APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Camelia Sinesis

Camelia Sinesis

Pertemuan Jean dan Camila pada tahun 1941 membawa kehangatan baru bagi Jean, seorang mantan narapidana kasus pembunuhan. Camila, janda dari pria Belanda, menerima kehadiran Jean dengan tulus hingga pria itu merasa dihargai lagi. Namun, sebuah rahasia gelap tersimpan rapat: korban pembunuhan Jean sebenarnya adalah mantan suami Camila. Ketika kebenaran akhirnya terkuak, segalanya telah berubah rumit. Jean terlanjur mencintai Camila, sementara Camila telanjur menganggap Jean sebagai figur ayah terbaik bagi anak-anaknya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Dicari seorang suami

Membutuhkan seorang pria sehat dengan umur berapa saja.

Bersedia mencari nafkah dan berbagi tempat tinggal.

Temui Camelia, di perkebunan ujung—

Dia melihat catatan yang dia salin. Meski Jean tahu bahwa wanita yang disebut sebagai janda gila itu barangkali belum tentu mau menerimanya. Tapi paling tidak Jean ingin sedikit lebih berusaha untuk membuat kesan yang cukup baik pada pandangan pertama. Setidaknya dia diberi kesempatan untuk dipertimbangkan sebelum langsung dibuang begitu saja seperti sampah tak layak lantaran dirinya hanyalah seorang mantan narapidana.

Dia sudah berada di lokasi yang sesuai dengan salinan catatannya, dan sekarang pria itu malah diam memandangi rumah kecil yang termaram dengan lampu minyak seadanya. Tempat itu, bukan sebuah rumah megah yang dia bayangkan layaknya rumah sang tuan tanah ditempat dimana Jena dulu pernah bekerja. Rumahnya benar-benar sangat berantakan. Kotoran ayam tercecer disembarang tempat, timbunan rongsokan yang berkarat, dan rumput liar yang menjulang tinggi membuat penampilan rumah itu jauh dari kaya layak huni. Bahkan tidak jauh dari sana ada seekor sapi yang sedang mengunyah rumput yang diletakan dibagian beranda belakang rumah. Kandangnya nyaris roboh karena kayu yang lapuk. Apa benar ini tempatnya?

Niatan hatinya untuk melanjutkan ini sedikit gamang, tapi pada akhirnya pria itu memilih untuk menunggu setelah mengetuk sekali.

Tak lama seorang wanita muncul dari balik ambang pintu, dia terlihat menggendong seorang anak berusia dua tahun di pinggulnya tapi yang menarik adalah warna rambut anaknya berwarna pirang dan bermata biru. Tidak seperti si wanita yang benar-benar cantik sederhana seperti wanita pasundan pada umumnya. Wanita itu bertelanjang kaki, mengenakan kain sarung yang sudah memudar dengan kelinan ujungnya yang telah terlepas, kebaya yang dia kenakan sesungguhnya berwarna putih tapi agak kuning di beberapa sisi barangkali karena air yang dia gunakan untuk membasuh. Intinya seluruh penampilannya sama berantakan dengan rumah dan juga pekarangannya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu dengan suara datar dan begitu hati-hati seraya mengamati pria muda tinggi bertopi lusuh yang berdiri di depan pintu rumahnya.

“Saya mencari rumah seorang mantan nyai bernama Camelia.”

“Kamu sudah menemukannya.”

“Saya datang setelah melihat selebaran yang di tempel di perkampungan.”

Wanita berambut hitam tersebut mengangkat bayinya lebih tinggi dipinggul. Dia menyipitkan mata agar semakin jelas melihat kearah Jean. Dari gerak geriknya seperti wanita itu sedang berusaha menjaga jarak dari orang asing yang tiba-tiba mendatangi rumahnya dan itu adalah hal yang wajar sekali.

Lagipula jika dilihat baik-baik penampilan Jean memang jauh dari kata pertimbangan dan mencurigakan. Mengenakan topi lusuh yang dia gunakan menutupi warna rambutnya, dengan kemeja lusuh yang penuh keringat serta celana hitam yang kependekan beberapa inchi sehingga terlihat menggantung di kakinya yang jenjang, di padukan dengan sepatu bot-nya yang sudah koyak.

Kokokan ayam yang melompat mendapat pengabaian. Wanita itu kemudian menaruh bayi yang dia gendong agar berdiri bersembunyi di balik rok sarungnya.

“Kamu berniat melamar saya?” tanya si wanita yang namanya tertulis dikoran sebagai Camelia. Dia terlihat sangat terang-terangan dengan senyuman polos diwajahnya. Dia memang membutuhkan seorang patner untuk bekerja mengurus beberapa hal yang telah kacau semenjak suaminya meninggal, juga menjaga dia dan bayi yang berada di dalam kandungannya. Perkawinan romantis seperti kisah romansa klasik penuh cinta bagi Camelia hanya ada di dalam negeri dongeng.

“Ya, saya rasa begitu.”

