APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CATATAN SENJA

CATATAN SENJA

Bagi Senja Abhinaya, Langit Ananta adalah sosok setia yang pada akhirnya akan melangkah pergi. Namun di mata Langit, Senja bagaikan pesona sementara yang kelak akan kembali di saat terbaik. Walau karakter mereka berdua sangat kontras, takdir justru mempertemukan keduanya tanpa diduga. Kisah ini merajut perjalanan cinta masa muda antara Langit dan Senja, sebuah romansa indah yang terukir manis di bawah kesaksian semesta dan rencana tak terduga dari Sang Pencipta.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kento," panggil Naya. Kento adalah teman sebangku Naya. Baru beberapa jam saja, dia sudah tidak betah duduk dengan Kento. Pasalnya cowok itu sangat dingin, irit suara, dan tukang tidur. Tapi anehnya, dia tidak pernah ditegur gurunya ketika tertidur di dalam kelas.

"Hm," sahut Kento yang tertidur di meja. Matanya saja masih tertutup.

"Kantin, yuk!" ajak Naya yang berani ambil resiko ditolak mentah-mentah oleh Es Batu.

"Males." Sudah Naya duga, Kento akan menolak ajakannya.

"Sombong banget lo jadi orang. Udah ngerasa paling berkuasa?!" emosi Naya kembali meluap. Kento hanya menatapnya malas, kemudian kembali memejamkan matanya. Naya menggeram dibuatnya. Ia mengangkat tangannya hendak menggampar Kento. Namun sebuah tangan menahannya, ternyata tangan Langit.

"Ngapain lo?" Naya menatap tajam Langit. Tanpa berkata apa-apa, Langit menyeretnya keluar kelas tanpa memedulikan rontaan Naya. Ia membawa cewek itu ke kantin.

Mereka duduk di pojokan, karena memang hanya di sana kursi yang kosong. Terdengar banyak siswa yang bisik-bisik sambil menatap mereka berdua.

"Lang, pesenin dong!" pinta Naya.

"Pesen sendiri, manja," balas Langit.

'Allahuakbar Allahuakbar...'

Belum juga Naya membalas ucapan Langit dengan binatang yang ada di pikirannya, adzan dhuhur dari seseorang di mushola sekolah berkumandang.

"Ayo sholat," ajak Langit. Naya tidak tau harus bagaimana, karena dia sudah lama tidak sholat, jadi mungkin ia sudah lupa caranya.

"Emm, gue lagi enggak," ucap Naya.

"Oh, pantes. Jangan pergi sebelum gue balik," kata Langit lalu pergi keluar kantin.

"Sialan, belum juga pesen udah ditinggal," gerutu Naya. Akhirnya ia memutuskan untuk memesan sendiri. Belum sampai di tempat Bu Kantin yang melayani para siswa yang jajan, dia tersandung kaki seseorang dan berakhir jatuh tersungkur. Orang-orang di sekitarnya bukannya menolong malah tertawa. Saat ia akan bangkit, tiba-tiba ia diguyur teh hangat oleh seseorang. Naya pun segera bangkit.

"Ups, maafin. Aku nggak sengaja," ucap seorang cewek dengan nada suara yang dibuat-buat.

"Najis Sis, omongan lo kayak orang cupu," ledek salah satu temannya yang bernama Tasya.

"Siska mah gitu, lagi ngadepin orang cupu harus pake logat cupu juga dong. Ye gak Sis?" ucap Viola, temannya yang lain menanggapi Tasya.

"Udah cupu, miskin, belagu, hidup lagi. Sampah," timpal Ara.

Orang-orang di sana pun tertawa.

Naya yang merasa dirinya direndahkan tak bisa tinggal diam. Dia mengambil jus mangga yang ada di sebelahnya, lalu melemparkannya beserta gelasnya ke arah Siska.

Semua orang di kantin terkejut, terutama Siska, Tasya, Viola dan Ara. Untungnya gelas yang dilempar ke arah Siska tadi gelas plastik, jadi tidak akan pecah. Kalau pun pecah tidak akan terlalu sakit.

"Impas," ucap Naya akhirnya. Saat ia hendak melangkahkan kakinya keluar kantin, ia dicegah oleh Siska.

"Bangsat lo," umpat Siska.

"Woy ganti itu minuman gue," teriak Ara.

"Lo harus tanggung jawab," ucap Siska.

"Buat?" tanya Naya.

"Semuanya, lo udah numpahin jusnya Ara, yang terpenting lo udah ngotorin badan gue. Lo udah ngotorin sepatu mahal gue, lo udah ngotorin seragam gue, dan lo-" ucapan Siska terpotong oleh Naya

"Lo butuh berapa?" tanya Naya dengan ekspresi datar. Dia tahu, yang dihadapinya bukanlah levelnya, jadi dia terlalu malas untuk berdebat ataupun mengotori tangannya dengan orang dihadapannya.

"Orang miskin aja belagunya selangit," celetuk Ara.

Naya hanya memutar bola matanya malas.

