APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa

Madina kembali dipertemukan dengan Adnan, mantan suaminya yang dahulu mengusirnya akibat tuduhan selingkuh. Tiga tahun lamanya Madina berjuang sebagai kuli kasar lantaran ijazahnya dihancurkan. Kini, Adnan tiba-tiba mengajaknya rujuk. Pria itu berambisi merebut kembali putra mereka demi memperebutkan harta warisan. Di tengah luka masa lalu dan hadirnya sosok pria baru yang tulus, Adnan mencoba memulihkan nama baik Madina. Akankah Madina kembali atau memilih jalan barunya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Buka jilbabnya!"

"Baik, Tuan."

Seorang pria yang mendapat perintah dari bosnya langsung saja melaksanakan titah untuk melucuti jilbab yang tersemat di kepala wanita yang tengah tak sadarkan diri. Wanita itu masih saja menutup mata lantaran bahaya tengah di depan mata. Semuanya karena bius yang masih bereaksi di tubuhnya.

Jilbabnya telah terlepas, memperlihatkan mahkota hitam yang terurai begitu cantik. Begitupun dengan baju dan celana panjangnya yang kini hanya tersisa kaos dan celana dalam saja. Kedua pria di hadapannya sontak menelan ludah melihat ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.

"Sekarang kamu keluar, tunggu di lobby."

"Baik, Tuan Smith."

Sekarang tersisa mereka berdua saja di dalam kamar hotel. Sebelum menjalankan aksinya untuk berkelana pada kenikmatan dunia, pria yang dipanggil Smith itu mengambil potret wanita itu dengan ponsel pintarnya. Satu lengkungan senyum menyeringai sebelum akhirnya Smith juga membuka setelan jas hitam serta kaos yang melekat di tubuh atletisnya. Ia melemparkannya ke lantai dengan hasrat yang telah sampai di ubun-ubun. Tak sabar untuk segera bertempur dengan segala yang ada di tubuh sang wanita.

Belaian dan sentuhan mendarat dengan mulus di pipinya yang halus. Seluruh wajah pun telah diciumnya, membuat perlahan tersadar mengerjapkan mata. Lantas kelopak mata itu terbuka memperlihatkan sorot yang indah. Sesaat tatapannya bingung di mana dia berada. Langsung saja Smith menindihnya tanpa kata. Mencengkram kedua tangannya penuh nafsu bersiap menjelajah di atas dua menara yang konon bisa mengeluarkan mata air.

Tak Smith pedulikan teriakan minta tolong dari makhluk lemah yang berstatuskan istri orang itu. Namun tetap saja Smith tak fokus karena wanita itu memberontak kuat diiringi tangisan minta dilepaskan.

"Hmm ... hmmm ...,"

Smith membekap mulut wanita itu untuk tak mengeluarkan suara. Hembusan nafas dari keduanya saling menyatu karena jarak yang begitu dekat.

"Diam! Percuma saja kamu berteriak, kamar hotel ini kedap suara. Jadi jangan buang tenagamu, lebih baik nikmati saja permainanku!" ucap Smith pelan dengan menghapus air mata yang terus mengalir darinya.

"Tolong ... jangan lakukan ini padaku ...."

Rengekan wanita itu justru membuat Smith merasa tertantang. Dalam hati ia mencemoohnya karena wanita itu begitu bodoh tak ingin dibawa pada kenikmatan duniawi. Padahal tugasnya hanya diam saja, biarkan Smith yang memberikan gelora nikmat dengan beberapa kecupan di tubuhnya yang nyatanya begitu menggoda.

Merasa leher jenjangnya tak dapat diraih karena terus memberontak, langsung saja Smith menghirup aroma di belahan dada sang wanita. Wangi tubuhnya yang alami membuat Smith ingin menuntaskan sesegera mungkin. Lantas ia meninggalkan jejak merah di sana dengan bibirnya. Menenggelamkan wajahnya di antara dua gundukan taman surga.

Bugh!

Pusaka Smith mendapatkan tendangan dari wanita itu. Membuatnya bangun dan meringis kesakitan, kilat matanya mengeluarkan amarah melihat wanita yang segera terduduk memeluk lutut. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Nampak wanita itu begitu ketakutan.

Plak!

Tanpa rasa kasihan, Smith mendaratkan tamparan pada wanita itu dengan tangan kekarnya. Meninggalkan bekas merah di wajahnya yang sembab oleh air mata.

Lagi. Smith menamparnya yang kedua kali, buah dari kemarahannya yang tak dapat dielakkan lagi. Saat hasrat yang sedang naik-naiknya, tiba-tiba sesuka hati wanita itu menendangnya di kala lengah. Kurang ajar.

