APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Istri Pajangan

Bukan Istri Pajangan

Kehidupan Riana hancur setelah kesuciannya direnggut oleh Danis, anak dari dosennya. Walau Danis mau bertanggung jawab dengan menikahinya, Riana justru merasa diabaikan bagai istri pajangan tanpa kehangatan. Kepedihan Riana kian memuncak saat memergoki Danis bersama mantan kekasihnya yang tengah hamil besar. Di tengah luka pengkhianatan ini, Riana kini terdesak di antara pilihan sulit: bertahan demi anak mereka atau melepas sang suami demi perempuan lain.
Bab
Bagikan

Bab 3

*Tiga bulan yang lalu*

Riana harus mengalami kebiasaannya ketika akan melaksankan ujian semesternya. Harus kembali berhadapan dengan Kajur jurusannya untuk memberikan kemudahan dirinya dalam mengikuti ujian semesternya.

“Kamu sudah nunggak selama dua semester, Riana!” ucap seorang kepala jurusan di mana Riana melanjutkan pendidikannya.

“Iya, Pak. Maaf. Saya belum bisa membayar tunggakan semesternya.” Riana memelas pada kajurnya, berharap dirinya bisa mengikuti ujian semester enam di tingkat kuliahnya.

“Coba kamu koordinasi dulu pada bagian keuangan. Bapak berharap, supaya kamu bisa mendapatkan keringanan dan kamu bisa mengikuti ujian minggu depan,” ucap Pak Doni Kepala Jurusan Akuntansi di sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Bandung.

Riana yang mendengar saran dari Pak Doni pun menghela napas beratnya. Sangat malas bagi Rania untuk berhadapan dengan staff bagian keuangan. Dirinya harus memelas lagi untuk mendapatkan keringanan dalam membayar biaya kuliahnya.

“Baik, Pak. Saya akan ke bagian keuangan dulu untuk mengkonfirmasi ketidak mampuan saya membayar tunggakan semester,” pasrah Riana. Pak Doni terkekeh melihat sikap pasrah Riana. Ada rasa prihatin sebenarnya yang menelusup di dalam hatinya. Siswa berprestasi yang ceria di salah satu fakultasnya harus mengalami kendala dalam membayar tunggakan biaya semesternya. Namun, sebagai Kajur dirinya tidak bisa melakukan banyak hal. Semua itu sudah menjadi keputusan dan aturan dari pihak kampus.

“Saya permisi dulu ya, Pak. Saya mau ke bagian admistrasi dulu,”

“Baik, Silahkan. Semoga pihak administrasi bisa mengerti ya,”

“Terima kasih, Pak. Assallamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salam,”

Riana keluar dari ruangan kajurnya dalam keadaan putus asa. Apakah mungkin pihak administrasi nanti mau memberikan keringanan pembayaran pada dirinya.

“Gimana Ri? Pak Doni bilang apa barusan?” Desi sahabat sekaligus teman kuliah Riana yang sedari tadi menunggu di luar memberondong pertanyaan pada Riana.

“Disuruh ke bagian keuangan dulu, Des. Males banget deh, ke sana mulu,” ucapnya malas.

“Oh, Ayuk aku anterin. Nanti, aku bantuin deh ngomong. Kita ngomongnya nanti bareng-bareng,” Desi memberikan semangatnya pada Riana.

“Beneran ya.” semangatnya

Desi mengangguk. “Iya, beneran. Kapan sih, akau pernah bohong sama kamu.” Desi menarik lengan Riana untuk segera melangkah menuju bagian keuangan kampus. Mereka berjalan melewati beberapa mahasiswa yang duduk di bangku kampus. Karena, kebetulan jam istirahat kampus sehingga banyak mahasiswa yang berada di luar kelas.

Akhirnya mereka berdua sampai di depan ruang administrasi kampus. Mereka berdua terlihat sedang bernegosiasi pada bagian administrasi. Setengah jam mereka bernegosiasi dan terlihat mereka yang meninggalkan bagian administasi tersebut.

Terlihat Riana yang tersenyum lega meninggalkan bagian administrasi keuangan kampus. Mereka berjalan ke kantin kampus untuk melepas lega. Karena, jam kuliah mereka telah berakhir mereka akan segera pulang sehabis makan siang.

“Alhamdulillah ya, akhirnya kamu bisa mendapatkan keringanan. Meskipun hanya sebulan waktu yang diberikan oleh pihak kampus. Setidaknya kamu punya waktu untuk mencari kekurangannya,” ucap Desi senang melihat sahabatnya yang bisa tersenyum senang.

“Iya, Alhamdulillah ya, Des. Terima kasih banyak tadi kamu sudah mau membantuku.” Riana yang sedang bergelayut manja di lengan kanan sahabatnya itu.

“Iya, sama-sama. Kita kan sahabat jadi harus saling membantu satu sama lainnya,” Desi terlihat senang melihat sahabatnya yang bisa tersenyum kembali.

“Kita makan dulu. Aku yang traktir sekarang, nanti kalau kamu gajian kamu harus traktir aku ya,”

“Siap, siapa takut.” Riana mengangkat tangan kanannya ke pellipis mata menjawab penawaran dari sahabatnya.

