APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Salesman Biasa

Bukan Salesman Biasa

Nasib Ardhan Aji Pradiptio berbalik arah setelah menyelamatkan seorang kakek misterius yang memberinya benda ajaib. Dari pria malang yang kariernya hancur, sering dihina atasan, dan gagal menikah, Ardhan kini bisa melihat kadar kebaikan serta kejahatan orang lain lewat matanya. Namun, kemunculan sosok pria bermata ganjil seketika memicu kebimbangan besar. Sanggupkah Ardhan membongkar jati diri sebenarnya dari sosok misterius tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Iya, saya menunggu kedatangan Mas Ardhan untuk membayar semua tagihan perusahaan saya.”

“Bapak serius mau membayar semua tagihan?" ulang Ardhan yang tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Serius Mas, saya akan bayar semua beserta dendanya," sahut lelaki itu. Senyum mengembang seketika di bibir Ardhan, ia melupakan masalah kacamata tersebut. Yang terpenting sekarang kliennya membayar hutang-hutangnya.

"Baik Pak, kita bisa jalan sekarang," ujarnya. Dengan kendaraan masing-masing kedua menuju perusahaan tersebut. Tak butuh waktu lama keduanya pun sampai di tempat tujuan, Ardhan dibawa ke ruang rapat. Di sana mereka membicarakan mengenai tagihan yang belum terbayarkan, cukup lama Ardhan melakukan negosiasi hingga akhirnya dia pulang membawa kabar baik.

Perasaan Ardhan sungguh senang karena berhasil satu misinya namun tetap saja ada yang mengganggu pikiran lelaki itu. Penglihatan menjadi berbeda sekarang karena kacamata itu. Setiap kali ia menatap mata orang lain maka tampak warna merah atau biru.

"Apa jadi begini, kenapa bola mata mereka berubah. Apa maksudnya?" batinnya. Sayangnya Ardhan tak memiliki banyak waktu untuk menemukan jawabannya, sore ini dirinya masih harus pergi ke perusahaan terakhir. Kebetulan jarak perusahaan tersebut tak jauh sehingga dalam waktu singkat dirinya tiba di perusahaan keempat.

Tak seperti dua perusahaan sebelumnya, begitu Ardhan mengatakan tujuan ke perusahaan tersebut bagian frontlier langsung menyambutnya ramah. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh manajer perusahaan tersebut.

"Maaf ya Mas Ardhan perusahaan kami terlambat membayar kewajiban," ujarnya ramah ketika mereka sudah berada di ruang pertemuan. Proses pembayaran pun berlangsung cepat, setelah semua transaksi selesai Ardhan pun kembali ke kantornya dengan langkah ringan.

Semua orang di kantor mendadak ramah padanya, tentu saja hal tersebut membuatnya kaget. Kejutan lain menanti dirinya, Sang atasan tersenyum lebar sembari berjalan ke arahnya. "Nah gitu dong Dhan, kerja bagus. Kamu berhasil menagih klien yang paling sulit, hebat kamu," puji sang manajer.

"Te –terima kasih, Pak," sahut Ardhan gagap, ia tak siap menerima pujian dari orang yang biasanya memarahinya itu.

"Kamu pakai jampi-jampi apa? Atau kamu pakai doa apa, tiba-tiba perusahaan itu mau bayar?” tanya si boss yang terkesan menuduhnya bermain cara kotor.

"Tidak ada jampi-jampi atau doa khusus, Pak. Mungkin beliau kasihan pada saya," jawab Ardhan seraya mencuri pandang ke arah juniornya itu.

"Karena kerja kamu bagus hari ini, Saya akan tugaskan kamu untuk bertemu klien besar kita yang baru," tawar lelaki itu.

"Sa –saya Pak?" tanya Ardhan tak percaya.

"Iya, kamu mau 'kan Dhan? Ini kesempatan langka, kalau kamu berhasil mendapatkan kerjasama dengan perusahaan itu, kamu naik jabatan.”

"Mmm ... Begini Pak, A –anu ... sebenarnya saya ...," ujar Ardhan seraya menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal.

"Kamu pikirkan saja dulu, Dhan tetapi saya harap kamu bersedia menjadi wakil perusahaan,” kata si boss berlalu begitu saja. Ardhan lantas meneruskan langkahnya ke ruang kerjanya. Di dalam ruangan yang didominasi warna putih tersebut, ia memikirkan tentang banyak hal.

