APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Salesman Biasa

Bukan Salesman Biasa

Nasib Ardhan Aji Pradiptio berbalik arah setelah menyelamatkan seorang kakek misterius yang memberinya benda ajaib. Dari pria malang yang kariernya hancur, sering dihina atasan, dan gagal menikah, Ardhan kini bisa melihat kadar kebaikan serta kejahatan orang lain lewat matanya. Namun, kemunculan sosok pria bermata ganjil seketika memicu kebimbangan besar. Sanggupkah Ardhan membongkar jati diri sebenarnya dari sosok misterius tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 1

“Lho kok gaji saya cuma segini, Pak?” tanya seorang lelaki muda di ruangan atasannya.

“Kerja aja nggak becus, kalau mau gajimu utuh tagih semua klien-klien kamu! Klien pada nggak bayar kok minta gaji besar,”omel sang atasan.

“Tetapi saya mohon Pak, bulan ini jangan dipotong lagi. Saya akan kerja lebih keras lagi,” ujarnya.

“Kerja keras apa? diikutkan promosi jabatan malah hasilnya begitu, tender nggak pernah menang, proyekmu gagal. Beruntung kamu masih saya pertahankan, kalau tidak kasian karena kamu mau nikah, sudah saya pecat dari bulan kemarin,” lanjut pria tua dan gendut dengan kacamata yang tebal.

Skak Mat!!

“Saya janji Pak, saya akan berubah. Tetapi tolong-lah Pak, jangan potong gaji saya bulan ini.”

“Hei Ardhan, saya bisa kembalikan gaji kamu tetapi semua tunggakan klienmu harus beres dalam waktu dua hari.”

“Baik Pak, terima kasih banyak.”

Usai mengucapkan hal tersebut, ia pun berjalan keluar menuju ruangannya. Ketika pria bertubuh kurus itu akan masuk ke dalam ruangannya tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. “Mas Ardhan, ini daftar klien yang harus ditagih dan pastikan semua tunggakan mereka beres secepatnya ya Mas. Atau gajimu bulan depan juga akan dipotong!!”

“Baik Bu, akan saya usahakan,” jawab Ardhan.

Ardhan lalu melanjutkan langkahnya menuju ke dalam ruangan kerjanya. Di dalam ruangan berukuran 3x3 meter itu, ia memilih klien yang akan didatangi hari ini. Ardhan akan lakukan semua hal agar gajinya bisa kembali utuh.

Setelah memilah dan memilih, ia menetapkan empat perusahaan karena etaknya yang berdekatan. Ardhan mempersiapkan semua berkas yang diperlukan kemudian keluar dari ruangannya dan bergerak menuju parkiran. Dengan motor bututnya lelaki itu siap menunaikan tugasnya.

Usai berjibaku di jalanan selama 45 menit akhirnya lelaki itu sampai di perusahaan yang pertama. Ardhan langsung menghadapa ke bagian resepsionis dan mengatakan maksud dan tujuannya datang ke perusahaan tersebut. Tak perlu menunggu waktu lama, orang yang hendak ia temui langsung mendatanginya.

“Selamat Pagi Pak, maaf saya men—“

“Kamu ini apa-apaan Pak Ardhan, saya tahu kewajiban saya apa. Tidak perlu kamu datang dan menagih ke kantor seperti ini!” ujar lelaki berkacamata tebal itu, ia tampak marah dengan kedatangan Ardhan.

“Saya datang ke mari dengan maksud yang baik, asal bapak tahu ya tagihan bapak ini sudah lewat—“

“Saya tahu dan saya tidak mangkir, perusahaan kami akan bayar tagihannya. Tetapi tidak perlu datang ke sini, memalukan saja!!” potong lelaki itu, ia semakin marah. Keributan antara dua orang itu membuat pihak keamanan perusahaan tersebut mendekati mereka.

“Ya kalau tidak mau malu, bayar tagihannya Pak! Saya yang kena getahnya!” jawab Ardhan tak kalah garang, emosinya sudah meluap.

“Usir dia Pak! Datang ke mari dengan tidak sopan,” titah lelaki itu kepada dua security tersebut. Kedua pria berbadan tegap itu seketika membawa Ardhan keluar dari ruang lobby perusahaan. Mereka mendorong Ardhan hingga terjatuh di lantai yang keras.

“Pergi kamu!! Jangan pernah datang ke perusahaan ini lagi!!”

