APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Buku Harian Seorang Pengacara Muda

Buku Harian Seorang Pengacara Muda

Edward Cicero, mahasiswa hukum yang ambisius, harus menghadapi ujian berat sebelum resmi menjadi pengacara. Kasus perdana yang ia tangani langsung mempertemukannya dengan musuh besar, sebuah perusahaan asuransi raksasa. Kini, Edward berada di persimpangan moral yang mengancam masa depannya. Demi memenangkan gugatan, ia dituntut melakukan tindakan kriminal. Jika menolak, ia harus menerima konsekuensi pahit didepak dari kampusnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Dia mundur dari podium dan mulai dengan bertepuk tangan keras-keras, mengangguk penuh dengan semangat pada rekan-rekannya untuk berbuat hal yang sama, namun tidak satu orang pun yang mengangkat tangan, termasuk Neely.

“Dia dipuja di sini,” gumam Bolie.

“Ya, setidaknya itu. Setidaknya dia dicintai,” jawabku. Mereka sudah menghabiskan sepuluh menit duduk di sini. Ketika itu makan siang telah lewat, dan aku melihat beberapa kelopak mata jadi berat. Mereka akan mendengkur ketika Stephan selesai.

Stephan melangkah ke podium, mengatur mikrofon, berdeham, dan menunggu Miss Natalie mengambil tempat duduk di deretan depan. Begitu duduk, dia berbisik gusar pada laki-laki pucat di sampingnya, “Kau seharusnya tadi bertepuk tangan!” Laki-laki itu tidak mendengar.

“Terima kasih, Miss Natalie,” kata Stephan. “Pasti menyenangkan jika berkunjung ke Lincoln Garden.” Suaranya terdengar tulus dan tidak ada keraguan dalam pikiraku bahwa Profesor Stephan Gerald benar-benar merasa memperoleh kehormatan untuk ada di sini sekarang, di tengah geudng yang menekan perasaan ini, di hadapan kelompok manula yang menyedihkan ini, bersama dengan empat mahasiswa yang kebetulan masih tersisa di kelasnya. Stephan hidup untuk hal ini.

Dia memperkenalkan kami. Aku berdiri cepat dengan senyum tipis, kemudian kembali duduk dan sekali lagi memasang wajah serius. Stephan bicara soal jaminan kesehatan, pemotngan anggaran dan surat wasiat, pengecualian pajak, orang-orang yang tersisih dan pembayaran asuransi. Topik-topik itu berjatuhan seperti lalat. Celah-celah aturan Santunan Sosial, undang-undang yang belum mempunyai kekuatan hukum tetap, peraturan rumah jompo, perencanaan pembagian hak milik dan obat bius. Dia melantur, ucapannya ruwet, sama seperti yang biasa diucapkan di dalam kelas. Aku menguap dan mengantuk juga. Neely mulai melirik jam tangan.

Akhirnya Stephan tiba pada kata penutupnya, ucapan terima kasih sekali lagi untuk Miss Natalie dan kelompoknya, berjanji untuk kembali di tahun demi tahun, lalu mengambil tempat duduk di ujung meja. Miss Natalie bertepuk tangan dua kali, kemudian menyerah. Tidak satu orang pun bergerak mengikutinya. Sebagian di antara mereka tengah mendengkur.

Miss Natalie melambaikan tangannya ke arah kami, dan mengatakan pada kawannya, “Itu mereka. Mereka cakap dan cuma-cuma.”

Perlahan-lahan mereka mendekati kami. Neely ada di deretan pertama, dan sudah jelas kalau dia masih dendam soal puding tadi, sebab dia menatapku dengan tatapan berapi-api, kemudian pergi ke ujung lain meja dan duduk di depan N. Mila Fox. Perasaanku mengatakan kalau dia bukan calon klien terakhir yang pergi ke orang lain untuk meminta nasihat hukum. Seorang laki-laki tua kulit hitam memlih Bolie sebagai pengacaranya dan mereka berimpitan di seberang meja. Aku berusaha untuk tidak mendengarkan. Suatu topik pembicaraan soal mantan istri dan perceraian bertahun-tahun silam yang mungkin tidak terselesaikan dengan resmi. Bolie mencatat bagaikan pengacara sejati dan mendengarkan dengan serius, seolah dia tahu benar apa yang harus dia lakukan.