“Tapi saya mencari seorang seseorang yang siap dan bertanggung jawab penuh.”

“Saya siap.”

“Disini kami tinggal berdua, dan sebentar lagi akan menjadi bertiga,” terang Camelia agak gugup.

“Saya tahu.”

“Kamu masih tertarik?” tanya Camelia tidak percaya. “Maksud saya ….” Camelia kehabisan kata-kata dan hanya dapat merentangkan kedua tangannya di udara seolah menunjukan ketidakberdayaannya. Ada banyak kekacauan di rumah itu, seperti sampah yang menggunung dan berterbaran dimanapun juga beberapa kotoran dari hewan ternaknya yang tidak terurus.

Selama ini Camelia memang sudah sangat terbiasa dianggap sebagai aneh dan gila. Dia tidak lagi menaruh harapan tinggi, karena sejak kekayaannya berangsur habis dia mulai terbiasa untuk kecewa dan dikecewakan. Sejak memasang iklan, sudah terhitung banyak orang yang datang kekediamannya hanya sekadar untuk menuntaskan rasa ingin tahu dan penasaran saja. Bukan untuk benar-benar memutuskan menikahinya. Mereka datang hanya untuk mencemooh dan tertawa atas nasib buruk yang harus dia rasakan di usia yang masih muda. Semua orang bilang dia hanyalah seorang janda gila yang kesepian yang membutuhkan belaian bule untuk memuaskan hasrat.

“Saya rasa begitu. Banyak hal yang sepertinya membutuhkan banyak perbaikan ditempat ini,” ujar Jean seraya mengangkat bahu.

Sama seperti Camelia, Jean seyogyanya juga tidak mau terlalu banyak berharap. Dia sudah terlanjur dibayangi oleh kata kecewa. Sudah terlalu banyak pengalaman pahit dihidupnya, mungkin akan jadi bertambah dengan dia yang ditolak oleh orang gila. Jadi untuk alasan apapun dia bahkan tidak berani berharap bahwa wanita ini mau menerimanya begitu saja.

“Kalau begitu bisa tolong buka topinya? Saya tidak suka bicara dengan orang yang tidak bisa saya lihat wajahnya dengan jelas.”

Sejujurnya Jean tidak suka melepas topinya. Sejak keluar dari penjara dua tahun lalu hanya topi lusuh ini saja yang menjadi penutup dirinya dari dunia luar atas identitas aslinya sebagai orang belanda. Tanpa topi itu, Jean merasa telanjang.

Tapi untuk mendapatkan penilaian terbaik, Jean secara sukarela membuang ketakutannya dan membiarkan wajahnya terekspos bebas oleh si wanita.

Camelia sendiri langsung mengamati wajah Jean dengan lebih seksama. Pria itu… sangat tampan. Fitur wajahnya tidur dengan hidung tinggi yang mancung khas orang Belanda. Rahangnya terlihat tegas dan kokoh. Suaranya tenang dan datar dengan mata biru kelabu agak gelap yang terlihat menyembunyikan sebuah kabut kepahitan akan arti kehidupan. Meski begitu definisi yang tepat untuk kedua mata itu adalah cantik. Bibir tamunya tidak tersenyum, tapi bentuknya terbilang indah melengkung keatas. Anehnya Camelia menyukai kehangatan yang tersembunyi dibaliknya. Surai pirangnya terlihat acak-acakan seperti anjing pengembala, membuat Camelia sedikit gatal ingin mengelus tiap helaiannya.

“Kamu sepertinya harus memotong beberapa bagian dari rambutmu sedikit,” komentar Camelia dengan suara yang melembut.

“Iya Nyai…”

“Camelia. Nama saya Camelia. Kamu sendiri sudah lihat di koran bukan?”

“Ya. Dan nama saya Johannes tapi saya lebih suka di panggil Jean.”

Camelia tahu bahwa Jean bukan tipe pria yang senang banyak bicara seperti seperti mendiang suaminya dahulu. Karena itu melihat Jean yang tetap diam, akhirnya Camelia kembali memutuskan untuk memulai pembicaraan lagi dengan pemuda itu. “Sudah dua bulan lamanya saya memasang iklan di koran. Dan kamu adalah pemuda yang cukup bodoh untuk menjawab iklan itu. Maaf sebelumnya saya sudah salah mengira bahwa kamu adalah orang yang hendak menghina saya seperti biasa. Karena biasanya memang yang datang selalu pria dan mereka kemari hanya untuk menghina saya saja yang sudah tidak lagi berjaya dan kehilangan suami,” jelas Camelia dengan nada pahit yang tidak bisa disembunyikan. “Tapi, saya tidak menyalahkan mereka. Wajar saja bila mereka menganggap saya gila karena saya hancur tepat setelah suami saya meninggal. Sudah resiko saya sebetulnya, sebagai nyai yang ditinggal mati suami situasi saya menjadi ambigu secara hukum dan sosial dan orang men-cap saya sebagai perempuan rendahan. Saya justru heran mengapa kamu belum lari terbirit-birit seperti para tamu saya sebelumnya, Tuan Jean.” Seuntai senyum sedih bermain disudut bibir Camelia.