"Bagi nomer rekening kalian," ucap Naya.

"Lo pikir kita bakal ngasih," balas Tasya.

"Bacot kalian," ucap Naya, lalu merogoh sesuatu dalam saku dibajunya. Ternyata sebuah beberapa lembar uang merah.

"Kalian butuh ini kan?" tanya Naya sambil mengacungkan uangnya. Lalu dia melemparkannya pada Siska.

Sekali lagi, orang-orang di kantin dibuat terkejut karena ulah Naya. Ini adalah pertama kalinya, ada orang yang berani melawan Siska CS.

"Kalo lo pada minta lebih, bilang aja gak usah pake drama," ucap Naya lalu pergi keluar dari kantin.

Ketika sampai di depan pintu, dia menabrak dada seseorang. Cowok. Naya pun langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat orang yang ditabraknya.

"Langit?" pekik Naya.

"Ke mana?" tanya Langit.

"Keluar, " jawab Naya.

"Udah makan?" tanya Langit lagi tanpa ekspresi. Menggeleng, Naya melangkahkan kakinya keluar.

"Makan dulu," cegah Langit dengan menahan lengan Naya.

"Ishh, lepasin," ucap Naya.

"Eh, Astaghfirullah. Maafin gue," ujar Langit yang imannya baru diisi.

"Minggir lo!" ketus Naya lalu berjalan meninggalkan kantin tanpa bisa dicegah Langit. Namun Langit berhasil mengejar Naya.

Sementara itu orang-orang didalam kantin tidak percaya dengan yang mereka lihat sekarang, terutama Siska cs.

"Eh, itu tadi beneran Langit?" tanya Tasya.

"Kayaknya iya deh," jawab Ara.

"Dia bener-bener Langit. Gue gak mungkin salah liat," sambung Siska.

"Sejak kapan Langit gak dingin sama cewek?" tanya Tasya.

"Sejak kenal sama Naya," jawab Viola.

"Lo kalo ngomong pikirin dulu kek perasaan sahabat lo ini," celetuk Ara sambil menepuk-nepuk pundak Siska.

"Loh kan bener. Sebelum Naya di sini, kan Langit gak pernah kaya gitu sama cewek. Jangankan nyentuh cewek, ngobrol aja gak pernah," ucap Viola.

"Stop, La!" teriak Siska.

"Lah gue salah?" balas Viola.

"Mending lo diem deh La," ucap Ara.

Viola hanya manyun. Sedangkan Siska hanya bisa menahan emosi dan berpikir bagaimana cara menyingkirkan Naya dari sekolah ini, atau lebih parahnya dari dunia ini.

♠♠♠

Ketika orang-orang di kantin sibuk membicarakan Langit dan Naya, dua orang yang dibicarakan publik itu malah bersantai-santai di taman baca depan perpustakaan. Ralat, bukan mereka berdua yang santai. Langit saat ini sibuk membersihkan rambut Naya yang tertumpahi teh hangat saat di kantin tadi.

"Nay, gue laper," keluh Langit.

"Makan," balas Naya.

"Lo gak laper apa?" tanya Langit.

"Gak," jawab Naya. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Dia hanya bisa mengumpat dalam hati.

"Tuh, cacing lo pada demo," ledek Langit.

"Gue mager ke kantin," ucap Naya.

"Bentar, gue ke kelas dulu ambil bekal. Lo jangan kemana-mana," pamit Langit, lalu berlari menuju kelasnya.

Baru saja Langit meninggalkannya, ia dihampiri oleh seorang cowok.

"Anan," batin Naya ketika menatap mata cowok itu.

"Hai!" sapa cowok itu.

"Oh, hai," balas Naya.

"Gue Levi. Lo Naya bukan?" tanya Levi.

"Iya," jawab Naya.

"Lo ngapain di sini? Bentar lagi masuk loh," tanya Levi.

"Nungguin Langit ambil makanan," jawab Naya.

"Oh, kalo gitu ambil aja makanan gue," ucap Levi sambil menyodorkan rotinya yang baru saja ia beli.

"Ini enak dimakan gak?" tanya Naya yang meragukan pemberian Levi.

"Enak lah," jawab Levi.

"Lo makan dulu, baru gue percaya," ucap Naya.

"Ini gue makan," kata Levi lalu membuka bungkus roti itu dan memakannya secuil.

"Aman gak?" tanya Naya.

"Aman nih, gue gapapa kan," ucap Levi meyakinkan.

"Buat gue," ujar Naya lalu hendak merampas roti milik Levi. Namun Levi berhasil mencegahnya.

"Katanya buat gue," protes Naya.

"Ada syaratnya. Lo harus ngasih tau dulu nama panjang lo," ucap Levi.

"Hmm oke." Karena sudah kelaparan, Naya akhirnya menyetujui.

Levi hanya tersenyum dan menunggu jawaban Naya.

"Nayaaaaaa-ap!" ucapan Naya terhenti karena mulutnya disumpali pakai roti oleh Levi. Meskipun kesal, tapi akhirnya Naya juga mencerna roti itu.

