APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cahaya yang Tertunda

Cahaya yang Tertunda

Usai masa nifas, Winda Baskoro mengunjungi Dinas Kependudukan untuk memasukkan bayinya, Alex Harto, ke kartu keluarga. Namun, petugas mengungkap bahwa nama Alex Harto telah terdaftar di bawah nama suaminya, Tama Harto. Saat Winda kebingungan, sebuah pesan masuk dari asisten suaminya, Sania Marsudi. Foto itu menampilkan Tama yang merangkul Sania dan menggendong bocah berusia lima tahun di depan TK, lengkap dengan papan nama bertuliskan Alex Harto.
Bab
Bagikan

Bab 8

"Kenapa kamu selalu memukul orang!"

Sania mengangkat tangan hendak membalas, tetapi pergelangannya digenggam erat oleh Tama.

"Cukup." Dia melepaskan tangan Sania, lalu menoleh ke arah Winda dengan tatapan penuh kekecewaan. "Winda, kenapa kamu sekarang jadi seperti ini?"

"Ayo kita keluar dulu, biar dia tenang."

Tama menarik Alex yang masih menangis, sambil setengah mendorong setengah menyeret Sania keluar.

Begitu pintu tertutup, ketegangan Winda seketika runtuh. Dia terduduk bersandar di dinding. Air matanya mengalir deras, bercampur getir di sudut bibir, terasa asin dan perih.

Ponselnya berbunyi dan layar menyala. Itu adalah pesan notifikasi bahwa transfer dana hasil penjualan saham sudah masuk.

Winda buru-buru menyeka air mata, lalu menepuk pelan anak perempuannya yang terisak di pelukan. Kilatan penuh tekad terpancar dari matanya.

Besok, mereka bisa benar-benar meninggalkan situasi sulit ini.

Sepanjang malam, dia mengatur pengasuh dan menghapus semua jejak keberadaan mereka. Begitu fajar menyingsing, dia sudah menggendong putrinya naik ke taksi yang telah dipesan sebelumnya.

"Pak, ke bandara."

"Baik," jawab sopir dengan sigap.

Winda menelepon orang yang akan menjemputnya. "Maaf sudah menunggu lama, kami sedang menuju ke sana."

Suara di seberang telepon terdengar hangat dan menenangkan seperti matahari pagi. "Nggak usah buru-buru. Hati-hati di jalan."

Rasa hangat baru saja menyelimuti hatinya, saat aroma eter yang menyengat tiba-tiba menyeruak ke hidungnya.

Dia mendongak tiba-tiba. Di kaca spion, sorot mata pengemudi itu tajam bagai pisau beracun, menatap ke arah bayi dalam pelukannya.

Sebelum kesadarannya hilang, Winda mengerahkan seluruh tenaga untuk memeluk Lina lebih erat.

Begitu membuka mata, mobil sudah berhenti di depan pabrik tua yang terbengkalai di pinggiran kota.

Di tanah kosong yang dipenuhi rumput liar, Tama sedang menelepon dengan membelakangi Winda, menggendong Lina.

Bayi mungil itu dibungkus dengan jasnya, wajah kecilnya berkerut.

"Orangnya sudah sampai. Lakukan sesuai rencana."

Dia menutup telepon dan berbalik. Melihat Winda sudah sadar, keningnya berkerut lebih dalam. "Sudah sadar? Bagus, jadi aku nggak perlu menjelaskannya lagi."

Pergelangan tangan Winda terikat tali tambang kasar sampai meninggalkan bekas merah. Dia berusaha bangkit dengan susah payah. "Tama, apa yang kamu inginkan sebenarnya? Lepaskan putriku!"

"Alex diculik."

Suara Tama terdengar dingin. "Para penculik meminta anak kandungku, tapi mereka salah orang, mengira Alex adalah satu-satunya anakku."

"Jadi, kamu ingin menukarnya dengan Lina?"

