APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Candu Dekapan Kakak Ipar

Candu Dekapan Kakak Ipar

Menjadi bagian dari keluarga konglomerat justru menjadi siksaan bagi Djiwa. Diperlakukan buruk oleh ibu mertua tanpa pembelaan dari suaminya sendiri, ia merasa terasing di rumah megah tersebut. Namun, kehadiran Radja, kakak ipar tertua yang berwibawa dan dingin, mengubah segalanya. Tatapan intens Radja membangkitkan hasrat terlarang yang berbahaya. Djiwa pun terjebak dalam pusaran dosa manis yang tak bisa ia hindari, menyerah pada sentuhan pria yang seharusnya tidak boleh ia cintai.
Bab
Bagikan

Bab 8

‘Malam ini, aku sudah buat jadwal dengan pria yang aku berikan kartu namanya padamu.’

Ucapan Kaisar semalam membuat perut Djiwa terlilit pagi ini. Malam ini, Djiwa tidak bisa kabur lagi. Dia harus bertemu dengan pria yang akan menghamilinya.

Djiwa mengusap wajahnya frustasi. “Kalau semisalkan Mami tahu, apa dia gak marah nanti? Apalagi ... kalau anaknya gak mirip sama Mas Kai.”

Djiwa merasa tak enak hati jika memberikan keturunan yang tidak sesuai garis darah keluarga Kaisar. Ia merasa terbebani, tapi juga tak ingin mengecewakan siapa pun.

“Djiwa.”

Gadis itu tersentak ketika namanya dipanggil oleh pemilik wajah tampan namun sedingin es, dengan suara berat dan dalam yang langsung

membuat siapa pun menegakkan punggung.

Atasan sekaligus kakak iparnya, Radja.

Pria itu menatapnya tajam, sembari mengulurkan sebuah berkas pada Djiwa. Gadis itu segera bangkit dari duduknya dan melangkah cepat

menghampiri Radja.

“Scan ini, lalu kirim ke WA pribadi saya dalam bentuk P*F,” ujar Radja dingin, tak sedikit pun menoleh. Tatapan pria itu tetap terpaku pada

layar laptop di depannya.

“Baik, Pak,” jawab Djiwa sopan.

Hanya butuh sekitar lima menit, ponsel Radja berdenting notifikasi pesan masuk.

Pria itu segera memeriksanya, pesan dari nomor tak

dikenal—namun dia tahu kalau itu nomor Djiwa.

Hal pertama yang dia lakukan bukanlah membuka pesan tersebut, melainkan memeriksa foto profil di sana.

Sebuah foto pernikahan antara Djiwa dengan adik kandungnya, Kaisar. Keduanya mengenakan pakaian pengantin adat jawa berwarna putih.

Untuk sesaat tatapannya biasa-biasa saja, namun diam-diam menyimpan sesuatu.

Djiwa di meja kerjanya diam-diam melirik ke arah Radja yang tampak begitu fokus dengan layar laptop di hadapannya, tanpa dia tahu pria itu meliriknya dari ekor mata.

“Aku harus ngomong,” gumam Djiwa pelan seraya berdiri dari kursinya, melangkah menghampiri meja kerja Radja.

Pria itu sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop, tangannya masih sibuk menekan setiap alfabet di keyboard.

“Pak ....” panggil Djiwa dengan nada pelan namun jelas di telinga Radja.

“Hm?” sahut pria itu singkat, masih fokus pada laptop.

“A-ada yang ingin saya bicarakan,” ucap Djiwa penuh kehati-hatian, sementara jantungnya berdebar sangat cepat.

Akhirnya, kali ini Radja mengalihkan tatapannya dari layar laptop.

“Apa?”

Djiwa menelan ludahnya susah payah, tak sanggup mengeluarkan kata-kata yang sudah dia siapkan sejak semalam.

“Katakan, Djiwa!” Radja buka suara, nadanya dingin dan tegas membuat gadis itu tersentak.

“Pak, saya boleh minta bantuan Bapak hari ini? Hari ini ... aja, saya janji lain kali saya gak akan minta bantuan Bapak lagi,” mohon gadis itu dengan suara lirih.

Radja menyatukan kedua tangannya di atas meja, jemarinya saling mengait, sementara tatapannya mengunci Djiwa tanpa berkedip.

“Bantuan apa itu?” suara baritonnya datar, kedua alis tebalnya saling mendekat.

Djiwa menelan ludah sebelum membuka suara. “Malam ini … sepulang kerja, saya pengen jenguk kakek di rumah sakit. Tapi, saya boleh, gak, minta bantuan Bapak untuk bilang ke keluarga kalau saya lembur?”

