APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Calon Kakak Ipar

Bukan Calon Kakak Ipar

Nasha mendambakan cinta seperti hubungan kakaknya, Nisha, dengan Rayyan. Demi menirunya, ia memacari Feri yang dinilai sempurna. Namun, duka runtuh saat Nisha wafat sebelum menikah. Kehancuran Nasha kian mendalam ketika Feri berkhianat dan menghamili sahabatnya sendiri karena nafsu. Trauma berat ini membuat Nasha menutup diri dari laki-laki, hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Rayyan, pria yang dahulu hampir menjadi kakak iparnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Nasha."

"Feri."

Aku terkejut melihat Feri yang baru turun dari motornya.

"Ada apa?"

"Mau ketemu Mbak Nisha."

"Hah? Ngapain? Mbak Nisha kan udah punya Mas Rayyan?"

Feri terkekeh. Aku menatapnya bingung. Kenapa sih dia?

"Kamu ya Na, beneran polos."

"Polos gimana?"

"Ya aku nyari kamu lah, mau jemput kamu. Ck. Masa Mbak Nisa."

Mataku membelalak. Astaga. Apa ini? Apa ini berarti?

"Na ... Na ... Nasha!" Suara Feri terdengar lebih tinggi. Aku terkesiap.

"Eh ... i-iya hehehe." Aku memasang senyum paling menawan yang kupunya.

Tiba-tiba Feri terdiam. Padangan matanya fokus kearahku.

"Kamu kenapa Fer?"

"Eh, enggak kok."

"Hahaha. Kok gantian sih. Tadi aku sekarang kamu."

"Udah yuk berangkat. Keburu siang."

"Oke."

Aku segera menuju ke motorku dan hendak memasukkan kuncinya.

"Loh Na, kamu ngapain?"

"Nyalain motorku dong."

"Ck. Terus gunanya aku kesini buat apa?"

Aku diam. Astaga. Aku menatap kikuk ke arah Feri.

"Udah sini bareng aku. Sebelumnya aku mau minta ijin dulu sama orang tua kamu."

Feri langsung masuk ke rumahku. Karena hanya ada Ibu, ia akhirnya ijin ke ibuku. Sungguh ada yang berdesir di dadaku ketika menyaksikan bagaimana Feri begitu sopan terhadap ibuku.

"Kami berangkat dulu Tante."

"Iya Nak Feri. Hati-hati ya. Jangan ngebut!" pesan Ibu.

"Siap Tante. Pokoknya Nasha dijamin aman sama saya."

Ibu hanya tertawa. Kami pun berpamitan dan aku segera membonceng Feri.

Sepanjang perjalanan kami bercerita. Sosok Feri yang supel dan aku yang juga cerewet membuat perjalanan dari Jatilawang menuju Purwokerto terasa dekat.

"Kamu kuliah sampai jam berapa?" tanya Feri ketika aku melepas helmku.

"Jam satu. Kamu?"

"Sama. Nanti aku jemput ya."

"Oke."

"Siniin helmnya."

"Kenapa?" Aku menatap Feri bingung.

"Buat jaminan biar kamu gak bisa kabur."

"Astaga. Ya Allah Fer."

Dia hanya tersenyum lalu pamit menuju Fakultas Hukum.

Aku masih mengamati Feri sampai bayangannya lenyap.

Plak.

"Astagfirullah. Ros! Kaget tahu!" sungutku.

"Hehehe. Lagian kamu lihat apaan? Dipanggil dari tadi gak jawab."

"Hehehe. Enggak kok. Yuk masuk. Lima menit lagi Bu Wuri kan ngajar."

Aku langsung menarik tangan Rosi, berusaha menghentikan rasa ingin tahunya yang sudah kategori level tertinggi. Hal itu bisa kulihat dari sorot matanya.

******

Dua bulan semenjak perjumpaan kami di koridor menuju Perpus pusat, aku dan Feri akhirnya jadian. Akhirnya aku punya pacar. Hahaha. Pacar pertamaku insya Allah jadi calon suamiku juga eaaa.

Aku memang selalu mencontoh Mbakku. Mbak Nisha gak pernah neko-neko, sekolah selalu peringkat tiga besar di kelas. Manut sama orang tua. Bahkan Mbak Nisha juga gak pernah pacaran, sekalinya punya pacar eh mau jadi calon suami. Mana calonnya berkualitas lagi. Pokoknya gitu, aku selalu menjadikan Mbak Nisha contoh yang baik bagi hidupku.

