
Buah Cinta Pengkhianatan Suamiku
Bab 7
"Kak Stuart lagi hangatin susu buat kamu. Katanya kamu nggak boleh minum yang dingin. Bukan mau muji, tapi di mana lagi bisa ketemu suami sebaik dia? Birnya belum diangkat semua. Nanti aku masuk lagi dan desak dia."Mata Kate mulai merah, kukunya menancap ke telapak tangan. Berapa kali Ken sudah menipunya sampai bisa seterampil itu tanpa rasa bersalah sedikit pun? Dia sudah tak sanggup berada di sana sedetik pun lagi.
"Aku ngantuk. Aku pulang duluan."
"Mau aku suruh Kak Stuart antar?"
Kate menatapnya lekat-lekat. "Nggak perlu, aku nggak mau merusak suasana hatinya."
Ken merasa agak gugup melihat wajah kakaknya. "Kalau begitu, aku pesenin mobil buat kamu."
Sebelum naik ke mobil, Kate menoleh untuk terakhir kalinya pada adik yang dia besarkan sendiri.
Tatapan Ken sedikit gelisah. "Kenapa, Kak?"
Kate menarik pandangannya, diam saja, lalu langsung menutup pintu mobil.
Begitu sampai rumah, Stuart menelepon. "Kenapa nggak suruh aku antar? Malam-malam begini kamu malah pulang sendirian. Aku khawatir lho."
Bersamaan dengan itu, masuk juga pesan dari Winter.
[ Kalian bercinta pertama kali di ranjang itu ya? Dia bilang kamu terlalu kaku, gayamu itu-itu saja. ]
[ Pantas saja dia nggak puas sama kamu. Pas ketemu aku, dia hampir bikin tubuhku remuk. ]
Di malam pernikahan mereka, Stuart tahu Kate merasa gugup. Dia membawa Kate kembali ke rumah keluarganya sendiri, ke kamar lamanya yang membuatnya merasa nyaman.
Saat pertama kali mereka melakukannya, Stuart sangat menahan diri. Dia benar-benar memikirkan perasaan Kate. Dia penuh kelembutan dan kasih sayang.
Saat Kate menangis, Stuart juga ikut meneteskan air mata. "Sayang, aku cinta kamu. Aku nggak akan pernah buat kamu nyesal karena sudah menikah denganku."
Kini, Kate sungguh-sungguh menyesal.
Di telepon, Stuart memanggil-manggil namanya, mencoba merayu dengan nada lembut. Kate pun menutup mulutnya rapat-rapat, menangis hingga tak sanggup mengeluarkan satu kata pun.
"Sinyalnya jelek ya? Tenang saja, Kak Stuart. Tadi aku yang pesan mobilnya. Di aplikasi tertulis kalau Kakak sudah sampai rumah." Terdengar suara Ken. "Kamu temani Winter saja. Nanti aku kirim pesan ke Kak Kate bilang kamu temani aku minum."
"Hati-hati kalau bicara, jangan sampai keceplosan," tegur Stuart.
Ken tertawa. "Kakakku nggak mungkin curiga sama aku. Lagi pula, kalau dia nggak bisa punya anak, masa orang lain juga dilarang punya anak?"
"Ken! Jaga mulutmu! Jangan ngomong begitu tentang kakakmu!" Stuart langsung naik pitam.
"Iya iya, aku nggak bilang lagi."
Telepon langsung terputus. Kemudian, masuk pesan dari Ken.
[ Kak Stuart jarang keluar, dia janji mau temani aku minum. Aku suruh dia tidur di rumah. Tenang saja, Kak. Aku pantau dia. ]
Setelah itu, menyusul pesan dari Stuart.
[ Sayang, kalau kamu ngantuk, tidur saja dulu ya. ]
[ Ken pertama kali dapat klien besar. Malam ini aku rayain juga atas namamu, jangan tunggu aku pulang ya. ]
Kate tidak membalas apa pun. Saat itu juga, emosi di hatinya yang membara sedari tadi perlahan padam. Dia menghapus air matanya.
Dia tak akan menunggu lagi. Orang yang tak pantas, tak layak untuk ditunggu. Termasuk Stuart dan juga Ken.
Kate berdiri, masuk ke kamar, mengenyahkan semua beban di hatinya, lalu akhirnya tidur nyenyak malam itu.
Di hari peringatan pernikahan mereka, pagi-pagi Stuart sudah menyiapkan sarapan cinta untuknya.
"Sayang, malam ini kamu bakal lihat kembang api yang aku siapin buatmu," ucap Stuart.
Kate tersenyum tipis tanpa menjawab.
"Aku ke kantor dulu. Nanti malam kita lihat kembang api bareng ya," lanjut Stuart.
Begitu pria itu berdiri, Kate mengeluarkan surat cerai yang telah disiapkan dan disimpan di laci. Dia mendorong ke hadapan Stuart dan berujar, "Tandatangani surat ini."
Anda Mungkin Juga Suka





