APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Buy One Get You

Buy One Get You

Niat Audia untuk mengundurkan diri sirna setelah ayahnya, Pak Sapto, menjadi korban penipuan bisnis. Demi melunasi utang, rumah keluarga beserta isinya dijual ke Ibu Sosro senilai 1,5 miliar. Sial bagi Audia, ia yang tertidur di dalam ikut terjual sebagai aset. Sang bos, Affangga, yang membencinya karena mirip sang mantan tunangan, terpaksa menghadapi situasi ini. Ibu Sosro pun memanfaatkan keadaan dengan menjodohkan dan memaksa mereka berdua segera menikah.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?’’ Audia tersenyum formal setelah selesai menyapa. Ada sedikit rasa takut sekaligus kesal yang membaur menjadi satu. Seumur hidup belum pernah ada orang yang memerintahkannya melakukan adegan yang sama sampai tiga kali.

Audia tak boleh lupa saat ini posisinya adalah pegawai dan bukanlah putri bos Ayam Goreng Bu Hadi seperti lima tahun yang lalu. Sebuah kenyataan yang beberapa tahun belakangan berusaha ia terima dengan lapang dada. Putri tunggal Sapto Hadi yang dulunya memiliki belasan cabang restoran, kini tinggal kenangan. Saat ini, ayahnya berusaha bangkit dari keterpurukan dan sebagai putri yang berbakti sudah saatnya mandiri dan tak lagi bergantung. Puri Sasra memberikan gaji di atas rata-rata dengan bonus tahunan cukup besar. Jangan sampai dia salah langkah lalu terpaksa mencari pekerjaan lain.

Affangga mengalihkan pandangan ke tumpukan dokumen di sisi kanan mejanya. Audia dan mantan tunangannya tak mungkin orang yang sama. Sudah seminggu ini, ia diam-diam memperhatikan gerak-gerik gadis itu selama di kantor. Audia itu supel, murah senyum, dan cekatan. Selain wajah dan postur tubuh, sifatnya sama sekali berbeda. Ashayla memiliki kepribadian introver sedangkan Audia tampaknya sebaliknya.

Affangga jatuh cinta kepada Ashayla sejak pertama berjumpa saat dikenalkan temannya. Hanya hitungan bulan, dia menyatakan perasaannya lalu memutuskan bertunangan. Terlalu terburu-buru memang, sehingga ibunya mengancam tak akan hadir di hari pernikahannya. Namun, gadis itu tiba-tiba menghilang begitu saja seolah ditelan bumi. Pesan terakhir yang ia kirim via WhatsApp hanya ucapan perpisahan dengan alasan tak bisa menikah dengannya. Sejak itu, nomor ponselnya tak bisa dihubungi.

Anehnya, keluarga Ashayla sama terkejutnya dengan dirinya. Gadis itu benar-benar pergi tanpa pamit. Affangga sudah berusaha mencari tahu dari melacak ponselnya dan menghubungi teman dekatnya sampai memerintahkan orang untuk mencari, tetapi nihil.

Setahun sejak hilangnya Ashayla, ia mendapat kabar dari salah satu kawannya yang tinggal di Singapura. Mantan tunangannya itu terlihat bersama seorang laki-laki muda. Affangga tak menyangka gadis yang lemah-lembut seperti Ashayla tega meninggalkannya.

“Duduk!’’ perintah Affangga. Seharusnya ia tak perlu bersikap arogan di depan Audia. Namun, entah kenapa saat menatap wajah gadis itu, semuanya muncul begitu saja.

“Di sini?’’ Audia menunjuk kursi di depan meja kerja Affangga dengan hati-hati. Ia khawatir melakukan kesalahan dan diminta mengulang sampai si bos merasa puas.

“Ya, di situ, masa di sini.” Affangga memberi kode dengan dagunya ke kursi dengan angkuh lalu mengetuk meja. Apa takdir sedang mempermainkan dirinya? Setelah berhasil melupakan Ashayla, kini muncul gadis yang mirip dengannya.

Audia merasa aneh dengan cara Affangga menatap. Ia menangkap ada rasa kesal dan tak suka. Ini sulit dijelaskan, mengingat mereka baru saja bertemu.

