APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa

Madina kembali dipertemukan dengan Adnan, mantan suaminya yang dahulu mengusirnya akibat tuduhan selingkuh. Tiga tahun lamanya Madina berjuang sebagai kuli kasar lantaran ijazahnya dihancurkan. Kini, Adnan tiba-tiba mengajaknya rujuk. Pria itu berambisi merebut kembali putra mereka demi memperebutkan harta warisan. Di tengah luka masa lalu dan hadirnya sosok pria baru yang tulus, Adnan mencoba memulihkan nama baik Madina. Akankah Madina kembali atau memilih jalan barunya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi mulai beranjak meninggalkan malam, sayup-sayup terdengar isakan dari seseorang di atas sajadah sana. Adnan mengucek penglihatannya lantas menghidupkan lampu. Ternyata waktu sudah menunjukan pukul lima pagi, dan itu artinya telah masuk waktu subuh.

Tak biasanya Madina tidak membangunkan. Biasanya bidadarinya itu akan membangunkannya dengan kecupan mesra dan mengajaknya sembahyang bersama. Tetapi ia lebih memilih melanjutkan tangis yang belum usai.

Ada apa sebenarnya denganmu, Madina?

Adnan mengangsurkan kedua kaki pada lantai dan berjalan ke toilet untuk mengambil air wudu. Madina yang tahu suaminya sudah bangun langsung menggelar sajadah di depannya. Menyiapkan sarung, koko, serta kopiah.

Setelah merenung semalaman di atas sajadah, akhirnya Madina mendapat keberanian. Tekadnya sudah bulat, usai suaminya salat nanti, Madina akan berkata yang sejujurnya terkait kejadian kemarin. Ia tak mau suaminya tahu dari orang lain. Itu akan lebih rumit.

"Mas salat saja, aku sudah," pungkas Madina saat suaminya sudah berada di depan, siap melaksanakan kewajiban. Ia hanya mengangguk dilanjutkan dengan takbir.

Di belakangnya, Madina mengamati dengan seksama setiap gerakan suaminya. Anak sungai mengalir lagi, tak bisa membayangkan akan seperti apa reaksi Adnan setelah Madina jujur nanti. Apakah bisa menjadi makmum di belakangnya lagi atau justru ... ah, Madina tak mampu untuk meneruskan segala kemungkinan yang terjadi nanti.

Harapannya adalah satu, Adnan mempercayai semua perkataannya.

Pria kebanggaannya itu mengucap salam ke kanan dan ke kiri sebagai penutup salat. Lantas berbalik menghadap sang istri, mengulurkan tangan untuk diciumnya. Madina yang sedari tadi menunggunya selesai langsung meraih tangan sang suami. Seperti biasa, ia pun mendapat kecupan dari Adnan di keningnya. Begitu lama. Madina berharap, ini bukanlah kecupan terakhir.

"Mas?"

"Iya, Sayang?"

Sejenak Madina terdiam, tapi tetap dilanjutkannya. "Aku mau bicara sesuatu. Ada yang harus aku jelaskan padamu sebelum kamu mengetahui dari orang lain, tapi sebelumnya aku minta kamu percaya padaku, Mas."

Adnan menarik nafas, seulas senyum tersirat untuk bidadarinya yang matanya begitu sembab dan merah. "Curahkanlah semuanya, Madina. Mas tahu kamu sedang ada masalah. Telinga Mas siap mendengar apa pun yang akan kamu utarakan, dan kamu jangan khawatirkan rasa percaya Mas padamu, selamanya akan tetap utuh, Madina."

Madina menunduk. Ia tahu suaminya akan bilang mempercayainya, tapi tidak dengan pengkhianatan. Karena Adnan sangat pantang dikhianati. Itu semua sebab orang tuanya yang memiliki sejarah saling mengkhianati. Hingga akhirnya mereka bercerai dan memilih jalan masing-masing. Meninggalkan jejak trauma pada diri Adnan yang menjadi saksi di setiap rangkaian sejarah kelamnya.

Maka dari itu dalam pernikahan, Adnan ingin menjadi lelaki sebaik-baiknya. Jauh dari pengkhianatan yang akan menoreh luka pada kedua puterinya.

"Janji kamu harus percaya, Mas,"

"Iya, Mas pasti percaya. Sebentar, Mas punya sesuatu untuk kamu,"

Beranjak Adnan berdiri. Ia mengambil sesuatu dari dalam laci. Sebuah kado yang ia pesan secara khusus.

