APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa

Madina kembali dipertemukan dengan Adnan, mantan suaminya yang dahulu mengusirnya akibat tuduhan selingkuh. Tiga tahun lamanya Madina berjuang sebagai kuli kasar lantaran ijazahnya dihancurkan. Kini, Adnan tiba-tiba mengajaknya rujuk. Pria itu berambisi merebut kembali putra mereka demi memperebutkan harta warisan. Di tengah luka masa lalu dan hadirnya sosok pria baru yang tulus, Adnan mencoba memulihkan nama baik Madina. Akankah Madina kembali atau memilih jalan barunya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Jam menunjukan pukul delapan malam, sepasang mata teduh tak beranjak dari penantiannya di dekat jendela. Setia melihat langit hitam dan gerbang yang akan terbuka karena kedatangan istri tercinta. Berkali-kali melihat notifikasi ponsel dari sang istri, tetapi tak ada satu pun pesan yang dikirimkannya sekadar untuk menghilangkan cemas dalam dada. Tak biasanya.

Terakhir jam sepuluh pagi tadi istrinya mengabari jika akan pergi ke restoran bertemu dengan beberapa pengurus butik yang di kelolanya, untuk menitipkan bahwa selama sepekan ke depan Madina tidak bisa mengontrol karena akan ada acara. Acara yang sangat dinantikan Adnan. Ia akan pergi ke Paris untuk merayakan ulang tahun pernikahannya yang keenam sekaligus memberi hadiah istimewa pada Madina yang sedang mengandung anak ketiga.

Kebahagiaan memang terus menyertai Adnan dalam pekan ini. Selain proyek di perusahaan lancar dan tidak ada kendala, hatinya juga disuguhkan dengan kabar gembira bahwa Madina telah positif garis dua. Meskipun keluarga berharap anak yang lahir kali ini adalah laki-laki, tetapi Adnan tidak begitu mempermasalahkan, meskipun hati kecil sangat berharap demikian. Baginya, dengan keluarga rukun serta sehat, itu adalah hal termahal yang tidak semua orang bisa membelinya.

Deru mobil membuyarkan penantian, seutas senyum tercipta begitu manis di bibir sana. Bersyukur karena kepulangan Madina yang dirindukan.

Saat memasuki pintu rumah, baru kali ini sepasang kaki itu ragu untuk melangkah menyambut wujud rindu. Kejadian yang dialaminya hari ini seolah membunuh dan membabat habis rasa percaya dirinya pada harapan rumah tangga sejahtera sampai surga bersama Adnan. Takut ... itulah singkat kata yang dirasakannya saat ini.

"Kamu habis dari mana, Madina?" seloroh Adnan sesaat setelah membukakan pintu kamar.

Madina terkesiap kaget karena suaminya belum tidur. Meskipun tahu, ini belum terlalu malam.

"M-mas? Assalaamu'alaikum, Mas. Maaf aku terlambat pulang ...,"

Adnan menautkan alis saat Madina mencium punggung tangannya. Dingin sekali. "Wa'alaikumsalaam, bidadari Mas yang cantik ini, tapi kenapa tangannya dingin? Kamu sakit?"

Entah ini karena ketakutannya yang berlebihan, atau karena baru saja mandi. Madina bingung harus menjawab yang sejujurnya atau menunggu waktu.

"T-tidak, Mas. Mungkin dari AC mobil."

"Kalau kamu tidak enak badan, istirahat saja. Aku juga sudah makan tadi di kantor. Anak-anak juga sudah tidur sama Bi Murti, tadi sempat tanyain kamu," jelas Adnan, membuat Madina semakin merasa bersalah pada anak-anak dan suaminya.

"Iya, Mas."

"Kamu sudah makan?"

Madina mengangguk. Meski terakhir ia makan adalah tadi siang saat di restoran. Bayang-bayang perlakuan pria brengsek tadi teramat cukup membuatnya kenyang, bukan kenyang perut, melainkan kenyang pikiran yang terus disuguhi kebingungan dan rasa takut.

Lantas mereka berdua masuk ke kamar, dan Adnan menguncinya dari dalam. Sepasang tangan berbulu dan kekar itu melingkar di perut sang istri, begitu nyaman memeluknya dari belakang dengan mendaratkan dagu di pundak bidadarinya. Makhluk ciptaan Tuhan yang menurutnya sangat lemah lembut. Mampu menentramkan hati yang gundah gulana dengan sekali kerjapan memandangnya.

