yang terbaik!”
Dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan dibicarakan orang lain tentang diriku. Saat ini, pikirannya hanya terfokus pada Susan.
Di luar, langit malam hari sangatlah gelap, hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari jendela. Walau masih musim panas, aku merasa seperti musim dingin yang menusuk sudah menghampiri.
Tiba-tiba, Jesica keluar dari kamarnya, tanpa memedulikanku, dia langsung mengambil ponselnya dan pergi.
Dia tidak melihat aku yang sudah menyiapkan makanan, lengkap dengan kue ulang tahun, garpu dan pisau yang masih terbungkus. Pita perayaan yang belum dibuka diseret hingga ke dekat tempat sampah, dia bahkan menginjak sepatu putihku.
Padahal dia tahu betul kalau itu adalah sepatu kesukaanku, tetapi dia tetap merusaknya, seakan semua yang kusukai harus hancur di tangannya. Kebenciannya padaku begitu jelas, bahkan tak ditutupi.
Aku melihat ponselku lagi, tetap tidak ada pesan yang masuk. Semua orang tampaknya lupa bahwa hari ini adalah ulang tahunku.
Seketika, aku mengingat ulang tahunku tahun lalu, Yufri berdalih sibuk dengan pekerjaan, sementara Jesica mengurung diri di kamarnya, meninggalkanku sendirian makan kue berukuran delapan inci.
Aku selalu merayakan ulang tahun mereka dengan penuh perhatian, tetapi saat giliranku, malah seperti sandiwara yang menyedihkan.
Seketika, aku merasa diriku seperti lelucon. Aku berdiri, memecahkan semua balon di ruang tamu, membuang pisau garpu ke tempat sampah dan menuangkan semua makanan ke dalam toilet, lalu menyiramnya.
Setelah selesai, aku mendengar suara notifikasi di ponsel.
Itu pesan dari Yufri, katanya perusahaan mengadakan rapat dan dia akan pulang lebih malam.
Saat aku hendak membalas, tiba-tiba melihat Susan memposting sesuatu di media sosial.
Susan menulis, "Melalui semua gemerlap, melewati segala ringtangan, orang yang mencintaimu tetap akan berada di sisimu."
Ada kotak berisi lingerie cantik berhias pita yang sangat mencolok di sebelahnya.
Tanpa memperbesar gambar, aku langsung tahu bahwa itu adalah merek yang kemarin aku jelaskan pada Yufri.
Tak lama kemudian, ada postingan lain lagi yang muncul.
Putriku menulis, "Siapa ratu dari ajang penghargaan? Jelas aku! Andai saja Susan Kumala adalah ibuku, kami pasti akan menjadi keluarga yang sangat harmonis!
Diikuti dengan empat foto selfie dirinya.
Di salah satu fotonya, terlihat Susan bersandar dengan mesra pada Yufri. Ada kue empat tingkat di depan mereka dan dikelilingi banyak staf.
Ternyata rapat yang dia maksud adalah menghadiri pesta kemenangan Susan.
Aku tersenyum pahit, merasa tersiksa saat menatap foto-foto Susan.
Dia tiga tahun lebih muda dariku, tepat di usia puncak pesonanya seorang wanita. Dengan wajah lembut, tubuh ramping dan menggoda, dia benar-benar mempesona.
Aku ingat suatu hari, tepat di hari ulang tahunku, Susan memposting, "Hari ini adalah hari yang sempurna untuk memabukkan diri."
Yufri langsung beralasan pergi. Hari itu hujan deras, aku membawakannya payung dan melihatnya memeluk Susan keluar dari bar. Bahunya dibasahi air hujan, tetapi dia menggunakan jaketnya untuk melindungi Susan.
Saat itu, melalui pantulan jendela mobil, aku melihat tubuhku yang gemuk dan aku bahkan menertawakan diri sendiri, "Syukurlah itu bukan aku, kalau nggak, jaket itu pasti nggak muat menutupi tubuh besarku ini."
Dulu, aku juga salah satu wanita tercantik di industri ini, dengan sepasang mata yang indah. Tubuhku langsing, bahkan ada agensi model yang menawarkan bayaran tinggi untukku agar ikut berjalan di peragaan busana mereka.
Namun, demi melahirkan putriku, tubuhku berubah seperti balon yang ditiup. Meskipun berolahraga, tubuhku tak kunjung kembali seperti dulu. Kini berat badanku sudah mencapai lebih dari 90 kilogram.
Aku bisa merasakan sikap Yufri yang perlahan berubah, dari perhatian yang penuh kehangatan menjadi sikap yang begitu dingin, hingga berujung rasa jijik.
Sudah lebih dari setahun dia tidak menyentuhku, tetapi aku tetap mengurus rumah ini dengan sepenuh hati. Sayangnya, semua yang kulakukan dianggap wajar oleh mereka.
Mungkin hanya orang yang benar-benar pernah merasakan cinta yang bisa peka merasakan saat cinta perlahan menjauh.
Aku bahkan menekan tombol suka pada dua unggahan itu, lalu mengirimkan tangkapan layarnya kepada suamiku.
"Kalau beli satu set bisa dapat diskon 20%, benar-benar nggak pandai menghemat kamu."
Lalu aku mematikan ponsel, menarik koper dan mulai membereskan barang-barang.
Anda Mungkin Juga Suka





