APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cahaya yang Tertunda

Cahaya yang Tertunda

Usai masa nifas, Winda Baskoro mengunjungi Dinas Kependudukan untuk memasukkan bayinya, Alex Harto, ke kartu keluarga. Namun, petugas mengungkap bahwa nama Alex Harto telah terdaftar di bawah nama suaminya, Tama Harto. Saat Winda kebingungan, sebuah pesan masuk dari asisten suaminya, Sania Marsudi. Foto itu menampilkan Tama yang merangkul Sania dan menggendong bocah berusia lima tahun di depan TK, lengkap dengan papan nama bertuliskan Alex Harto.
Bab
Bagikan

Bab 5

Saat ini Tama tidak ada di tempat, jadi Sania pun malas berpura-pura lagi. Raut wajahnya memancarkan keangkuhan.

"Kenapa begitu? Apa kamu buta? Anakku terluka parah!"

"Lututnya cuma lecet sedikit, tapi anakku punya gangguan pembekuan darah. Kalau terus ditunda, nyawanya bisa melayang!"

Winda bicara dengan suara nyaris menangis.

Mendengar suara ribut, dokter yang ada di luar pun masuk. Suaranya terdengar ragu-ragu saat bertanya, "Ada apa ini? Kalau stok darah masih cukup, apa bisa dibagi sedikit untuk anak ibu ini?"

Winda seperti menemukan secercah harapan. Dia buru-buru mendongak menatap dokter itu, suaranya gemetar tak terkendali.

"Tolong, Dokter! Putriku sangat butuh darah RH negatif sekarang. Kalau terus ditunda…"

"Dokter." Sania mencibir, langsung menyela sambil melirik sinis. "Suamiku adalah pemegang saham besar di rumah sakit ini. Kamu pasti tahu 'kan?"

"Barusan dia sudah bilang kalau semua darah RH negatif harus diprioritaskan untuk anakku. Apa kamu sudah nggak butuh pekerjaanmu lagi?"

Perkataan itu membuat Winda benar-benar hancur.

Dia tiba-tiba menerjang ke depan, meraih kantong darah merah segar yang tergantung di tiang infus.

"Berani-beraninya kamu merebut darah anakku!"

Sania menjerit sambil mengentakkan kaki. "Satpam! Cepat panggil satpam! Perempuan gila ini mau merampas darah penyelamat anakku!"

Tak lama, beberapa satpam datang dan langsung membekuk tangan Winda.

Melihat itu, Sania seperti merak yang memamerkan bulunya. Dia buru-buru merebut kembali kantong darah itu, lalu berteriak pada satpam, "Perempuan jalang ini mencuri darah penyelamat anakku! Cepat seret dia pergi dari sini!"

Winda diseret keluar dari ruang perawatan. Amarah di dadanya begitu membara, hampir membakar tenggorokannya.

"Darah di rumah sakit ini sebenarnya cukup, tapi dia sengaja ingin memonopoli semuanya! Aku akan telepon Tama sekarang!"

Direktur rumah sakit yang kebetulan mendengar kalimat itu langsung mengerutkan kening. "Tunggu, sebenarnya siapa di antara kalian yang merupakan istri Pak Tama?"

Detik berikutnya, Sania mengangkat ponselnya, memperlihatkan akta nikah digital di depan direktur.

"Lihat baik-baik! Akulah istri sah Pak Tama, tercatat di Kantor Catatan Sipil! Putraku, Alex, adalah anak kandungnya!"

Dari sudut matanya, dia menyapu Winda dengan tatapan penuh kebencian. "Sedangkan anak perempuannya itu cuma anak haram yang nggak bisa diakui di depan umum."

Begitu kata-kata itu terucap, para pasien yang lewat di lorong langsung berkerumun. Suara bisik-bisik mereka menusuk seperti jarum.

"Astaga, selingkuhan bisa segini sombongnya? Masih berani berebut darah anak dari istri sah?"

"Putri dari orang semacam itu mending mati saja!"