Salah satunya tentang tawaran dari atasannya tadi, Ardhan merasa tidak percaya untuk menunaikan tugas tersebut meskipun imbalan yang didapatkannya sungguh besar. Sudah lama dirinya menantikan kesempatan untuk naik jabatan. "Ini memang kesempatan emas untukku tetapi apa yang membuat Pak Boss mempercayakan tugas berat ini ya. Kenapa tiba-tiba begini," gumamnya.

Hal lain yang juga mengganjal pikirannya adalah semua bola mata orang berubah menjadi dua warna solid. Ardhan memikirkan apa yang membuat kedua mata mereka berbeda. Jika dilihat secara gender, bukan hanya rekan wanitanya saja yang memiliki bola mata biru, banyak rekan laki-laki yang memiliki warna serupa. Begitu pula sebaliknya.

Suara ketukan di pintu kerjanya membuat Ardhan menoleh, seseorang wanita masuk ke dalam ruangannya sembari membawa tumpukan daftar klien yang lain. "Ini daftar klien yang kedua, usahakan semua membayar ya Mas. Ingat, resiko apa yang akan kamu dapatkan jika tidak melakukannya dengan baik.”

"Mbak, Kamu lagi nggak sakit mata 'kan? soalnya matamu jadi merah?" ujarnya memberanikan diri bertanya karena mata wanita itu tampak merah pekat.

"Nggak, aku baik-baik saja. Mata siapa yang merah, kok tiba-tiba tanya begitu,”sahut wanita itu sewot kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.

"Jangan-jangan yang membedakannya perlakuan mereka ke aku. Merah artinya jahat dan biru itu baik,” cicitnya. "Buktinya milik karyawan lain berwarna merah pekat tetapi kenapa milik Pak Bobby biru ya?”

Pintu ruangannya kembali diketuk oleh seseorang kali ini yang datang adalah sang atasan. Sepertinya Pak Bobby tidak sabar untuk mendengar jawaban dari Ardhan. "Jadi gimana Dhan? Kamu sudah pikirkan bukan lalu apa jawabanmu?”

"Saya bersedia Pak," jawabnya cepat, Ardhan tak tahu bagaimana dirinya bisa berkata demikian.

"Baguslah kalau begitu, kamu akan pergi besok. Semua berkas sudah disiapkan, kamu tinggal mempelajarinya saja," jelas lelaki paruh baya itu. Sang atasan memuji penampilan baru Ardhan, beliau mengatakan jika lelaki itu tampak lebih baik menggunakan kacamata. Lelaki Itu hanya menundukkan kepalanya karena malu seraya mengumpat di dalam hati.

Sepeninggalan Pak Bobby, ada orang lain yang masuk ke dalam ruangannya. Seorang lelaki berbadan tegap, ia merupakan teman baik Ardhan. "Dhan, tadi aku dengar kamu jadi utusan kantor ya?" tanya lelaki itu tiba-tiba.

"Iya, mudah-mudahan Pak Bobby tidak salah pilih ya," timpal Ardhan.

Sudah pasti Pak Bobby salah pilihlah. Masa kamu yang jadi utusan kantor, pegawai lain 'kan banyak yang lebih baik dan lebih layak. Memangnya kamu bisa jawab semua pertanyaan mereka?" kata lelaki itu. Ucapan teman seperjuangannya itu tentu saja membuat Ardhan membulatkan matanya namun ada hal lain yang lebih mengejutkannya.

Mata teman baiknya itu sangat merah, merah pekat. Lelaki yang ada dihadapannya itu merupakan tempatnya berkeluh kesah, Ardhan tak pernah iri atas pencapaian temannya selama ini. Sayangnya temannya tak bersikap sama dengannya.

"Lebih baik kamu mundur saja Dhan, bilang saja kalau kamu tiba-tiba gugup atau apa. Biar digantikan orang lain yang lebih mumpuni," lanjutnya.

"Kenapa harus mundur? Pak Bobby mempercayakan tugas penting ini untukku berarti dia tidak mempercayai orang lain. Pegawai yang lain tidak ada yang lebih mumpuni dibandingkan aku,”sahut Ardhan dengan sedikit emosi. Ia mengusir temannya dengan alasan jika dirinya ingin kembali bekerja.