Ardhan yang kesal dan merasa malu segera angkat kaki dari perusahaan itu, ia berjalan menuju motornya dan langsung pergi begitu saja. Hal pahit yang didapatkan Ardhan tadi tak membuatnya patah semangat, dirinya sudah bertekad akan menyelesaikan semua tunggakan klien-nya. Dan kini Ardhan bergerak menuju perusahaan yang kedua.

Berbeda dengan perusahaan sebelumnya, di tempat kedua kali ini Ardhan tak bertemu dengan pihak keuangan melainkan hanya bagian frontliner-nya saja. “Mohon maaf sekali Pak Ardhan, perusahaan kami belum bisa membayar sekarang tetapi kami akan melunasi tagihannya sesegera mungkin,” jelas pegawai wanita tersebut.

“Kira-kira berapa lama ya mbak? Saya perlu kepastian waktunya untuk laporan ke atasan saya. Tanggal jatuh temponya sudah terlewat jauh,” desak Ardhan.

“Kami belum bisa memastikan tanggal tepatnya, kami akan usahakan sesegera mungkin.”

“Begini saja mbak, katakan pada boss anda jika besok saya akan kembali ke sini lagi. Karena saya harus mendapatkan kejelasan tanggal pembayaran, terima kasih.”

Usai mengatakan hal tersebut kemudian Ardhan pergi dari perusahaan tersebut, ia bergerak cepat menuju perusahaan yang lainnya. Dua perusahaan yang didatanginya belum bisa membayar sedangkan hari sudah semakin siang membuat lelaki itu menjadi panik.

Ardhan bergegas menuju parkiran, menyalakan mesin motor bututnya dan bersiap ke perusahaan yang ketiga. Di tengah jalan motornya mendadak mati, Ardhan berdecak kesal. “Sial, pake mogok segala!” umpatnya sembari menepikan motor.

Ardhan mencoba memperbaiki motornya, ia memeriksa mesinnya berulang kali dengan teliti namun tak juga bisa menyala. Ardhan yang kesal mencoba beristirahat sebentar untuk meredam emosinya dan kekalutan dalam dirinya.

Ketika dirinya duduk di bahu jalan, netra coklatnya tak sengaja melihat seorang kakek renta sedang mengorek bak sampah. Kakek itu seperti hendak mencari makanan sisa, Ardhan yang teringat akan sosok kakeknya merasa iba. Ia lantas menghampiri pria tua tersebut.

“Permisi Kek, Kakek lagi cari apa di kotak itu?”

“Saya lapar Nak, dari kemarin belum makan,” jawab Kakek tersebut sembari menunduk.

Benar dugaan Ardhan, lelaki berpakaian formal itu berada dalam kebimbangan. Di satu sisi dirinya kasihan pada si Kakek, di sisi lainnya ia juga merasa lapar ditambah pula uangnya hanya tinggal sedikit.

“Saya ada sedikit rejeki buat Kakek, tolong diterima. Tidak usah mencari makanan di situ, beli saja di warung,” kata Ardhan seraya mengeluarkan uang receh dari saku celananya. Ternyata rasa ibanya lebih besar dibanding rasa laparnya.

“Terima kasih ya Nak, akhirnya saya bisa makan,” ujar Kakek tersebut tersenyum. Ardhan ikut senang melihat Kakek itu senang. “Saya tidak bisa membalas kebaikanmu tetapi saya punya sesuatu untukmu.”

Pria tua berbaju lusuh itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya. Sebuah kacamata putih diberikan oleh Kakek itu kepada Ardhan. “Tidak usah Kakek, saya tidak memerlukan kacamata ini,” tolak Ardhan.

“Terima saja, hanya ini yang saya punya. Mudah-mudah bisa membantu pekerjaan kamu ya,” ujar lelaki itu memaksa Ardhan untuk menerimanya. Akhirnya Ardhan menerima benda pemberian lelaki tua itu walau dengan berat hati.

“Kacamata ini tampak jadul, sepertinya ini kacamata baca,” gumamnya, lelaki itu kembali ke tempatnya semula. Ardhan yang penasaran lalu mencoba memakai kacamata tersebut, ia bercermin di kaca spion. “Lumayan cocok untukku.”