"Dasar bodoh! Kamu tinggal nikmati saja tapi bersikap diam saja tak bisa?" hardik Smith.

"Tolong ... jangan lakukan itu padaku, tolong ...,"

Smith tersenyum mengejek mengangkat sebelah mulutnya. "Serahkan dulu seluruh tubuhmu, baru bisa bebas."

Wanita itu mengangkat wajahnya. "Jika tak mau melepaskanku, siksa saja aku sepuasmu, aku lebih ridho ketimbang kamu menyentuh tubuhku!" teriaknya.

Dari sekian wanita yang melayaninya, Smith tidak pernah mendapat penolakan seperti ini. Meski sebelumnya ia tahu, dengan wanita ini aksinya tidak akan semulus biasanya. Dalam hati Smith merutuk pada anak buahnya, karena tak becus dalam memberikan obat bius.

Smith menarik nafas dan mengeluarkannya dengan kasar. Lain hati, sisi prikemanusiaannya merasa iba melihat wanita itu begitu terpukul. Walau bagaimana pun, ia dilahirkan dari rahim seorang wanita, dan ibunya berhijab sama seperti wanita di hadapannya. Meski pada kenyataannya, Smith seringkali menodai banyak perempuan dan mencampakkannya sesuka hati.

"Siapa namamu?" tanya Smith sedikit melunak.

"Madina."

Tanpa menoleh Madina menyebut namanya. Tubuhnya masih bergetar menahan ketakutan. Ia tak menyangka dalam hidupnya akan mendapatkan sejarah menghinakan. Entah bagaimana ceritanya ia bisa berada di hotel ini bersama lelaki biadab yang hampir memperkosanya. Ingatannya cukup buntu untuk memperjelas beberapa jam ke belakang. Terakhir, ia berada di rumah sakit untuk mengecek kehamilannya, bukan tempat terkutuk ini.

"Jika kamu masih punya hati tolong keluarkan aku dari sini," pinta Madina kemudian.

Smith menarik nafas panjang. "Boleh saja. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, setelah ini hidupmu tidak akan baik-baik saja. Kalau mau aman, bersenang-senanglah denganku satu jam saja."

"Dengan kamu memperlakukan hal ini padaku hidup saya sudah tidak baik-baik saja. Jadi jangan tawari hal laknat apa pun lagi. Sudah cukup kamu memperlakukanku bak sampah." Madina bersungut penuh amarah.

Smith malah tertawa lebar melihat kemarahan Madina. "Hei ... kamu pikir aku sudah menodaimu? Jika dengan perbuatanku tadi membuatmu merasa telah jadi sampah maka kamu terlalu sok suci. Aku hanya menawarkan kebaikan, tetapi rupanya kamu belum paham."

"Tidak ada kebaikan di atas sebuah dosa. Yang kamu lakukan padaku benar-benar salah!"

Smith menepis lengannya dan beringsut turun menuju sopa. "Ah, sudahlah, aku tak butuh ceramahmu. Pakai kembali bajumu."

Entah mimpi apa semalam sampai Madina harus berhadapan dengan situasi seperti ini. Tak mau berlama-lama dengan lelaki itu, Madina meraih kembali pakaiannya yang tergeletak di atas ranjang. Lantas ia berjalan menuju toilet dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Sementara Smith hanya menyunggingkan senyum tipis dengan menggelengkan kepala melihat tingkah wanita itu yang menurutnya aneh.

Guyuran air dari shower pada tubuh Madina seolah bukan hanya menghilangkan jejak air liur lelaki tadi, tetapi juga menghilangkan kotoran yang menimpa harga dirinya. Tangisnya pecah lagi di dalam sana. Mewakili kemarahan, kesedihan, dan kebingungan yang bergejolak dalam isi kepala.

Apa yang harus Madina jelaskan pada suaminya jika pulang nanti. Apa lagi saat sekarang Madina melihat ke cermin, nampak bekas merah tercetak jelas di belahan dadanya. Lagi, anak sungai mengalir lagi dari sudut matanya. Menangisi kebodohannya.

Jika saja ia tidak pingsan tadi, mungkin harga dirinya masih utuh. Tiada lagi lelaki mana pun yang bisa leluasa melihat tubuhnya kecuali Adnan—suami tercintanya. Namun begitu Madina masih selamat dan dikatakan beruntung, karena tubuhnya belum sepenuhnya diambil oleh lelaki tadi. Meskipun tidak bisa dinikmati, tetap saja tubuh Madina sudah dilihatnya secara jelas. Dan itu sangat memalukan.