"Yakinlah Dhan, kamu akan gagal mengerjakan proyek ini seperti yang biasa kamu lakukan. Kamu angkat kaki dari kantor ini, secepatnya," ujar lelaki itu sebelum meninggalkan ruangan tersebut.

Ardhan duduk termenung di depan layar komputernya. Ia memikirkan tentang perkataan temannya itu, bagaimana jika ternyata ucapan tersebut menjadi kenyataan. Semua orang akan menyalahkannya, ia kembali menjadi topik pembicaraan satu kantor selama berhari-hari.

"Jika berhasil aku akan naik jabatan tetapi jika gagal kemungkinan besar aku akan dipecat. Mungkin memang lebih baik aku mundur saja,”pikirnya. Ardhan lantas beranjak dari kursinya kemudian berjalan menuju pintu berwarna cokelat itu.

"Ardhan, ada gawat. Ada kabar buruk untuk kita, klien kita ternyata ingin ...."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Yang Ditulis Ulang
9.3
Madelyn Jent meninggal dalam penyesalan akibat kanker dan pernikahan dingin selama delapan tahun. Menjelang ajal, Zach Jardin tak pernah hadir, membuat Madelyn bersumpah takkan mau mencintainya lagi jika ada kesempatan kedua. Keajaiban lalu melemparnya kembali ke usia delapan belas tahun. Saat Madelyn mencoba menjauh untuk mengubah nasib, Zach justru kembali hadir di hidupnya. Pria itu mendekat penuh intimidasi, membawa janji untuk melindunginya selamanya.
Sampul Novel Ketika Anak Kami Melompat, Saya Memutuskan Ikatan Kami
8.8
Demi selingkuhannya, Alpha Damien tega mengabaikan hari lahir putrinya. Noah yang mengalami gangguan jiwa merasa terbuang hingga nekat mengakhiri hidupnya. Di tengah duka yang hancur, Damien justru melindungi Omega lain alih-alih mendampingi sang istri. Kecewa atas pengkhianatan ini, sang istri nekat melakukan Ritual Penolakan di hadapan seluruh kawanan. Kini ikatan takdir mereka telah terputus selamanya, menyisakan penyesalan Damien yang sia-sia memohon ampun.
Sampul Novel Not A Perfect Marriage
9.5
Ivy Marionet menjalani pernikahan rumit yang penuh rahasia dengan seorang ksatria kerajaan. Ia harus berjuang keras demi menyembunyikan identitas aslinya yang misterius. Keadaan kian genting saat campur tangan Putra Mahkota Winter membuat Ivy terancam hukuman mati di tangan suaminya sendiri. Siapa sebenarnya sosok Ivy? Di tengah intrik dan bahaya yang mengintai, mampukah ia mengungkap kebenaran sekaligus menyelamatkan diri dari eksekusi yang membayangi hidupnya?
Sampul Novel Pembalasan Winter
7.9
Karir Kimberly Feodora, seorang model terkenal, hancur akibat tuduhan palsu atas kematian sahabatnya. Depresi karena diasingkan, ia melompat dari lantai tujuh belas. Namun, jiwanya terbangun di tubuh Winter, gadis obesitas yang dikhianati meski disayangi keluarganya. Berbekal kesempatan kedua ini, Kimberly bertekad membalas dendam dengan cara tak terduga.
Sampul Novel Pendekar Dataran Tengah
8.5
Pernikahan kontroversial Jiu Cien dengan bibi gurunya berujung petaka. Hasutan dan rasa iri membuat istrinya yang sedang mengandung tewas dibantai secara keji. Di tengah kehancuran hidup, Jiu Cien bangkit membawa dendam membara terhadap para pelaku. Ia memulai petualangan hebat di dunia persilatan demi membalas rasa sakitnya. Lewat perjuangan berdarah, ia menapaki jalan kependekaran hingga berhasil menduduki takhta tertinggi sebagai Pendekar Dataran Tengah.
Sampul Novel Pendekar Pedang Patah
7.9
Pancaka, pemilik pedang legendaris tanpa bilah, adalah musuh yang ditakuti oleh seluruh golongan persilatan hitam maupun putih akibat aksi penghancurannya. Namun, kejayaan sang pendekar runtuh seketika setelah ia mengalami kekalahan telak. Secara misterius, ia terlempar kembali ke masa lalu. Kini, Pancaka dihadapkan pada pilihan hidup yang baru: memperbaiki perilakunya yang dulu atau justru tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih kejam.