Lelaki itu kemudian mencoba melihat ke arah jalanan. Detik berikutnya ia menjadi ketakutan sendiri hingga memundurkan langkahnya. Ardhan yang panik berusaha melepaskan kacamata misterius tersebut tetapi benda itu terus menempel, tidak bisa dilepaskan sekeras apapun ia mencobanya.

 Apa yang dilakukan oleh Ardhan tentu saja menjadi pusat perhatian pengendara lain. Salah satu pengendara memberhentikan kendaraan dan bermaksud untuk membantu Ardhan. “Lho ini Mas Ardhan ya? Kenapa Mas?”

“Ah tidak apa-apa, Pak,” jawabnya.

“Beneran Mas Ardhan tidak apa-apa?” ulang lelaki itu dan Ardhan menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Kebetulan saya menunggu kedatangan Mas Ardhan lho. Bisa kita sekarang ke kantor saya?”

“Bapak menunggu kedatangan saya?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Yang Ditulis Ulang
9.3
Madelyn Jent meninggal dalam penyesalan akibat kanker dan pernikahan dingin selama delapan tahun. Menjelang ajal, Zach Jardin tak pernah hadir, membuat Madelyn bersumpah takkan mau mencintainya lagi jika ada kesempatan kedua. Keajaiban lalu melemparnya kembali ke usia delapan belas tahun. Saat Madelyn mencoba menjauh untuk mengubah nasib, Zach justru kembali hadir di hidupnya. Pria itu mendekat penuh intimidasi, membawa janji untuk melindunginya selamanya.
Sampul Novel Ketika Anak Kami Melompat, Saya Memutuskan Ikatan Kami
8.8
Demi selingkuhannya, Alpha Damien tega mengabaikan hari lahir putrinya. Noah yang mengalami gangguan jiwa merasa terbuang hingga nekat mengakhiri hidupnya. Di tengah duka yang hancur, Damien justru melindungi Omega lain alih-alih mendampingi sang istri. Kecewa atas pengkhianatan ini, sang istri nekat melakukan Ritual Penolakan di hadapan seluruh kawanan. Kini ikatan takdir mereka telah terputus selamanya, menyisakan penyesalan Damien yang sia-sia memohon ampun.
Sampul Novel Not A Perfect Marriage
9.5
Ivy Marionet menjalani pernikahan rumit yang penuh rahasia dengan seorang ksatria kerajaan. Ia harus berjuang keras demi menyembunyikan identitas aslinya yang misterius. Keadaan kian genting saat campur tangan Putra Mahkota Winter membuat Ivy terancam hukuman mati di tangan suaminya sendiri. Siapa sebenarnya sosok Ivy? Di tengah intrik dan bahaya yang mengintai, mampukah ia mengungkap kebenaran sekaligus menyelamatkan diri dari eksekusi yang membayangi hidupnya?
Sampul Novel Pembalasan Winter
7.9
Karir Kimberly Feodora, seorang model terkenal, hancur akibat tuduhan palsu atas kematian sahabatnya. Depresi karena diasingkan, ia melompat dari lantai tujuh belas. Namun, jiwanya terbangun di tubuh Winter, gadis obesitas yang dikhianati meski disayangi keluarganya. Berbekal kesempatan kedua ini, Kimberly bertekad membalas dendam dengan cara tak terduga.
Sampul Novel Pendekar Dataran Tengah
8.5
Pernikahan kontroversial Jiu Cien dengan bibi gurunya berujung petaka. Hasutan dan rasa iri membuat istrinya yang sedang mengandung tewas dibantai secara keji. Di tengah kehancuran hidup, Jiu Cien bangkit membawa dendam membara terhadap para pelaku. Ia memulai petualangan hebat di dunia persilatan demi membalas rasa sakitnya. Lewat perjuangan berdarah, ia menapaki jalan kependekaran hingga berhasil menduduki takhta tertinggi sebagai Pendekar Dataran Tengah.
Sampul Novel Pendekar Pedang Patah
7.9
Pancaka, pemilik pedang legendaris tanpa bilah, adalah musuh yang ditakuti oleh seluruh golongan persilatan hitam maupun putih akibat aksi penghancurannya. Namun, kejayaan sang pendekar runtuh seketika setelah ia mengalami kekalahan telak. Secara misterius, ia terlempar kembali ke masa lalu. Kini, Pancaka dihadapkan pada pilihan hidup yang baru: memperbaiki perilakunya yang dulu atau justru tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih kejam.