Tatapan Radja langsung menyipit. Ada sesuatu yang samar, antara geli dan tidak percaya melintas di matanya.

Sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak menenangkan.

“Baru satu minggu bekerja, kamu sudah berani mengajak saya untuk berbohong?” sebelah alisnya terangkat, nada suaranya sinis namun terkontrol.

“Maaf,” Djiwa menunduk lebih dalam. “Saya ... saya tidak bermaksud seperti itu, Pak. Tapi kali ini saya benar-benar merindukan kakek saya, jadi saya ingin sekali menjenguknya.”

Radja mendengus pelan, hampir seperti tawa yang tertahan namun penuh ketidaksabaran.

“Kamu pikir, hanya dengan bawa-bawa nama kakek, saya akan luluh?” kedua alis tebalnya menyatu, tatapannya menusuk dengan jelas menunjukkan ketidaksukaan.

Tapi ketika matanya menangkap raut Djiwa yang mulai merosot—bahunya menurun, bibirnya gemetar menahan cemas—ekspresi Radja berubah tipis, nyaris tak terlihat.

“Djiwa …,” suaranya merendah, tetap dingin namun lebih terkendali. Ia menghela napas panjang, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat.

“Pastikan kamu memang benar mau menemui kakek kamu.” Ucapannya tegas, mengandung peringatan halus yang sulit diartikan—antara memberi izin atau justru menantang niat gadis itu.

Djiwa segera mengangkat pandangannya, senyumnya sulit dijelaskan, antara bahagia dan getir. “Terima kasih banyak, Pak.”

_____

Malam itu, meja makan keluarga Reinard tampak penuh seperti biasa—hanya satu kursi yang tetap kosong, milik Djiwa.

Percakapan mengalir di antara Radja, Inggrit, Sultan, Fairish, Kaisar, dan Sekar tetapi tak ada satu pun yang menyebut nama Djiwa.

Hingga akhirnya, Sekar yang penasaran lantaran bertanya. “Di mana Djiwa, Kai?” tanyanya pada anak bungsunya tersebut.

“Oh, iya, Mi,” Kaisar tampak terkejut dan segera menegakkan punggungnya. “Aku lupa kabarin Mami, kalau malam ini Djiwa pulang telat karena lembur kerjanya.”

“Lembur?” Sekar mengucapkan kata itu sambil melirik ke arah putra sulungnya, Radja.

Begitu juga Inggrit dan Fairish yang tampak penasaran melirik ke arah pria itu yang begitu tenang seolah tak menyadari tiga pasang mata tengah menatap ke arahnya.

“Kalau memang lembur, lalu kenapa atasannya ada di sini?” Sekar berkata sembari bertanya pada putra sulungnya.

Radja mengangkat pandangannya, menatap Kaisar lebih dulu yang langsung menunduk ketika mata mereka bertemu.

“Hari ini memang banyak sekali pekerjaan,” kata Radja sembari menatap sang ibu. “Kinerja Djiwa juga bagus selama satu minggu ini, meski terhitung baru dan tidak punya pengalaman.”

“Dan malam ini, saya memberikan pekerjaan sekaligus ujian. Apakah dia bisa bekerja dibawah tekanan saya, yang tentunya tidak akan ada habisnya kerjaan,” jelas pria itu tenang.

Mereka yang sudah puas dengan jawaban itu, termasuk Sekar—lantas kembali melanjutkan makannya.

Sementara Kaisar akhirnya bisa bernapas lega, karena Radja benar-benar termakan akting Djiwa yang ingin bertemu dengan sang kakek.

_____

Di sisi lain, Djiwa baru saja melangkah masuk ke kamar hotel yang dipesan oleh suaminya.

Ia mendekati ranjang king–size yang tertata rapi, meletakkan tasnya di atas nakas, lalu perlahan membuka mantel coat yang membungkus tubuh mungilnya.

Di baliknya, lingerie hitam berenda yang tadi sore dengan gugup ia kenakan di kantor—lingerie yang dibeli suaminya dan diminta untuk dipakai malam ini.

Semua ini bukan keinginannya. Tapi perintah. Perintah yang tak bisa ia tolak.

“Tenang … tenang, Djiwa,” bisiknya pelan, menepuk dadanya sendiri.

Ia menggantung mantelnya, mematikan lampu utama hingga hanya lampu tidur remang yang tersisa, membuat bayangan-bayangan halus jatuh di kulitnya.

Jantungnya mulai berdentum ketika suara klik terdengar dari arah pintu.

Pegangan pintu bergerak, dan pintu itu terbuka perlahan. Siluet seorang pria masuk, namun wajahnya tak terlihat dalam gelap.