Hati Winda seperti diremas. Membayangkan wajah pucat putrinya di ruang gawat darurat, lututnya lemas dan tanpa sadar dia berlutut di depan Sania.

"Aku mohon. Selamatkan anakku…"

Bisikan di sekitar seketika berhenti, semua mata tertuju pada adegan yang tidak masuk akal ini.

Namun, Sania bahkan tak melirik sedikit pun. Dengan tenang, dia menekan nomor Tama.

Begitu telepon tersambung, suaranya berubah menjadi penuh keluhan. "Tama, cepat kembali dan selamatkan Alex. Nona Winda ini, karena benci padaku, malah ingin merebut darah Alex. Ini sama saja dengan membunuhku dan anakku!"

"Tama!"

Winda memberontak melepaskan diri dari cengkeraman satpam, lalu berteriak ke gagang telepon, "Lina terluka. Dia punya gangguan pembekuan darah dan harus segera ditransfusi! Tolong minta rumah sakit untuk memberikan sebagian stok darah mereka pada kami, atau nyawanya nggak akan tertolong!"

Di seberang telepon, ada keheningan sejenak sebelum suara Tama akhirnya terdengar, seperti menahan kesal.

"Winda, darah itu sudah aku suruh alihkan untuk Alex. Sekarang dia membutuhkannya. Jangan buat keributan dan mengganggunya. Bayi yang baru sebulan lahir butuh darah sebanyak apa sih!"

Winda berteriak sampai suaranya serak, "Alex cuma lecet di lututnya, sedangkan Lina masih di ruang gawat darurat menunggu pertolongan!"

"Aku tanya sekali lagi, putrimu sekarang kritis. Apa kamu akan mengatur transfusi darah untuknya atau nggak?"

Hanya suara dengung statis yang mengisi telepon. Setelah beberapa saat, suara Tama terdengar lagi, pelan, tetapi penuh curiga.

"Anak yang baru lahir dari mana mungkin punya gangguan pembekuan darah? Winda, kamu bahkan mau mengutuk anak kandungmu sendiri?"

"Tama!"

Air mata Winda langsung mengucur deras. "Darah dagingmu sendiri hampir mati! Apa kamu benar-benar nggak mengerti bahasa manusia?"

Direktur rumah sakit di sampingnya tiba-tiba mendekatkan diri ke telepon, berkata dengan nada menjilat, "Pak Tama, apa kami harus mengurus wanita ini? Sepertinya kondisi mentalnya terganggu. Dia terus saja mengaku sebagai istri Anda…"

Hening lagi sejenak. Kemudian suaranya terdengar dingin seperti es.

"Istriku adalah Sania. Dia sedang merawat putra kami, Alex."

"Aku… nggak punya anak perempuan."

Orang-orang seakan menghela napas lega. Tatapan mereka pada Winda dipenuhi rasa jijik, seperti sedang melihat orang gila.

Sania tiba-tiba menyunggingkan senyum sinis. Di hadapan Winda, dia melemparkan kantong darah RH negatif itu ke lantai dengan keras.

"Anak haram yang kamu lahirkan, pantas pakai darah ini?"

Dengan tumit sepatunya, dia menginjak genangan darah itu, kata-katanya tajam dan beracun. "Sekalipun aku harus memberikannya pada seekor anjing, tetap nggak akan kuberikan padamu."

Saat ini, Winda merasa jantungnya hancur remuk, bahkan bernapas pun terasa menyakitkan.

Pintu ruang perawatan ditutup dengan keras, mengisolasi dari segala hal di luar.

Dengan langkah gontai, Winda kembali ke sisi tempat tidur Lina. Dia memeluk tubuh dingin putrinya. Air mata berderai tanpa henti, membasahi pipi pucat sang buah hati.

Saat keputusasaan perlahan-lahan mulai menenggelamkannya, layar ponselnya menyala.

Sania kembali memposting status di WhatsApp.

Dalam foto, Sania sedang menggendong Alex dengan senyum cerah, disertai tangkapan layar transfer dari Tama dengan keterangan: [Rawat anak kita dengan baik.]