Paling tidak Bolie memiliki klien. Selama lima menit penuh aku merasa konyol duduk seorang diri sementara tiga rekan kelasku tengah saling berbisik, menulis, mendengarkan dengan sabar, dan menggelengkan kepala menghadapi berbagai masalah yang terpapar di depan mereka.

Kesendirianku tampaknya diperhatikannya. Akhirnya Miss Natalie merogoh ke dalam dompetnya dan mengeluarkan sepucuk amplop dan berjalan gesit ke mejaku. “Kau lah yang sungguh aku inginkan,” dia berbisik sambil menarik kursinya ke sudut meja. Dia membungkuk ke depan dan aku memiringkan tubuh ke kiri. Kepala kami cuma berjarak berkisar enam senti, hampir bersentuhan. Ketika itu aku memasuki konferensi pertamaku sebagai penasihat hukum. Bolie melirikku dengan senyum jahat.

Konferensi pertamaku. Musim panas lalu aku bekerja sebagai kerani untuk sebuah biro hukum kecil di pusat kota, sekitar dua belas pengacara dan pekerjaan mereka sepenuhnya dihitung per jamnya. Tak ada uang jasa yang tak pasti. Aku mempelajari seni mengajukan tagihan, yang salah satu peraturan pertamanya yaitu seorang pengacara menghabiskan banyak waktu jaganya dalam konferensi. Konferensi dengan klien; konferensi telepon; konferensi pengacara lawan, hakim, partner, penilai asuransi, dan para legal, serta banyak konferensi yang lain.

Miss Natalie melontarkan pandang ke sekliling, tanda untuk menahan supaya kepala dan suaraku tetap rendah, karena apa pun urusan yang mau dia diskusikan tentu merupakan sesuatu yang serius. Dan itu bukan masalah buatku, karena aku tidak mau satu orang pun mendengar nasihat lemah dan naif yang harus aku berikan sebagai tanggapan terhadap masalah yang akan dia ajukan.

“Coba baca ini,” katanya. Segera aku mengambil dan membuka amplop itu. Isinya adalah surat wasiat, dan pernyataan terakhir dari Charlize Theron Streep. Stephan telah mengatakan pada kami kalau lebih dari sebagian para klien ini tentu mau kami memeriksa dan mungkin memperbarui surat wasiat mereka. Ini bukan sesuat yang menjadi persoalan, sebab tahun lalu kami diwajibkan mengambil mata kuliah wajib yang disebut dengan surat wasiat dan surat warisan, dan kami merasa cukup mahir dalam menemukan masalah. Surat wasiat merupakan dokumen yang cukup sederhana, dapat disiapkan tanpa cela oleh pengacara paling awam sekalipun.

Yang ini terketik dan terlihat resmi. Begitu membacanya, secara singkat aku tahu dari dua alinea pertama kalau Miss Natalie itu janda, punya dua orang anak dan banyak cucu. Alinea ketiga membuat aku berhenti dengan terperanjat dan aku melirik ke arah Miss Natalie sambil membaca. Lalu membacanya lagi. Dia tersenyum lega. Isinya memerintahkan kepada eksekutor untuk memberikan dua juta dolar pada masing-masing anaknya, dengan satu juta dalam perwalian untuk masing-masing cucu. Aku menghitung itu secara berhati-hati. Delapan cucu. Itu artinya paling sedikit dua belas juta dolar.

Seolah-olah terlihat bahwa ada banyak masalah dengan surat wasiat ini. Pertama, dan paling utama, surat ini tidak setebal semestinya. Miss Natalie adalah orang kaya, dan orang kaya tidak memakai surat wasiat yang tipis atau sederhana. Mereka memakai surat wasiat tebal, padat dengan wali, perwalian, pergantian tempat loncat generasi, serta segala macam perangkat serta perkakas yang dirancang dan dibuat oleh para pengacara pajak di biro hukum besar bertarif mahal.

"Siapa yang menyiapkan ini?" tanyaku. Amplop itu kosong. Tidak ada petunjuk siapa yang mengonsep surat wasiat itu.

"Pengacaraku yang dulu, saat ini telah meninggal. "

Baguslah dia sudah mati. Dia melakukan malpraktek ketika menyiapkan surat ini.

