APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Can You See Me?

Can You See Me?

Di balik statusnya sebagai siswi populer yang selalu ceria di SMA Grand Nusa, Rallin Natasha menyimpan kepedihan mendalam. Ia harus menanggung kebencian keluarganya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Beban hidupnya kian berat karena kehilangan sosok yang sangat berharga serta perjuangan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Di tengah penderitaan batin yang ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia luar, Rallin merasa sangat lelah dan mulai berharap bisa segera pulang ke pelukan Tuhan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kata-kata legend ketika didalam kelas diantaranya; bosen nih, jam berapa?, gue ngantuk, gue laper, mudah-mudahan guru gak masuk, emang ada ulangan sekarang?, mampus gue belum ngerjain PR, nyontek dong, punya pulpen dua gak?, lo ngerti gak?, gak paham gue, ke toilet yuk. Poin keenam yang saat ini ditanyakan oleh Nadiv ketika lelaki itu baru saja masuk ke kelas. Matanya menatap heran kepada teman-temannya yang sibuk membolak-balik buku. Mereka tampak seperti sedang belajar.

Kemudian ia melihat Rangga dan Didan sedang duduk di bangkunya. Bangku yang sangat strategis. Letaknya di pojok belakang barisan kursi guru. Sangat menguntungkan bagi siswa-siswa yang suka mencontek. Itulah mengapa Nadiv, Didan, dan Rangga memilih bangku itu. Mereka duduk dikursi tiga baris berturut dari belakang.

Nadiv menghampiri Didan dan Rangga. Kemudian ia duduk di bangkunya yang paling belakang.

"Emang ada ulangan sekarang?" tanya Nadiv.

"Makanya jangan kebanyakan ngebucin. Ada ulangan aja lo gak tau. Padahal bu Meta udah ngasih tau kemarin," ucap Didan sedikit sinis.

"Gue cuma butuh jawaban 'iya' atau 'ngga' bukannya ceramah elah," dengus Nadiv.

Didan dan Rangga hanya diam tak menanggapi. Mereka sibuk membaca buku yang ada ditangannya. Bukan membaca, hanya sekedar melihat sekilas. Karena kecil kemungkinan kalau mereka benar-benar belajar.

Tak lama berselang, bel sekolah pun berbunyi. Hal itu membuat seluruh penghuni XI IPS 1 kelabakan. Tidak sampai lima menit, bu Meta sudah masuk ke kelas itu. Tampak ia membawa tumpukan kertas HVS yang di yakini kalau itu kertas ulangan.

"Kumpulkan buku catatan kalian. Ibu mau periksa," pinta bu Meta.

Sontak Nadiv membuka matanya lebar. Ia kaget dengan ucapan bu Meta. Pasalnya baru kali ini guru itu meminta muridnya mengumpulkan buku catatan. Biasanya ketika ulangan, bu Meta akan langsung membagikan kertas. Tidak ada acara mengumpulkan catatan. Tapi kali ini? Nadiv tidak masalah jika ia memiliki catatan. Paling tidaknya dibuku sejarah itu ada tulisan sedikit.

Tapi buku sejarah Nadiv dari pertama masuk kelas sebelas sampai sekarang itu masih bersih. Masih putih tidak ada tulisan apapun selayaknya buku baru. Apalagi lelaki itu tidak pernah membawa pulang bukunya. Iya, Nadiv selalu menyimpan bukunya itu di laci mejanya. Dengan alasan lebih mudah mencarinya ketimbang dirumah.

"Mati gue. Gue gak ada catatan anjing," ucapnya pada Didan, lelaki itu duduk tepat didepan bangku Nadiv.

Didan menoleh, tampak raut wajah Nadiv yang kusut. Tidak masalah jika guru yang ia hadapi ini bu Tini atau pak Bowo. Dua guru itu selalu kalah dengan Nadiv. Tapi ini bu Meta, seluruh Grand Nusa pun tahu reputasi galak yang disandang guru itu.

"Ya mana gue tau lah. Lagian lo kalo disuruh nyatet malah molor," ucap Didan.

Memang benar, Nadiv selalu tidur atau keluar kelas ketika diberi catatan oleh guru. Katanya, ia malas mencatat karena membuat tangan pegal. Kalau tidak mau mencatat kenapa sekolah? Aneh Nadiv.