Suara Winda tiba-tiba meninggi, darahnya mendidih. "Dia baru sebulan! Dia punya gangguan pembekuan darah bawaan! Gigitan nyamuk saja bisa berbahaya baginya, apa kamu gila?!"

"Ini satu-satunya cara." Tama menghindari pandangannya. "Mereka bilang mereka harus melihat anaknya langsung baru mau melepasnya. Alex sudah enam tahun, sudah mengingat banyak hal. Penculikan ini bisa menghancurkan hidupnya selamanya."

"Terus, bagaimana dengan Lina?"

Winda menerjang, berusaha merebut bayinya, tetapi Tama menghindar dengan gesit.

"Dia masih kecil, belum paham apa-apa dan pasti nggak akan trauma."

Nada suaranya terdengar sangat tenang.

Pada saat itu, Sania berlari sambil menangis dengan rambut berantakan dan riasannya juga luntur. "Tama! Para penculik menelepon lagi. Katanya kalau masih nggak melihat anak itu, mereka… mereka akan membunuhnya!"

Dia melirik Winda yang ada di tanah, lalu tiba-tiba berlutut dan membenturkan kepalanya ke tanah berulang kali.

"Nona Winda, aku mohon padamu! Kali ini saja! Biarkan Lina dijadikan tebusan untuk mengembalikan Alex. Aku akan melakukan apa saja untukmu!"

"Pergi!" Winda menendangnya dengan marah, api menyala di matanya. "Anakmu diculik karena kamu sendiri nggak menjaganya dengan baik. Kenapa harus memakai nyawa putriku untuk menebus kesalahanmu?!"

"Winda, aku mohon." Tama tiba-tiba berjongkok, nadanya melunak. "Alex itu nggak bersalah. Setelah Alex kembali, aku pasti akan cari cara menyelamatkan putri kita. Kita… bisa kembali seperti dulu, oke?"

Winda menatap wajahnya yang munafik, lalu tiba-tiba tertawa, tetapi air matanya berlinang.

"Seperti dulu? Mengorbankan putriku demi menyelamatkan anak harammu, lalu aku harus hidup bahagia denganmu, sang algojo?"

"Tama, kamu sebenarnya menganggapku apa?"

Dari dalam gudang terdengar teriakan tangis Alex yang menyayat hati. "Ayah! Aku takut!"

Ekspresi Tama menjadi muram. Dia menggendong Lina dan hendak berjalan masuk ke gudang.

Winda menyerbu seperti orang gila, dengan tangan terikat memeluk kaki Tama erat-erat. "Tama! Jangan coba-coba menyentuh putriku! Kalau mau menebusnya, pergilah sendiri! Bukankah kamu ayahnya? Kamu saja yang menebusnya!"

"Jangan buat keributan!" Tama menendangnya dengan jengkel. "Alex itu laki-laki, satu-satunya pewaris Keluarga Harto. Dia nggak boleh kenapa-kenapa!"

"Terus, Lina bukan putrimu?!"

Jari-jemari Winda mencengkeram celana pria itu, suaranya serak saat berujar, "Dia juga anak kandungmu! Bagaimana bisa kamu sekejam ini?!"

Langkah Tama terhenti sebentar. Dia menoleh menatap mata Winda yang merah dan sembab, jakunnya bergerak naik turun.

"Maaf."

Namun, detik berikutnya, sebuah jarum suntik tiba-tiba menusuk lehernya.

"Ini cuma obat bius dosis kecil. Saat kamu terbangun nanti, aku jamin… putri kita nggak akan terluka."

Usai berkata demikian, dia berbalik dan melangkah pergi, selangkah demi selangkah, menuju ke arah gudang.

Winda hanya bisa menatap punggungnya yang menggendong putrinya. Dia ingin mencegahnya, tetapi bahkan mengangkat jari pun sudah tak sanggup.

