APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CEO & Sekretaris

CEO & Sekretaris

Dengan penuh keyakinan, Tasya mendatangi kantor pusat Adityaswara demi mengadu nasib. Sambil menepis rasa gugup, ia langsung bertanya ke resepsionis tentang peluang kerja yang ada di sana. Tasya sangat berharap dewi fortuna membantunya agar bisa bergabung dengan perusahaan ternama ini. Keputusan berani tersebut akan menjadi titik awal yang sangat menentukan kelanjutan karirnya di bawah arahan sang CEO yang terkenal sangat berpengaruh.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Dia Bohong pak hiks tadi dia ancam saya agar saya tidak dekat-dekat dengan bapak lagi padahal kami hanya sebatas bos dan karyawan." lirih Dinda yang mencoba pura-pura bahwa dirinya di buku olehnya.

"Tasya saya tidak suka kamu membuly karyawan disini." bentak Revan.

"Saya bisa jelaskan semuanya pak." Tasya mencoba untuk menjelaskan semuanya yang benar tapi Revan tetap gak mau mendengarkannya.

"Saya sudah liat semuanya saya tunggu di ruangan saya." Revan pun memasuki ruangan kerjanya lagi dengan tatapan sangat marah, hadeeh gimana ini baru kerja saja sudah dimarahi gimana kalo bossnya memecatnya oh my good mau cari pekerjaan dimana lagi mencari pekerjaan aja susah.

"Emang enak!! Ini baru permulaan rencana gw liat saja nanti kedepannya." Dinda menatap Tasya dengan sinis dan berlalu pergi meninggalkan Tasya sendirian.

"Astaga gimana ini apa masuk aja yah ke dalam tapi takutnya dia marahin gw lagi." gumam Tasya lebih baik Tasya masuk saja dari pada masalahnya jadi perpanjang lagi lebih baik dia menyelesaikannya dari sekarang.

"Permisi ada apa bapak manggil saya." tanya Tasya yang sudah membuka pintu ruangannya dan berdiri disitu.

"Bagus yah baru kerja disini Sudah bully karyawan disini." Revan berbicara dengan nada tinggi sedari tadi Revan sudah marah tapi kenapa Tasya membuat ulahnya membuat Revan semakin nambah marah lagi.

"Saya sudah bilang kalo saya gak salah." bela Tasya dengan tegas dia tidak mau disalahkan karena dia itu benar tidak salah apapun.

"Kamu berani bicara begitu sama saya." Tasya membuat Revan tambah emosi lagi padahal Revan lagi ada masalah pribadinya tapi kenapa dia malah mencari masalah dengan bossnya.

"Saya tidak mau jika ada orang yang menyalahkan saya padahal saya ini tidak salah."

"Oh berani yah kamu sama saya." Revan mendekati Tasya untuk lebih dekat lagi tambah lagi langkah kakinya pun sudah merapatkan tubuhnya dengan Tasya membuat Tasya mundur dan sudah mentok di pintu ruangannya.

"Bapak mau ngapain." dengan ketakutan Tasya tidak bisa berkutik apa-apa lagi hidungnya pun sudah bertabrakan dengan hidung mancung bossnya itu.

"Pak saya mohon jangan." Tasya masih ketakutan dengan apa yang bossnya lakukan bibir Revan pun bertemu dengan bibir Tasya dan memainkannya tiba saja tasya mendorongnya dengan sekuat tenaganya membuat Revan pun jatuh dilantai.

"Saya bukan jalang yang bisa bapak permainkan kapanpun." Revan hanya terdiam dia tidak menyangka apa yang mereka berdua lakukan tadi Revan hanya memegangi bibirnya dengan berpikir kalo dia benar-benar gak kendalikan emosinya.

"Maaf tadi saya gak berniat." lirih Revan yang menatap tasya sudah marah

"Jangan samakan saya dengan perempuan yang sudah bapak permainkan." Tasya pun pergi meninggalkan Revan di ruangannya dengan menutup pintu sangat keras membuat terdengar suaranya.