"Terus gue gimana? Mati gue kalo ketauan gak punya catatan, eh tapi lo berdua juga belum kan? Aman lah, gue ada temen," ucap Nadiv lagi sedikit tenang. Ia yakin kedua temannya juga belum mencatat. Ia ingat kalau kemarin mereka bertiga membolos pelajaran disaat bu Meta tidak masuk.

"Kalo lo nyatet sekarang, gak bakal keburu. Ini banyak soalnya. Sorry, Gue sama Rangga aja sampe jam 2 pagi nyatet ini, karena feeling gue, bu Meta bakal minta catatan. Ternyata bener kan?" ucap Didan lagi.

Ia ingat betul kemarin malam ia dan Rangga sibuk mencatat pelajaran sejarah. Mereka meminjam buku Sindi, siswi unggulan dikelas ini.

"Lo kenapa gak ajak gue bangsat!" desis Nadiv kesal karena dua sahabatnya ini tidak mengajaknya.

"Ya lo sibuk ngebucin, njing!" balas Didan tak kalah kesal.

"Tunggu apalagi? Ayo kumpulkan catatan kalian. Awas aja ya kalau kalian tidak mencatat pelajaran saya," ucap bu Meta menyipitkan matanya.

Semua siswa bergegas ke depan untuk mengumpulkan catatan. Termasuk Rangga dan Didan. Sedangkan Nadiv, lelaki itu masih diam di bangkunya. Bingung harus melakukan apa.

Bu Meta menghitung jumlah buku yang ada di mejanya. Matanya menyipit.

"Ada yang gak masuk?" tanya bu Meta.

"Masuk semua bu," jawab Ina, sekretaris IPS 1.

"Kenapa kurang satu bukunya? Siapa yang belum mengumpulkan?" tanya bu Meta lengkap dengan tatapan tajamnya.

"Saya bu!" ucap Nadiv lalu mengambil bukunya di laci.

Ia sudah pasrah kalau memang harus dihukum. Toh, mau bagaimana lagi? Lagian ia juga sudah biasa di hukum. Jadi ini bukan lagi hal yang sulit untuknya.

Nadiv melangkahkan ke depan lalu menaruh bukunya ditumpukan paling atas. Kemudian ia kembali lagi ke bangkunya. Didan dan Rangga sempat menatap Nadiv, namun lelaki itu hanya menaikkan kedua alisnya.

Bu Meta pun langsung membagikan kertas ujiannya.

"Jangan ada yang mencontek. Kerjakan sendiri-sendiri," ucap bu Meta.

Perintah yang sangat sering didengar oleh seorang pelajar. Percuma guru mengatakan hal tersebut karena pada akhirnya siswa akan tetap mencontek. Toh, yang guru mau itu nilai tinggi bukan?

Bu Meta kembali duduk dan mulai memeriksa buku catatan milik muridnya. Nadiv dapat melihat bukunya yang mulai di ambil oleh bu Meta. Bu Meta membuka lembaran buku bersampul biru itu. Nadiv menunduk, ia sedang bersiap diri untuk mendengar ceramahan panjang dan berakhir dengan hukuman.

"Nadiv!" panggil bu Meta.

Oke, siap-siap

Nadiv menegakkan kepalanya. Menatap bu Meta.

"Iya bu?" sahutnya.

"Catatan kamu lengkap, tulisannya juga rapi. Nilai A buat kamu, pertahankan Div. Sepertinya kamu sudah mulai berubah," ucap bu Meta sambil tersenyum.

Hah? Lengkap? Gue gak salah denger?

Berbeda dengan penghuni kelas lainnya. Mereka kompak menatap Nadiv tak percaya. Didan dan Rangga bahkan langsung memutar kepalanya ke belakang. Mereka tidak salah dengar? Nadiv memiliki catatan lengkap? Itu seperti terdengar aneh.

Sedangkan Nadiv, lelaki itu sedang dilanda kebingungan. Keningnya mengernyit. Catatannya lengkap? Seingatnya, ia tak pernah menulis apapun di buku itu. Jangankan menulis, membukanya saja Nadiv tidak pernah. Lalu bagaimana bisa ada catatannya disana? Lengkap pula.

Rangga mengangkat tangannya lalu menepukkan kedua tangannya. Di sambung oleh yang lainnya. Mereka turut bertepuk tangan sambil menatap Nadiv tak percaya.