"Ini untukmu, bukalah."

"Apa ini, Mas? Bukannya tanggal pernikahan kita empat hari lagi?"

Lantas Adnan mencolek hidung Madina yang mancung. "Hari ini adalah hari ulang tahun kamu. Mas saja ingat, masa kamu lupa?"

Terharu. Madina menutup mulut saat sebuah kalung brilian ada dalam genggamannya. Madina tidak pernah meminta, tapi saat di mall seminggu yang lalu Madina pernah menunjuk kalung seperti ini dan mengatakan 'bagus' pada Adnan, tetapi bukan berarti ingin memilikinya.

Kemudian Adnan membuka mukenah dan memakaikan kalung tersebut di leher sang istri. Cantik sekali. Berharap Madina kembali ceria dan berhenti menangis.

"Terima kasih, Mas,"

"Sama-sama, Sayang. Sekarang cerita sama Mas, ada masalah apa sampai kamu terus-terusan nangis? Dan semalam kamu tidur di sini?"

Madina hanya menunduk, menyembunyikan bulir-bulir yang jatuh. Melihatnya serapuh ini membuat hati Adnan terenyuh. "Sebenarnya ada apa denganmu, Madina? Semalaman kamu pasti sudah banyak mengadu pada Yang Maha Kuasa, sekarang giliran Mas untuk mendengar keluh kesahmu."

Bukannya bicara, Madina malah semakin terisak. Ia hanya bingung harus mulai dari mana sisi pembicaraan yang pas agar suaminya percaya. Ia benar-benar takut Adnan tidak mempercayai dan malah menuduhnya mengkhianatinya. Sungguh, kehilangan kepercayaan dan cintanya lebih ditakuti saat ini.

Baru saja Madina akan membuka suara, sebuah dering telvon berbunyi dari ponsel milik Adnan yang terletak di atas ranjang.

"Sebentar,"

Adnan beranjak meraih benda pipih miliknya. Nama sang kakak tertulis jelas di layar sana. Segera ia menggeser ikon hijau untuk mengangkat panggilan.

"Iya, Mbak Felin? Kenapa tumben pagi-pagi telvon?" tanya Adnan langsung pada inti.

"Adnan? Barusan ada yang kirim foto sama Mbak. Apa Madina ada di sana?" seloroh Felin di seberang sana.

Adnan menautkan alis. Bingung dengan pertanyaannya. "Iya Madina ada di sini. Terus foto? Foto apa, Mbak?"

Glek.

Madina langsung mendongak dengan kedua mata yang membulat. Dadanya bertalu-talu bersamaan dengan rasa cemas. Jangan sampai foto yang dimaksud Mbak Felinda adalah foto yang dikirim pria brengsek itu semalam padanya. Jika benar, berarti pria jahanam itu memang berniat menghancurkan rumah tangganya dengan Adnan.

"Kamu cek sendiri ponselmu, Nan. Mbak gak mau jelasinnya, mau jalan langsung ke rumahmu sama Mama sekarang."

Tut. Tut. Tut.

Adnan hanya menggeleng dengan tingkah mbaknya yang membuat penasaran. Lantas segera memeriksa notifikasi untuk melihat apakah ada foto masuk yang dimaksud Mbak Felinda.

Madina segera menghampiri Adnan yang mematung dengan pandangan tertuju pada layar ponsel. Bahkan untuk menyentuh tubuh suaminya saja Madina takut. Ternyata pria itu benar-benar memporakporandakan rumah tangganya.

"Mas? Aku bisa jelasin, Mas."

Selangkah Madina mundur saat melihat tatapan suaminya saat ini. Tangan yang biasa mengelus segala gundah di hati itu tengah meremas penuh amarah pada ponselnya. Kemudian diperlihatkan tepat di depan wajah Madina?

"Lihat ini? Apa kurangku padamu, Madina? Sampai harus mencari sentuhan menjijikan dari pria lain?" bentak Adnan.

Luruh. Luruh sudah air matanya lagi. Ini yang Madina takutkan, suaminya tahu dari orang lain. Ternyata ia kalah cepat untuk menjelaskan dari mulutnya sendiri.

"Mas ... maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu,"

"Tidak bermaksud? Lalu ini apa, Hah?!"

PRANG!!