Akhirnya mereka menghabiskan waktunya untuk makan siang di kantin kampus. Sebelum mereka pulang ke rumahnya masing-masing.

***

Riana Larasati, gadis cantik berusia 21 tahun yang sedang menjalani aktifitas kuliahnya dan bekerja paruh waktu di sebuah kafe di Kota Bandung. Sikap baik, periang dan pekerja kerasnya membuat semua teman kuliah dan teman kerjanya sangat mengagumi kegigihan yang dimilikinya. Gadis berparas ayu yang selalu ramah pada siapapun, membuat banyak teman lelakinya ingin bisa dekat dengan dirinya. Namun, selalu berakhir mendapatkan penolakan darinya. Kegigihan untuk melanjutkan pendidikkan adalah prioritas utama yang dimilikinya. Riana akan menganggap semua orang yang dekat dengannya sebagai teman. Ditinggal oleh kedua orang tuanya, karena sebuah kecelakaan bus saat masih duduk di kelas sebelas SMA.

Riana sudah terbiasa melakukan pekerjaan apapun demi mendapatkan sejumlah uang untuk menyambung kebutuhan hidup yang dijalaninya. Beruntung saat di SMA, dirinya memperoleh beasiswa pendidikan atas prestasi yang dimilikinya. Tekat keras dan usaha yang dimilikinya mengambil sebuah keputusan untuk tetap melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Itulah diri Riana Larasati yang menjalani kehidupannya dengan bekerja part time di sebuah kafe sambil berkuliah untuk mewujudkan segala mimpi demi kebanggaan kedua orang tuanya yang telah meninggalkannya.

Pagi hari, Riana terlihat murung di teras kontrakann yang dia tinggali. Mbak Pur, tetanggga sebelah kontrakan yang melihatnya merasa penasaran dengan apa yang dipikiirkan olehh Riana.

“Ri, mikirin apa? Pagi-pagi sudah bengong,” Mbak Pur yang menegur Riana yang terlihat murung menanggung beban.

“Eh, Mbak Pur. Nggak mikirin apa-apa kok,” bohongnya pada Mbak Pur.

“Kamu tidak bisa bohongin, Mbak. Muka kamu itu sudah kelihatan banget jika ada sesuatu yang ada kamu pikirin,”

“He,he,he. Emang kelihatan banget ya, Mbak.” Riana mengekspresikan mukanya supaya tidak terlihat yang terlalu memikul beban hidup.

“Cerita saja sama, Mbak. Siapa tahu Mbak bisa bantu kamu,”

“Riana lagi mikir, gimana caranya supaya Riana bisa dapat kerja sampingan lagi. Riana nunggak biaya kuliah lagi, Mbak,” ucapnya memelas.

Mbak Pur yang mendengar penjelasan Riana merasa iba. Gadis itu harus hiidup seorang diri jauh dari sanak saudara yang jauh dari kampungg halamannya.

“Gimana ya Ri, Mbak juga tidak bisa bantu kamu. Ibu dikampung juga lagi sakit, barusan ibu telepon mintta kirimin uang buat biaya berobatnya ke rumah sakit,” perasaan bersalah menghinggapi diri Mbak Pur yang tidak bisa membantu Riana untuk membayar biaya kuliahnya.

“Enggak pa pa, Mbak. Riana nggak mau ngerepotin Mbak Pur,” Riana yang merasa tidak enak hati melihat Mbak Pur yang terlihat kasihan pada dirinya.

“Kalau Mbak ada juga bakal Mbak bantu Ri,”

“Terima kasih ya, Mbak,” ucap Riana berterima kasih pada Mbak Pur.

“Mbak masuk balik dulu ya, Ri. Kapan-kapan kita ngobrol lagi,” Mbak Pur berpamitan untuk segera pulang ke rumah keluarga Pak Anggara. Mbak Pur yang baru pulang dari pasar tidak sengaja melihat Riana yang duduk melamun di teras kontrakannya. Mereka memang sangat akrab. Selain dari daerah asal yang sama. Riana yang juga di kenal ramah pada siapapun orang yang mengenalnya.

Sepeninggal Mbak Pur yang masuk menuju kediaman Anggara. Riana pun ikut masuk kedalam kontrakan rumahnya yang terlihat sederhana, namun masih tetap terlihat rapi dan bersih.

Riana memasuki rumahnya untuk segera berangkat ke kafe. Karena, hari ini Riana tidak ada jadwal kuliah. Maka, Riana akan berangkat ke kafe dari pagi hingga kafe tutup pukul sepuluh malam hari. Kayla selalu melakukan hal itu saat libur kuliahnya. Berharap mendapatkan uang tambahan saat dirinya lembur bekerja.

Berangkat menuju kafe, dengan menapaki jalanan kota bandung yang terlihat ramai lalu lintas pada jam aktifitas kerja pagi hari. Riana tidak menggunakan jasa angkutan umum. Berharap dirinya bisa berhemat untuk bisa menabung uangnya supaya dapat membayar biaya kuliah. Jarak kafe dan kontrakan rumahnya yang memang tidak cukup jauh juga menjadi pertimbangan Riana.