"Ini namanya rekor bu, Nadiv gak pernah punya catatan selengkap itu," ucap Trisna, ketua kelas yang sengklek.

Kadang membuat guru yang masuk ke kelas ini heran. Trisna, murid sengklek tidak beda jauh dari Nadiv itu bisa jadi ketua kelas. Kan masih ada Toni, murid teladan di kelas ini yang bisa dijadikan ketua kelas.

"Maka dari itu dipertahankan. Kalau perlu tingkatkan lagi Div," ucap bu Meta.

Nadiv hanya mengangguk sambil tersenyum kikuk. Namun otaknya masih berfikir, siapa orang yang sudah menuliskan catatan untuknya.

Setelah berselang lama, bel istirahat kedua berbunyi. Semua murid bergegas mengumpulkan kertas ujiannya kepada bu Meta.

"Gak paham gue, sumpah," keluh Didan sambil menyenderkan punggungnya di tembok, duduknya menyamping.

"Gue malah silangnya urutan, A B C D gitu sampe selesai," sahut Rangga.

"Eh gila lo," ucap Didan terkejut.

"Kali aja hoki," ucap Rangga.

"Gue malah A semua," ucap Nadiv sambil tersenyum miring.

"Kerad anjing!" umpat Rangga sambil tertawa mendengar ucapan Nadiv.

"Nih buku kalian," ucap Ina sambil memberikan tiga buku kepada Rangga.

Nadiv langsung mengambil bukunya dari tangan Rangga.

"Gue kepo siapa orang yang udah nulisin gue," ucapnya sambil membuka bukunya.

Di tatapnya intens tulisan yang ada dibukunya. Tulisannya kecil, rapi, dan tidak banyak coretan. Mulus. Tapi ini bukan tulisan Adelia, gadis yang tadi diduganya telah menuliskan catatan untuknya. Tulisan Adelia tidak serapi ini. Nadiv tahu itu.

"Ini bukan tulisan Adelia, " ucap Nadiv membuat kedua sahabatnya kompak menatapnya.

"Coba gue liat," ucap Didan merebut buku Nadiv.

Ia menatap lama tulisan itu. Kemudian matanya membulat. Ia tahu siapa pemilik tulisan dengan model seperti itu.

"Gue tau," ucap Didan.

"Siapa?," tanya Nadiv dan Rangga bersamaan.

"Rallin Natasha!"

***

Rallin dan Maudi berjalan menuju ruang studio bandnya. Rallin memang memegang kuasa atas studio itu. Apalagi dia anak band sekolah. Ia adalah vokalisnya. Sedangkan Maudi, gadis itu lebih tertarik untuk ikut marching band. Dan beruntungnya gadis itu yang ditunjuk sebagai mayoretnya.

Rallin masuk, disana sudah ada Bagas, Reza, dan juga Gandi. Mereka adalah anggota band sekolah juga. Rallin memangku gitar yang dibawanya. Memang sudah kebiasaan rutin setiap istirahat kedua, mereka kumpul disini.

Tampak Gandi sedang memainkan gitarnya. Tidak tahu lagu apa, tapi yang jelas nadanya lembut dan enak didengar.

"Jangan genjreng-genjreng doang dong. Suaranya mana nih," ucap Bagas.

"Vokalisnya dong nyumbang suara," ucap Reza.

"Lo semua udah sering denger suara gue," ucap Rallin sambil tersenyum.

"Senyum lo manis Lin, sumpah. Kenapa sih gak ngejar gue aja daripada Nadiv," ucap Gandi.

Bukan rahasia lagi kalau Gandi juga menyukai Rallin, hanya saja Rallin tidak pernah meresponnya. Ia hanya menganggap Gandi sebagai teman. Tidak lebih.

"Gue udah kepincut sama Nadiv, gimana dong?" ucap Rallin sambil terkekeh pelan. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. Memejamkan mata. Jujur, saat ini ia mengantuk sekali karena harus begadang tadi malam.

"Anda belum beruntung. Silahkan coba lagi," ucap Reza sambil menepuk bahu Gandi.

"Lo kira Ale-Ale," sahut Bagas yang membuat semuanya tertawa.

"Gue mah sama Maudi aja, iya gak Di?" ucap Bagas sambil menaik turunkan kedua alisnya.

"Masa mayoret cantik kayak gue dapetnya pengeran kodok?" seloroh Maudi.