“Bapak ada perlu dengan saya?’’ tanya Audia lalu tersenyum setelah duduk. Posisinya saat ini adalah pegawai di perusahaan lelaki di hadapannya. Salah bersikap bisa berakibat fatal. Sifat dan sikap Affangga berbeda dengan ayahnya. Pak Husein Sasra lebih ramah kepada semua pegawai, termasuk kepada office boy sekalipun.

“Kalau tak ada perlu buat apa saya panggil kamu.’’ Affangga menjawab tanpa menoleh.

Suhu di ruangan mendadak turun beberapa derajat bagi Audia. Selain arogan, sikap Affangga dingin dan ketus.

“Pak Affa itu baik sama stafnya. Dulu pas awal-awal masuk Puri Sasra, enggak terlihat berbedaan antara pegawai dan putra bos. Dia membaur gitu tanpa batasan. Awalnya kami canggung, tapi melihat dia ramah dan asyik, kita jadi ikutan,’’ jelas Mba Ayas beberapa hari yang lalu.

Audia menatap kedua mata Affangga lalu mengangguk. “Apakah ada yang bisa saya bantu, Pak?’’ Senyum formalnya mengembang dengan terpaksa. Ada rasa dongkol yang tertahan di tenggorokan. Saya salah apa, sih, Pak? Ingin rasanya Audia bertanya.

“Tolong jelaskan kenapa konsep Sawangan Great Mall berubah.” Affangga mendorong dokumen di mejanya ke arah Audia.

Gadis yang bermata besar itu menghela napas sejenak. Seharusnya soal konsep yang berubah bukan kapasitasnya untuk menjelaskan. Konsep ditentukan di dalam rapat tim, tugasnya hanyalah mengeksekusi desain interior.

“Sawangan Great Mall adalah mal yang ramah keluarga dan bukan hanya sebuah pusat perbelanjaan dengan fasilitasi standar saja. Contohnya fasilitas ibadah, bila di mal-mal lain musala terletak di basement, di sisi tersembunyi dan terkesan di anak tirikan, mal baru ini menempatkan sebuah masjid di lantai teratas yang di kelilingi area bermain anak, food court, dan sudut-sudut Instagramable. Toilet juga di letakkan di sisi yang jauh dari masjid dengan tujuan untuk membedakan antara area suci dan najis. Kita juga menyediakan toilet difabel dan toilet keluarga,’’ jelas Audia mantap. Beruntung ia telah mempelajari proyek itu sebelumnya. Ia lalu melanjutkan penjelasan yang ia pahami dari Bu Santi.

Affangga dibuat terkagum-kagum dengan penjelasan Audia yang penuh percaya diri.

“Isu responsif gender kita jawab dengan Sawangan Great Mall. One Stop Shopping for All Familly. Pada basement, kami juga menyediakan ladies parking dan priority parking for diffable. Lift dibagi menjadi tiga, lift penumpang umum, lift barang, dan lift khusus untuk difabel. Ruang laktasi sesuai standar Permenkes juga ada pada setiap lantai,’’ lanjut Audia.

Affangga menggut-manggut. Awalnya ia ingin mendebat, entah kenapa justru tertarik dengan penjelasan gadis itu. Namun, wajahnya tetap sama–datar.

“Apa alasan konsepnya berubah? Puri Sasra cukup membangun mal standar saja seperti yang lain, misalnya Margo City. Konsep masjid di mal sudah dilakukan dulu oleh Pesona Square,’’ tanya Affangga. Sebenarnya ia sudah tahu, hanya ia butuh berlama-lama untuk memastikan seberapa mirip Audia dengan Ashayla dan adakah hubungan antara keduanya.

Audia terdiam. Pada rapat pergantian konsep dengan Pak Husein, Bu Santi dan arsitek senior yang hadir. Ia sendiri baru masuk Puri Sasra.

“Bukan kapasitas saya menjawabnya, Pak. Jobdesk saya sebatas interior design. Konsep adalah wewenang Bu Santi, tetapi saya bisa menjelaskan tentang fasilitas apa saja yang membedakan mal kita dengan mal-mal lain,’’ jawab Audia.