Dalam segala hal kami sangat mirip bahkan tinggi kami hampir sama mungkin aku sedikit lebih tinggi beberapa senti. Kulit kami sama-sama putih hanya bentuk muka saja yang berbeda. Mbak Nisha bentuk muka oval dengan pipi tirus dan mata sipit. Kalau mukaku bulat dengan pipi chubby dan mata bulat.

"Duh ... yang mau ngedate." Mbak Nisha menghampiriku dan duduk di ranjang.

"Hehehe. Ah, Mbak Nisha. Mbak Nisha kok gak jalan sama Mas Rayyan."

"Mas Rayyan ada operasi mendadak. Dia sedang membantu dr. Satrio."

"Oooo. Emangnya Mas Rayyan mau ambil spesialis apa nantinya? "

"Bedah. Tapi nanti kayaknya. Nunggu kita nikah dulu."

"Wuih cakep bener dech calonnya Mbak. Ah, jadi pengen Mas Rayyan jadi suamiku dech."

"Apa?" mata Mbak Nisha memelototiku.

"Hahaha. Maksud Na, pengen suami Na besok kayak Mas Rayyan sifatnya."

"Dasar usil kamu." Mbak Nisha memukul pelan bahuku. Lalu kami tertawa bersama.

*****

"Seger ya udaranya." Saat ini kami berada di pantai Menganti.

"Iya seger, tapi medan ke sininya gak kuat aku," aku menggerutu.

"Tapi setimpal kan dengan keindahannya?" ucap Feri.

Aku mengangguk. Benar apa katanya, pantai ini sungguh indah.

Kami terdiam cukup lama menikmati sejuknya udara pantai. Tiba-tiba kedua tangannya melingkari bahuku. Aku bergetar, antara takut dan malu. Lama- kelamaan wajahnya memperpendek jarak kami berdua hingga jarak kami hanya sekitar lima senti. Lalu... Hap.

Aku meletakkan telapak kananku pada mukanya. Hampir saja fiuh. Feri nampak kecewa, bisa kulihat dari raut wajahnya.

"Maaf Fer, aku pantang berbuat lebih karena semua akan aku serahkan pada suamiku kelak. Jadi, jika kita berjodoh maka semuanya akan aku serahkan kepadamu. Terserah kamu. Kalau kamu mampu bertahan kita lanjut kalau enggak aku gak maksa." tuturku panjang lebar.

Feri hanya terdiam, cukup lama kami saling diam. Tapi kemudian Feri tersenyum lembut kearahku.

"Maaf, aku pikir ini adalah wujud kasih sayangku. Gak papa kok. Aku sayang kamu Na. Aku akan tunggu kamu sampai kita jadi pasangan halal. Tapi janji, harus setia sama aku ya?"

"Iya. Janji. Kamu juga jangan selingkuh ya? Dijaga tuh nafsunya."

"Idih. Emangnya aku cowok apaan?" tuturnya dengan gaya kemayu.

Kami tertawa bersama. Selanjutnya obrolan tercipta dan tidak membahas lagi tentang ciuman yang gagal.

*****

Tiga bulan sudah kami berpacaran. Suka duka kami lewati bersama. Belajar dari pengalaman di pantai Menganti, aku tak pernah pergi berdua lagi. Selalu aku membawa serta Rosi untuk menemaniku. Biar gak ada setan diantara kami. Tapi bukan Rosi juga setannya.

Sedangkan acara pernikahan Mbak Nisha kurang dari satu bulan. Segala persiapan sedang dilakukan. Kadang kulihat mereka jalan berdua untuk membeli segala tetek bengek pernikahan. Hingga kulihat Mas Rayyan mengantarkan Mbak Nisha pulang. Mereka baru saja tugas malam, terlihat sangat kelelahan. Iseng aku mengintip mereka.

"Langsung mandi, istirahat, gak boleh kemana-mana, gak boleh capek!" titah Mas Rayyan.

"Iya. Mas juga. Hati-hati ya pulangnya."

"Iya. Udah masuk gih."

"Mas dulu sana yang pergi. Nanti baru aku masuk."

"Kamu dulu, pokoknya Mas baru pergi kalau udah memastikan calon istri Mas masuk rumah."

"Tapi aku mau nungguin Mas," ya ampun baru tahu aku kalau Mbakku punya bakat manja.

"Hehehe. Ya udah. Mas pulang yah." Mas Rayyan menyentuhkan bibirnya ke jari telunjuk dan tengahnya yang menyatu kemudian dia tempelkan ke bibir Mbak Nisha. Aw... Aw... Aku kok meleleh ya.