Winda menatap foto itu, darah di seluruh tubuhnya seakan membeku. Napas Lina dalam pelukannya juga makin lemah.

Tepat pada saat itu, suara laki-laki yang tenang tiba-tiba terdengar di pintu.

"Halo, golongan darahku RH negatif. Aku bisa melakukan transfusi darah untuk putrimu."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta satu malam dengan boss
9.0
Seorang wanita terkejut saat bos miliardernya mengajukan penawaran tak biasa. Tanpa dilandasi cinta, pria berkuasa yang dikelilingi banyak wanita itu secara dingin menegaskan bahwa dia hanya menginginkan tubuhnya demi kepuasan fisik semata. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit dalam hubungan tanpa status yang murni transaksional ini, terus mempertanyakan alasan di balik keputusan sang bos memilih dirinya sebagai pemuas hasrat pribadi.
Sampul Novel Kelakuan Papa Mertua
9.6
Hidup Riana berubah drastis setelah ia dipaksa memikul akibat dari kecerobohan papa mertuanya. Situasi kian membingungkan saat ia menyadari sikap mencurigakan orang tuanya sendiri, yang tampak menyetujui masalah tersebut. Riana pun terjebak dalam misteri besar mengenai motif asli di balik tindakan mereka. Apakah ada konspirasi tersembunyi yang sengaja dirancang untuk menjatuhkannya? Kini, ia harus berjuang mengungkap kebenaran di balik semua drama ini.
Sampul Novel Ke(m)bali Mengejar Cinta Pelangi
8.3
Sebuah peristiwa tak terduga menghubungkan takdir Laskar dan Pelangi, walaupun penolakan demi penolakan terus terjadi. Pelangi sadar perasaan ini sulit bersatu karena Laskar telah bertunangan dengan Natalia. Di tengah kebimbangan, apakah tautan misterius ini sanggup mendekatkan mereka atau malah memisahkan keduanya selamanya? Meski Pelangi mencoba ikhlas untuk merelakan Laskar pergi, batinnya tetap tidak mampu berbohong bahwa melepaskannya adalah hal yang sangat berat.
Sampul Novel Kutukan Cinta Sang CEO
9.7
Khaidar Wijaya hidup dalam bayang-bayang kutukan mematikan: orang yang mencintainya dengan tulus akan celaka hingga tewas. Usai kehilangan orang tuanya, ia memilih mengisolasi diri. Namun, demi mengabulkan keinginan terakhir neneknya yang sekarat, Khaidar terpaksa menikahi Viona, mantan teman sekolah yang sangat membencinya. Pernikahan tanpa cinta ini menjadi satu-satunya jalan. Mampukah Viona bertahan tanpa rasa cinta, atau ia akan menjadi korban kutukan maut berikutnya?
Sampul Novel Pesona Pelayanku
9.4
Kehidupan Mayumi berbalik 180 derajat sejak menginjakkan kaki di negara asal sang ayah. Akibat dikhianati oleh ayahnya sendiri, ia dan ibunya harus berjuang mati-matian demi bertahan hidup di negeri asing. Keadaan yang mendesak memaksa Mayumi menerima pekerjaan sebagai pelayan seorang pria sombong yang egois. Namun, di balik kemegahan rumah sang majikan, ia justru perlahan mengungkap tumpukan dusta besar yang selama ini tersimpan rapi di dalam kediaman penuh misteri tersebut.
Sampul Novel Warisan Sang Monster
9.6
Bosan dengan kekayaannya, triliuner Alexander Volkov memilih menyamar sebagai tunawisma. Di jalanan, ia bertemu Elara, seorang ibu tunggal miskin yang dibuang keluarganya demi mengobati sang putri yang sakit keras. Kebaikan Elara yang tulus berbagi makanan menyentuh hati Alexander. Saat Elara terancam kehilangan hak asuh anaknya, Alexander membongkar identitas aslinya. Ia siap menolong, asalkan Elara bersedia menjadi kekasihnya dan menyerahkan satu malam bersamanya.