"Kalau Mas malam ini lagi mau, kamu bagaimana?"

Begitulah Adnan. Selalu meminta izin jika ingin haknya sebagai suami ditunaikan. Perlakuannya yang manis dan sikapnya yang hangat dengan segala perhatiannya, lagi-lagi menghadirkan rasa bersalah pada benak Madina.

"Emm ... aku kurang enak badan, Mas."

Menghindar. Itulah sikap yang saat ini sedang dilakukan Madina pada suaminya. Bertolak belakang dengan perasaan yang menggebu ingin meminta perlindungan. Jujur, ingin sekali Madina menangis di dada bidang sana, mencurahkan segala yang terjadi dan memohon maaf karena tak bisa menjaga harga diri. Namun semuanya hanya bayang semu, Madina tak punya nyali sekadar untuk menatap tatapannya. Tak yakin jika Adnan seratus persen akan mempercayainya.

"Aku mau istirahat, Mas."

Madina beranjak ke toilet untuk mengambil air wudu. Lagi ia termenung di depan cermin. Tangisnya membuncah kembali sesaat ingatan jahanam itu muncul lagi di kepala. Ia tak berani memberikan tubuhnya malam ini pada Adnan lantaran ada bekas merah di tengah dadanya. Tak bisa dibayangkan jika sampai Adnan melihatnya.

"Maafkan aku, Mas, maaf ...."

Adnan merasa Madina berbeda hari ini. Tidak biasanya Madina menolak ajakannya, padahal sudah cukup lama ia tak memadu kasih lagi karena kesibukan masing-masing. Terakhir ia melakukannya seminggu yang lalu.

Denting jarum jam terasa begitu keras menusuk pendengaran di keheningan malam. Sudah cukup lama istrinya berada di toilet. Entah apa yang dilakukannya sampai harus menyita waktu di sana. Membuat lelaki berkulit sawo matang itu khawatir.

Tok tok tok!

"Madina? Kamu kenapa lama sekali, Sayang?"

Hening. Tak ada jawaban. Sudah lama juga Adnan tidak mendengar gemericik air. Sebenarnya apa yang dilakukan sang istri.

"Mad—"

Pintu terbuka saat Adnan akan memanggilnya lagi. Ia menelisik wajah sang istri yang basah, begitu pun rambutnya. Kedua matanya merah seperti habis menangis. Yang menjadi perhatian Adnan kali ini adalah pipi istrinya yang merah seperti bekas ditampar. Ia tadi tak begitu melihatnya karena terhalangi oleh jilbab. Berbeda dengan sekarang yang nampak jelas.

Sigap, Adnan meraih Madina ke dalam pelukan. Ia yakin istrinya sedang tidak baik-baik saja. Ditahan sebagaimana pun, hakikat seorang wanita adalah rapuh di hadapan suaminya, maka runtuhlah anak sungai yang sedari tadi bergemuruh dalam dada. Madina menangis sejadi-jadinya di pelukan sang imam sambil terus meracau minta maaf.

Adnan tak tahu maksud minta maaf yang diucapkan istrinya. Yang jelas, ia ingin Madina tenang terlebih dulu dengan puas menangis di tubuh pelindungnya. Jujur, dengan istrinya terluka seperti ini, terluka pula dirinya. Karena Adnan menganggap ia dan Madina adalah dua sayap yang di mana satu sayap terluka maka terlukalah keduanya.

Adnan akan buat perhitungan pada seseorang yang telah menampar dan membuat sedih istrinya seperti ini.

"Tidurlah, tenangkan dirimu, tapi janji besok kamu harus menjelaskan semuanya sama Mas." Adnan mengusap rambut Madina dan mengecup keningnya.

Madina hanya mengangguk dengan isak yang masih tersisa. Mereka berdua beranjak ke atas ranjang setelah mematikan lampu. Tidak ada lagi percakapan setelah itu, Adnan pun mulai mendengkur halus berselimutkan mimpi. Sementara Madina, tak bisa tidur sama sekali. Sedari tadi pikirannya diliputi kegelisahan.

