
Cahaya yang Tertunda
Bab 6
Berkat kebaikan hati seorang donatur yang rela mendonorkan 400cc darahnya, nyawa buah hati Winda akhirnya bisa diselamatkan.
Sungguh ironis!
Ayah kandungnya memonopoli seluruh bank darah, menolak memberikan setetes pun kepada putrinya. Namun, justru seorang yang tak dikenal dengan sukarela menyumbangkan darahnya, lalu pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak bahkan sekadar nomor telepon.
Warna wajah anak perempuan itu perlahan kembali, bibir mungilnya pun mulai refleks mencari susu.
Di sampingnya, pengasuh menatap anak itu, lalu berbisik mengungkapkan kecurigaannya, "Nyonya Winda, aku merasa ada yang aneh. Biasanya aku merawatnya dengan sangat hati-hati, sama sekali nggak membiarkan ada benda tajam di sekitarnya."
"Tapi, dokter bilang luka itu akibat terkena silet. Padahal dia selalu berbaring di tempat tidur bayi dengan baik."
Hati Winda tersentak. Dia segera pulang untuk memeriksanya.
Benar saja, di balik lipatan seprai beludru tempat tidur bayi itu, tersembunyi beberapa bilah silet yang masih meninggalkan noda darah putrinya.
Pikiran Winda seakan meledak.
Tempat tidur bayi ini dibeli oleh Tama atas permintaannya saat Winda menjalani masa nifas.
Tama memang selalu masa bodoh dengan urusan seperti ini, hanya menyuruh asistennya untuk membeli yang termahal.
Tempat tidur bayi itu justru dibeli melalui Sania.
Pasti Sania yang menyembunyikan silet-silet itu!
Rasa dingin merayap dari tulang punggung, membuat seluruh tubuh Winda menggigil.
Sania ternyata ingin mencelakai putrinya, apakah Tama mengetahuinya?
Kalaupun tahu, apa Tama akan membela putrinya dan menuntut keadilan untuknya?
Tak seorang pun bisa menjawab pertanyaan itu.
Winda memeluk erat putrinya, meringkuk di sudut sofa. Dia memejamkan mata dan bergumam pelan, "Lina, jangan takut. Ibu nggak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Untungnya, tinggal dua hari lagi, dia bisa membawa putrinya menuju kehidupan baru.
Begitu Tama pulang dari perjalanan dinas dan masuk rumah, dia langsung menegur Winda tanpa basa-basi, "Winda, belakangan ini kamu terlalu seenaknya sendiri!"
"Aku hanya pergi dinas beberapa hari, tapi kamu malah membuat keributan di rumah sakit. Apa kamu nggak memikirkan harga diriku?"
Mendengar itu, Winda langsung merinding.
Tama melirik putri mereka yang tertidur di pelukannya, keningnya makin berkerut. "Kamu sampai mempermainkan anakmu. Ini sungguh membuatku…"
"Tama, hubungan kita sudah selesai." Winda memotong ucapannya dengan dingin.
Tama tertegun, mencengkeram lengannya erat-erat.
"Apa maksudmu selesai? Winda, kita 'kan teman masa kecil, hubungan kita sudah lebih dari sepuluh tahun! Bagaimana mungkin kamu membesar-besarkan masalah kecil seperti ini?"
Dia masih punya muka menyebut hubungan lebih dari sepuluh tahun itu?
Hati Winda terasa ditusuk jarum. Dia membentak, "Bukannya di telepon kamu sendiri yang bilang kalau Sania itu istrimu dan Alex anakmu?"
Tama mengalihkan pandangannya, tatapannya terlihat canggung dan bersalah.
"Itu situasi darurat! Semua orang di rumah sakit swasta itu mengakui status istri seorang Tama. Kalau aku bilang jujur, bagaimana kalau mereka mendengarkanmu dan menolak memberikan transfusi darah untuk Alex?"
Di saat hatinya terasa perih seakan ditusuk, Winda hendak mengungkap fakta bahwa mereka sebenarnya bukan suami-istri, tetapi kata-kata Tama berikutnya langsung membuatnya terdiam.
"Aku tahu, kamu cemburu pada Sania, 'kan?" Tama memandangnya sambil menyipitkan mata, nadanya terdengar sangat yakin.
"Kamu tahu jelas di hatiku hanya ada kamu, tapi karena cemburu, kamu gunakan anakmu untuk memperebutkan perhatianku?"
"Hanya karena dia melahirkan anak laki-laki, sedangkan kamu melahirkan anak perempuan, kamu sengaja bikin keributan, begitu?"
Sebelum Winda sempat membantah, ponsel Tama berdering.
Melihat layar panggilan masuk, Tama menatap Winda sebentar dan berkata dengan singkat, "Kamu refleksi diri di rumah saja. Jangan pergi ke kantor." Lalu, dia segera pergi.
Winda menahan amarah yang bergejolak di dadanya.
Pernikahannya dengan Tama hanyalah sebuah kebohongan, bahkan Winda tidak punya hak untuk menggugat Sania agar mengembalikan harta bersama.
Namun, meski begitu, apa yang menjadi miliknya tidak boleh berkurang sedikit pun!
Winda kembali memeriksa dengan cermat saham-saham yang dia pegang, berencana untuk menghubungi pemegang saham lainnya untuk menjual sahamnya dengan harga murah.
Namun, baru saja dia tiba di perusahaan, telepon dari pengasuh anaknya pun berdering.
"Nyonya, cepat pulang dan lihatlah!"
"Ada seorang wanita yang mengaku sebagai asisten Pak Tama datang ke rumah sambil membawa seorang anak! Dia bilang... Pak Tama sendiri yang mengizinkan. Nggak ada yang bisa menghentikannya!"
Anda Mungkin Juga Suka