"Apa yang gw lakukan tadi." gumam Revan yang tidak percaya dengan semuanya ini Revan pun keluar dari ruangannya untuk mengejar Tasya, jangan sampai dia salah pahak berjalan cepat menyusulnya untuk meminta maaf atas tindakan yang tadi ia perbuat. Tiba didepan pintu kantor revan menahan lengan Tasya untuk mencegahnya tapi Tasya tetap memberontaknya untuk meminta dilepaskan tangannya yang dicengkeram kuat sampai tangan memerah.

"Lepasin." Tasya sekuat tenaga memberontak untuk melepaskan tangan yang dicengkeram kuat oleh Revan.

"Tas maafin saya."

"Jangan panggil tas Saya bukan barang."

"Itu panggilan kesayangan saya untuk kamu." goda Revan.

"Saya gak mempan godaan anda." tegas Tasya.

"Masa sih." Revan menggoda Tasya dengan mencolek dagunya.

"Gak usah sentuh-sentuh saya gak mempan gombalan bapak." Tasya menatap tajam ke arah Revan yang sedari tadi menggodanya.

"Harusnya kamu senang karena cuma kamu yang saya godain banyak loh wanita lain yang ingin digoda oleh saya." dengan bangganya Revan berbicara seperti itu emang sih dia banyak yang naksir tapi seenggaknya jangan songong gitu lah.

"Saya gak perduli." belum berjalan melangkah tangan Tasya di tarik oleh bossnya alhasil Tasya tidak bisa menyamai keseimbangan antara tubuhnya yang membuat dia hampir jatuh ke lantai untung saja Revan menahan tubuhnya agar tidak jatuh mata Revan bertemu dengan mata indah Tasya membuat jantung Tasya berdebar kencang.

Deg-Deg

apa ini yang dinamakan jatuh cinta sama sekali pun Tasya tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, bukannya dia gak laku tapi dia gak mau buang-buang waktu hanya cuma menghabiskan waktunya untuk lelaki lain.

"Jangan mencari-cari kesempatan dalam kesempitan yah." gerutu Tasya yang sudah melepaskan dirinya dari Revan.

"Seharusnya kamu berterima kasih sama saya karena saya sudah membantu kamu, kalo gak saya bantu kamu pasti jatuh kalo kamu masuk ke rumah sakit siapa yang bakal gantikan posisi kamu jadi sekretaris pribadi saya." jelas Revan.

"Kan ada pacar bapak tuh." sindir Tasya membuat Revan bingung padahal dia sama sekali belum punya pacar semenjak dia cerai dengan istrinya, jangan sangka umurnya yang kepala tiga tapi wajahnya tetap masih awet muda membuat kaum hawa terpesona dengannya.

"Pacar!! Kata siapa saya sudah punya pacar." datar Revan.

"Lah kata Dinda bapak pacarnya dia." ujar Tasya.

"Saya sama dia hanya sebagai bos dan karyawan saja." balas Revan.

"Oh."

"Kamu cemburu."

"Nggak.”

"Masa sih saya liat dari cara pandangnya sepertinya kamu menyukai saya." tebak Revan yang menatap Tasya penuh yakin kalo dirinya menyukainya.

"Gak penting." Tasya pun meninggalkan Revan yang masih berdiam berdiri didepan kantornya lalu mengejar Tasya dan menjejerkan tubuhnya disamping Tasya.

"Tas kamu masih marah sama saya." tanya Revan yang menjejerkan tubuhnya disamping Tasya.

"___" tidak ada sahutan dari Tasya dia hanya terdiam saja dengan wajah kezelnya.

"Tas." panggil Revan.

"Saya udah bilang jangan panggil saya tas saya itu bukan barang." geram Tasya.

"Tapi tas itu panggilan saya ke kamu." ucap Revan.

"Bodo saya mau pulang." Tasya berjalan sampai didepan gerbang kantornya dan menunggu angkot datang.