Adnan membanting ponselnya sendiri. Rasanya sangat muak jika terus berlama-lama menatap kemesraan istrinya dengan pria selain dirinya. Tak menyangka, di balik perangai lembut Madina tersimpan sifat yang sangat tercela. Ia bukan hanya menodai agama, selain membuat kotor tubuhnya, Madina telah mencoreng muka Adnan dengan penuh kesadaran. Sekaligus mengotori bahtera pernikahan yang selama ini begitu bersih tanpa cela.

Melihat Adnan yang murka, Madina langsung bersimpuh di kakinya. Ia tahu derai air mata yang tak terhitung bulirnya sudah tak akan bisa mengembalikan rasa empati suaminya. "Mas, aku mohon percayalah. Ini yang sejak kemarin menjadi kesedihanku. Aku sama sekali tidak sadar dan tidak mengenali pria itu. Aku dijebak, Mas."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Pengganti, Aku Istri Sahmu!
9.4
Pernikahan Sarah hancur saat Andi kabur di hari bahagia mereka. Demi menjaga nama baik keluarga, Bayu, kakak Andi, terpaksa menikahi Sarah. Namun, Sarah justru menghadapi penderitaan baru karena sikap Bayu yang sangat dingin. Di balik kebencian suaminya, ada rahasia besar tentang hilangnya Andi yang belum terungkap. Kini, Sarah terjebak dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh misteri gelap.
Sampul Novel Cinta Kita Sudah Punah
8.8
Saat gempa bumi melanda ketika sedang makan bersama adik angkat suaminya, seorang istri yang hamil lima bulan menaruh harapan pada suaminya yang berprofesi sebagai pemadam kebakaran. Namun, di tengah situasi kritis, sang suami memilih menyelamatkan adik angkatnya yang sakit-sakitan dan membiarkan istrinya tertimbun batu besar hingga kakinya patah. Meski sang istri memohon pertolongan, ia ditinggalkan hingga tewas. Penyesalan pun membuat sang suami kehilangan akal sehatnya.
Sampul Novel Desah Di Kamar Sebelah
8.2
Seorang istri mendadak terbangun dari tidurnya setelah menenggak jamu dari sang adik ipar. Ia terkejut mendapati suaminya tidak ada lagi di sampingnya. Di tengah malam yang sepi itu, kecurigaannya merebak saat mendengar suara desahan asing dari balik kamar adik iparnya. Berbagai pertanyaan mulai menghantuinya. Ke mana suaminya pergi? Misteri apa yang disembunyikan di dalam kamar sebelah? Sebuah rahasia gelap kini mengancam keutuhan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Hanin & Wahyu
8.0
Hanin dan Wahyu tumbuh bersama sebagai saudara kembar yang tak terpisahkan. Namun, jalan hidup mereka berubah drastis setelah menikah. Suratman berhasil membangun karier sebagai konsultan bank dan beristrikan sekretaris hotel yang penuh ambisi. Di sisi lain, Suratmin hanya menjadi petugas kebersihan dengan istri seorang ibu rumah tangga biasa. Jurang status sosial serta perbedaan pola asuh anak yang sangat kontras ini memicu perselisihan besar yang mengorbankan masa depan anak-anak mereka.
Sampul Novel Hasrat Berbahaya Sang Pewaris Duda
8.6
Pasca dikhianati Roy hingga kehilangan rahim dan hak asuh anak, Shanty bertekad membalas dendam pada mantan suami serta mertuanya. Ia pun nekat bersekutu dan menyerahkan diri kepada pewaris Halim Group yang dingin. Namun, kehidupan baru sebagai istri konglomerat menyeretnya ke dalam intrik mematikan. Di tengah misteri gelap sang suami baru, mampukah Shanty merebut kembali kebahagiaannya, atau ia justru akan hancur dalam pusaran kekuasaan?
Sampul Novel Kesalahan di Malam Sebelum Akad
8.4
Akibat pengaruh alkohol, Ardi melakukan kesalahan fatal di malam sebelum pernikahannya. Ia salah memasuki kamar dan menodai Citra, pengasuh anak kembar dari adik angkatnya. Padahal, keesokan harinya ia dijadwalkan untuk melangsungkan akad nikah bersama sang tunangan, Maya. Kini, Ardi dihadapkan pada dilema moral yang sangat berat. Ia harus memilih antara melanjutkan rencana pernikahan dengan Maya atau bertanggung jawab atas perbuatannya dengan menikahi Citra.