Levi hanya tertawa sedangkan Naya manyun sambil mencerna roti didalam mulutnya.

"Itu mulutnya, kode mau dicipok apa gimana?" tanya Levi dengan menahan tawanya.

"Enak aja. Eh suapin lagi dong, gue mager," ucap Naya. Levi yang mendengarnya cukup terkejut. Tetapi akhirnya Levi menyuapi Naya juga.

"Anjir, rejeki nih nyuapin cewek cantik," batin Levi.

"Seru nih, hari pertama udah dapet babu," batin Naya.

Tanpa mereka ketahui, Langit sedari tadi menyaksikan mereka. Dia melihatnya dengan wajah datar dan rahang mengeras, sedang salah satu tangannya mengepal kuat.

"Harusnya gue tadi lari lebih kenceng," gumam Langit. Lalu membuang bekal yang tadinya untuk Naya dan kembali ke kelasnya karena bel masuk sudah berbunyi.

Ini benar-benar pertama kalinya Langit membuang bekal buatan ibunya dan juga pertama kali Langit mau berinteraksi dengan cewek. Naya benar-benar membuatnya berubah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ANTARA BISNIS DAN CINTA
9.4
Jessica Marie Armantyo terpaksa memimpin PT Gembira Raya setelah ayahnya wafat dan Arnold, kakaknya, terlilit judi. Masalah membesar saat Joshua Danujaya menguasai saham mayoritas perusahaan lewat utang Arnold. Jessica pun terpaksa bermitra dengan Joshua yang ambisius. Di tengah kemelut ini, asmara sepuluh tahun Jessica dengan Alan kandas akibat karier YouTube Alan. Saat patah hati, pesona Joshua mulai mengikis kebencian Jessica. Akankah cinta tumbuh di antara persaingan bisnis mereka?
Sampul Novel Apa Salahku Padamu, Bu?
7.9
Hidup Mutia dipenuhi penderitaan akibat kebencian tanpa sebab dari ibunya sendiri. Di tengah himpitan kesulitan ekonomi, sang ibu terus melampiaskan rasa frustrasinya kepada Mutia. Gadis malang ini selalu menjadi sasaran amarah, di mana setiap tindakannya tidak pernah benar di mata ibunya. Mutia bahkan merasa lebih baik tidak pernah dilahirkan ke dunia. Bagaimanakah ia harus bertahan menghadapi tekanan batin ini? Simak perjuangan pilu Mutia dalam melewati kenyataan hidup yang begitu pahit.
Sampul Novel Dimanja Suami Psikopat
9.1
Setelah dipaksa menikah dengan miliarder pengidap sindrom XYY yang obsesif, hidupku dipenuhi kemewahan sekaligus kekangan ekstrem. Meski dia memanjakanku dan menyingkirkan siapa pun yang mengganggu—termasuk keluarganya sendiri—kebebasanku sepenuhnya dirampas lewat cip pelacak. Konflik memuncak saat kehamilanku yang dinanti justru dituduh sebagai hasil perselingkuhan oleh ibu mertuaku, memicu aksi kekerasan fatal tepat sebelum suamiku yang posesif tiba di lokasi.
Sampul Novel Dosen Suamiku
9.8
Wasiat mendiang kakek memaksa Adara Adila Calista, mahasiswi berumur 22 tahun, menikah dengan cucu sahabat kakeknya. Ia sangat terkejut saat mengetahui calon suaminya adalah Rafka Shaquile Zhafran, dosen yang kerap membuatnya jengkel di kampus. Rafka, CEO berusia 24 tahun, terpaksa menyetujui perjodohan ini demi keluarganya dan demi menghindari ancaman kehilangan warisan. Bagaimanakah kelanjutan pernikahan Adara dengan sang dosen yang ia benci dalam ikatan takdir ini?
Sampul Novel En-PD159
7.9
Demi menebus kesalahan masa lalu, Song Jiayan rela menjalani pernikahan aliansi dengan Fu Shisheng. Namun, pengkhianatan pahit menerpanya saat tahu suaminya memalsukan penyakitnya dan berselingkuh. Usai lolos dari berbagai upaya pembunuhan, Jiayan bangkit dan sukses menjabat sebagai CEO di luar negeri. Ketika Shisheng datang mengejar dengan penyesalan, Jiayan memilih berdamai dengan masa lalu, fokus pada aksi kemanusiaan, dan memulai hidup mandiri yang baru.
Sampul Novel HASRAT NAKAL ISTERI KECIL
9.5
Sejak balita, Naura dibesarkan oleh asisten ayahnya yang bernama Gilbert Louise Tom dan memanggilnya Daddy. Kini, sosok duda berumur empat puluh tahun dengan tubuh kekar itu justru tampak kian menawan di matanya. Hubungan dekat yang terjalin lama di antara mereka perlahan berubah menjadi rasa tertarik yang begitu kuat. Naura pun mulai kesulitan untuk menjauhkan dirinya dari pesona memikat yang dimiliki oleh pria matang tersebut.