"Sampai kapanpun kamu tunggu angkot jam segini gak ada tas.”

"Saya mau naik taksi aja."

"Mana ada taksi jam segini tas lihat nih udah jam setengah 11 tas mending kamu bareng saya aja.” Revan menunjukkan jam tangannya ke arah wajah Tasya.

"Gak mau yang ada bapak melecehkan saya lagi.” sindir Tasya.

"Ya enggak lah tas mana mungkin saya melecehkan karyawan sendiri."

"Kalo gak lalu tadi di dalam apa.”

"Soal tadi saya benar-benar minta maaf sekali lagi." Tasya memalingkan wajahnya dari pandangan Revan.

"Tas ayo saya anter.” ajak Revan dengan menyentuh tangan Tasya tapi dia malah menghempaskan tangan darinya.

"Jangan sentuh-sentuh saya mau pulang sendiri."

"Pulang naik apa emangnya tas."

"Saya bisa jalan kaki tanpa perlu bapak mengantarkan saya." Tasya membuat Revan geram bossnya pun langsung menarik tangannya.

"Awhh sakit Pak." berontak Tasya bossnya tidak menanggapi perkataan nya lalu memasukkannya ke dalam mobil dia pun berjalan tempat duduk pengemudi lalu menjalankan mobilnya

"Maaf gara-gara saya tangan kamu jadi merah begitu." Revan melihat tangan Tasya yang sudah memerah dan agak biru karena cengkeramannya terlalu kencang.

"____" Tasya pun tidak menanggapinya tatapan matanya menuju arah jendela mobil tanpa harus melihat bossnya.

"Tas " panggil Revan tetap saja Tasya tidka menjawabnya.

"____"

"Kamu marah sama saya yah." tebak Revan yang melihat Tasya hanya terdiam.

"Ok saya ngaku saya salah tolong maafin saya." permintaan maaf Revan yang sudah memberhentikan mobilnya dipinggir jalan.

"Luka kamu yang mana yang sakit." tanya Revan yang melihat Tasya masih terdiam.

"Saya mau pulang." tanpa revan sadari Tasya meneteskan kedua air matanya mengalir deras di kedua pipinya.

"Tas kamu nangis maafin saya, saya gak berniat nangisin kamu." Tasya hanya memalingkan wajahnya menghadap kaca jendela mobil.

"Saya bilang mau pulang." Tasya mencoba untuk menahan amarahnya agar tidak memarahi bossnya.

"Ok kita pulang tapi saya mohon jangan nangis lagi yah." Revan mendekati Tasya yang mencoba menghapus kedua air mata yang mengalir dipipi Tasya.

"Cepat pulang." Tasya kembali menghadap ke arah jendela mobilnya lalu Revan menjalankan mobilnya sampai di depan rumah Tasya ia langsung membuka pintu mobilnya dan berjalan masuk ke dalam kost-an yang ia tempati, Revan merasa bersalah dengan Tasya lebih baik dia pulang dulu agar Tasya bisa menenangkan dirinya kemudian ia pun meninggalkan kost-an milik Tasya.

Pagi hari Tasya sudah berangkat ke kantor karena masih banyak yang harus dikerjakan sebagai sekretaris pribadi bossnya hari ini juga bossnya ada meeting jadi dia harus menyiapkan keperluannya tiba di kantor Tasya sudah berkutik dengan laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai Tasya pun tak tau jika bossnya sudah berada didepan mejanya dengan tersenyum manis.

"Hari ini siapkan keperluan untuk meeting nanti." Tasya hanya mengangguk dan melanjutkan mengetik laptopnya.

"Kamu dengarkan." Revan melihat Tasya yang sibuk dengan laptopnya dia curiga ada apa dengan laptopnya apakah tugasnya belum selesai.

"Iya pak."

"Kamu masih marah." Tasya tidak menghiraukan ucapannya dia tetap menatap layar laptopnya.

"Tas.”

"Jangan diamkan saya seperti ini dong."

"Kamu mau apa biar saya belikan sebagai permintaan maaf saya."