Djiwa menelan ludah keras.

“An–anda sudah datang?” suaranya bergetar, telapak tangannya dingin. “Saya … saya sudah memakai apa yang Mas Kaisar suruh. Saya sudah lakukan semuanya, sesuai permintaan suami saya.”

Pria itu tidak segera menjawab. Ia hanya melangkah maju, satu langkah, dua langkah, hingga bayangannya memenuhi ruang remang itu.

“Maaf, kalau … saya terlihat canggung. Saya ingin mengatakan, kalau saya mau melakukannya dengan keadaan lampu utama tidak dinyala—”

Lampu kamar tiba-tiba menyala.

Djiwa terbelalak.

Dadanya serasa berhenti berdetak ketika ia melihat siapa yang berdiri hanya setengah meter darinya.

“M-Mas Radja?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama
9.7
Setelah video lamaran kekasihnya, Willy, dengan sang sekretaris viral di internet, Sarah mencari penjelasan. Namun, ia justru mendengar Willy meremehkan hubungan tujuh tahun mereka demi menyelamatkan sang sekretaris dari pernikahan paksa. Sadar kesetiaannya tidak dihargai, Sarah memutuskan untuk menikah dengan pria lain di hari yang sama dengan pernikahan Willy. Saat iring-iringan mobil pengantin mereka berpapasan di jalan, Willy sangat terpukul melihat Sarah mengenakan gaun pengantin bersama pria lain.
Sampul Novel Ketika Suami Membagi Cinta
7.9
Enam tahun membina rumah tangga karena kesalahan masa lalu, Arunika Selvara harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya, Davin Albrecht, menaruh hati pada Selina. Keretakan pernikahan mereka kian nyata saat putri mereka, Mireya, mulai lebih dekat dengan Selina. Meski mencintai wanita lain, Davin menolak bercerai. Di tengah rasa sakit, Arunika memilih pasrah dan menarik diri. Namun, keputusan Arunika untuk menjauh justru menyadarkan Davin bahwa ia tidak bisa hidup tanpa istrinya.
Sampul Novel Love Escape
8.4
Impian Ghena untuk dilamar di hari jadi mereka pupus seketika saat Bastian mengakhiri hubungan 15 tahun mereka demi menuruti perjodohan keluarga. Demi menata hidup baru, Ghena memilih pindah ke Singapura dan bekerja sebagai pemandu wisata. Namun, setahun berlalu, Bastian tiba-tiba hadir kembali bersama tunangannya dan menyatakan cinta pada Ghena. Kini, Ghena dihadapkan pada pilihan sulit: tetap kuat menolak mantan kekasihnya atau goyah dan menjadi orang ketiga.
Sampul Novel Menikahi Ayahnya Setelah Terlahir Kembali
8.1
Setelah tewas mengenaskan bersama kedua anaknya akibat tabrakan maut yang disebabkan oleh suaminya yang mabuk, sang protagonis mendapatkan kesempatan kedua. Ia terbangun di masa lalu, tepat saat pria yang dicintainya dan ayah pria tersebut sedang terpengaruh obat perangsang. Di kehidupan sebelumnya, ia memilih sang pria pujaan hingga berujung pada pernikahan dingin yang penuh kebencian. Kini, ia bertekad mengubah takdirnya dengan menolong sang ayah dan memilih menjadi ibu tiri mantan suaminya.
Sampul Novel Namaku Kamilia, Tuan
9.2
Kartika terpaksa melepas Saiful, kekasihnya, demi melunasi utang sang ayah. Ia berganti nama menjadi Kamilia dan dijual seharga puluhan juta kepada Heru, seorang pria kota. Menjadi wanita simpanan membuat Kamilia kerap disiksa, hingga ia nekat kabur demi menyelamatkan diri. Kini, ia harus melewati jalan hidup yang sangat kelam dan berliku. Akankah Kamilia berhasil bebas dari dunia hitam tersebut dan bersatu kembali dengan Saiful?
Sampul Novel Tak Lagi Menua Bersama
8.1
Saat menjalani pemeriksaan bayi tabung keempatnya, Jennie justru memergoki suaminya, Erwin Sentosa, sedang mendampingi wanita hamil di rumah sakit. Padahal, Erwin mengaku sedang berada di luar kota. Demi mendapatkan pewaris keluarga, Erwin meminta Jennie memaklumi situasi tersebut dan berjanji hubungan mereka akan kembali normal setelah bayi itu lahir. Alih-alih marah, Jennie berpura-pura setuju sambil menyembunyikan hasil tesnya sendiri. Begitu hari persalinan wanita itu tiba, Jennie langsung meninggalkan surat cerai dan pergi selamanya.