Jadi, perempuan kecil bergigi kuning dan bersuara cukup merdu ini ternyata bernilai dua puluh juta dolar. Dan jelas dia tidak memiliki pengacara. Aku meliriknya, kemudian aku kembali pada surat wasiat itu. Dia tidak berpakaian mahal, tidak memakai intan atau emas, tidak menghabiskan waktu maupun uang untuk rambutnya. Gaunnya katun murah dan blazer merah anggurnya sudah kumal, mungkin berasal dari Toko Louis. Aku sudah pernah menyaksikan beberapa perempuan tua kaya raya, dan mereka biasanya cukup mudah untuk dikenali.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku dan Cinta Pertamanya
9.2
Saat hamil sembilan bulan, seorang wanita disandera di atap gedung. Di kehidupan lalu, ia memohon suaminya yang merupakan kepala penyelamat untuk datang. Meski selamat, cinta pertama suaminya tewas terbakar, memicu dendam sang suami yang tega menusuknya dan bayi mereka hingga tewas saat melahirkan. Begitu terbangun kembali di hari penyanderaan maut tersebut, ia memilih tidak memohon bantuan lagi. Kali ini, ia membiarkan suaminya pergi menyelamatkan cinta pertamanya tanpa menahan mereka.
Sampul Novel Hasrat Luar Nona Muda
8.4
Akibat patah hati dikhianati sang pacar, Floretta Shopia Copper yang mabuk nekat menyerahkan kesuciannya kepada sang pengawal pribadi, Jeff Nickolas Edmund. Meski Nick sudah memperingatkan konsekuensi dari tindakan tersebut, sang nona muda tetap bersikeras demi merasakan pengalaman pertama yang berkesan. Namun, di balik kepatuhan sang bodyguard, ada rahasia besar. Nick ternyata menyimpan rencana terselubung yang mengincar Shopia serta orang tuanya tanpa pernah disadari wanita itu.
Sampul Novel Kobaran Masa Lalu
7.8
Kehadiran wanita asing merusak rumah tangga sang protagonis dalam novel Kobaran Masa Lalu. Suami dan putranya justru membela wanita manipulatif itu hingga memicu perceraian. Di hari perpisahan, sang istri dikunci di kamar yang sengaja diledakkan dengan tabung gas. Tragisnya, sang suami yang bekerja sebagai pemadam kebakaran memilih menyelamatkan wanita lain karena mengira istrinya telah tewas. Ketika mereka bertemu kembali, tuduhan kejam justru kembali dilayangkan kepadanya.
Sampul Novel Lawon Abang (Kafan Merah)
9.4
Mbah Karso didera dendam hebat usai Mawar, cucunya yang bermata merah, tewas mengenaskan di tebing akibat kejaran dan fitnah warga Ledokombo. Demi membalas kematian keji sang cucu, ia nekat membangkitkan iblis kuno bernama Nyai Larapati yang telah lama tertidur. Jasad Mawar yang tak bernyawa pun dipaksa bangkit kembali untuk mengobarkan aksi balas dendam berdarah tanpa ampun, menyasar seluruh penduduk desa yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut.
Sampul Novel Pandora
9.6
Aaron Elang Cyane kembali dari latihan tiga tahun demi melindungi sahabatnya, namun ia justru mendapati situasi kacau. Guinevere Abigail belum juga pulang, sementara Aurora Bernett diculik organisasi Twilight Fantasy yang mengincar daemon darah murni. Di tengah konflik ini, Elang harus menghadapi perasaan rumitnya pada Aleasha Brunella Aoi dan ancaman pengkhianatan. Takdirnya kini terikat rencana gelap bagai kotak Pandora, menuntut keputusan sulit demi masa depan.
Sampul Novel Pelakor's Hunter
8.2
Kematian tragis Siska akibat racun pelumpuh saraf menyisakan pesan misterius dari sosok bertopeng berjuluk Malaikat Maut Pelakor. Teror pun berlanjut dengan target para wanita perebut suami. Ranti, seorang istri yang tersakiti oleh perselingkuhan, dituduh sebagai pelaku utama setelah bukti kuat ditemukan di kediamannya. Apakah rasa sakit hati telah mengubah Ranti menjadi pembunuh berdarah dingin, atau justru ada dalang lain yang bergerak dalam bayang-bayang dendam ini?