Affangga mengangguk. Dengan jarak kurang dari dua meter, dia sudah merekam jelas wajah Audia. Ada perbedaan sedikit, Ashayla tak memiliki gigi ginsul seperti gadis di hadapannya. Sementara itu, Audia memiliki suara yang jelas, lantang, dan penuh percaya diri. Jelas ini berbeda dengan suara mantan tunangannya yang lembut.

“Ada lagi, Pak?’’ tanya Audia saat menyadari ada jeda lama.

“O-oh, Puri Sasra adalah perusahaan pertama tempatmu bekerja, ‘kan? Sebelumnya apa yang kamu lakukan setelah lulus kuliah?’’ Affangga sedikit tergagap.

Audia mengernyit. Apa kemampuannya diragukan?

“Saat kuliah saat ikut sayembara desain dan mengerjakan proyek pribadi,’’ jawab Audia. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Dulu saat awal-awal kuliah, usaha ayahnya sedang berjaya. Hobinya mendesain pun bisa ia terapkan pada interior restoran yang mereka miliki. Itulah yang membuatnya bermimpi memiliki perusahaan desain sendiri.

“Ada lagi, Pak?’’ tanya Audia. Dadanya terasa sesak, bila roda berputar ke atas lagi, ia tak perlu menjadi pegawai di perusahaan orang. Paling berat adalah menekan ego bahwa kini ia hanyalah seorang bawahan.

“Sementara cukup. Dengan nama apa kamu biasa dipanggil?” Affangga sedikit bingung harus memanggil apa, dari tadi ia hanya menyebut kamu.

“Di atau Audi, Pak. Nama lengkap saya Audia Melodita,’’ sahut Audia dengan sopan.

“Ya, sudah, Mbak Audi, silakan kembali ke ruangan. Jangan lupa tutup pintu perlahan dan tolong panggilkan Bu Linda,’’ ucap Affangga lalu kembali menekuni dokumen-dokumen di mejanya.

Audia bangkit lalu mengangguk ke arah Affangga. “Permisi, Pak.”

Saat gadis itu membalikkan badan, Affangga kembali menatap ke arahnya. Gerakan gadis itu cepat dan mantap. Jelas berbeda dengan Ashayla. Apakah ada dua orang gadis yang begitu mirip wajahnya, tetapi tak ada hubungan darah? Kenapa Affangga menebak demikian? Tentu saja karena saudara Ashayla tak mungkin bekerja di perusahaan orang lain.

Keluarga Ashayla adalah keluarga pengusaha turun-temurun. Tak sebesar Sasra Raharja Grup memang, tetapi usahanya bisa bertahan puluhan tahun di segala kondisi ekonomi yang naik-turun. Namun, sejak hilangnya mantan tunangannya, Affangga mendengar perusahaan mantan calon mertuanya itu diakusisi oleh saingan Sasra Raharja Grup. Ia sendiri tak mau ikut campur apalagi kejadiannya saat ia ada di Jerman.

***

“Disuruh ngapain, Di?’’ tanya Nina penasaran saat Audia duduk di kursinya.

“Disuruh jelasin proyek mal baru, Nin,’’ jawab Audia dengan wajah ditekuk. Ia masih penasaran dengan sikap Affangga.

“Wajahmu kenapa?’’

Audia mengangkat bahu. “Kesal aja. Replay tiga kali hanya karena aku masuk, Pak Bosnya enggak dengar ketukan pintu dan salamku. Sudah mirip syuting film aja, nih,’’ jawabnya.

Nina memutar tubuhnya menghadap Audia. “Ah, yang bener, Pak Affa enggak gitu orangnya, kok,’’ ucapnya heran. “Kata senior di sini, lebih asyik beliau yang gantiin Pak Husein daripada cucu Sasra Raharja yang lain.”

“Auk, deh.” Audia mengangkat bahu.

“Pak Affangga ganteng, enggak? Sekali-kali, aku juga mau dipanggil biar bisa lihat wajahnya lebih dekat. Dia kembali dari Jerman tanpa tunangannya artinya available again , ‘kan? Siapa tahun mendadak jadi Cinderella, kayak di cerita-cerita platform menulis gitu, deh, misalnya Cinderella CEO Tampan, My Boss My Husband, terus apa lagi, ya.” Nina mencoba mengingat judul-judul novel yang pernah ia baca sambil mengetuk pipi dengan jari telunjuknya.