Sampai akhirnya notifikasi masuk di ponselnya. Setelah diraih benda pipih itu, alangkah terkejutnya saat mendapati nomor yang tidak dikenal mengirimkan sebuah foto dirinya bersama pria brengsek tadi tengah berpelukan.

Madina menutup mulut. Betapa malu dirinya saat melihat tubuhnya tanpa busana. Ia hanya memakai singlet saja. Ternyata pria tadi sebelum menindih tubuhnya telah mengambil foto yang dimodifikasi seolah-olah sama-sama mau. Terlihat tangan Madina memeluk pria itu begitu juga sebaliknya. Padahal Madina tidak ingat sama sekali. Dasar picik.

[Bagaimana? Kita serasi bukan?]

Satu pesan masuk membuat darah yang mengalir mendidih di ubun-ubun. Madina benar-benar marah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Pengganti, Aku Istri Sahmu!
9.4
Pernikahan Sarah hancur saat Andi kabur di hari bahagia mereka. Demi menjaga nama baik keluarga, Bayu, kakak Andi, terpaksa menikahi Sarah. Namun, Sarah justru menghadapi penderitaan baru karena sikap Bayu yang sangat dingin. Di balik kebencian suaminya, ada rahasia besar tentang hilangnya Andi yang belum terungkap. Kini, Sarah terjebak dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh misteri gelap.
Sampul Novel Cinta Kita Sudah Punah
8.8
Saat gempa bumi melanda ketika sedang makan bersama adik angkat suaminya, seorang istri yang hamil lima bulan menaruh harapan pada suaminya yang berprofesi sebagai pemadam kebakaran. Namun, di tengah situasi kritis, sang suami memilih menyelamatkan adik angkatnya yang sakit-sakitan dan membiarkan istrinya tertimbun batu besar hingga kakinya patah. Meski sang istri memohon pertolongan, ia ditinggalkan hingga tewas. Penyesalan pun membuat sang suami kehilangan akal sehatnya.
Sampul Novel Desah Di Kamar Sebelah
8.2
Seorang istri mendadak terbangun dari tidurnya setelah menenggak jamu dari sang adik ipar. Ia terkejut mendapati suaminya tidak ada lagi di sampingnya. Di tengah malam yang sepi itu, kecurigaannya merebak saat mendengar suara desahan asing dari balik kamar adik iparnya. Berbagai pertanyaan mulai menghantuinya. Ke mana suaminya pergi? Misteri apa yang disembunyikan di dalam kamar sebelah? Sebuah rahasia gelap kini mengancam keutuhan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Hanin & Wahyu
8.0
Hanin dan Wahyu tumbuh bersama sebagai saudara kembar yang tak terpisahkan. Namun, jalan hidup mereka berubah drastis setelah menikah. Suratman berhasil membangun karier sebagai konsultan bank dan beristrikan sekretaris hotel yang penuh ambisi. Di sisi lain, Suratmin hanya menjadi petugas kebersihan dengan istri seorang ibu rumah tangga biasa. Jurang status sosial serta perbedaan pola asuh anak yang sangat kontras ini memicu perselisihan besar yang mengorbankan masa depan anak-anak mereka.
Sampul Novel Hasrat Berbahaya Sang Pewaris Duda
8.6
Pasca dikhianati Roy hingga kehilangan rahim dan hak asuh anak, Shanty bertekad membalas dendam pada mantan suami serta mertuanya. Ia pun nekat bersekutu dan menyerahkan diri kepada pewaris Halim Group yang dingin. Namun, kehidupan baru sebagai istri konglomerat menyeretnya ke dalam intrik mematikan. Di tengah misteri gelap sang suami baru, mampukah Shanty merebut kembali kebahagiaannya, atau ia justru akan hancur dalam pusaran kekuasaan?
Sampul Novel Kesalahan di Malam Sebelum Akad
8.4
Akibat pengaruh alkohol, Ardi melakukan kesalahan fatal di malam sebelum pernikahannya. Ia salah memasuki kamar dan menodai Citra, pengasuh anak kembar dari adik angkatnya. Padahal, keesokan harinya ia dijadwalkan untuk melangsungkan akad nikah bersama sang tunangan, Maya. Kini, Ardi dihadapkan pada dilema moral yang sangat berat. Ia harus memilih antara melanjutkan rencana pernikahan dengan Maya atau bertanggung jawab atas perbuatannya dengan menikahi Citra.