"Pangeran kodok kalo di cium jadi pangeran ganteng Di. Coba deh lo cium gue, kali aja gue jadi ganteng," ucap Bagas lagi.

Sebenarnya Bagas ini tampan. Lengkap dengan kulit hitam manisnya khas orang jawa. Di tambah dengan dua lesung pipi yang membuatnya terlihat mirip dengan artis Ryan Delon.

"Modus lo basi njing!" umpat Reza sambil menonyor kepala Bagas.

Semua tertawa, sampai akhirnya sebuah suara menginterupsi Rallin.

"Rallin?"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Memberi Ampun: Mantan yang Berlutut
9.6
Grace Bennett menyaksikan sendiri pengkhianatan Adrian Carter di mobil mereka. Bukannya meminta maaf, sang suami justru meremehkan pernikahan kontrak mereka. Tak tinggal diam, Grace membalas dengan membekukan bisnis bernilai miliaran dolar milik Adrian dan menceraikannya secara terbuka. Meski Adrian memohon sambil berlutut, Grace tetap pergi bersama Ethan, putranya. Ia melangkah ke masa depan bersama pria lain dan mengabaikan sang mantan.
Sampul Novel Cincin Dendam : Janji di Balik Rahasia
9.4
Akibat cemburu, Lara tak sengaja merusak hubungan adiknya dengan Leon, menyeretnya ke dalam rahasia kelam keluarga Ariatama Marten. Leon yang menyimpan rencana tersendiri justru menawarkan pernikahan kontrak demi membalas pengkhianatan itu. Demi menjaga nama baik keluarga dan perasaan cintanya yang tersembunyi, Lara pun menerima tawaran tersebut. Akankah pernikahan tanpa cinta ini menumbuhkan rasa sejati, atau justru membongkar luka lama serta misteri berbahaya yang mengancam mereka?
Sampul Novel Dendam Cinta Sang Miliarder
9.4
Sagara Tyson Murphy dirundung duka mendalam setelah kematian tragis tunangannya, Janessa. Ia meluapkan kemarahannya pada Aluna Jaylee Morris, sosok yang dituding bertanggung jawab atas kecelakaan maut tersebut. Tak rela melihat Luna hidup bebas, Saga memaksanya menikah demi membalas dendam secara langsung. Demi melindungi orang-orang tercinta, Luna rela menanggung segala siksaan Saga. Namun, akankah kebencian Saga goyah saat tabir kebenaran perlahan mulai tersingkap?
Sampul Novel Pembalasan Silvia
9.7
Silvia hancur saat tahu tunangannya berselingkuh dengan adik tirinya demi menguasai hartanya. Dipicu rasa sakit hati yang mendalam, ia merancang pembalasan dendam yang rapi. Silvia sengaja membiarkan kedua pengkhianat itu menikmati kebahagiaan palsu sebelum akhirnya menghancurkan mereka tanpa ampun. Ia bersumpah akan menyeret mereka ke dalam penderitaan yang begitu hebat, memastikan keduanya jatuh miskin dan tidak akan pernah bisa bangkit lagi.
Sampul Novel Perangkap Cinta Tuan CEO
8.8
Rafael Valentino bertekad membalas dendam setelah dikhianati oleh Edgar Marvelo yang membawa kabur dana perusahaannya. Karena sang pelaku menghilang, Rafael melimpahkan amarahnya kepada Aurora, putri Edgar yang baru kembali dari Paris. Gadis tak bersalah ini dipaksa menebus kesalahan ayahnya hingga kehilangan kebebasan. Terperangkap dalam jerat sang CEO yang kejam, mampukah kebencian dan kepedihan di antara mereka berubah menjadi cinta?
Sampul Novel Sopir Itu Suamiku (Suamiku Sopir Yang Ternyata Kaya)
8.3
Ahmad Jaelani, seorang sopir pribadi, terpaksa menikahi anak bosnya yang merupakan desainer terkenal bernama Mona yang sedang hamil. Perbedaan kasta membuat Ahmad selalu direndahkan oleh Mona dan juga mantan pacarnya, Brian. Namun, takdir berubah ketika ayah kandung Ahmad tiba-tiba datang dan mengungkap identitas aslinya. Siapakah Ahmad yang sebenarnya? Bisakah kehadiran sang ayah menumbuhkan benih cinta sejati di antara Ahmad dan Mona dalam pernikahan mereka?