"Saya bukan cewek matre yang bisanya minta apa-apa walaupun saya miskin tapi saya gak pernah morotin orang lain." jelas Tasya dengan tatapan tajam.

"Maksud saya bukan begitu tas."

"Sudah lah jangan ganggu saya, bapak gak liat saya sedang sibuk." datar Tanya.

"Yasudah maaf mengganggu." Revan pun masuk ke ruangannya kebetulan meja kerja Tasya berada di samping pintu ruangannya.

Revan💢

Revan yang sudah duduk di kursi kebesarannya tiba saja ada panggilan telepon dari ponselnya yang berada di atas meja kerjanya kemudian dia pun mengangkat teleponnya.

"Halo sayang kamu dimana." tanya perempuan yang menelponnya.

"Saya lagi dikantor ada apa memangnya!" Revan berbicara datar kepada perempuan yang berada disana.

"Anak kamu katanya pengen jalan-jalan sama kamu." dengan berbicara lembut.

"Kapan?"

"Kata Risa maunya sekarang." ucap perempuan itu.

"Kamu bisa kan urus anak kamu sendiri ajak dia jalan-jalan saja sama kamu." dengan nada marah Revan.

"Tapi sayang dia gak mau sama Mamahnya dia maunya bertiga sama ayahnya juga." rayu perempuan yang sedang menelponnya agar Revan mau diajak olehnya.

"Ok habis meeting nanti saya ke sana."

"Tapi mas dia maunya sekarang." bujuk perempuan yang masih berada disana.

"Seterah mau habis meeting atau gak jadi sekalian." Revan langsung mematikan telponnya agar dia tidak marah lebih besar lagi.

Siang hari ini kami akan meeting, sebelumnya Tasya memberitahukan kepada bossnya untuk meeting siang hari ini langsung saja masuk ke ruangannya.

Tok - Tok

Suara ketukan terdengar dari dalam kantor membuat bossnya menjadi terganggu.

"Masuk." Tasya pun masuk ke ruangannya untuk memberitahukan kalo siang ini ada meeting.

"Maaf pak siang ini ada meeting pak." ujar Tasya yang melihat arah tatapan mata Revan yang fokus dengan laptopnya dan memasang wajah datarnya.

"Saya sudah bilang tadi pagi siapkan saja meeting hari ini." dingin Revan.

"Saya sudah menyiapkan meeting hari ini bapak tinggal berangkat saja untuk menemui pak Andi nanti.”

tiba saja wajah Revan menjadi datar sebelumnya tadi pagi wajahnya biasa saja tapi kenapa siang ini berubah jadi datar Aneh!! "Silahkan keluar nanti saya nyusul."

"Maaf mengganggu pak." kemudian Tasya keluar dari ruangan bossnya dia jadi takut dengan bossnya yang tiba-tiba saja berubah jadi ganas.

"Sabar-sabar kenapa sih tuh orang tiba-tiba marah aja apa karena tadi pagi yah" gumam Tasya yang memegangi dadanya Karena takut dengan bossnya"Terima kasih pak sudah bekerja sama dengan saya." Revan mengakhiri meeting hari ini untuk bekerja sama dengan rekan kerjanya lalu berjalan ke luar ruangan meetingnya lalu bertemu anak dan mantan istrinya yang datang ke kantor untuk menemui Revan.

"Ayah." panggil seorang anak kecil yang bernama Risa berlari memeluk ayahnya sedangkan Tasya hanya berdiam berdiri melihat seorang anak kecil memeluk Revan anak kecil itu pasti anaknya Revan pikir Tasya.

"Hey kenapa kamu ada disini." tanya Ayahnya yang heran kenapa mantan istrinya mengajak anaknya ke kantor ini padahal dia sudah bilang jika sehabis meeting nanti Revan akan menemuinya tapi kenapa malah mantan istrinya yang datang ke kantor dengan membawa anaknya yaitu Risa.

"Aku mau makan bareng ayah." rengek Risa sembari mengalungkan tangannya dileher ayahnya dengan erat.