Jean mengamati wajah polos wanita itu lagi. Dia masih muda, dan cantik. Hanya saja kepahitan hidup yang sudah dia jalani membuat wanita itu jadi terlihat lebih tua dari usia aslinya. Anehnya Jean merasa bagian dari dirinya agak tersentuh, sudah lama sekali dia tidak mendengar ada orang memanggilnya dengan sebutan Tuan selayaknya panggilan yang memang diperuntukan untuk para orang Belanda yang hidup menetap di tanah jawa sebagai penguasa.

“Sebenarnya bukan saya yang harus lari terbirit-birit sekarang, Jika kamu tahu tentang siapa saya sebenarnya. Sebetulnya saya adalah seorang mantan narapidana. Saya pernah membunuh orang belanda di rumah bordil dan dipenjara selama sepuluh tahun,” terang Jean jujur.

Jadi apa yang akan wanita itu lakukan sekarang?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel  Aku sangat menginginkanmu
8.7
Sebuah kecelakaan tragis menyeret Ana ke dalam ingatan masa lalu yang rumit bersama suaminya, Sebastián, dan cinta lamanya, Gabriel. Alur waktu yang berliku mengungkap kebohongan pernikahan serta perselingkuhan berbahaya yang selama ini tertutupi. Di tengah konspirasi keluarga dan pengkhianatan yang menyakitkan, Ana kini harus memilih antara cinta masa lalu atau menuntut balas dendam. Akankah ia meraih penebusan, atau justru hancur oleh rahasia gelap yang tersingkap?
Sampul Novel Anak Durhaka Dibutakan Nafsu
8.4
Saat ibu mertuanya sekarat akibat kecelakaan, sang istri berulang kali menghubungi suaminya yang berprofesi sebagai pengacara. Namun, pria itu menolak membantu dan menuduhnya berbohong demi uang, karena sibuk mengurusi mantan kekasihnya. Setelah sang ibu meninggal, sang suami justru menjadi pembela yang membebaskan pelaku tabrak lari tersebut di pengadilan, tanpa menyadari korban tewas adalah ibunya sendiri. Kecewa berat, sang istri langsung melayangkan gugatan cerai.
Sampul Novel CINTA YANG RETAK
9.7
Setelah sekian lama menikah, seorang istri berhasil membongkar skandal perselingkuhan suaminya yang rapi tersimpan. Namun, tepat ketika ia hendak melangkah pergi demi menyudahi pernikahan mereka, sebuah fakta tak terduga terungkap. Pengkhianatan pedih itu rupanya menyimpan motif yang jauh lebih kelam dan rumit dari sekadar asmara gelap. Kini, ia terseret dalam lingkaran misteri besar yang menguji batas antara rasa benci dan kebenaran yang sebenarnya.
Sampul Novel Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku
8.1
Di hari pernikahan mereka, Bradley tega mengurung Beatrice di ruang bawah tanah yang gelap selama sepuluh hari hingga tewas membusuk. Tragisnya, Bradley justru menikahi Michelle dan memfitnah Beatrice berselingkuh, memicu serangan jantung fatal yang merenggut nyawa ibu Beatrice. Pria itu mengabaikan semua permohonan Beatrice demi membela sahabat masa kecilnya. Namun, saat Bradley akhirnya menemukan jasad Beatrice yang mengenaskan, penyesalan mendalam perlahan menyeretnya ke dalam kegilaan.
Sampul Novel Ketika Suamiku Tak Mencintaiku Lagi
8.2
Pasca kecelakaan tragis yang membutakannya selama empat tahun, Bella akhirnya menjalani operasi pembukaan perban mata. Di usianya yang menginjak dua puluh tujuh tahun, ia sangat mendambakan untuk kembali melihat dunia, terutama wajah Galas, sang suami tercinta. Namun, kebahagiaan Bella langsung sirna dan berganti menjadi kebingungan yang mendalam. Tepat ketika penglihatannya telah kembali pulih, sosok suaminya justru lenyap secara misterius tanpa jejak.
Sampul Novel Penyesalan Ibu Setelah Aku Tiada
8.5
Sejak tragedi masa kecil yang menewaskan sang kakak saat mereka membolos sekolah, kehidupan protagonis berubah menjadi neraka. Sang ibu menaruh kebencian mendalam dan menuduhnya sebagai penyebab kematian tersebut. Selain diperlakukan layaknya pembantu, posisinya digantikan oleh seorang anak angkat. Puncaknya, sang ibu menuntut donor ginjal demi anak adopsi tersebut. Memilih menyerah pada ketidakadilan ini, ia memberikan nyawanya, menyisakan penyesalan tak berujung bagi sang ibu yang terlambat menyadari kebenaran.