Smith yang sudah rapi dengan setelan jas hitamnya, berdiri saat Madina keluar dari toilet dengan mengenakan pakaiannya lagi. Wajah wanita itu nampak ditekuk, Smith paham perasaan dan pikirannya. Model wanita sepertinya memang tidak mudah melabuhkan hati atau hasrat pada sembarang lelaki. Namun Smith tak peduli.

"Mau diantar?" tawar Smith basa-basi.

Madina menatap nyalang setelah menyambar tasnya di atas nakas. Lekat ditatapnya secara tajam seolah akan menghabisi. "Tidak perlu!"

"Lagi-lagi kamu menolak tawaran baikku. Ingat Nona Madina ... tawaranku mengandung negosiasi yang sangat menguntungkan. Sekali lagi saya tawarkan, jika kamu mau diantar, maka selanjutnya hidupmu aman. Tetapi jika tidak, lihat saja nanti kelanjutan hidupmu!"

"Terserah." Madina melenggang keluar melewati Smith tanpa peduli ucapannya yang terdengar seperti ancaman.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak Seksi Tuan Cedric
8.2
Kehidupan Falisha Marbella hancur seketika saat kekasihnya, Ben Andrigo, tewas di dekatnya. Tragedi mahasiswi 19 tahun ini berbuntut panjang ketika ayah Ben, Cedric Andrigo, menuduhnya sebagai penyebab kematian sang putra. Sebagai miliarder kejam yang memimpin bisnis ilegal, Cedric bersumpah membuat hidup Falisha menderita. Didorong dendam, pria arogan itu memaksa Falisha menjadi budak pemuas nafsunya. Akankah Falisha sanggup membebaskan diri dari belenggu kekejaman Cedric?
Sampul Novel Istri yang Lari di Hari Pernikahannya
9.3
Siti Maemunah terpaksa menikah karena perjodohan yang diatur pamannya. Tepat setelah akad nikah selesai, ia memutuskan melarikan diri dan meninggalkan sang suami dengan keyakinan mereka tak akan pernah bertemu lagi. Namun takdir berkata lain. Setahun kemudian, Maemunah justru kembali dipertemukan dengan Alga. Kini, ia tidak punya pilihan selain menghadapi kenyataan pahit dari masa lalu yang sempat dihindarinya.
Sampul Novel Keluarga yang Mengkhianatiku Sendiri
8.8
Aluna, cucu kesayangan konglomerat Hartawan, dididik untuk memimpin dinasti bisnis keluarganya. Meski hidup bergelimang harta, gadis periang ini selalu bebas mengejar keinginannya. Ambisi terbesarnya kini adalah meluluhkan hati Reyhan, pria dewasa yang sangat kaku, disiplin, dan dingin. Walau Reyhan gigih menjaga jarak demi keteraturan hidupnya, kehangatan dan energi Aluna perlahan mulai mengacaukan dunia tenang yang selama ini ia pertahankan dengan rapat.
Sampul Novel Kumpulan Kisah Hot Membara
8.0
Kumpulan Kisah Hot Membara menyajikan rangkaian cerita romantis dewasa yang sarat akan gairah. Setiap babak mengupas dinamika hubungan modern yang intens, mempertemukan gejolak emosi dan hasrat terdalam para tokoh dalam momen-momen intim mereka. Pembaca akan diajak menyelami beragam skenario percintaan yang berani dan menggoda, mengungkap dimensi lain dari jalinan asmara yang penuh dengan percikan cinta membara.
Sampul Novel Mantan Tapi Menikah
8.8
Pertemuan dengan King di reuni tahunan membuka kembali luka lama Emily. King, sang mantan kekasih yang selalu ia hindari, tiba-tiba datang membawa lamaran pernikahan yang tak terduga. Walau Emily pernah bersumpah enggan kembali padanya, sebuah kejadian besar mengubah segalanya. Kini, ia terpaksa menerima tawaran tersebut dan harus bertahan menjalani rumitnya bahtera rumah tangga bersama pria yang sempat sangat dibencinya.
Sampul Novel Tingkat Nol Cinta
9.7
Aturan ketat di firma NCA melarang keras hubungan asmara demi melindungi rahasia kekuasaan. Lucía Vega dan Bruno Ortega, dua agen profesional yang terbiasa hidup tanpa privasi, terjebak dalam sistem dingin ini. Namun, percikan cinta yang tak terduga muncul di antara mereka. Kini, keduanya dihadapkan pada pilihan sulit: tetap patuh pada regulasi perusahaan atau nekat mengejar asmara yang mengancam karier mereka di tengah pengawasan yang sangat ketat.