"Ayah kan sudah bilang nanti ayah nyusul kamu setelah meeting kenapa kamu datang ke kantor ayah pasti mamahmu yah yang menyuruhmu ke sini." tebak Revan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah Membara: Cinta Tak Pernah Mati
8.4
Kusuma Hadi menghina Dewi Nayaka tanpa tahu siapa dia sebenarnya, bahkan menyuruh orang membuangnya ke laut. Penyesalan mendalam menghampirinya saat sang sekretaris mengungkap bahwa wanita itu adalah istrinya sendiri. Kusuma pun berbalik melimpahinya dengan kasih sayang. Namun, di tengah kemesraan yang terlihat begitu harmonis, publik tiba-tiba dikejutkan oleh kabar perceraian tak terduga dari pasangan ini.
Sampul Novel Hamil Anak Ular
8.6
Anjani tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah menjadi horor yang nyata. Sebagai ketua komunitas hewan melata, ia dikejutkan oleh vonis dokter yang menyatakan dirinya tengah hamil tiga belas minggu, padahal ia sama sekali belum pernah berhubungan dengan pria mana pun. Tuduhan aneh pun muncul dari sang ayah tiri, yang meyakini bahwa Anjani sedang mengandung anak ular akibat kedekatannya dengan Chiko, ular sanca peliharaan yang selalu tidur bersamanya tiap malam. Misteri kehamilan mistis ini pun dimulai.
Sampul Novel Love and Hurt
8.0
Bagi Tiffany Ananda Putri, bertemu lagi dengan Jimmy Stevano Cavarro adalah petaka yang merusak hidupnya secara beruntun. Kehadiran pria itu dianggap sebagai kesalahan takdir yang fatal. Di sisi lain, Jimmy tidak goyah. Ia berjanji akan selalu mencintai Tiffany tanpa peduli waktu, mulai dari masa lalu hingga masa depan nanti. Jimmy tetap teguh memegang perasaannya, meski kini hubungan mereka telah dipenuhi oleh luka serta kebencian yang teramat dalam.
Sampul Novel Miss Black Puteri CEO Yang Terbuang
9.4
Rose hidup menderita sebagai anak yatim piatu sebelum Denzel mengungkap bahwa ia adalah putri kandung dari CEO Louis Brown. Untuk melindungi dirinya, Rose menyamar sebagai mahasiswi berprestasi bernama Rose Carter, yang diam-diam merupakan violinis misterius, Miss Black. Ketegangan memuncak saat putra angkat ayahnya, Luke, memaksanya menikah demi menguasai harta. Di tengah ancaman maut dari Peter dan Hendrick, kebencian Rose dan Luke berubah jadi cinta. Rose kini harus melawan pengkhianatan demi hidup bahagia bersama Luke.
Sampul Novel One Night With Mafia
8.1
Satu malam tragis bersama Jack Harrison menghancurkan hidup Pretty Jolie sepenuhnya. Kehilangan kesucian membuatnya dicampakkan calon suami dan diusir paksa oleh keluarganya sendiri yang menanggung malu. Di tengah keputusasaan yang mendalam, Pretty merasa kehilangan harapan hidup dan berniat mengakhiri segalanya. Akankah Jack Harrison bersedia bertanggung jawab setelah menyadari penderitaan hebat yang dialami oleh korbannya tersebut?
Sampul Novel The Rich Sugar Baby
9.0
Dunia Alenia runtuh sejak ibunya tiada, diperparah oleh sang ayah yang abai setelah menikah lagi. Luka hatinya kian menganga saat tunangan yang sangat ia percayai justru tega berkhianat. Enggan terus terjebak dalam hubungan beracun yang merusak mentalnya, Alenia nekat mengambil langkah ekstrem demi keluar dari penderitaan tersebut. Ia memutuskan untuk menjalin asmara dengan seorang pria dewasa yang memiliki perbedaan usia hingga tiga belas tahun lebih tua darinya.