Efek obatnya mulai bereaksi, pandangannya berkunang-kunang.

Di tengah kesadarannya yang memudar, samar-samar dia melihat sosok Tama menghilang ke balik gudang, sementara bayi di pelukannya menangis lirih.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta satu malam dengan boss
9.0
Seorang wanita terkejut saat bos miliardernya mengajukan penawaran tak biasa. Tanpa dilandasi cinta, pria berkuasa yang dikelilingi banyak wanita itu secara dingin menegaskan bahwa dia hanya menginginkan tubuhnya demi kepuasan fisik semata. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit dalam hubungan tanpa status yang murni transaksional ini, terus mempertanyakan alasan di balik keputusan sang bos memilih dirinya sebagai pemuas hasrat pribadi.
Sampul Novel Kelakuan Papa Mertua
9.6
Hidup Riana berubah drastis setelah ia dipaksa memikul akibat dari kecerobohan papa mertuanya. Situasi kian membingungkan saat ia menyadari sikap mencurigakan orang tuanya sendiri, yang tampak menyetujui masalah tersebut. Riana pun terjebak dalam misteri besar mengenai motif asli di balik tindakan mereka. Apakah ada konspirasi tersembunyi yang sengaja dirancang untuk menjatuhkannya? Kini, ia harus berjuang mengungkap kebenaran di balik semua drama ini.
Sampul Novel Ke(m)bali Mengejar Cinta Pelangi
8.3
Sebuah peristiwa tak terduga menghubungkan takdir Laskar dan Pelangi, walaupun penolakan demi penolakan terus terjadi. Pelangi sadar perasaan ini sulit bersatu karena Laskar telah bertunangan dengan Natalia. Di tengah kebimbangan, apakah tautan misterius ini sanggup mendekatkan mereka atau malah memisahkan keduanya selamanya? Meski Pelangi mencoba ikhlas untuk merelakan Laskar pergi, batinnya tetap tidak mampu berbohong bahwa melepaskannya adalah hal yang sangat berat.
Sampul Novel Kutukan Cinta Sang CEO
9.7
Khaidar Wijaya hidup dalam bayang-bayang kutukan mematikan: orang yang mencintainya dengan tulus akan celaka hingga tewas. Usai kehilangan orang tuanya, ia memilih mengisolasi diri. Namun, demi mengabulkan keinginan terakhir neneknya yang sekarat, Khaidar terpaksa menikahi Viona, mantan teman sekolah yang sangat membencinya. Pernikahan tanpa cinta ini menjadi satu-satunya jalan. Mampukah Viona bertahan tanpa rasa cinta, atau ia akan menjadi korban kutukan maut berikutnya?
Sampul Novel Pesona Pelayanku
9.4
Kehidupan Mayumi berbalik 180 derajat sejak menginjakkan kaki di negara asal sang ayah. Akibat dikhianati oleh ayahnya sendiri, ia dan ibunya harus berjuang mati-matian demi bertahan hidup di negeri asing. Keadaan yang mendesak memaksa Mayumi menerima pekerjaan sebagai pelayan seorang pria sombong yang egois. Namun, di balik kemegahan rumah sang majikan, ia justru perlahan mengungkap tumpukan dusta besar yang selama ini tersimpan rapi di dalam kediaman penuh misteri tersebut.
Sampul Novel Warisan Sang Monster
9.6
Bosan dengan kekayaannya, triliuner Alexander Volkov memilih menyamar sebagai tunawisma. Di jalanan, ia bertemu Elara, seorang ibu tunggal miskin yang dibuang keluarganya demi mengobati sang putri yang sakit keras. Kebaikan Elara yang tulus berbagi makanan menyentuh hati Alexander. Saat Elara terancam kehilangan hak asuh anaknya, Alexander membongkar identitas aslinya. Ia siap menolong, asalkan Elara bersedia menjadi kekasihnya dan menyerahkan satu malam bersamanya.