"Ish... Mas mesum." Mbak Nisha cemberut tapi pipinya memerah.

"Hahaha. Polos sekali calon istriku. Belum diapa-apain udah merah aja. Belum yang iya-iya."

"Massss, udah pulang sana," muka Mbak Nisha semakin memerah.

"Hahaha. Oke Mas pulang. Sabar ya cinta sebulan lagi. Muah." Mas Rayyan melampaikan kiss bye lewat tangannya. Kemudian naik ke mobilnya dan melaju membelah jalanan.

Aku segera berlalu takut dikira ngintip, padahal emang ngintip. Hahaha. Dalam hati aku berdoa semoga Feri seperti Mas Rayyan. Lelaki baik yang mampu menjaga hati dan menjunjung tinggi kehormatan kami. Amin.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Semalam Sang CEO
8.8
Akibat kalah taruhan saat mabuk, Prakas melewati malam bersama Miona, gadis yang terpaksa menjual diri demi melunasi utang sang ibu. Usai mengusirnya, Prakas syok saat tahu Miona adalah anak Pak Imam, OB yang sangat ia hormati bagai ayah kandung. Demi menebus rasa bersalah, Prakas melunasi utang mereka dan meminta Miona keluar dari dunia kelam. Namun, Miona yang telanjur sakit hati menolak mentah-mentah bantuan itu dan bertekad mengembalikan semua uangnya.
Sampul Novel Dasha: Balas Dendam Pada Mantan Suami
8.8
Diceraikan saat berusia 27 tahun karena mantan suaminya memilih Irina, Dasha bertekad membalas dendam. Ia menemui dokter bedah bernama Oscar untuk mengubah wajahnya. Namun, Oscar meminta imbalan yang sangat berat: Dasha wajib melayani hasrat seksualnya kapan saja. Demi menghancurkan sang mantan, ia pun menyetujui syarat menyimpang tersebut. Akankah rupa barunya ini membawa keberhasilan, dan bagaimana nasib hubungan rumit mereka?
Sampul Novel Hypersex Of CEO (Penjerat Cinta & Gairah)
8.6
Akibat permainan Truth or Dare, Thea terjerat dalam hubungan penuh gairah dengan Alvaro, seorang CEO dominan. Kecupan awal mereka berujung pada ikatan BDSM yang intens. Demi menyembunyikan obsesi Alvaro, Thea bersedia menjadi istri pura-puranya. Namun, di balik dominasi fisik dan status palsu tersebut, perasaan cinta yang sesungguhnya justru mulai tumbuh di antara mereka. Sanggupkah keduanya menghadapi ketulusan rasa yang hadir di tengah kepalsuan ini?
Sampul Novel Kenapa Kalian Membuang Ibu?
8.2
Kehidupan damai Minah bersama Eliza dan Agung seketika sirna setelah putri bungsunya itu pergi merantau. Terpaksa menumpang di kediaman putra sulungnya, Edo, Minah justru harus menghadapi siksaan batin akibat kekejaman sang menantu. Hari tua yang malang membawa Minah ke sebuah panti jompo, tempat ia menghabiskan sisa hidupnya. Hingga ajal menjemput, ia meninggal dalam kesepian yang mendalam, tanpa didampingi oleh anak-anak kandungnya.
Sampul Novel My [Secret]ary
8.6
Penolakan Raya atas posisi pemimpin anak perusahaan Chinar Group membawanya bertemu kembali dengan Jevano. Mantan kakak tingkat kuliahnya tersebut kini justru bekerja sebagai sekretaris pribadinya. Walau Jevano selalu bersikap dingin dan cuek, Raya tidak bisa menahan perasaannya. Namun, di balik sikap profesional tersebut, sang sekretaris menyimpan misteri besar. Jevano bukanlah pegawai biasa, melainkan sosok penuh rahasia yang menyembunyikan identitas aslinya.
Sampul Novel Pengkhianatan Istri Presdir
9.0
Damike sangat terpukul saat melihat Sheyla, istrinya, berselingkuh tepat di hadapannya. Alih-alih menyesal, Sheyla justru membela selingkuhannya dari kemarahan Damike. Di tengah rasa sakit hati yang mendalam, Damike menuntut penjelasan atas pengkhianatan kejam tersebut. Namun, Sheyla malah mencampakkannya dan langsung meminta cerai. Ia bahkan dengan tega mengaku bahwa dirinya sama sekali tidak pernah mencintai Damike selama pernikahan mereka.