“Kalau bos yang satu ini judul paling cocok adalah … Pak Bos Masa Gitu,’’ lirih Audia.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Demi Anak, Kuterima Hinaan Mertua
8.7
Keira hancur saat bisnisnya hampir pailit dan sang tunangan memilih berselingkuh dengan perempuan berharta. Di puncak keputusasaan, ia menenggelamkan diri dalam alkohol di sebuah kelab malam. Tak disangka, malam itu membawanya terbangun di ranjang yang sama dengan Aksel Sanjaya, atasan sekaligus CEO dingin di tempatnya bekerja. Keira dan Aksel kini terperangkap dalam konsekuensi rumit akibat peristiwa tak terduga tersebut. Mampukah keduanya menjalani perubahan hidup yang drastis ini?
Sampul Novel Dibuang Suami Diratukan Boss
8.6
Setelah delapan tahun membina rumah tangga, Alya dikhianati dan dibuang oleh suaminya dengan tuduhan mandul. Ia bahkan dijual kepada seorang penguasa kota yang sangat berpengaruh. Tak disangka, malam itu justru membuatnya hamil. Kini, Alya harus memilih antara bayang-bayang masa lalunya yang kelam atau melangkah maju bersama pria asing yang merupakan ayah dari anak di kandungannya. Sanggupkah Alya bangkit dan memperjuangkan keadilan atas segala rasa sakit yang telah ia lalui?
Sampul Novel DILEMA SUAMI BAYARAN
9.6
Duda bernama Barra Farzan ingin bahagia dengan menikahi Astra, anak konglomerat yang menawan. Sialnya, pesta pernikahan mereka yang meriah mendadak kacau saat seorang wanita datang menampar Astra. Perempuan itu mengaku istri sah Barra yang dicampakkan bersama anak mereka. Astra pun dituduh sebagai perebut suami orang. Apa misteri kelam yang ditutupi Barra? Akankah pernikahan mereka bertahan, atau Barra cuma berstatus suami bayaran?
Sampul Novel Kado Dari Masa Lalu
8.5
Di hari ulang tahunnya yang ke-35, kehidupan Declan Montereau yang mapan mendadak gempar. Pebisnis sukses yang selalu skeptis pada komitmen ini dikejutkan oleh kedatangan Elio, balita empat tahun bermata abu-abu yang mengaku sebagai anaknya. Menghadapi kemiripan fisik yang mustahil dibantah, Declan terpaksa menelusuri kembali masa lalunya demi mengungkap identitas wanita yang tega menyembunyikan rahasia besar ini lalu pergi begitu saja.
Sampul Novel Pijat Tunanetra Kapal Pesiar
8.8
Kapal pesiar mewah Lautan menyimpan rahasia gelap setiap tahun baru, di mana deretan terapis tunanetra dihadirkan untuk melayani tamu elit. Demi menyelidiki hilangnya sang kakak, seorang wanita nekat memalsukan identitasnya sebagai pemijat buta agar bisa menyusup ke sana. Rencananya mulai goyah saat seorang pria berkuasa memilihnya dan membawanya ke kamar pribadi. Di bawah tatapan tajam sang miliarder yang menguji kebohongannya, ia harus bertahan dalam permainan berbahaya yang mengancam penyamarannya.
Sampul Novel Rahim Lima Ratus Juta
9.7
Tergiur bayaran ratusan juta rupiah, seorang wanita bersedia mengandung anak dari pria kaya raya. Namun, ada syarat mutlak yang harus dipatuhi: ia tidak boleh menaruh rasa sayang pada bayi tersebut agar perpisahan nanti tidak menyiksa batinnya. Setelah melahirkan, sang ayah akan langsung membawa anak itu pergi tanpa memberi sang ibu kesempatan untuk menatapnya. Lewat pernikahan kontrak ini, mereka ditakdirkan untuk saling melupakan dan menghilang selamanya.