Dua puluh menit Riana menapaki jalananan Kota Bandung menuju kafe tempatnya bekerja. Riana sampai di sebuah kafe yang menjadi tempatnya menggantungkan rizki berharap mendapatkkan uang lebih dari berbagai tips yang diperolehnya dari pengunjung kafe.

“Pagi, Mas Toni!” sapanya pada Toni teman kerjanya yang terlihat baru turun dari motornya.

“Hai, Ri. Pagi juga, jalan kaki?” tanyanya heran melihat Riana yang berjalan.

“Olah raga, Mas,” jawabnya dengan cengirannya.

“Coba tadi kamu telpon dulu. Kan, bisa mas jemput,” Toni menawarkan niat baiknya pada Riana.

“Tidak perlu, Mas. Nanti Ri nggak olah raga kalau dijemput Mas Toni,” jawabnya yang tidak mau dijemput oleh Toni.

“Nanti, di dalam kan sama aja olah raga, Riana. Kita jalan mondar-mandir kayak gosokan juga ngeluarin banyak tenaga,”

“He, he, he. Iya juga ya, Mas.” Riana terlihat salah tingkah ketahuan jawaban yang diberikannya tidak masuk akal.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bagaikan Debu Bertemu Mercusuar
8.2
Pernikahan Velia dan Chris Dirja yang baru berjalan dua tahun diuji oleh sikap kejam sang suami. Chris sengaja membawa perempuan lain ke rumah mereka demi menyiksa perasaan Velia. Dia bahkan menantang istrinya untuk mencoba menjalin hubungan dengan pemuda lain yang lebih berenergi. Namun, permainan mental ini menjadi bumerang ketika Velia benar-benar membuka hatinya untuk pria lain. Saat Chris menyadari luka cakaran baru di pinggang pemuda selingkuhan Velia, kemarahan dan kecemburuannya pun meledak.
Sampul Novel Belenggu Cinta Tuan Muda
9.5
Nara, seorang gadis polos anak asisten rumah tangga, menjadi korban dendam Axel. Sang tuan muda tega melecehkannya karena ibu Nara adalah selingkuhan ayahnya. Namun, niat awal menyiksa justru berubah menjadi obsesi cinta yang ekstrem. Axel menjelma sebagai pria posesif yang mengurung kebebasan Nara. Meski terus mencoba kabur, Nara selalu berhasil ditangkap kembali. Akankah takdir membawa hubungan penuh luka ini menuju akhir yang bahagia, ataukah kehancuran?
Sampul Novel Dendam Sang Pewaris Genius
9.7
Yuvina pulang ke keluarganya sebagai pewaris sah yang tersisih. Pengorbanan identitas dan karyanya demi sang saudari angkat justru dibalas dengan sikap abai. Merasa dikhianati, ia memutus hubungan batin dan bangkit menjadi sosok jenius. Kini, Yuvina menguasai bela diri, dunia medis, desain, hingga delapan bahasa asing. Berbekal kemampuan luar biasa ini, ia bersumpah tak akan membiarkan siapa pun merendahkannya lagi. Pembalasan sang pewaris telah dimulai.
Sampul Novel Gawat, Pak Bos Ada Maksud Lain
8.6
Setelah melahirkan anaknya, Linda langsung mendapatkan pekerjaan baru sebagai sekretaris pribadi untuk pimpinan tertinggi di Grup Jarvis. Namun, profesionalisme kerja yang ia bayangkan seketika sirna pada hari pertamanya bekerja. Jonathan Jarvis, sang CEO tampan sekaligus bos barunya, justru memandang Linda dengan tatapan yang penuh gairah tidak biasa. Pertanyaan provokatif dari Jonathan, "Bu Linda, bagaimana bisa minum kopi tanpa susu?", menandai awal dari hubungan kerja yang berbahaya.
Sampul Novel Istri Kedua Pak Kades
9.8
Kehidupan Raya, seorang mahasiswi KKN, hancur dalam semalam akibat tragedi memilukan. Di tengah keheningan malam, kesuciannya direnggut paksa oleh Pak Kades yang kehilangan kendali karena sakau. Meski Raya telah berteriak histeris dan memohon, tak ada satu pun warga yang datang menyelamatkannya. Kini, Raya harus menghadapi kenyataan pahit setelah kehormatannya dirampas oleh pria beristri yang telah memiliki anak tersebut. Bagaimana nasibnya kini?
Sampul Novel Kau Menikahi Aku Dengan Benci
8.0
Saat Prakasa, suaminya yang bertugas, hilang tanpa kabar, Anjani dirundung duka. Namun, ia justru dipaksa menikah dengan Arjuna untuk menggantikan sang adik yang melarikan diri. Meski berprofesi sebagai dokter spesialis, Anjani tetap diremehkan keluarga Arjuna dan dituduh mengincar harta. Masalah kian pelik ketika Prakasa mendadak kembali. Anjani pun terjebak dalam rumitnya status hukum pernikahan, di tengah kebencian Arjuna yang perlahan terkikis menjadi cinta.